
Beberapa hari terlewati, Bian kini telah kembali ke rumah, masa membosankannya telah usai.
Zahra juga sudah mulai sibuk dengan kegiatan kantornya, ia meninggalkan Bian bersama dengan Inggrid di rumah.
Sampai saat ini kaki Bian masih belum kembali pulih, sehingga ia harus berjalan dengan memakai bantuan tongkat.
"Zahra, kamu terlambat," ucap Inggrid.
"Aku minta maaf Oma, ini tidak akan terulang lagi."
"Cepat sarapan."
Zahra mengangguk, ia memang bangun kesiangan, semalam Bian teramat rewel sudah seperti anak kecil saja.
Bian tidak membiarkannya tidur meski malam telah larut, dan sekarang hasilnya adalah Zahra bangun kesiangan.
"Mana Suami mu?"
"Dia masih tidur, biarkan saja semalam dia tidak bisa tidur."
"Ada apa?"
"Entahlah, dia bosan dengan kakinya yang tak kunjung sembuh."
"Biar tahu rasa dia."
Zahra diam, benar, sampai sekarang Inggrid masih kesal dengan Bian dan entah sampai kapan mereka berdua akan berjarak.
Beberapa hari ada di rumah, Zahra kerap sedih melihat nenek dan cucu itu berselisih terus.
"Oma, mungkin aku akan pulang terlambat hari ini."
"Selesaikan saja pekerjaan mu, jangan fikirkan hal lain."
Zahra mengangguk, tentu saja, bukankah Zahra sudah cukup lama mengabaikan tanggung jawabnya atas perusahaan.
Marvel juga sudah sering protes karena Zahra tak kunjung kembali ke kantor, heran memang karena dulu Marvel mengerjakan semuanya, tapi sekarang ia justru banyak mengeluh karena Zahra tidak ada.
"Zahra, Oma harus pulang dan sepertinya untuk waktu lama."
"Oma pulang lagi?"
"Ada masalah disana, jadi Oma harus ada disana."
"Ya sudah, yang penting Oma selalu jaga kesehatan."
"Kamu akan sendirian disini."
"Aku ada Bian, tenang saja."
Inggrid diam melihat senyuman Zahra, tidak ada kekhawatiran sama sekali di raut wajahnya, benarkah hubungan suami istri itu sudah membaik.
Inggrid masih merasa berat meninggalkan mereka bersama, ketakutannya masih sangat kuat jika Bian akan menyakitinya lagi.
"Kamu harus langsung kabari Oma kalau memang ada apa-apa."
"Iya, tenang saja aku pasti baik-baik saja disini."
"Oma akan berusaha percaya, utamanya pada Suami kamu."
Zahra kembali tersenyum, bukankah Zahra harus cepat pergi, jadi biarkan Zahra makan dengan tenang.
Ditengah ketengan makan mereka, rupanya Kania datang, ia membawa makanan juga di tangannya.
"Kalian sedang makan."
"Mama datang."
Zahra bangkit dan salam pada mertuanya itu, saat ini hubungan mereka masih hangat, sejak pelukan di rumah sakit itu Kania tak lagi acuh padanya.
"Bian mana, kenapa tidak ikut makan?"
"Dia masih tidur, bukankah anak mu itu malas sekali," ucap Inggrid.
__ADS_1
Zahra hanya menunduk saja melanjutkan makannya, biarlah itu urusan mereka, Zahra tidak mau ikut campur.
Kania pasti mengerti kenapa Inggrid seperti itu, dan seharusnya juga Kania tidak perlu melawannya.
"Biar aku bangunkan dia."
"Itu lebih baik."
Kania mengangguk dan berlalu meninggalkan keduanya, Zahra sempat melihatnya beberapa saat, Kania pasti bawa sarapan untuk Bian.
Syukurlah, Bian pasti senang karena bisa makan masakan mamanya itu.
"Oma, aku berangkat sekarang ya."
"Oh ya sudah, hati-hati."
Setelah pamit, Zahra pun pergi meninggalkan rumah, ia akan kembali pada urusannya di kantor.
Sekarang Zahra tak lagi merasa kacau, semua sudah baik-baik saja, Zahra bisa menjalaninya dengan tenang.
"Bian, ayo bangun jam berapa ini kamu masih tidur saja."
Bian sedikit bergerak, suara Kania sangat mengganggunya, tidak tahukah jika kepala Bian terasa sakit.
"Bian, bangun, ayo Mama sudah buatkan sarapan untuk kamu, jadi sekarang kamu harus bangun."
"Sesulit itu membangunkannya, bagus sekali kelakuannya itu."
Kania menoleh, untuk apa Inggrid menyusulnya, Kania bisa bangunkan Bian sendiri saja.
Jika mereka bersama disana, Kania pasti akan pusing dengan ocehan Inggrid.
"Apa Oma harus menyiram mu agar kamu segera bangun?"
"Bian, ayo bangun, kamu pasti dengar semuanya."
"Tentu saja aku dengar, kalian fikir aku ini tuli."
Bian melihat sekitar, ia tak melihat istrinya itu, kemana dia kenapa sudah menghilang saja tanpa pamit padanya.
"Cari siapa kamu?" tanya Inggrid.
"Kemana Ayra?"
"Kamu menanyakan dia, seharusnya kamu mengantarkan di ke Kantor, bukan malah asyik tidur seperti ini."
"Mami, sudahlah ini masih pagi, jangan dulu marah-marah."
"Diam kamu, sudah tahu anak salah kenapa masih saja membelanya?"
Kania melirik Bian, lelaki itu masih kurang sehat, kasihan sekali harus sudah mendengarkan omelan neneknya.
Bian pasti ingin marah, tapi itu tidak boleh terjadi atau keadaan akan semakin buruk.
"Kamu dengar baik-baik, Oma akan pulang, Oma akan tinggalkan Zahra bersama mu disini, berani lagi kamu sakiti dia, Oma akan lakukan semua yang ingin Oma lakukan padamu."
"Kapan Oma pulang?"
"Kamu senang mendengarnya?"
Bian memejamkan matanya sesaat, tidak bisa sekali Inggrid berbaik hati padanya, selalu saja emosi dan curiga.
Bahkan meski Bian tidak mengatakan hal buruk pun, inggrid tetap saja seperti itu, memang menjengkelkan.
"Apa yang kamu fikirkan, kamu sedang mengatur rencana untuk mencelakai Istri mu lagi?"
"Mami."
"Kamu tidak tahu apa-apa, jadi lebih baik diam saja tidak perlu ikut bicara."
Kania mengangguk perlahan, lalu apa gunanya keberadaan Kania jika ia tidak bisa membela Bian.
Kania tidak melihat ada ekspresi buruk di wajah Bian, tapi kenapa Inggrid begitu mencurigainya.
__ADS_1
"Katakan, apa yang kamu mau janjikan pada Oma tentang Istrimu itu?"
"Aku akan menjaganya."
"Omong kosong."
"Aku akan berusaha menyayanginya."
"Itu tidak bagus ditelinga Oma."
Bian menghembuskan nafasnya sekaligus, lalu apa yang harus dikatakannya, jika ini salah dan itu pun masih salah.
Jika Bian diam pun masih akan tetap disalahkan, serumit itukah menghadapi wanita tua seperti Inggrid.
"Bian, kamu tidak akan bisa terus menerus berpura-pura, sekarang semua sudah jelas, jadi berubahlah," ucap Kania.
"Apa yang harus berubah?" tanya Bian.
"Kamu masih bertanya, bukankah sudah Mama katakan sejak dulu, kamu tinggalkan wanita itu kalau kamu tidak bisa menerimanya dengan baik."
"Aku tidak bisa, berapa kali aku harus katakan itu sama Mama."
"Egois," sela Inggrid.
Keduanya menoleh bersamaan, celotehan apa lagi yang akan keluar dari mulut Inggrid.
Bian sudah sangat sakit kepala karena kurang tidur, dan sekarang ia harus mendengar kalimat panjang yang hanya menambah kesakitannya itu.
"Kamu tidak mau melepaskannya, tapi kamu juga tidak mau menyayanginya, kemana arah fikir kamu sebenarnya, apa semua hanya untuk perusahaan, dan sampai kapan pun kamu tidak akan pernah mendapatkan mimpi kamu itu."
"Lalu apa yang bisa aku dapatkan, kalian tahu sekarang jika pernikahan ini tidak pernah aku inginkan."
"Ceraikan dia."
"Aku gak bisa."
"Kalau begitu, kamu sayangi dia," ucap Kania.
"Mama menyukainya sekarang?"
Kania mengangguk pasti, itu benar dan Kania tidak akan merubah apa pun lagi terhadap Zahra.
Bian menggeleng, bagaimana mungkin Kania berubah secepat itu, bukankah kemarin ia masih membenci Zahra.
Jadi sekarang Bian hanya sendirian saja, semua sudah menyukai Zahra, mereka akan sangat membela Zahra.
"Kenapa diam?" tanya Inggrid.
"Ya, aku akan coba terima dia, aku akan belajar untuk sayang sama dia."
"Kamu juga belum beri Mama cucu, bukankah itu permintaan Mama, bahkan satu-satunya."
Bian mengusap wajahnya prustasi, apa lagi sekarang, kenapa pembahasan pagi ini begitu menjengkelkan hatinya.
Inggrid menatap Kania, bukankah karena permintaan Kania itu, Bian jadi memperlakukan Zahra dengan buruk.
Mereka melakukan semuanya dengan terpaksa, jadi tidak akan ada hasil dari semua itu.
"Bian."
"Iya, aku akan berusaha, beri aku waktu, aku akan buat dia mengandung cucu untuk Mama."
"Jangan main-main kamu," ucap Inggrid.
"Aku akan berusaha, apa kalian tidak bisa percaya padaku sekali saja, aku akan berusaha untuk semua hal tentang Zahra itu."
"Kamu harus penuhi permintaan Mama."
"Iya, aku akan penuhi, aku akan bicarakan ini sama Zahra, kalian akan dapatkan apa yang kalian mau."
Inggrid menggeleng, apa yang akan terjadi lagi pada Zahra setelah ini, kenapa mereka jadi fokus membahas cucu.
Ini salah, bagaimana bisa Inggrid pergi meninggalkan Zahra hanya bersama Bian saja.
__ADS_1