
"Maafkan saya karena mengganggu tengah malam seperti ini."
"Tidak masalah, dimana dia?"
"Ada di kamar."
Inggrid membawa dokter kenalannya menuju kamar, Inggrid sedikit memaksanya untuk segera datang ke rumah agar bisa memeriksa Zahra.
Keduanya memasuki kamar, wanita itu terlihat berbaring dengan mata terpejam, meski Inggrid tahu Zahra ingin istirahat, itu tak lantas menghentikannya untuk menghubungi dokter.
"Silahkan."
"Yang mana lukanya?"
"Lihatlah, keningnya pun memar, dan kedua tangannya, jemarinya seperti tidak berfungsi lagi."
Dokter itu duduk dan meraih kedua tangan Zahra, bukan tak mendengar dan merasakan sentuhan dokter, Zahra hanya tak ingin melakukan apa pun, ia hanya diam saja bertahan dengan mata terpejam.
"Bagaimana bisa seperti ini?"
"Periksa saja, seperti apa keadaannya itu."
Ia memeriksanya dengan hati-hati, respon pergerakan Zahra cukup menjelaskan jika sentuhannya membuat wanita itu merasa sakit.
"Aku akan kembali sebentar lagi," ucap Inggrid.
"Mau kemana?"
"Periksa saja dengan benar."
Inggrid berlalu meninggalkan kamar, ia ingin melihat lelaki tak punya otak itu, kemana dia pergi karena mungkin saja ia diam di ruangan lain yang tidak terjamah.
"Bagaimana bisa seperti ini?" tanya dokter.
"Aku tidak tahu."
"Kamu harus diam jika seperti ini, nyaris saja jemari mu ini remuk."
Zahra menoleh, ia diam menatap dokter yang masih memeriksanya, benarkah sampai seperti itu, lalu berapa lama Zahra harus diam menunggu jemarinya sembuh.
"Apa ini benar-benar tidak bisa digerakan?"
"Benar."
"Sedikit saja, cobalah."
"Aku tidak bisa."
Dokter mengangguk, ia lantas mengeluarkan apa yang memang dibutuhkannya, tanpa bicara apa pun lagi dokter itu fokus mengobati Zahra.
Bagaimana sekarang, apa Inggrid masih akan memaksanya untuk mengurus perusahaan, Zahra sepertinya tidak akan sanggup jika harus seperti itu ketika bersama Bian.
"Kening mu ikut terluka."
"Ini tidak sengaja, aku terjatuh sewaktu di kamar mandi, dan mengenai bathtub di sana."
"Benarkah seperti itu?"
"Tentu saja, aku yang mengalaminya, jadi hanya aku yang tahu jika itu kebenarannya."
__ADS_1
"Baiklah."
Dokter melihat sesekali Zahra meringis karena sakit, tapi mau bagaimana pun pengobatan harus tetap dilakukan.
Memang tidak bisa dihindarkan, pemikiran dokter tentang kekerasan yang mungkin dialami Zahra saat ini, kesepuluh jemarinya yang terluka bersamaan sudah sangat menjelaskan.
"Kamu harus benar-benar diam, tidak menggunakan tangan mu untuk apa pun, selama beberapa waktu mungkin kamu akan seperti seorang yang tidak mempunya tangan, kamu akan menggunakan tangan orang lain untuk kebutuhan mu."
Zahra tak bergeming, kasihan sekali nasibnya, ini adalah bukti dari ucapan mertuanya dulu, Zahra bisa mendapatkan kembali rumahnya, tapi tidak dengan kebehagiaan yang di dapatnya di sana.
Zahra tersenyum miris, itu memang sangat buruk, tapi hati Zahra selalu saja memaksanya untuk tetap tinggal dan bertahan, meski entah untuk apa.
"Baiklah, biarkan tangan mu seperti itu, kamu harus berhati-hati kalau mau menggerakan tangan mu, tapi jangan ragu untuk mencoba menggerakan jemari mu."
"Berapa lama akan seperti ini?"
"Kalau kamu hati-hati pasti akan cepat pulih, periksakan saja kalau kamu merasakan sesuatu."
Zahra mengangguk, ia kembali memejamkan matanya saat Inggrid memasuki kamar, wanita tua itu kembali berdiri di sampingnya.
"Bagaimana?"
"Ini tidak baik, sebaiknya tidak dulu menggunakan tangannya untuk hal apa pun beberapa hari ke depan, anda harus membantunya."
"Tentu saja, tidak perlu khawatir."
"Saya sudah mengobatinya, semua sudah selesai, ini resep obat yang mungkin akan dibutuhkan olehnya."
Inggrid mengangguk dan menerima kertas kecil itu, ia melirik Zahra yang tetap saja diam dengan mata terpejam.
Inggrid tidak menemukan Bian, lelaki itu telah pergi meninggalkan rumah, Inggrid akan menghukumnya nanti kalau dia kembali.
"Mari saya antar."
Keduanya lantas berjalan keluar kamar, Zahra kembali membuka matanya, ia menatap kepergian dua orang itu.
Lalu setelah ini, apa lagi yang akan terjadi padanya, bisa saja Bian membunuhnya jika kekesalannya kembali ada.
"Terimakasih banyak, maaf kalau sudah merepotkan mu."
"Tidak masalah, ini tanggung jawab ku juga."
"Berhati-hatilah di jalan, saya pasti akan membutuhkan anda lagi."
"Baiklah, semalam malam."
Inggrid mengangguk, ia membiarkan mobil itu melaju pergi meninggalkan rumahnya, Inggrid menggeleng seraya kembali masuk.
Tidak ada yang bisa difikirkannya saat ini, ia hanya fokus pada Zahra saja, Inggrid harus lebih baik lagi menjaganya.
"Kamu benar-benar tidur?" tanya Inggrid.
Zahra menoleh, bagaimana bisa ia tidur jika rasa sakitnya terus saja dirasakannya.
"Zahra, apa kamu tidak bisa duduk?"
"Tentu saja aku bisa."
"Kamu mau bicara sama Oma?"
__ADS_1
Zahra mengangguk, dengan tetap dibantu Inggrid, Zahra lantas duduk dan bersandar senyaman mungkin.
Inggrid turut duduk di depannya, memang malang nasibnya, ia harus bertemu dan bersama dengan cucunya yang begitu tidak menghargainya.
"Kenapa, Oma harusnya istirahat saja."
"Oma belum mengantuk, dari tadi kamu hanya diam saja, Oma fikir kamu benar-benar tidur."
"Itu sangat tidak bisa."
Inggrid mengangguk, ia berpaling sesaat, apa pun yang akan didengarnya sekarang, memang harus bisa diterima Inggrid.
"Oma kenapa?"
"Setelah seperti ini, setelah selama ini, apa yang kamu fikirkan?"
Zahra diam, bolehkah jika Zahra menolak pembahasan Inggrid saat ini, Zahra tidak mau berfikir apa pun.
"Oma memang sudah sangat egois, Oma sudah memaksakan semuanya semau Oma, dan hasilnya sangatlah buruk."
"Lalu, Oma mau aku seperti apa?"
"Seperti apa, kali ini biarkan Oma yang mengikuti keinginan kamu."
"Aku ingin pergi."
Inggrid diam, Bian mungkin tidak akan merasa keberatan jika kehilangan Zahra, tapi rasanya Inggrid yang akan begitu keberatan dengan hal itu.
"Aku tidak bisa seperti ini terus menerus, aku masih ingin hidup, entah apa yang akan terjadi setelah hari ini."
"Kamu mau berpisah sama Suami kamu?"
"Tentu saja tidak."
"Lalu, pergi apa maksud kamu?"
Zahra kembali diam, perlakuan buruk Bian memang sudah sangat menyakitinya, tapi tetap saja Zahra tidak bisa untuk meninggalkannya.
"Zahra."
"Aku mau ikut Oma pulang, bukankah Oma akan pulang untuk waktu yang cukup lama?"
"Itu benar."
"Aku ingin bersama Oma, sampai aku sembuh."
"Dan kamu akan kembali pada Suami mu?"
"Aku tidak tahu."
Inggrid mengangguk, ia berpindah ke samping Zahra, menariknya bersandar ke pundak.
Zahra tersenyum, memang itu yang sedang diinginkan olehnya, Zahra butuh sandaran yang bisa membuatnya nyaman dan tenang.
"Apa pun keputusan kamu, Oma tidak akan menghalangi mu lagi, kamu mau pergi, silahkan saja, Oma akan tetap menyayangi kamu dan menjaga kamu."
Tak ada jawaban, Zahra memang tidak ingin terus diperlakukan buruk, tapi ketidak inginan ia untuk pergi juga lebih kuat.
Harus apa Zahra sekarang, berbulan-bulan kebersamaannya dengan Bian, tak lantas merubah sikap suaminya menjadi baik.
__ADS_1
Bian justru semakin buruk saja dalam memperlakukannya, Zahra tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dan sekuat apa Zahra bisa melawannya atau sekedar bertahan untuk keselamatan dirinya sendiri.