Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Bisa Apa?


__ADS_3

Bian memasuki kamar rawat Zahra, wanita itu terlihat sedang menikmati sarapan yang diberikan pihak rumah sakit.


"Zahra, kamu sudah bangun."


Zahra tak merespon sedikit pun juga, ia memilih fokus pada makanannya saja, lagi pula lapar sekali perutnya saat ini.


Bian duduk di samping Zahra, tersenyum melihat lahapnya makan Zahra.


"Enak makanannya?"


Tetap tak ada jawaban, Bian mengangguk pelan, semalaman Bian sudah seperti orang gila berbicara sendiri, dan sekarang apa nasibnya masih akan sama saja.


"Zahra, aku minta maaf untuk semua yang telah terjadi, aku memang memaksakan semuanya sendiri tanpa peduli dengan pendapat kamu."


Zahra menghentikan kegiatannya sesaat, tapi kemudian melanjutkannya lagi, kalimat Bian membuatnya ingin menangis, tapi Zahra harus bisa menahannya saat ini.


"Kita sudah menikah, tapi aku tidak akan merubah apa pun, kamu bebas mau melakukan apa pun yang kamu mau."


Zahra tak mau mendengar apa pun, kenapa Bian tidak diam saja dan biarkan Zahra tenang sendiri.


Bian meraih tangan Zahra yang hendak melahap makanannya, Zahra menoleh dan menarik tangannya tapi Bian menahannya kuat.


"Aku sudah cukup diacuhkan semalam sama kamu, aku bicara baik-baik, Zahra."


Zahra hanya diam menatap Bian, mau bicara baik-baik pun jika keadaan sudah tidak baik, maka tidak bisa juga Zahra baik-baik.


"Zahra."


Zahra tetap berusaha menarik tangannya, saat perutnya sedang lapar, kenapa ada orang yang dengan sengaja mengganggunya.


"Katakan sesuatu sama aku, jangan hanya diam saja seperti ini."


"Lepas."


"Aku akan lepaskan, tapi kamu harus jawab semua yang aku katakan."


"Lepas."


Bian melapaskan genggamannya, Zahra mendelik dan kembali melanjutkan makannya.


"Permisi."


Keduanya menoleh bersamaan saat pintu terbuka, Bian mengernyit melihat Dion yang datang kesana.


Dari mana Dion tahu kalau Zahra masuk rumah sakit, bukankah hanya orang tua Bian saja dikasih kabar tentang itu.


"Dion."


"Bian, sorry aku ...."


"Masuk sini, bawa gak?" tanya Zahra.


Bian menoleh, apa maksudnya, kenapa giliran sama Dion, Zahra mau berbicara.


"Aku bawa."

__ADS_1


"Ya sudah sini."


Dion berjalan menghampiri keduanya, Bian tak melepaskan tatapannya dari Dion, kurang ajar sekali lelaki itu berani mendekati Zahra seperti itu.


"Ini pesanannya."


Zahra tersenyum dan menerima apa yang diberika Dion.


"Kalau gitu, aku pamit," ucap Dion.


"Kenapa buru-buru?" tanya Zahra.


"Tidak apa-apa, kan disini juga sudah ada, Bian."


"Lalu kenapa?"


"Ya aku ...."


"Kamu keberatan, Dion, ada disini?" tanya Zahra pada Bian.


Bian menghela nafas tanpa menjawab, untuk apa mempertanyakan itu, seharusnya Zahra sudah tahu sendiri jawabannya.


"Kenapa diam, keberatan?"


"Sudahlah, Ra," ucap Dion.


"Loh kenapa, aku kan bertanya, orang bertanya kan bebas, lagian Bian sendiri kok yang bilang kalau aku masih bebas melakukan apa pun yang aku mau, iya kan, Bian?"


Bian tak menjawab dan memilih pergi meninggalkan keduanya, lama-lama ada di sana, Bian akan emosi pada mereka berdua.


"Biarkan saja."


Zahra menahan Dion yang hendak menyusul Bian, Dion menggaruk kepalanya yang tak gatal, apa yang akan difikirkan Bian tentang semua itu.


"Ra, aku gak bisa disini."


"Kenapa?"


"Ra, sekarang semua sudah berbeda, kamu dan Bian sudah ...."


"Menikah?"


"Memang itu kan kebenarannya?"


Zahra tersenyum seraya berpaling, pernikahan apa yang terjadi antara Zahra dan Bian, bukankah Dion juga tahu tentang semuanya.


"Ra, ini gak bisa, ini hanya akan merusak hubungan baik aku dan Bian."


"Ya sudah pergi, pergi saja, mungkin aku yang salah minta bantuan sama kamu."


Dion diam, kalau saja Zahra katakan jika ada Bian di sana, tentu saja Dion tidak akan mau datang.


"Sana pergi, kenapa masih disini, ini bawa lagi saja."


Zahra mengembalikan apa yang sudah dibelikan Dion itu, meski itu memang pesanannya tapi Zahra tidak menginginkannya lagi.

__ADS_1


"Itu pesanan kamu."


"Aku sudah gak mau lagi, kamu bawa pulang saja."


"Katanya kamu mau jus."


"Itu tadi, sekarang sudah enggak."


"Jangan seperti itu dong, Ra."


Zahra tak menjawab, Zahra meraih gelas di meja sampingnya dan meneguk airnya.


"Pernikahan aku dan Bian hanya diatas kertas, kamu juga tahu itu, jadi jangan mempersulit aku dengan menyangkut pautkan semuanya dengan pernikahan itu, aku bukan istri Bian, aku masih bebas dekat sama siapa saja, dan itu yang dikatakan Bian juga."


"Aku tahu, tapi kamu lihat kan reaksi Bian tadi seperti apa?"


"Lalu apa masalahnya, dia sudah melakukan semua semaunya saja, dia memperlakukan aku semaunya saja, kamu fikir aku bisa terima?"


Dion kembali diam, nafasnya Zahra mulai memburu, matanya juga memerah, mungkin Zahra akan menangis sekarang.


"Kenapa kamu bawa aku ke tempat itu kemarin, kenapa?"


Zahra mendorong bahu Dion, benar saja air matanya melintas tanpa hambatan dikedua pipinya.


"Kenapa, aku gak mau datang kesana."


Zahra kembali mendorong Dion, mereka berdua memang sama saja menjengkelkan, tidak mengerti cara menghargai perasaan orang lain.


"Zahra."


"Diam."


Dion menunduk sesaat, lalu apa yang bisa dilakukannya sekarang, semua sudah terjadi, dan Dion juga tidak bisa melakukan apa-apa.


"Teman kamu itu lelaki kasar, aku gak mau hidup sama lelaki seperti dia, kenapa kamu malah mendukungnya seperti itu, kenapa?"


"Tapi sejak awal juga kamu yang setuju dengan semuanya."


"Tapi aku berubah fikiran, aku gak mau mengikuti semua kemauan dia."


"Aku sudah tanya kamu berulang kali sewaktu di rumah, aku tanya apa yang sudah terjadi, aku tanya apa yang sudah dilakukan Bian sama kamu, tapi kamu gak menjawab, kamu hanya nangis sambil teriak, kamu fikir itu bisa menjelaskan semuanya."


Zahra mengernyit dan menatap Dion, apa lagi yang harus dikatakannya, seharusnya Dion mengerti dengan apa yang sudah dilihatnya.


"Kamu tahu apa yang aku fikirkan saat melihat kamu di rumah waktu itu .... aku berfikir kalau Bian sudah merusak kehormatan kamu, dan kamu mau aku jauhkan kamu dari Bian, bagaimana masa depan kamu Zahra?"


Zahra mengepalkan tangannya, apa yang sudah dilakukan Bian kembali melintas difikirannya, bentakan itu dan semua perlakuan tidak baik Bian.


"Aku bawa kamu menemui Bian, karena aku fikir memang itu sudah seharusnya, Bian memang harus bertanggung jawab atas diri kamu."


Zahra menutup kedua telinganya seraya menunduk, tidak ada lagi yang ingin didengarnya saat ini.


Dion sama sekali tidak mengerti dengan keinginan Zahra, memang lebih baik Dion pergi saja dari ruangan itu.


"Aku pulang, Ra, maaf kalau aku tidak bisa bantu kamu, karena sekarang ikatan kamu dan Bian tetap harus dihargai."

__ADS_1


Dion mengusap kepala Zahra, dan berlalu meninggalkannya, pernikahan itu memang hanya syarat perjanjian, tapi yang tahu hanya mereka saja, bagi yang lain pernikahan itu adalah ikatan suci yang nyata.


__ADS_2