Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Bertemu


__ADS_3

Zahra duduk di depan meja riasnya, ia memegang kalender kecil dan menatapnya, sesaat kemudian ia melingkari salah satu tanggalnya.


Tanggal 18 pertama setelah hari pernikahannya, itu artinya Zahra sudah satu bulan menjadi istri Bian, satu bulan juga mereka bersama, tidur bersama setiap malam.


"Zahra, aku berangkat dulu."


Zahra menoleh tanpa menjawab, ia memperhatikan pergerakan Bian, tanpa berkata lagi, Bian keluar kamar dan tak akan kembali sampai nanti malam.


Zahra tersenyum singkat, mereka memang suami istri diatas kertas, dan pada kenyataannya mereka tetap asing satu sama lain.


"Zahra, kamu di dalam?"


Zahra bangkit dan berjalan keluar, ia tersenyun melihat sosok Inggrid.


"Oma, mau kemana?"


"Oma, harus pulang dulu, mungkin untuk satu minggu saja."


Zahra diam, akan seperti apa hidupnya kalau Inggrid tidak ada bersamanya.


"Zahra, kamu jangan takut, Bian tidak akan melakukan hal buruk terhadap kamu."


Zahra tersenyum dan mengangguk, mungkin itu benar, dan semoga saja memang tidak akan ada yang berbuat buruk padanya.


"Oma, harus berangkat sekarang, kamu jaga diri ya."


"Apa aku tidak bisa ikut saja, aku mau ke rumah Oma."


"Jangan, kamu harus tetap disini sama Suami kamu, kalau kamu tinggalkan dia, nanti dia bisa berulah."


Zahra kembali tersenyum, biarkan saja, lagi pula memang itu keinginan Bian, ia ingin tetap bebas meski telah menikah.


"Oma, berangkat ya, kamu kalau kamu pergi kemana, pergi saja, tapi saat Bian kembali, kamu juga harus kembali."


"Iya, nanti saja kalau aku bosan, aku akan pergi keluar."


Inggrid mengangguk, baguslah, Zahra memang tidak pernah kemana-mana setelah pernikahan itu, ia selalu diam di rumah bersama Inggrid.


"Ya sudah, pergi dulu ya."


"Biar aku antar."


"Tidak perlu, kamu siap-siap saja, jadi nanti kalau mau pergi, tinggal pergi saja."


Zahra mengangguk, ia lantas salam dan membiarkan Inggrid pergi darinya.


Zahra melihat sekitar, sekarang ia hanya sendiri di rumah itu, tidak ada siapa pun lagi, Zahra kembali memasuki kamarnya dan duduk di sofa sana.


"Jalan juga kemana, aku gak ada teman main disini."


Zahra tersenyum miris, dirinya yang terbiasa keluyuran ke luar kota, membuatnya asing dengan lingkungan sendiri.


"Atau aku belanja saja, sepertinya itu lebih baik, lagi pula kebutuhan aku sudah habis."


Zahra mengangguk, itu pemikiran yang bagus, Zahra tidak akan bosan sendirian di rumah, ia lantas bersiap untuk pergi.


Kringg ....


Zahra melirik ponselnya, dan meraihnya, panggilan dari Bian membuatnya sedikit heran.


"Ada apa?" tanya Zahra.

__ADS_1


Ia terdiam mendengarkan kalimat Bian di sana, setelahnya ia tersenyum seraya mengangguk.


"Iya, terimakasih."


Setelah sambungan terputus, Zahra mengusap wajahnya, bisa sekali Zahra niat belanja sedangkan ia tidak memiliki uang.


"Bodoh," ucapnya pelan.


Zahra menyimpan ponselnya dan membuka lemari, ia mengambil kartu debit dan kredit di laci sana, itu milik Bian, dan di sambungan itu Bian mengatakan jika Zahra bisa menggunakannya untuk keperluan.


"Selamat, aku bisa jadi pergi."


Zahra memasukannya ke dalam tas, merapikan rambutnya, dan berlalu pergi seraya meraih ponselnya.


Zahra akan mencari kebahagiaannya sendiri hari ini, semoga saja memang akan menemukan kebahagiaan di luar sana.


"Non, mau kemana?"


"Aku mau beli keperluan aku dulu, aku akan kembali sebelum Bian pulang."


"Non, sudah izin?"


"Nanti aku kirim pesan padanya."


"Baik, hati-hati."


Zahra mengangguk dan melanjutkan langkahnya, ia duduk di kursi luar, berkutat dengan ponselnya untuk memesan taxi.


"Pusing."


Zahra menekan keningnya, ingin tidur tapi lebih ingin pergi, biar saja Zahra akan pulang jika memang tidak kuat.


"Jalan Pak, santai saja, aku mau menikmati perjalanan."


"Baik, Bu."


Zahra diam bersandar, ia memperhatikan jalannya di sana, ramai tapi tak cukup membuatnya senang.


"Pak, tempat makan enak dimana ya?"


"Saya tidak tahu, Bu, saya kalau makan selalu pulang ke rumah, masakan Istri paling enak."


Zahra tersenyum, benarkah seperti itu, apa bisa Zahra mendengar kalimat itu dari Bian.


"Huuuh."


Zahra membuang nafasnya perlahan, apa yang difikirkannya, bagaimana mungkin itu terjadi, lagi pula Zahra sendiri tidak bisa masak enak.


"Lebih enak masakan sendiri, Bu, dari pada beli, porsinya juga bisa sepuasnya kalau sendiri."


"Seperti itu ya, Pak?"


"Iya, Bu, coba saja masak, apa lagi kalau sudah ada Suami, dijamin Suaminya betah kalau dikasih masakan enak."


"Tapi Suami saya sudah ada Mbak yang masak."


"Oh, tapi lebih bagus kalau Istrinya yang masak, pasti lebih menyehatkan karena pasti ada rasa-rasa kasih sayangnya."


Zahra menggeleng, ia diam kembali memperhatikan jalanan di sana, apa mungkin Bian bisa menyukainya jika rajin diberikan masakan enak, mungkin saja Zahra mau belajar memasak untuk Bian.


"Sekali-sekali, memanjakan Suami itu harus loh Bu, seenaknya masakan pembantu, pasti lebih enak masakan Istri, itu yang saya rasakan."

__ADS_1


Zahra hanya mengangguk saja mendengarnya, semoga saja memang seperti itu, pasti senang juga perasaan Zahra jika mendapatkan pujian dari Bian.


"Silahkan, Bu."


Zahra membayar tagihannya dan keluar, ia melihat sekitar, ramai sekali di sana, mereka semua berjalan bergandengan, tapi Zahra hanya sendirian saja.


"Tidak masalah Zahra, bukankah kamu memang sudah sebatang kara sekarang."


Zahra tersenyum, ia melanjutkan langkahnya memasuki pusat perbelanjaan itu, fokus mencari apa yang dibutuhkannya di sana, Zahra harus mendapatkan semuanya hari ini.


"Kamu disini, belanja juga?"


Zahra menoleh, ia terdiam melihat Dion, sedang apa lelaki itu, apa dia tidak bekerja hari ini.


"Hallo, kenapa diam?"


Zahra berpaling sesaat, kemudian tersenyum seraya mengangguk.


"Apa kabar?"


Zahra melihat uluran tangan Dion, memang sudah lama mereka tidak bertemu.


"Zahra."


"Iya, aku baik-baik saja," ucap Zahra seraya menjabatnya.


"Sendiri saja?"


"Ya, seperti yang kamu lihat."


"Mungkin saja, aku bisa temani kamu?"


Zahra diam, sepertinya itu tidak masalah, lagi pula tidak ada yang perduli padanya, bahkan meski Bian sekali pun.


"Bagaimana?"


"Kenapa tidak, kalau memang kamu juga sendiri."


Dion tersenyum dan mengangguk, jawaban yang bagus, akhirnya Dion bisa melihat wanita itu lagi sejak perpisahan di hari pernikahannya.


"Cari apa, biar aku bantu?"


"Keperluan wanita," bisik Zahra.


Dion sedikit tertawa, ia mengerti dengan itu, dan lebih baik Dion hanya menemani saja.


"Di atas," ucap Dion.


"Mungkin, aku juga lupa."


Keduanya tersenyum dan melangkah bersamaan, Zahra kembali nencari kebutuhannya, lumayan juga ada Dion, setidaknya ada teman untuknya berbincang.


"Kamu punya banyak waktu?" tanya Dion.


"Aku akan pulang sebelum Bian pulang."


"Dia pulang kapan?"


"Malam, pasti selalu malam."


"Berarti, aku bisa ajak kamu makan terlebih dahulu sebelum kamu pulang?"

__ADS_1


__ADS_2