
Zahra kembali ada di rumah sakit untuk menemani Shafira, berada di rumah hanya membuat Zahra semakin kacau saja.
Zahra masih merasa takut dengan sosok Shafira, wanita itu masih berbicara hal yang sama sekali tidak Zahra mengerti.
"Shafira, kamu mau makan, aku bawa makanan untuk kamu."
"Kamu hanya sendiri, mana dia?"
"Dia siapa?"
Shafira tersenyum, Zahra menyipitkan matanya, apa yang dimaksud Shafira adalah Bian.
Apa mungkin Bian adalah masa lalu Shafira, bukankah hanya dengan Bian keseharian Zahra selama ini.
"Dia bahagia."
"Shafira, aku tidak mengerti apa maksud kamu, dan aku tidak mungkin berkata kasar sama kamu jadi sebaiknya ayo kita makan sama-sama," ucap Zahra tersenyum.
Shafira menggeleng, mata sayunya masih tidak berubah, bicaranya yang masih terdengar sulit juga masih tetap sama.
Shafira memang sudah sadar dan bisa berbicara, tapi pergerakannya masih terbatas, Shafira masih sangat lemah sampai hari ini.
"Silahkan, Pak."
Zahra menoleh, ia mengernyit dan bangkit saat melihat suster masuk mengantarkan Frans.
Frans menatap Shafira dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan, Zahra melirik Shafira dan mendapati tatapan yang sama persis.
"Permisi," ucap suster seraya pergi.
"Frans, kamu ditugasnya menangani Shafira?"
Frans hanya menatap Zahra sekilas, ia berjalan perlahan mendekati ranjang, hanya sepersekian detik saja Frans membungkuk dan memeluk tubuh itu.
Zahra bergerak mundur, jelas ia semakin bingung dengan apa yang dilihatnya itu, kasihan Shafira dia tampak kesakitan karena pelukan Frans.
"Frans, kasihan dia kesakitan karena kamu."
Zahra sedikit menarik Frans agar pelukan itu terlepas, tapi tidak bisa, Zahra kembali mundur saat mendengar Frans yang justru terisak.
Kebingungan, itulah ekpsresi Zahra yang tidak bisa terhindarkan, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya melihat sekitar ruangan.
"Sebaiknya, aku tunggu di luar saja," ucap Zahra.
"Jangan pergi," sahur Shafir.
Zahra menoleh, Frans melepaskan pelukannya dan kemudian berpaling, Frans mengusap air matanya dan melirik Zahra.
Zahra balik menatap Frans, lelaki itu benar-benar menangis, ini pertama kali dan langsung membuat Zahra pusing.
"Kamu kenapa disini?" tanya Frans.
"Aku .... Aku disini ...."
Zahra mengangkat kedua alisnya, apa yang harus dikatakannya, kenapa otak Zahra mendadak kosong.
__ADS_1
"Dia yang kamu banggakan saat melepaskan aku?" tanya Shafira.
Keduanya menoleh bersamaan, Zahra melirik Frans sekilas, tambah pusing lagi kepala Zahra.
"Dia cantik, kamu tidak mengatakan omong kosong."
"Diamlah, kamu tidak tahu apa-apa," ucap Frans meraih tangan Shafira.
Wanita itu kembali meringis kesakitan, jelas saja karena tangan yang diraih Frans adalah yang mengalami patah tulang.
Zahra menelan ludahnya, kenapa ceroboh sekali lelak itu, apa dia tidak melihat jika tangan Shafira ada tanda lukanya.
"Kenapa bisa seperti ini, kenapa?"
"Dia telah menggagalkan semuanya, dia tidak tahu kalau aku ingin menjemput kebahagiaan ku, dia sengaja melakukannya."
Frans kembali menatap Zahra, sontak saja itu membuat Zahra merasa tertuduh atas hal buruk.
Zahra menggeleng seraya mundur, apa maksud wanita itu, kebahagiaan macam apa yang bisa diraihnya dari bunuh diri seperti itu.
"Dia telah menggagalkan semuanya."
"Apa yang aku gagalkan, aku tidak tahu tujuan dia apa dengan melompat dari lantai 4 pisat perbelanjaan itu," ucap Zahra panik.
Frans mengernyit, dan kembali pada Shafira, Frans butuh kalimat jelas untuk menjawab pertanyaannya itu.
Shafira justru tersenyum, ia mengulurkan tangannya pada Zahra, tapi Zahra hanya menatap tangan itu saja.
"Kamu jahat kalau kamu menolak ku," ucap Shafira.
Zahra menoleh, memang aneh wanita itu, dia sudah sangat membuat Zahra pusing selama beberapa hari ini.
"Aku tahu kalian sudah bahagia."
Zahra menarik tangannya, ia menatap Frans yang tampak tak beralih menatap Shafira.
"Aku bisa gila jika terus disini, silahkan saja kalian bicara, aku akan menunggu di luar."
Zahra berlalu begitu saja, berulang kali ia menggeleng karena semua itu, sangat menyebalkan.
"Dia baik, aku tahu kamu tidak akan menyesal bersamanya."
"Apa yang kamu bicarakan, dia bukan siapa-siapa buat aku, kamu harus tahu kalau dia sudah memiliki Suami."
"Dan itu kamu."
Frans berpaling sesaat, sudah bertahun-tahun Frans mengharapkan pertemuannya dengan Shafira.
Hari ini harapan itu terwujud juga, Shafira ada di hadapannya meski dalam kondisi yang buruk.
"Sejak kapan kamu kembali?" tanya Frans.
"Sejak aku melihat wanita itu di rumah, dia begitu dekat dengan Mama."
Frans menunduk, air matanya kembali mengalir, apa takdir Tuhan akan berpihak padanya kali ini.
__ADS_1
"Mama pasti sangat menyayanginya, kamu memang pintar membuat Mama bahagia."
"Diamlah Shafira, semua ucapan mu adalah kesalahan, tidak ada wanita lain sampai saat ini sejak aku melepaskan kamu."
Shafira tersenyum, tangannya terangkat mengusap air mata Frans.
Memang benar, Shafira adalah wanita yang pernah diperistri Frans tiga tahun lalu, Shafira adalah cinta dan pengorbanan terbesar Frans selama hidupnya.
"Zahra bukan siapa-siapa, dia hanya orang asing yang mendadak datang, dia dekat dengan Mama karena menurut penuturan Zahra, wajah Mama mirip sekali dengan mendiang Mamanya Zahra."
Tak ada jawaban, Shafira merasa kepalanya sakit, tenaganya yang memang hanya sedikit itu perlahan menghilang.
Tangannya yang bertahan di pipi Frans semakin lemah, hingga tangan itu terkulai bersamaan dengan kedua matanya yang tertutup rapat.
"Shafira," panggil Frans.
Tak ada jawaban, Frans seketika panik, ia memeriksa Shafira sebisanya.
"Shafira, kamu kenapa, Shafira."
Frans menepuk kedua pipi Shafira, tapi tetap saja tak ada respon.
"Shafira, Shafira kamu dengar aku, Shafira."
Frans menegapkan tubuhnya, ia mengusap wajahnya tak karuan.
"Dokter, Zahra, Dokter," teriak Frans.
Pintu seketika terbuka dan menunjukan Zahra di sana.
"Dokter, tolong panggilkan Dokter," bentak Frans.
Zahra terkejut dengan bentakan itu, tanpa bertanya ia langsung berlari untuk mencari Dokter.
Apa-apaan lelaki itu, bukankah dia sendiri juga dokter, kenapa dokter teriak dokter.
"Shafira, bangun Shafira ayo bangun, kamu tidak boleh seperti ini."
"Ada apa ini?"
Frans menoleh, ia menggeleng dan mundur, membiarkan dokter itu memeriksa Shafira dengan segenap harapan terbesarnya.
Zahra menatap Frans yang teramat kacau, penjelasan apa yang bisa didapatkannya dalam keadaan seperti ini.
"Frans," panggil Zahra ragu.
Frans tak menjawab, ia begitu gelisah menatap dokter dan Shafira di sana.
"Dia harus baik-baik saja Dokter, pastikan dia akan baik-baik saja," ucap Frans kesal.
Zahra mengernyit, ia perlahan mendekat dan mengusap pundak Frans.
Tidak ada gunanya seperti itu, dokter bukan Tuhan yang bisa berkehendak untuk hal apa pun juga.
"Dia harus sembuh, dia harus kembali apa kamu mengerti itu, dia pasti datang untuk kembali padaku, kamu harus paham itu."
__ADS_1
Zahra memejamkan matanya saat Frans justru mengoyak kedua pundaknya, datang untuk kembali.
Apa itu artinya Shafira masa lalu Frans, jadi yang selama ini dimaksud Shafira adalah Frans bukan Bian, wanita itu sudah salah paham tentang semuanya.