Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Itu Berbeda


__ADS_3

Bian memasuki rumah dengan kesalnya, ia tak perduli meski ada Inggrid dan Kania di sana.


Tak berselang lama, Zahra tampak berlari masuk mengejar Bian, hal itu cukup membuat mereka curiga.


"Ada apa ini?" tanya Kania menahan Zahra.


Zahra menoleh, ia kembali melirik Bian sesaat, lelaki itu telah menghilang ke atas sana.


"Ada apa, kalian bertengkar lagi?" tanya Inggrid.


"Dari mana kalian?" tambah Kania.


Zahra merogoh tasnya, ia memberikan dua amplop hasil pemeriksaan tadi pada Kania.


"Apa ini?"


"Berhenti membahas Cucu, itu hanya akan menyinggung perasaan Bian."


"Apa maksudnya?"


"Aku tidak bisa menjelaskan isinya, mungkin Mama lebih tahu, permisi."


Zahra melirik Inggrid dan mengangguk hormat matanya, ia lantas pergi menyusul Bian sudah pergi sejak tadi.


"Apa itu?" tanya Inggrid.


Tak ada jawaban, Kania membuka amplopnya dan membacanya.


Tentu saja reaksinya tidak baik-baik saja, ia cukup mengerti dengan isi kertas tersebut, dan bagaimana bisa ia mempercayainya.


"Ada apa, surat apa itu?" tanya Inggrid lagi.


"Bian tidak punya anak."


Inggrid mengernyit, ia dengan cepat merebut kertasnya dan membacanya dengan teliti.


Inggrid tidak tahu jika mereka pergi ke rumah sakit saat tadi, ia memang melihat mereka pergi tapi tidak bertanya akan kemana.


"Ini pasti salah," ucap Kania


"Mereka tidak membuat ini sendiri, ini hasil pemeriksaan resmi dari Rumah Sakit."


 


"Katakan padaku kalau itu tidaklah benar."


"Diamlah dulu, jangan seperti ini, bagaimana aku bisa bicara."


Bian mengacak rambutnya prustasi, ia sangat menyesal karena sudah melakukan pemeriksaan itu.


Hasil yang sangat buruk, bagaimana cara Bian bisa memerimanya, setelah berulang kali Kania membahas cucu dan ternyata Bian sendiri yang tidak bisa memberikan itu.


"Bian."

__ADS_1


"Aku tidak ingin semua ini!" bentak Bian.


Zahra memejamkan matanya sesaat, lalu apa yang harus Zahra lakukan, itu juga bukan keinginannya.


"Kamu senang sekarang, bukan kamu yang bermasalah, tapi aku."


"Aku tidak sedang mengejek mu, apa kamu tidak bisa diam?"


"lebih baik kamu yang diam."


Bian berbalik dan duduk di kasur sana, semua terasa menjengkelkan, kenapa bisa seperti itu.


Rumah sakit mana yang bisa memberikan hasil berbeda, pemeriksaan itu pasti salah, itu pasti bukan hasil pemeriksaan Bian.


"Tidak ada yang tidak mungkin, apa kamu tidak mengerti itu?"


Tak ada jawaban, Bian mengusap wajahnya berulang kali dan diam dengan mengepalkan kedua tangannya.


Zahra menggeleng, ia turut duduk dan mengusap pundak Bian perlahan.


"Jangan bersikap sok baik."


"Lalu aku harus bagaimana, kenapa jadi aku yang kena marah, kamu fikir aku senang dengan ini?"


Bian diam, seharusnya mereka tidak pergi tadi, seharusnya Bian ke kantor saja dan mengurus pekerjaannya di sana.


"Bian, seperti ini pun tidak akan merubah apa-apa, tidak ada gunanya."


"Bisa kamu bicara seperti itu, apa kamu tidak mengerti perasaan ku?"


Bian kembali diam, ia memajukan tubuhnya, bertumpu pada pahanya seraya menutup wajahnya.


Itu memalukan sekali, kenapa Bian tidak bisa punya anak, padahal ia selalu menjaga kesehatannya selama ini.


"Tidak ada gunanya seperti ini, Bian kita melakukan periksaan setiap saat untuk mengetahui perkembangannya."


"Perkembangan apa, aku tidak bisa punya anak, apa itu tidak jelas?" tanya Bian menatap Zahra.


"Kecil kemungkinan, bukan berarti tidak bisa, kenapa kamu seperti ini, kamu bisa punya anak jangan menyerah begitu saja."


Bian berpaling, ia diam menatap lantai di bawahnya, apa yang harus difikirkannya, Bian tidak inginkan kenyataan seperti itu.


"Bian, kita lakukan apa saja, bukankah sekarang sudah banyak cara untuk bisa hamil, jadi berfikirlah dengan benar."


"Kamu mau punya anak?"


Zahra balik diam, tentu saja ia mau, hanya saja memang belum siap untuk sekarang.


Bisakah jika ditunda saja, Zahra tidak mau bahas itu sekarang, mungkin Bian bisa fokus pada dirinya saja untuk sekarang.


"Kamu tidak mau?"


"Kemauan itu hanya akan membuat mu semakin merasa tidak berguna, kita jalani saja semuanya, tidak perlu mengatakan mau atau tidak, kita akan dapatkan itu suatu hari nanti."

__ADS_1


Bian diam, entah tepat atau tidak jawaban itu, Bian tidak bisa berfikir dengan benar sekarang.


Apa mereka harus berdebat seperti itu, Zahra tidak menyukainya sama sekali, untuk apa mereka ribut jika baik-baik saja terasa lebih menyenangkan.


"Bian, jangan marah-marah seperti ini, aku sudah katakan kalau aku tidak mau kamu berubah."


Bian menghembuskan nafasnya sekaligus, ia menoleh dan menarik Zahra ke dalam dekapannya.


Tentu saja itu membuat Zahra tersenyum, tanpa menunda ia langsung membalas pelukan tersebut.


"Aku selalu ingin menyerah dengan keadaan, tapi saat yang sama aku bertahan dengan semuanya, hingga saat ini aku merasa balasan untuk kesulitan selama ini telah tiba, aku senang dengan keadaan saat ini, jadi kamu juga jangan menyerah begitu saja."


Tak ada jawaban, Bian tidak tahu harus bicara apa, bukankah keadaan ini berbeda, ini bukan soal kebencian yang selalu Zahra dapatkan dulu.


Bian tidak bisa menerimanya sama sekali, tapi Zahra bicara dengan begitu mudahnya, apa benar wanita itu tidak mengerti.


"Jangan berfikir apa pun kalau itu hanya mengecewakan mu."


"Buang kertas itu."


"Aku sudah berikan itu sama Mama, mereka tidak akan membahas Cucu lagi sekarang."


Bian diam, Zahra sengaja memberikan itu, akan seperti apa tanggapan mereka nanti.


Jika kemarin mereka membenci Zahra, mungkin kali ini mereka akan membenci Bian.


"Tidak akan ada apa pun, semua akan baik-baik saja mereka tidak akan memaki mu untuk hal ini."


"Itu belum tentu benar."


"Jangan khawatir, mereka selalu menyayangi mu, bagaimana bisa mereka membenci mu."


Keduanya diam, bergelut dengan fikiran masing-masing, Zahra merasa sedikit lega karena mungkin ia bisa menunda untuk punya anak sampai ia siap nanti.


Tapi kasihan juga dengan Bian, kenapa harus seperti itu kenyataannya, Zahra khawatir jika hal itu terjadi padanya tapi ternyata salah.


"Bian," panggil Kania seraya memasuki kamar.


Keduanya menoleh bersamaan dengan pelukan yang terlepas, Zahra bangkit untuk memberi tempat bagi Kania.


"Mama bisa memarahi ku kalau mau."


Kania duduk di samping Bian, Zahra menoleh ia melihat Inggrid yang juga memasuki kamar.


Mungkin saja Zahra harus pergi sekarang, kakinya yang sempat melangkah kembali mundur.


Inggrid menahannya agar tetap di sana, lagi pula tidak ada yang memintanya untuk pergi meski mereka telah datang.


"Aku yang sebenarnya tidak berguna," ucap Bian.


Zahra dan Inggrid menoleh bersamaan, apa yang dikatakan Bian, Zahra sudah mengatakan jika semua akan baik-baik saja.


"Aku tidak tahu kalau akan seperti ini, bukan Zahra yang tidak bisa hamil."

__ADS_1


"Diamlah, jangan lagi membahas ini," sahut Kania.


__ADS_2