Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Belum Siap Mati


__ADS_3

"Aku bisa jalan sendiri."


Zahra diam, ia membiarkan Bian turun lebih dulu, sampai pagi ini Bian masih saja kesal padanya padahal sudah berulang kali ia meminta maaf.


Tongkat Bian tidak berpijak seperti seharusnya, sehingga nyaris saja membuatnya terjun, nasib baik Zahra segera menahannya.


"Kamu jangan merasa direndahkan karena dibantu, dalam keadaan ini kamu memang butuh bantuan," ucap Zahra tanpa berani menatap Bian.


Bian menarik dalam nafasnya dan menghembuskannya perlahan, ia melirik tangan Zahra yang masih saja menahan lengannya.


Tanpa perduli apa pun, Bian menepisnya, dan melanjutkan langkahnya begitu saja, Zahra hanya bisa menggeleng dengan sikap Bian tersebut.


"Kalian sudah bangun, ayo cepat sarapan."


"Apa Mama kesini?" tanya Bian.


"Ada urusan apa dia kesini, jelas saja tidak."


Bian mengangguk, ia melewati Inggrid untuk bisa sampai ke meja makan.


Inggrid tersenyum melihat Zahra yang sudah begitu rapi, sesaat ia memeluk wanita kesayangannya itu.


"Kamu yakin mau kesana?"


"Bantu aku untuk bicara sama Marvel, dia pasti ngomel lagi kalau aku terlambat datang."


"Baiklah, itu bukan masalah."


Keduanya tersenyum, Zahra memang berniat ke kantor setelah makan siang, atau setelah urusannya dengan lelaki asing itu selesai.


Zahra tidak mau diganggu apa pun nanti, bahkan meski perihal pekerjaan sekali pun, Zahra akan kembali dengan hasil terbaik dari harapan terbaiknya.


"Ayo makan, bukankah kamu harus menghemat waktu?"


"Tentu saja, ayo makan."


Zahra melirik Bian, lelaki itu sudah lebih dulu menikmati sarapannya, baguslah dengan begitu Zahra tidak perlu repot menawarinya.


Mereka makan dengan tenang, meski terlihat tenang tapi fikiran mereka tetap saja gelisah, Inggrid merasa khawatir dengan nasib Zahra nanti.


"Ayra, kita pergi sama-sama saja."


"Tidak, aku sudah katakan akan pergi sendiri."


"Biarkan saja dia pergi, keras kepala," sela Bian.


Zahra tak menoleh, ia hanya sedikit mengangguk mendengar ucapan Bian.


Biarkan saja, semoga Zahra tetap baik-baik saja dan bisa kembali melihat Bian nantinya.


"Kamu harusnya bisa lebih perduli pada Istri mu, dia seperti itu karena membela mu."


"Aku sudah ...."


"Diamlah, lebih baik kalian fokus makan, jangan sampai mood pagi ini rusak."


Mereka kembali diam, sampai kapan Bian akan membuat Inggrid kesal, ingin sekali Inggrid menyiramnya saat ini.


Entah kemana otaknya itu, Inggrid tak habis fikir dengan lelaki itu, setelah semua yang terjadi Bian masih saja bersikap keras.


"Sebaiknya aku pergi sekarang, aku harus segera ke Kantor setelah ini."


"Makan mu belum habis," ucap Bian.


"Aku sudah kenyang, aku pamit, kalian selesaikan makannya."


"Kabari segera kalau ada apa-apa," ucap Inggrid.


Zahra mengangguk, ia lantas salam pada keduanya, Bian tak lagi menepis tangan Zahra, pasti itu karena ada Inggrid diantara mereka.

__ADS_1


Sudahlah, Zahra tidak mau banyak berfikir sekarang, lebih baik Zahra fokus untuk satu demi satu kegiatannya hari ini.


Seperginya Zahra, mereka masih makan dengan tenang, Inggrid tak bisa berhenti untuk tidak memperhatikan Bian, betapa jengkel Inggrid dengan lelaki itu.


 ----


Zahra melangkahkan kakinya perlahan, ia sudah sampai dialamat tujuannya.


Rumah yang ada dipandangannya tidak terlalu buruk, itu artinya mereka bukan orang susah seperti yang dikatakan Kemal.


Perasaan Zahra mendadak gelisah, ia sangat khawatir dengan dirinya sendiri saat ini, apa yang akan terjadi padanya tidak pernah Zahra ketahui.


"Permisi," ucap Zahra seraya mengetuk pintu.


Zahra mengedarkan pandangannya, tempat itu sangat sepi, apa mungkin karena masih pagi sehingga orang sekitar masih sibuk di dalam rumah.


"Permisi," ucap Zahra lagi.


"Sebentar."


Zahra tersenyum saat pintu terbuka dan melihat lelaki itu lagi, keduanya sama-sama diam bergelut dengan fikiran masing-masing.


Zahra sudah siap dengan makian yang mungkin akan didengarnya, dan Zahra tidak akan mendebatnya sama sekali.


"Kamu benar-benar datang."


"Saya akan selalu berusaha menepati janji."


"Dan kamu hanya sendiri."


"Maafkan Suami saya, saya yang melarang dia untuk ikut, tolong mengerti dengan keadaannya."


Lelaki itu mengangguk acuh, masa bodoh dengan semuanya, yang jelas sekarang ia merasa sedikit tersentuh dengan kedatangan wanita itu.


Ia lantas mempersilahkan Zahra untuk masuk, mempersilahkannya untuk duduk juga, dan dengan gesit membawakan suguhannya.


"Terimakasih, ini terlalu meropatkan pasti."


Zahra mengangguk, ia mengamati sekitar, apa lelaki itu hanya tinggal sendiri saja, kenapa Zahra tidak melihat ada orang lain.


"Bapak tinggal sendiri?"


"Saya ada Istri."


"Ibu masih tidur?"


Lelaki itu diam tanpa kepastian, Zahra menahan nafasnya sesaat, rasanya bingung sekali untuk berbicara saat ini.


Apa bisa jika Zahra langsung menawarinya ganti rugi saja, agar mereka bisa membebaskan Bian.


"Jadi kapan kamu akan biarkan Suami mu itu ditahan?"


Zahra menelan ludahnya, tentu saja itu tidak akan pernah terjadi, Zahra tidak akan biarkan Bian ditahan bahkan meski hanya satu hari saja.


"Saya tidak mau lagi ada alasan apa pun, dan saat ini semua harus selesai."


"Pak, mohon maaf, tapi saya tidak bisa biarkan Suami saya ditahan, tolong beri kami pilihan, saya mau Suami saya tetap bebas."


"Apa kamu sedang bercanda?"


"Tentu tidak, tapi tolong berikan kami pilihan lain, asalkan jangan sampai Suami saya ditahan."


"Apa, maksud mu, kamu mau mengganti nyawa anak saya dengan uang?"


Zahra lagi-lagi menelan ludahnya dengan susah payah, kepanikannya sangat tidak bisa dihindari lagi.


Lelaki itu sudah mengatakannya lebih dulu, apa itu artinya ia akan menolak, dan Bian akan tetap ditahan.


"Saya hanya ...."

__ADS_1


"Kembalikan," jerit seseorang di dalam sana.


Kalimat Zahra seketika terhenti, ia kaget dengan suara itu, lelaki itu juga tampaknya panik dan langsung bangkit dari duduknya.


"Ada apa, suara siapa itu?"


"Jangan banyak bicara."


Zahra mengernyit, kenapa lelaki itu mendadak menyeramkan, apa kesalahannya.


"Kembalikan, mana dia, dia disini, dia harus mati."


Zahra melirik arah suara itu, apa mungkin itu istri dari lelaki di hadapannya.


Zahra menggeleng, ia menepis kemungkinan buruk yang tiba-tiba melintas difikirannya.


Brakk ....


Pintu yang sejak tadi ditatap Zahra terbuka dengan kasar, itu seketika membuat jantung Zahra bergemuruh hebat.


"Ibu," ucap lelaki itu.


"Dia orangnya, dia yang menghilangkan nyawa anak ku, kau harus mati juga."


Zahra bangkit dan perpindah dari tempatnya, apa itu, wanita itu membawa pisau di tangannya, ia berjalan dengan menatap Zahra.


"Kau harus mati, kau adalah pembunuh."


"Bu, sabar dulu," ucap Zahra.


Zahra terus memundurkan langkahnya, ia juga sempat melirik lelaki itu tapi ia hanya diam saja tanpa menghentikan istrinya.


"Jangan fikir kau akan selamat, kau membunuh anak ku, kurang ajar sekali."


Wanita itu tiba-tiba berlari dan mengayunkan pisaunya pada Zahra, malangnya langkah Zahra tertahan kursi sehingga membuatnya justru terjatuh.


"Aaaa," jerit Zahra.


Jeritan Zahra terdengar bersamaan tawa wanita itu, Zahra melihat lengannya dengan cepat ia menekannya.


"Ssss."


Zahra memejamkan matanya, ini terlalu buruk, pisau itu mengenai lengan atasnya hingga membuatnya mengeluarkan darah.


"Kau tahu rasanya seperti apa, itu yang dirasakan anak saya," ucap wanita itu yang kembali tertawa.


Zahra melirik lelaki di belakang wanitanya, apa yang dilakukannya, dia hanya diam saja tanpa membantu.


"Kenapa kau masih hidup, bukankah darah mu sudah banyak yang terbuang, kenapa kau masih hidup?" jeritnya prustasi.


"Ibu hanya melukai tangan ku, bagaimana bisa aku mati."


Wanita itu kembali tertawa dengan renyahnya, kalimat Zahra seolah lelucon paling lucu bagi telinganya.


"Mungkin kepala mu yang harus terluka."


Zahra menggeleng, tidak ada kesempatan untuknya menghindar saat wanita itu kembali mengayunkan pisaunya.


Jeritan Zahra kembali terdengar, untuk kedua kali pisau itu berhasil melukainya, kali ini menusuk tepat ditelapak tangan Zahra karena tangannya yang terangkat menghalangi wajahnya.


"Kau harus mati," bentaknya seraya menarik pisaunya lagi.


"Jangan," jerit Zahra.


"Hentikan ini."


Zahra yang menunduk melihat sepasang kaki yang berpijak di belakang wanita itu, Zahra tak berani melihatnya, rasanya semua tenaganya telah habis sekarang.


"Kenapa kau hanya membiarkannya saja!"

__ADS_1


Zahra memejamkan matanya, bentakan itu begitu keras menusuk telinganya, sepertinya lelaki itu marah pada lelaki yang sejak tadi hanya menonton saja.


__ADS_2