Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Percaya Saja


__ADS_3

"Suruh wanita ini pergi sekarang, Bian."


"Kalau Mamah usir Ayra, sama artinya Mamah juga usir aku."


"Jangan bodoh kamu."


"Mah, ini soal hati, Mamah gak bisa atur hati aku sesuka Mamah, aku punya hak untuk memilih apa lagi untuk masa depan aku sendiri."


Kania mengangguk, jadi seperti itu Bian sekarang, yang ada hanya penentangan saja untuk Kania.


"Tolong Mamah percaya sama Bian, Ayra ini baik untuk Bian, dan akan jauh lebih baik dari pada Sintia."


"Apa jaminannya?"


"Jaminannya ya perusahaan itu, Bian tidak akan mungkin mengabaikan perusahaan itu, jadi mana mungkin Bian asal pilih pasangan, Mamah."


Kania diam, apa maksud Bian bicara seperti itu, apa benar Bian akan serius menikah bukan sekedar untuk perjanjian itu.


"Mamah, Bian memang belum siap menikah, tapi Bian juga mau kalau pernikahan Bian itu terjadi satu kali."


Zahra mengangkat kedua alisnya, kenapa Zahra merasa jika ucapan Bian begitu serius, seperti bukan untuk pernikahan kotrak seperti yang disepakati mereka berdua.


"Tolong, Mah."


"Mamah perlu bicara sama kamu, sekarang."


Bian mengangguk setuju, Kania lantas berlalu meninggalkan keduanya begitu saja.


"Bian, aku ...."


"Diamlah," ucap Bian menyela kalimat Zahra.


"Kamu duduk disini, dan jangan kemana-mana sampai aku kembali, kamu juga jangan melakukan apa-apa."


"Bian, ucapan kamu tadi ...."


"Apa pun yang aku katakan, tidak akan mampu merubah perjanjian kita, kamu harus ingat itu."


Zahra diam dan mengangguk, mungkin hanya perasaan Zahra saja jika Bian berkata begitu serius dan penuh harap.


Bian tetap akan menikahinya dengan kontrak sementara, Zahra harus selalu ingat itu dan tidak boleh berharap hal lain lagi.


"Zahra."


"Iya, pergilah."


Bian lantas berlalu meninggalkan Zahra, Bian menyusul kepergian Kania dan menghampirinya di luar sana.


"Mamah, mau bicara apa?"


Kania menoleh dan menatap Bian tanpa celah.


"Ada apa?"


"Kamu serius dengan pernikahan yang akan dilakukan?"


"Apa maksud, Mamah?"


"Bian, kita semua tahu pernikahan kamu itu hanya untuk satu tahun, tapi kenapa ucapan kamu justru seperti itu?"


"Seperti itu, apa?"

__ADS_1


"Kamu mengatakan ingin menikah satu kali seumur hidup, itu berarti kamu akan meneruskan pernikahan itu kan meski telah satu tahun?"


Bian diam, entahlah, Bian enggan memikirkan itu sekarang, Bian hanya ingin pernikahannya dengan Sintia tidak akan terjadi.


"Bian, kenapa diam saja?"


"Bian suka sama Ayra, Mah."


"Itu artinya kamu akan benar-benar siapkan diri untuk menikah?"


Bian berpaling, kenapa pembicaraannya jadi harus seserius itu sekarang, Bian jadi bingung sendiri dengan jawaban yang harus dilontarkannya.


"Bian, beri Mamah penjelasan."


"Iya."


"Iya?"


"Iya .... iya aku mau menikah selamanya dengan Ayra, Bian serius."


"Tidak ada pernikahan sementara?"


Bian menelan ludahnya, Bian tidak memiliki kesiapan untuk semua itu, tapi mau bagaimana lagi jika keadaan memang memaksanya.


"Bian."


"Iya, Mamah."


Kania tersenyum dan mengangguk, seketika itu pula Kania memeluk Bian dengan eratnya.


"Mamah, setuju dengan pilihan Bian?"


"Mamah, merestui pernikahan Bian dan Ayra?"


Kania melepaskan pelukannya dan mengangguk, Bian tersenyum dan langsung mencium punggung tangan Kania berulang kali.


Baguslah, karena Kania telah setuju dengan pilihan Bian, selangkah lebih baik untuk Bian terlepas dari kekangan pernikahan.


Kebebasannya akan tetap ada meski Bian telah menikah, karena Bian akan menikah dengan Zahra, wanita yang juga menolak untuk menikah dalam waktu dekat.


"Terimakasih, Mah."


Kania mengangguk, Bian berpaling, hatinya terasa sangat berbunga saat ini, Kania telah setuju dengan keinginan Bian.


"Tapi bagaimana dengan, Papah?"


Kania mengernyit, tentu saja Kemal pasti menolaknya, karena Bian telah melakukan hal yang teramat memalukan bagi Kema.


"Papah, pasti akan menolak Ayra kan, Mah?"


"Bukankah kamu serius dengan Ayra, jadi sepertinya kamu harus berjuang untuk itu."


Bian diam, apa itu artinya jika Kania tidak akan membantu Bian untuk membujuk Kemal menyukai Ayra.


"Kamu mau menyerah begitu saja, dan itu artinya kamu harus tetap menikah dengan, Sintia."


"Gak, aku gak mau menikah dengan Sintia, aku akan berjuang untuk membuat Papah menyuki Ayra."


"Menyukai?"


"Ya maksudnya, merestui."

__ADS_1


Kania tersenyum dan mengangguk, Kania akan lihat pembuktian ucapan Bian saat ini, apa benar Bian akan memperjuangkan wanita bernama Ayra itu, atau mungkin ini hanya bentuk pemberontakan Bian saja atas perjodohannya dengan Sintia.


"Mamah, tolong jangan usir Ayra dari sini."


"Kenapa seperti itu?"


"Karena Ayra tinggal di Bandung, dan kalau Mamah usir sekarang, Ayra akan kesulitan di jalan."


"Lalu kamu mau Ayra tinggal disini?"


Bian mengangguk pasti, Kania mengernyit, apa Bian sudah tidak waras sekarang.


"Mamah sama Papah disini juga, kita tinggal disini sama-sama, atau kalau memang gak mau, Mamah izinkan Ayra saja tinggal disini dan kita pulang ke rumah."


"Itu lebih benar, kita pulang ke rumah dan biarkan Ayra disini."


"Mamah, serius?"


"Tentu saja."


"Yes."


Bian berpaling sesaat, jawaban Kania sangat membuatnya bahagia, Bian lantas memeluk Kania dan berterimakasih lagi padanya.


"Sudah, Mamah harus temui Papah kamu."


Bian melepaskan pelukannya dan mengangguk, Kania lantas pergi begitu juga dengan Bian yang mengikuti.


Zahra menoleh dan langsung bangkit saat melihat Kania berjalan kearahnya, Kania menghentikan langkahnya dan menatap Zahra.


Tatapan itu membuat Zahra menunduk, apa lagi yang akan dikatakan Kania sekarang, setelah tadi memakinya.


Kania mengangkat tangannya dan itu membuat Zahra memejamkan matanya kuat, tapi ternyata Kania mengusap pundak Zahra dan berlalu meninggalkannya.


Perlahan Zahra membuka matanya dan melirik Kania, wanita itu tampak tersenyum pada Zahra dan berjalan menaiki tangga.


Zahra melirik Bian yang tersenyum padanya, sedetik kemudian Bian melompat dan memeluk Zahra.


"Aduh, Bian .... ih."


Zahra berusaha melepaskan pelukan itu, tapi Bian justru menambah erat pelukannya, Bian membawa tubuh itu berputar.


Kania yang melihatnya tersenyum, kali ini Kania benar-benar melihat Bian bebas, selama dengan Sintia, Bian tidak pernah melakukan hal seperti itu.


Bian selalu terlihat canggung dan malas berdekatan dengan Sintia, tapi dengan Ayra, Bian terlihat lebih santai.


"Bian, lepas ih."


Bian melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap Zahra, ada apa dengan lelaki itu, kenapa tingkahnya seperti itu.


"Kamu kenapa?" tanya Zahra.


Bian melirik tangga, Kania tidak terlihat lagi di sana.


"Mamah setuju, aku sama kamu, dan kita akan segera menikah."


Zahra seketika menganga, apa benar semua itu, kenapa mudah sekali untuk Kania merubah keputusannya.


Tadi Kania sangat jelas memaki Zahra, dan menolaknya, tapi sekarang semua telah berubah.


"Huh, aku tidak akan terkekang meski pun telah menikah sama kamu."

__ADS_1


__ADS_2