Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Biar Aku Mencoba


__ADS_3

Zahra berusaha melepaskan pelukan Bian, kenapa harus seperti itu, bukankah mereka sudah tidak ada lagi sekarang.


Zahra tidak mau terus menerus dibuat berharap dengan hal-hal yang mustahil, Bian mungkin saja masih melanjutkan sandiwaranya.


"Ayo masuk, jangan seperti ini apa kamu tidak malu?"


Tak ada jawaban, Bian hanya diam saja bertahan dengan pelukannya.


"Bian, kita tidak punya banyak waktu, disini sedang ada semuanya, jadi ayo kita harus bicarakan ini dengan mereka."


"Semua akan selesai jika mereka membawa ku."


"Diamlah, lepaskan pelukan mu dan kita masuk."


Bian melepaskan pelukannya, Zahra tidak mau bicarakan hal lain sekarang, Zahra tidak mau lelaki itu datang dan membuat keributan lagi.


Lebih cepat lebih baik, mereka harus segera mendapatkan jalan terbaiknya untuk masalah saat ini.


"Ayo masuk, kamu bisa jalan?"


"Bantu aku berdiri."


"Dimana tongkatnya, atau sebentar aku bawakan kursi roda dulu."


"Aku tidak lumpuh, bantu aku berdiri."


Zahra berpaling sesaat, ia lantas bangkit dan membantu Bian untuk bangkit, sedikit sulit karena sepertinya kaki Bian memang lebih sakit dari sebelumnya.


Zahra memapahnya memasuki rumah, membawa Bian menghampiri mereka semua di sana.


"Apa perlu panggil Dokter?" tanya Inggrid.


"Aku tidak apa-apa," ucap Bian.


"Baguslah, kamu memang tidak boleh lemah."


Bian menoleh, kalimat Inggrid memang selalu terdengar menjengkelkan.


Zahra hanya menggeleng saja mendengarnya, mereka tahu seperti apa keadaan saat ini, jadi apa harus masih ribut-ribut.


"Akan seperti apa jadinya jika Bian dibawa polisi tadi, kenapa bisa seperti itu, sejak kapan mereka datang?" tanya Zahra.


"Mereka datang tiba-tiba saja, lelaki itu langsung mengacaukan semuanya."


"Dia tidak menyakiti Bian, apa dia memukulnya?"


"Tidak, dia tidak melakukan itu," ucap Kania.


Zahra mengangguk, baguslah kalau memang seperti itu, Zahra tidak perlu berfikir tentang itu lagi.


Sesaat ia menatap Bian, lelaki itu hanya diam saja menunduk, mungkin dia sedang menahan sakit di kakinya.


"Lalu akan seperti apa sekarang?" tanya Zahra.


"Lelaki itu hanya ingin Bian ditahan," ucap Kania.


"Dan kalian setuju saja?"

__ADS_1


"Bodoh sekali pertanyaan mu itu," ucap Kemal.


"Kalau begitu, apa kejelasannya, apa yang akan kita lakukan untuk membantu Bian?"


Kemal diam, apa, dia juga tidak tahu harus bagaimana, ingin sekali Kemal menyakiti lelaki tadi jika saja Inggrid dan Kania tidak menahannya.


Lelaki itu sudah sangat mempermalukan keluarganya, di depan semua orang ia memaki Bian tanpa aturan.


"Apa sudah tanyakan dimana anaknya dimakamkan, mungkin saja kita bisa datang kesana."


"Apa gunanya?" tanya Kemal.


"Lelaki tadi hanya minta sikap baik kita, dia ingin keperdulian kita akan apa yang terjadi pada anaknya."


"Dan menurutmu itu cukup?"


"Kita tidak tahu jika tidak mencobanya, terlalu banyak menerka pun bukan jalan yang benar."


Mereka diam, apa yang mereka dengar tadi hanyalah penahanan Bian, tapi bagaimana mungkin itu dibiarkan.


Bian juga tidak akan terima akan penahanan itu, meski pada akhirnya Bian akan dibenarkan bersalah.


"Aku tidak punya apa-apa sekarang, tapi kalian masih memiliki semuanya, mungkin saja tawaran ganti rugi akan sedikit membantu Bian."


"Dan kami harus membayarnya, apa kamu tidak tahu jika perusahaan ku sedang kacau saat ini?"


Zahra mengangkat kedua alisnya, kenapa Kemal jadi nyolot seperti itu, apa salahnya Zahra memberi saran sesuai dengan pemikirannya.


Jika memang mereka tidak setuju, maka mereka bisa melontarkan saran yang mereka miliki sendiri.


"Mami asal setuju saja."


"Lalu kamu memiliki pemikiran seperti apa, kerugian sebesar apa yang kamu alami sampai kamu keberatan menolong anak mu sendiri?"


"Biarkan saja mereka membawa ku," ucap Bian.


"Kamu fikir aku tidak akan malu jika seperti itu?" tanya Zahra.


"Jika kamu malu, kamu bisa pergi tanpa harus memperdulikan ku lagi."


"Benarkah semudah itu?"


Bian diam, lalu harus bagaimana lagi, jika memang itu hanya satu-satunya jalan untuk selesaikan perkaranya.


Lagi pula, mereka sudah meminta Bian meninggalkan Zahra, jadi biarkan saja wanita itu yang pergi kalau memang malu suaminya ditahan polisi.


"Kamu malu Suami mu ditahan?" tanya Inggrid.


"Iya, aku malu jika sampai itu terjadi, aku malu jika Bian ditahan tanpa sempat diperjuangkan kebebasannya, apa kalian tidak malu jika seperti itu keadaannya?"


"Zahra," panggil Inggrid.


"Aku akan tetap disini bagaimana pun keadaannya, ditahan atau tidak, aku tetap ada, tapi aku tidak mau Bian ditahan begitu saja tanpa solusi apa pun sebelumnya, kenapa kalian takut sekali hidup susah, bahkan kita belum tahu ganti rugi seperti apa yang akan mereka minta."


"Menurut mu seperti apa, sudah pasti mereka meminta harta, mereka pasti orang susah makanya sikapnya juga buruk seperti itu."


"Jaga bicara mu," sahut Inggrid.

__ADS_1


Zahra menggeleng, kenapa Kemal berbicara seperti itu, begitu banyak perhitungan sekali pun untuk membantu anaknya.


Jika saja Zahra masih memiliki semuanya, ia tak akan banyak bicara seperti saat ini, Bian adalah yang utama baginya, kenapa harus banyak berfikir.


"Kita harus temui mereka, kita bicarakan ini pada mereka, kita harus mengaku ada di posisi salah jadi jangan balik menantang."


"Temui saja oleh mu sendiri."


"Tentu saja, tapi aku sudah katakan kalau aku tidak punya apa pun sekarang."


"Itu urusan mu, bukankah kamu yang memiliki saran itu."


Zahra mengangguk, itu benar, sarannya mungkin memang tanggung jawabnya, bisakah Zahra menemui mereka sendiri.


Bian melirik istrinya itu, bukankah ia terjebak dengan usulannya sendiri, kenapa harus banyak bicara seperti itu.


"Aku sudah katakan, biarkan saja mereka membawa ku."


"Aku juga sudah katakan, lebih baik kamu diam."


"Zahra."


"Bian aku sudah katakan aku tidak punya apa pun sekarang, apa kamu tidak mengerti, aku hanya punya kamu saat ini, bagaimana bisa aku biarkan kamu pergi."


"Zahra, dengan seperti ini pun belum tentu jadi jalan terbaiknya."


"Paling tidak aku sudah berusaha, bisakah sekali saja kami menghargai usaha ku?"


Tak jawaban, Kania dan Inggrid begitu fokus menatap Zahra, sepertinya mereka sedang memikirkan hal yang sama.


Zahra juga diam sekarang, apa yang harus dilakukannya, apa pemikirannya akan bisa menyelamatkan Bian.


"Jangan merasa paling pintar kamu," ucap Kemal.


"Aku memang tidak pintar, tapi aku juga tidak bodoh, paling tidak jangan rendahkan aku sebelum aku melangkah untuk mencoba."


Kemal sedikit tersenyum mendengarnya, apa lagi jika memang ia masih saja tidak menyukai wanita itu.


Zahra melirik Inggrid di sana, wanita itu pasti mau dan akan selalu membantunya dalam setiap kesulitan, seharusnya Zahra tidak perlu khawatir saat ini.


"Aku akan temui mereka besok, tapi kemana aku harus pergi?" tanya Zahra.


"Besok kamu ada pertemuan penting," ucap Inggrid.


"Ini masih soal harta?" tanya Zahra.


"Ini perihal tanggung jawab."


"Aku tidak pernah minta ada diposisi ini, aku hanya akan melakukan tanggung jawab ku untuk membantu Suami ku, bukankah itu lebih penting?"


"Zahra," panggil Bian.


"Kamu hanya harus fokus dengan kesembuhan kaki kamu, selama aku bisa melangkah aku akan mencobanya, dan selama aku tidak meminta bantuan, tolong jangan banyak melarang ku."


Mereka diam, apa keras kepala Zahra saat ini adalah kesalahan, tapi Zahra merasa memang itu yang terbaiknya.


Biarkan saja Zahra mencoba, semoga saja kali ini ia bisa membuktikan pada Bian, jika ia bisa dipercaya meski hanya satu sisi dari keburukan dalam pandangan Bian selama ini.

__ADS_1


__ADS_2