
Dion terus mengikuti langkah Zahra, ia tak menghentikannya sampai saat ini, niat Dion adalah mereka jauh dari rumah barulah Dion akan menghentikannya.
Kaki Zahra juga terus terayun meski sepertinya tanpa tujuan, mungkin ia akan kembali ke persembunyiannya kemarin, atau mungkin mencari tempat lain lagi.
"Zahra," panggil Dion.
Zahra hanya menoleh sekilasan, sedikit saja Zahra tak berniat untuk menghentikan langkahnya.
"Zahra, kamu tidak mau mendengarkan aku?"
Zahra sedikit menggeleng, mungkin saja lelaki itu akan memaksa Zahra untuk kembali ke rumah dan memperbaiki semuanya.
Zahra sudah tidak mau mendengar rayuan atau paksaan apa pun lagi, Zahra ingin sendiri, ingin bebas dan ingin bahagia.
"Zahra, aku akan temani kamu ke persidangan untuk mengakhiri semuanya."
Langkah Zahra seketika terhenti, ia berbalik menatap Dion yang juga berhenti di hadapannya.
"Kamu selesaikan semuanya sendiri, jangan menunggu dia yang menyelesaikannya."
"Apa maksud kamu?"
"Kamu sudah begitu berjuang atas semuanya, aku mengerti akan ada saat dimana kamu menyerah dengan semuanya, itu wajar dialami manusia, jadi berbuatlah sesuai dengan apa yang membuatmu tenang, meski belum tentu membahagiakan."
"Kamu percaya aku menyerah kali ini?"
Dion tersenyum, ia menyentuh kedua pundak Zahra, entah percaya atau tidak tapi Dion akan menganggapnya percaya.
Entah itu terbukti atau tidak, Zahra harus tetap melangkah, berhasil atau tidak atas keinginannya nanti sudahlah ada ketentuannya.
"Perlakuan yang menyepelekan memang sesekali harus diberi pembuktian, dia tidak bisa berubah sampai saat ini, maka buatlah kamu yang berubah, berubah demi diri kamu sendiri."
Zahra sedikit tersenyum, mungkin memang ini yang Zahra butuhkan sejak kemarin, dukungan untuk langkahnya.
Seseorang yang tidak akan pergi meski Zahra telah mengambil keputusannya sendiri, tidak ada yang difikirkannya saat ini selain dari pada perpisahan itu sendiri.
"Semua memang serba dipaksakan, kalian bersama karena terpaksa, kamu bertahan juga karena terpaksa, aku yakin keputusan yang kamu ambil sekarang sedikit banyak pasti ada keterpaksaan juga, tapi aku harap kamu tidak menyesalinya esok hari."
"Aku akan menyesal jika aku terus bertahan, apa kamu tidak mengerti itu."
"Aku tidak tahu permasalahan sebenarnya, tapi kamu tahu semuanya, aku harap kamu mengerti dan bisa bertanggung jawab atas keputusan mu sendiri."
Zahra perlahan mengangguk, perpisahan itu pasti yang terbaik, Zahra tidak akan mempermasalahkan rumah itu lagi.
Sekarang kebebasannya yang akan diperjuangkan, meski tanpa tempat tinggal dan harta apa pun, Zahra akan tetap melangkah untuk perpisahan itu.
"Untuk menyayangi diri sendiri mungkin kita harus menyakiti orang lain, tapi tidak akan ada yang mengerti kita selain diri kita sendiri."
"Mereka mungkin akan membenci ku esok hari."
"Itu tanggung jawab yang harus kamu terima, jangan lagi menyalahkan orang lain untuk kehidupan mu pribadi."
__ADS_1
Zahra diam, menghela nafasnya panjang dan menurunkan kedua tangan Dion.
Zahra merasa tidak butuh siapa pun sekarang, dalam arti keluarga Bian sendiri, Zahra hanya membutuhkan orang yang bisa mendukungnya saja.
Mendukung tanpa pilihan apa pun, tanpa makian apa pun, mendukung Zahra sepenuhnya sesuai dengan pemikirannya.
"Kamu jangan lari lagi, sekarang sebaiknya kamu tenangkan diri kamu, dan mulai melangkah untuk keinginan kamu."
"Aku tidak mengerti harus bagaimana."
Dion mengangguk paham, itu sudah bisa ditebaknya, ia tersenyum seraya mengusap kepala Zahra.
"Apa keluarga pasien sudah bisa dihubungi?"
"Tidak Dokter, bahkan wanita itu belum datang lagi kesini sampai sekarang."
"Kamu tidak memiliki kontaknya?"
Suster itu menggeleng, ada masalah dengan wanita yang mencoba bunuh diri itu.
Zahra yang diharapkan tak juga datang, hanya hari itu saja dia datang, padahal wanita itu mengatakan akan mengurusnya sampai selesai.
"Bagaimana, Dokter?"
Dokter itu hanya menggeleng, tidak ada yang bisa difikirkannya sekarang selain dari pada menyelamatkan pasiennya.
"Ada masalah?"
"Pasien tanpa identitas itu menunjukan perkembangan, hanya saja perkembangan buruk, Dokter harus melakukan tindakan tapi tidak ada keluarganya disini."
"Bukankah ada yang bertanggung jawab atasnya?"
"Dia belum kembali sampai sekarang, entah kemana dia."
Keduanya diam, memang tidak ada yang bisa mereka lakukan sekarang untuk hal itu.
Mencari orang hidup bukankah lebih menyulitkan, mereka tidak tahu harus bagaimana lagi selain dari pada menunggu saja.
"Kamu harus kembali dalam keadaan baik, apa pun yang akan mereka katakan jangan coba untuk kamu debat, kamu jalan saja dengan apa yang kamu fikirkan."
Zahra tersenyum seraya mengangguk, mereka tengah makan saat ini, Dion membawa Zahra pergi tanpa izin.
Mungkin mereka sedang menunggu keduanya saat ini, tapi biarlah apa pun yang mereka fikirkan Dion tak akan perduli.
"Zahra, Mama ku juga di Rumah Sakit dekat sini."
"Benarkah, kenapa dia?"
__ADS_1
"Sakit, jantung dan ginjalnya bermasalah, sudah satu minggu Mama dirawat."
Zahra mengangguk, ia meneguk minumannya, kasihan sekali tapi semoga saja lekas sembuh.
Kringg ....
Dion melirik ponselnya, panggilan masuk dari Sintia, mungkin benar jika mereka masih menunggunya kembali dengan membawa Zahra.
"Kenapa?" tanya Zahra.
"Itu panggilan dari Sintia, mungkin saja dia masih di rumah kamu sekarang."
Hanya hanya mengangguk saja, terserah Dion mau menjawabnya atau tida, Zahra tidak akan melarang atau pun menyuruhnya.
Panggilan itu berakhir, Dion tak menjawabnya, ia ingin kebersamaannya dengan Zahra saat ini, tanpa ada gangguan apa pun.
"Aku boleh menjenguk Mama mu?"
"Boleh, silahkan saja."
"Nanti malam aku kesana, sehabis ini aku juga harus ke rumah sakit."
"Kenapa?"
Zahra menceritakan tentang wanita asing itu, ia sudah kepalang janji untuk menemaninya sampai sadar nanti.
Dan Zahra belum kembali sejak hari itu, kondisinya yang ternyata koma membuat Zahra merasa tidak perlu terus ada di sana.
"Mungkin aku bisa melihatnya juga?" tanya Dion.
"Tentu saja, mungkin itu seseorang yang kamu kenal juga, siapa tahu saja bisa lebih memudahkan untuk menemukan keluarganya."
"Oke, semoga saja, kita kesana sama-sama."
Zahra mengangguk, keduanya tersenyum bersamaan.
Untuk kali ini, Dion berhadap kalau Zahra akan benar-benar kelua dari kehidupan rumah tangganya.
Sekecil apa pun celah yang ada, Dion akan memanfaatkannya, sampai saat ini Dion rasa kalau tidak ada lelaki lain yang menginginkan Zahra.
"Kamu tidak bekerja?" tanya Zahra.
"Tidak, sejak Mama dirujuk kesini, aku belum bekerja, tidak ada yang menjaganya sehingga aku harus selalu ada didekatnya."
"Dan sekarang kamu disini."
"Keadaan Mama sedang baik-baik saja, tadi aku sudah izin pergi bersama dengan Sintia."
"Oh, Sintia sudah menemui Mama kamu?"
Dion mengangguk pasti, itu memang benar adanya, tapi meski begitu Dion berharap Zahra juga akan benar-benar mengjenguk mamanya.
__ADS_1