
Sintia memasuki rumahnya, ia membanting pintu dengan kesalnya, bisa sekali Zahra dan Vanessa bersikap seperti itu.
Kenapa juga Vanessa harus datang, siapa yang mengundangnya kesana, lagi pula tidak ada urusannya dengan Riana.
"Aku pulang ya."
Sintia melirik pintu, ia mengernyit dan kembali membuka pintunya.
"Aku pulang sekarang."
"Kenapa kamu masih disini?"
Damar tersenyum, ia mengangguk seraya berjalan mendekat.
"Bukankah sudah sering terjadi, tidak semua yang akan terjadi itu sesuai dengan keinginan kita."
Sintia diam, ia benar-benar marah pada mereka, menyesal sekali Sintia mengajak mereka datang.
"Tidak ada gunanya kamu seperti ini, semua sudah terjadi, mereka sudah kesal dan pesta sudah kacau."
"Dan aku malu."
"Dan kamu bisa minta maaf setelah teman kamu merasa lebih baik."
"Tetap saja."
Damar mengangguk, paling tidak Sintia masih memiliki niat baik untuk memperbaiki masalahnya.
"Sintia, kamu baru pulang?"
Sintia menoleh, ia mengangguk dan salam pada ibunya.
"Selamat malam, Bu," sapa Damar seraya salam.
"Kenapa, ada masalah, kenapa wajah kamu seperti ini?"
"Memang menyebalkan."
"Kamu bertemu Vanessa, Mama sudah suruh dia datang kesana tadi."
Sintia mengernyit, untuk sesaat ia diam menatap sang mama, jadi ini ulah mamanya sendiri.
Sintia melirik Damar, ia menelan ludahnya seret, ingin sekali Sintia marah pada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ada apa, kamu tidak bertemu dia, atau jangan-jangan dia nyasar."
"Memang nyasar, tidak seharusnya dia datang, tidak ada yang mengundang dia."
Sintia menghentakan kakinya kasar, mana bisa ia memaki wanita itu, Sintia akan berdosa padanya.
"Maaf Bu, sebaiknya Sintia disuruh istirahat saja."
"Ada masalah apa, saya butuh penjelasan."
Damar menunduk sesaat, apa yang harus dikatakannya, kenapa tidak tanya saja nanti pada Sintia.
Sintia menghembuskan nafasnya prustasi, ini sungguh malam yang sangat buruk, ia berfikir akan sepenuhnya bahagia di pesta itu.
Tapi justru malang, Vanessa memang keterlaluan, lihat saja besok wanita itu yang akan jadi tujuan utama Sintia.
__ADS_1
"Kamu pulang saja, aku mau tidur."
"Benar tidur, jangan lagi uring-uringan."
"Pulang."
Damar mengangguk, ia lantas pamit pada keduanya dan pergi meninggalkan keduanya.
Sintia melirik ibunya sekilas dan pergi begitu saja, bisa sekali menyuruh Vanessa menyusul seperti itu.
"Sintia, kamu kenapa seperti itu sama Mama?"
-----
"Jam berapa ini, kenapa kalian baru pulang jam segini?" tanya Inggrid kesal.
Zahra tak perduli, ia melangkah melewati Inggrid tanpa sempat menyapanya sama sekali.
"Ayra," panggil Inggrid.
Tak ada jawaban, jelas saja itu membuat fikiran Inggrid kabur, ia lantas menatap Bian dengan penuh curiga.
"Aku tidak melakukan apa-apa, aku tidak mengerti kenapa Zahra seperti itu."
"Kamu fikir Oma percaya?"
Bian menggeleng, terserah saja mau percaya atau tidak, Bian sudah berkata yang sebenarnya.
Zahra memang aneh, ia menuduhnya begitu saja, padahal Bian tidak melakukan apa pun.
"Berani lagi kamu bertingkah, kamu akan merasakan lagi kesusahan yang sama."
"Sejak kapan kamu bisa dipercaya?"
Bian diam, ia sudah pusing dengan amarah Zahra yang tak jelas, dan sekarang Inggrid justru mengomelinya seperti itu.
Lalu harus seperti apa Bian agar bisa dipercaya, jika jujur saja tidak dipercaya mungkin memang aebaiknya Bian berbohong saja.
"Kamu masih mau diam disini?"
"Tidak, aku akan susul Zahra."
"Buat dia membaik bukan malah semakin buruk."
Bian tak menjawab, ia pergi begitu saja menaiki tangga, apa yang harus dilakukannya.
Bian sudah melakukan yang terbaik sebisanya, tapi memang Zahra saja yang sulit dimengerti.
"Zahra," panggil Bian seraya memasuki kamar.
Wanita itu tampak berbaring di kasur sana, sudah ada dalam balutan selimut dengan mata terpejam.
Bian mendekat, rasanya tidak mungkin jika Zahra terlelap, dia baru bebera saat saja masuk kamar.
"Kamu tidur?" tanya Bian mengusap kepala Zahra.
Tak ada respon, memang terlihat seperti terlelap, tapi bukankah Zahra sudah biasa seperti itu.
"Zahra, aku tidak melakukan apa pun, aku melihat dia saat tadi kita bersama, sedangkan sebelumnya aku tidak tahu kalau dia ada disana juga."
__ADS_1
Zahra tak bergeming, kalau sampai Zahra bertahan dalam diamnya lagi, Inggrid akan semakin memarahinya.
Bagaimana bisa itu terjadi, baru sesaat saja Bian merasa Inggrid mulai baik padanya, apa Zahra tidak berfikir tentang itu.
"Zahra, katakan aku harus seperti apa agar kamu percaya, aku sama sekali tidak berbicara dengannya, aku sudah berusaha untuk tidak berurusan lagi dengannya, kenapa kamu tidak percaya itu?"
Bian menoleh saat pintu kamar terbuka, wanita tua itu tampak masuk dan menghampiri.
"Kenapa dia, kamu lakukan apa lagi?"
"Aku tidak tahu."
"Apa kalian tidak sama-sama tadi, bagaimana bisa kamu bicara seperti itu?"
Bian diam, seharusnya Zahra bisa mendengar itu, tidak bisakah Zahra bicara agar Bian tidak disalahkan.
"Kalau terus seperti ini, lebih baik kamu tidak perlu lagi mendekatinya, kalian masing-masing saja."
"Mana bisa seperti itu."
"Lalu seperti apa yang bisa, jangan pernah membuatnya tertekan apa kamu tidak mengerti, kamu masih tidak paham dengan itu?"
"Oma, aku tidak melakukan apa-apa, Zahra hanya salah paham saja."
"Salah paham apa, Sintia atau wanita mana lagi sekarang?"
Bian mengernyit, kenapa jadi Sintia, kemana lagi arah fikir Inggrid sekarang, apa sudah tidak ada lagi kebenaran yang terlihat dari Bian.
Atau mungkin Inggrid memang sudah membencinya, dan sampai kapan pun akan tetap membencinya.
"Oma, aku sedang berusaha menjadi apa yang kalian mau, apa tidak bisa percaya sedikit saja."
"Menjadi yang kalian mau, kamu berubah untuk hidup mu sendiri."
"Iya, tapi jangan terus menyalahkan aku seperti ini."
"Kenapa, kamu berbah fikiran untuk menjadi baik?"
Bian menahan nafasnya beberapa saat, lantas menghembuskannya perlahan, ia berpaling, Zahra memang keterlaluan.
Bian mengangguk, terserah mereka saja mau seperti apa, Bian juga pusing memikirkan mereka semua.
"Aku tidak tahu harus bicara seperti apa, dan sekarang terserah Oma saja mau berfikir seperti apa, yang jelas aku tidak melakukan apa pun juga karena kenyataannya Zahra memang salah paham."
"Salah paham apa?"
Bian menggeleng, sudah malah ia untuk banyak bicara, bukankah sudah tidak ada kepercayaan lagi untuknya sekarang.
Bian bangkit, ia melirik Zahra sesaat sampai akhirnya ia pergi keluar dari kamar tersebut.
"Keras kepala sekali lelaki itu."
Inggrid menggeleng, kejengkelannya terhadap Bian tetap saja ada sampai detik ini, entah bagaimana Inggrid harus menghilangkannya.
"Ayra, kamu sudah tidur, Oma disini sekarang."
Inggrid duduk dan mengusap kepala Zahra, sudah sejak tadi Inggrid menunggunya kembali, dan saat datang justru seperti itu.
"Ayra."
__ADS_1
Sama halnya dengan Bian, Inggrid juga tak mendapatkan respon apa pun, tentu saja sikap Zahra yang seperti itu sangat membuat Inggrid khawatir.