Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Urus Dia, Semua Akan Kembali


__ADS_3

Inggrid melihat kepergian mobil Bian, tapi sedikit pun ia tidak berniat untuk menghentikannya, Inggrid yakin jika Bian berniat untuk menyusul Zahra.


Sesaat setelah kepergian Bian, Inggrid mendengar deru mobil memasuki halaman rumah, kakinya yang sempat terangkat harus kembali diam.


Inggrid melihat mobil Kemal yang datang, itu kebetulan yang sangat bagus, mereka datang di waktu yang sangat tepat.


"Apa mereka ada di dalam?" tanya Kemal.


"Sepertinya tidak, bukankah tidak ada mobil Bian disini?"


Kemal mengangguk saja, keduanya lantas berjalan mendekati pintu, tapi seketika itu juga pintu terbuka, Kemal dan Kania sama-sama terdiam melihat wajah kesal Inggrid.


"Mami, Mami masih disini?" tanya Kemal.


"Pertanyaan macam apa itu, apa yang di hadapan mu ini hantu?" tanya Inggrid.


Kemal melirik Kania di sampingnya, ada apa, kenapa Inggrid begitu kesal sekali padahal mereka baru saja datang.


"Mami, ada masalah apa, kita baru saja bertemu, tapi kenapa sudah kesal seperti itu?" tanya Kania.


"Diam kamu."


Kania menunduk sesaat, apa lagi kesalahannya, padahal Kania tidak pernah mengganggu mereka lagi.


"Ada apa sih, Mami," tanya Kemal.


"Apa kalian tidak bisa mendidik anak dengan baik, bagaimana bisa dia tumbuh jadi anak yang kasar seperti itu, keras kepala, egois."


Keduanya saling lirik, apa maksudnya, Bian adalah cucunya seharusnya Inggrid tahu seperti apa cucunya sejak lama.


"Untuk apa kalian kesini?"


"Kami mau bertemu Bian."


"Dia tidak ada disini, kalian pergi saja."


"Dia pergi kemana, bukankah ini masih pagi, apa dia sudah ke Kantor."


"Tidak, tidak ada Kantor yang akan jadi tempat dia bekerja."


Kemal mengangkat kedua alisnya, begitu sulit untuk dimengerti, ada masalah apa sampai Kemal harus ikut kena omel.


Kania terlihat berpaling, ia yakin keadaan buruk itu pasti ulah dari Zahra, bagi Kania sekarang wanita itu adalah biang masalah.


"Kenapa kalian diam saja, dengar ini baik-baik, suruh Bian ceraikan Zahra, dan lupakan tentang perusahaan, Mami lebih baik berikan perusahaan itu pada orang asing dari pada untuk kalian."

__ADS_1


"Tunggu dulu, aku tidak tahu permasalahan yang ada sekarang, kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Kemal.


"Tanyakan pada anak mu sendiri, ingatkan dia untuk ceraikan saja istrinya itu jika memang tidak bisa menghargainya, dia akan celaka sendiri jika terus seperti itu."


"Mami ...."


"Pergi, urus anak kalian."


Kania dan Kemal saling lirik, bisa sekali Inggrid mengusir mereka tanpa kejelasan apa pun, wanita tua itu hanya marah-marah tak jelas.


"Sana pergi."


"Mami, sabar dulu, kita bicarakan semuanya baik-baik, ada apa, apa mereka berdua bertengkar?" tanya Kania.


"Menurut mu apa?"


"Aku kan sudah katakan, Zahra bukan wanita baik untuk Bian, kenapa Mami tidak bisa percaya dengan itu," ucap Kemal.


"Tutup mulut mu itu, kenyataannya yang harus dianggap tidak pantas adalah anak kalian sendiri, dia sama sekali tidak bisa menghargai perempuan, apa kamu sebagai wanita sebagai Ibu dari anak itu, tidak pernah mengajarkan bagaimana cara menghargai perempuan?"


Kania diam, kenapa jadi dirinya yang disalahkan, bahkan Kania tidak tahu sedikit pun permasalahan yang terjadi.


"Mami, jangan seperti itu, Kania sudah menjadi Ibu yang baik untuk Bian," ucap Kemal.


"Tapi hasilnya apa, kalau dia sudah jadi Ibu yang baik, lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, apa sudah jadi Ayah yang baik untuk anak mu, bukankah kamu selalu memperlakukan Istrimu dengan baik, kenapa kamu tidak ajarkan itu pada keturunan mu?"


Kania tersenyum seraya menunduk, baguslah, itu adalah kabar baik untuk pagi harinya, Kania akan temui Bian dan akan suruh lelaki itu menceraikan istrinya, bukankah itu sesuai dengan permintaan Inggrid.


"Apa yang kalian fikirkan?" tanya Inggrid.


"Tidak ada, hanya saja kami tidak paham dengan semua ini."


"Cari anak itu, katakan padanya, perlakukan Ayra dengan baik, atau lepaskan semua impiannya terhadap kekuasaan, dan dia harus bertanggung jawab atas pilihannya itu."


"Tidak bisa seperti itu Mami."


"Kenapa tidak bisa, apa Mami juga harus mengambil perusahaan yang kamu pegang sekarang?"


Kemal mengernyit, bagaimana bisa seperti itu, Kemal sudah membesarkannya dengan susah payah.


"Mami, kenapa jadi kemana-mana bicaranya, sabar dulu," ucap Kania.


"Diam kamu, Mami tahu kalau kamu tidak pernah mau dibawa hidup susah, tapi anak kamu sudah menyusahkan hidup orang lain, lakukan yang terbaik untuk kalian berdua, untuk Bian, untuk kekuasaan, dan untuk Ayra, bukankah hidup harus adil."


"Iya, tapi jelaskan dulu apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Sudah Mami katakan, cari anak itu dan tanyakan sendiri, sekarang kalian pergi, kedatangan kalian hanya membuat kepala Mami sakit saja."


"Mami ...."


"Hidup adalah pilihan, keadaan kalian ada pada keputusan kalian."


Inggrid menutup pintu begitu saja, biarkan mereka yang akan mengurus Bian, Inggrid yakin mereka akan mengambil keputusan sesuai dengan keinginan Inggrid.


"Ada apa ini, bisa sekali Mami berkata seperti itu?" tanya Kemal.


Kania tak menjawab, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kontak di sana, tidak salah Kania memang menghubungi Bian.


"Mama."


"Diamlah, bukankah hanya Bian yang bisa menjawab semuanya."


Kemal mengangguk, ia diam seraya berfikir tentang semua yang dikatakan Inggrid, jika seperti itu perkataannya, berarti sama saja Kemal juga tidak dalam keadaan baik sekarang.


"Dimana kamu, ke rumah sekarang."


Kemal menoleh, baguslah jika Bian menjawab panggilan Kania, dengan begitu semua akan menjadi jelas.


"Pulang sekarang ke rumah, jangan berani membantah Mama, pulang cepat, Mama tunggu kamu."


Kania menutup sambungannya begitu saja, ia tidak akan banyak bicara ditelepon karena memang tidak akan ada gunanya.


"Dia mau pulang?" tanya Kemal.


"Dia harus mau pulang, bukankah dia tahu siapa yang memerintahnya."


Kemal mengangguk, keduanya kembali memasuki mobil dan pergi, mereka akan menunggu Bian di rumah saja.


Kania memang tidak mau dibawa hidup susah, jadi apa pun pasti akan dilakukan untuk mempertahankan kehidupan ternyamannya.


"Papa, jangan pernah biarkan Mami ambil apa yang sudah diberikan sama Papa."


"Kenapa kamu ini, mana mungkin Papa biarkan itu terjadi."


"Bian yang akan mengacaukan semuanya."


"Kita lihat nanti saja, kita juga tidak tahu permasalahannya seperti apa."


"Wanita itu memang tidak tahu diri, dia sudah diselamatkan oleh Bian, tapi sekarang justru mengacaukan kehidupan Bian."


"Diamlah, kita tidak tahu siapa yang salah, jadi jangan dulu banyak biacara."

__ADS_1


Kania diam, mau bagaimana pun Kania tetap tidak bisa terima dengan kekacauan saat ini, Kania sempat menerima wanita itu, tapi tidak untuk sekarang.


Kania akan membuat keadaan baiknya tetap baik, biarkan saja ketidak baikan tetap ada bersama Zahra, tapi tidak dengan kehidupan Kania sendiri.


__ADS_2