Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Berhenti Mengganggunya


__ADS_3

Beberapa hari berada di rumah sakit, keadaan Bian kini sudah membaik, ia bisa bergerak sesuka hatinya lagi meski pun memang belum diizinkan pulang.


Sudah berhari-hari juga Zahra pulang ke rumah, dan dia masih belum kembali untuk menemui Bian.


Kania pun tidak pernah menemui wanita itu, baginya ia sudah tak mau lagi memohon pada Zahra, semua dirasa percuma oleh Kania, memang benar kata Kemal kalau Zahra hanya akan besar kepala saja.


"Permisi."


Kania dan Bian menoleh bersamaan, rupanya Vanessa ada datang hari ini, Kania kembali melirik Bian, tidak ada raut wajah senang yang ditunjukannya.


"Tante, bagaimana keadaan Bian?"


"Dia sudah lebih baik, seperti yang kamu lihat sendiri."


Vanessa mengangguk, baguslah memang itu yang diinginkannya.


Vanessa menyimpan kotak makan yang dibawanya, Bian pasti belum makan siang hari ini.


"Kamu mau makan, aku bawakan makanan untuk mu."


"Aku tidak lapar, biar Mama saja yang makan."


Vanessa melirik Kania, mana bisa seperti itu, Vanessa tidak berniat membawakan makanan untuk Kania.


"Tidak masalah, simpan saja mungkin Bian memang belum mau makan," ucap Kania.


"Sepertinya begitu, tapi jangan terlalu lama dibiarkan, nanti keburu dingin."


Bian tak merespon, ia melirik pintu sana, sampai saat ini Bian masih mengharapkan Zahra datang lagi menemuinya.


"Bian, aku senang melihat mu sehat lagi."


"Mama, apa Ayra tidak datang juga hari ini."


Vanessa mengernyit dan melirik Kania, kenapa malah menanyakan wanita itu, Bian mengabaikan kalimatnya.


Jelas saja Vanessa tidak suka itu, tapi ia harus bisa bersabar, tidak boleh ada keributan karena dirinya saat ini.


"Mama bisa hubungi dia saja?"


"Mungkin dia sedang sibuk di Kantor, dia sudah sehat, dan pasti akan kembali pada kesibukannya."


"Oma mana?"


Kania diam, bukankah Inggrid sedang pergi karena acara perusahaannya, benar juga apa mungkin Zahra ikut pergi sehingga tidak menemui Bian lagi.


Keterlaluan sekali mereka kalau benar seperti itu, Kania tidak bisa menerimanya, saat Bian terluka mereka malah asyik berlibur di luar kota.

__ADS_1


"Kemana Oma, apa dia tidak kesini juga, aku tidak melihatnya lagi."


"Oma sedang ada acara dari perusahaannya, mereka sedang melakukan acara tahunan."


"Dan Ayra pasti ikut disana, bagus sekali kelakuannya itu," sahut Vanessa.


Keduanya menoleh bersamaan, itu yang difikirkan Kania, Zahra akan sangat keterlaluan jika benar ikut dengan Inggrid.


Bian tersenyum, ia mengangguk perlahan, apa yang keterlalaun, Zahra adalah pimpinan di sana, sudah seharusnya wanita itu hadir dalam acara penting perusahaan.


"Bukankah dia hebat, dia begitu profesional dalam mengurus Perusahaan."


"Apa maksud mu?" tanya Vanessa.


"Sudah seharusnya dia ikut, aku juga pernah ada diposisi itu, jadi Zahra memang harus ada disana."


Vanessa mengangkat kedua alisnya, bisa sekali Bian membelanya seperti itu.


Padahal seharusnya Bian membenci wanita itu saja, Bian tidak mungkin lupa jika wanita itu yang telah menyusahkan hidupnya.


"Permisi."


Mereka menoleh bersamaan, Kania seketika bangkit saat melihat Zahra yang datang bersama dengan polisi.


"Selamat siang, Bu," ucap polisi.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Zahra.


"Aku sudah baik-baik saja."


Zahra mengangguk, ia berjalan mendekati Bian, dengan sengaja Zahra menjauhkan Vanessa dari sisi Bian.


"Apa kamu sudah makan?"


"Tidak, kamu tidak ikut Oma?"


"Ada beberapa hal yang masih harus aku selesaikan disini, jadi bagaimana bisa aku pergi."


Kania kembali melirik polisi itu, sedikit pun Kania tidak akan rela jika Bian kembali dibawa ke sel.


Zahra menyimpan kotak makan yang dibawanya, ia sempat melihat kotak makan di meja sana, tapi itu tak lantas diperdulikannya.


"Kalau kamu sudah baik-baik saja, sudah seharusnya kamu bisa berkomunikasi baik dengan Pak Polisi."


"Tentu saja."


Kania menelan ludahnya, apa lagi yang akan terjadi sekarang, Kania tidak siap jika harus ada hal buruk lagi.

__ADS_1


Zahra melirik polisi itu dan mengangguk, mereka masih melihat jelas jika Zahra masih tampak murung sampai saat ini.


"Ada apa ini, kenapa harus ada polisi disini, Bian masih dirawat," ucap Kania.


"Tidak ada apa pun, polisi disini karena Bian memang masih memiliki urusan dengan hukumnya," ucap Zahra.


"Apa kamu akan memaksanya dibawa ke sel lagi, apa kamu tidak waras?" tanya Vanessa.


"Dan sebaiknya kamu pergi saja dari sini, tidak perlu lagi repot mengurus atau sekedar memperhatikan Bian, apa kamu paham?" tanya Zahra.


Kalimat Zahra terdengar begitu dingin, itu sangatlah serius, Vanessa melirik Kania yang hanya diam saja.


Bian mengangguk, tidak masalah kalau pun memang ia harus kembali ke sel hari ini, Bian cukup sadar jika hukumannya masih lama.


Dan tidak perlu banyak bertanya, yang dilakukan Zahra adalah yang seharusnya, dan tidak ada yang bisa menghalanginya.


"Maaf Pak Bian, kalau memang anda sudah baik-baik saja, sebaiknya anda datang ke Kantor agar bisa mengurus segala keterkaitan untuk kebebasan anda."


Semua diam, kalimat apa itu, bukankah pendengaran mereka masih baik-baik saja, tidak mungkin mereka salah mendengar.


"Apa maksudnya?" tanya Bian.


"Bu Zahra sudah menarik tuntutannya, dan meminta agar Pak Bian dibebaskan."


Dengan kompak mereka melirik Zahra, itu sulit dipercaya setelah semua sikap keras yang ditunjukan Zahra selama ini.


"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Bian.


"Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, aku sudah menyusahkan banyak orang karena semuanya."


"Aku memang sengaja membuat keributan disana, tapi itu karena aku ingin agar kamu menemui ku, bukan untuk dibebaskan seperti ini, kamu tidak perlu memaksakan apa yang tidak ingin kamu lakukan."


Zahra diam, ia bertahan dalam tatapannya terhadap Bian, apa yang memaksakan dan apa yang diinginkan, Zahra tak bisa lagi membedakan.


Semua hal tentang Bian memang hanya membuatnya tertekan, Zahra seolah tidak punya pilihan bahkan meski itu untuk kebaikannya sendiri.


Bian meraih tangan Zahra, ia tersenyum padanya, Bian tidak lagi keberatan ada di sel sana, asalkan Zahra mau menemuinya meski hanya sebentar saja.


"Aku sudah baik-baik saja, aku akan kembali kesana, aku tidak akan berulah lagi, tapi aku mohon, tolong temui aku disana, aku hanya minta sebentar saja dari waktu mu."


"Tapi aku tidak mau melakukannya, apa kamu lupa kalau sekarang aku hanya akan melakukan apa yang aku mau, bukan yang orang lain mau, bahkan meski itu kemauan mu."


Bian mengangguk paham, Inggrid sudah sering jelaskan itu padanya, dan Bian tahu jika ia tidak boleh menentangnya.


Secara tiba-tiba, Kania menarik Zahra dan memeluknya, tarikan itu membuat genggaman Bian terlepas dari tangan Zahra.


Tak ada balasan untuk pelukan Kania, Zahra merasa apa yang jadi keputusannya saat ini tetaplah salah, akan seperti apa lagi hidupnya setelah Bian kembali dengan kebebasannya nanti.

__ADS_1


__ADS_2