
Zahra menutup pintu setelah membawa Bian ke sofa, Inggrid telah mengakhiri pembicaraan.
Zahra akan tetap pergi besok, ia sudah tahu harus pergi kemana untuk memperjelas semuanya.
"Bian, aku mau mandi dulu, ada yang kamu butuhkan, biar aku bawakan dulu?"
"Tidak perlu."
"Baiklah, aku tinggal sebentar."
Zahra lantas memasuki kamar mandi setelah menyimpan tasnya, lelah sekali, kepalanya juga terasa sangat pusing.
Tapi semua itu tidak boleh membuatnya lemah, Zahra harus kuat, bukankah perjuangannya belum usai sampai sekarang.
"Papa masih tetap membencinya, itu artinya masih ada kemungkinan aku mendapat pembelaan."
Bian sedikit tersenyum, ia mengusap wajahnya, kenapa Bian begitu jahat, padahal Zahra sudah sangat baik dan sabar menghadapinya.
***
"Bian, aku boleh minta satu hal?"
"Apa?"
"Peluk aku disetiap kamu mau tidur, dan juga setiap kamu bangun tidur."
___
"Iya, aku akan berusaha, beri aku waktu, aku akan buat dia mengandung cucu untuk Mama."
"Jangan main-main kamu," ucap Inggrid.
"Aku akan berusaha, apa kalian tidak bisa percaya padaku sekali saja, aku akan berusaha untuk semua hal tentang Zahra itu."
"Kamu harus penuhi permintaan Mama."
"Iya, aku akan penuhi, aku akan bicarakan ini sama Zahra, kalian akan dapatkan apa yang kalian mau."
***
"Ssss arrght"
Bian memukulkan tangannya tanpa tumpuan, kenapa semua terasa sangat menjengkelkan, keadaan terasa sangat menekannya.
"Cucu, penjara, lalu apa lagi."
Kedua tangan Bian mengepal, padahal Bian membayangkan kebahagiaan yang akan semakin sempurna dari pernikahan sandiwaranya itu.
Tapi semua salah, yang terjadi sekarang adalah masalah dan masalah saja, tidak ada ketenangan sama sekali.
"Bagaimana caranya untuk bisa membalas perasaan wanita itu, ini sangat sulit."
Bian menoleh, Zahra telah selesai dengan mandinya, wanita itu terlihat lelah, apa bisa Bian bicara tentang semuanya sekarang.
"Kamu mau tidur sekarang?"
"Kenapa memangnya, aku baru saja mandi, rambut ku juga masih basah."
"Kenapa harus keramas malam-malam seperti ini?"
"Kepala ku pusing, mungkin saja bisa membaik."
__ADS_1
Zahra tampak sibuk menyiapkan pakaian untuk esok ia bekerja, khawatir kalau sampai ia terlambat lagi.
Bian terlihat diam saja memperhatikan pergerakan Zahra, wanita itu sedikit menggodanya, dengan balutan kimono, dan handuk kecil di kepalanya.
Imajinasinya mulai bermain, bukankah Bian sudah pernah merasakan tubuh itu, dan semua sangatlah menyenangkan.
Bian tersenyum seraya menggeleng, ia perlahan bangkit dan berjalan menghampiri Zahra.
"Bian, apa kamu sudah makan, aku bahkan lupa menanyakan itu."
"Kamu perduli padaku?"
Zahra sedikit terkejut, ia tidak tahu ketika Bian berjalan, dan sekarang ia sudah ada di belakangnya saja.
Nafanya terhembus sekaligus, untuk apa bertanya perduli atau tidak, sudah pasti Zahra akan memperdulikannya.
"Kamu mau makan atau tidak, kalau mau biar aku bawakan kesini."
"Tidak sopan sekali kamu ini."
Bian memutar tubuh Zahra agar menghadap padanya, keduanya tersenyum, apa Bian tidak mengerti jika Zahra masih ada urusan dengan pakaiannya.
Mata Bian tertuju pada ikatan kimono itu, bukankah tidak sulit untuk menariknya, dengan begitu ia bisa melihat tubuh yang saat ini tertutupi.
"Ada apa?"
"Kamu masih menginginkan dua permintaan itu?"
"Permintaan apa?"
"Kamu mengatakan itu sewaktu di Rumah Sakit."
Zahra diam, tentu saja, tapi bukankah Bian sudah menolaknya, ia tidak memberikan jawaban apa pun, jadi biarkan Zahra menyimpulkan penolakannya.
"Aku sudah melupakannya, jadi sebaiknya kamu istirahat sekarang."
"Benarkah, kamu marah?"
"Aku tidak punya hak untuk marah, jadi lupakan saja, dan segera tidur."
Zahra hendak beranjak, tapi tangan Bian cepat menahannya, ia mendorong Zahra perlahan hingga mengenai lemari di belakangnya.
Senyuman Zahra sedikit terlihat, ia mulai merasa tatapan lain dari Bian, ada apa, kenapa Zahra mendadak takut dengan tatapan itu.
"Bian, aku sudah katakan sebaiknya kamu tidur."
"Apa aku terlihat mengantuk?"
"Entahlah, biarkan aku selesaikan kegiatan ku dulu."
"Kegiatan apa lagi, ini sudah malam."
Zahra berpaling, tidak bisa, kenapa Bian menatapnya seperti itu, Zahra ingin lari saja sekarang.
Mata Zahra mengikuti pergerakan tangan Bian, lelaki itu meraih tali bajunya, Zahra seketika menahannya saat ia hendak menariknya.
"Bian, aku harus keringkan rambut ku dulu."
"Itu akan kering dengan sendirinya."
Bian menepis tangan Zahra yang sengaja menghalangi pergerakannya, tapi Zahra tidak mau itu, ia tetap saja berusaha menghindari Bian.
__ADS_1
Zahra melihat kaki Bian, sedikit bergetar, pasti karena sakitnya itu, kenapa Bian begitu memaksakan diri seperti itu.
"Kamu masih menolak ku sekarang, apa aku harus memaksa mu lagi?"
"Bian, kaki mu pasti sakit, sebaiknya kamu duduk."
"Jangan membahas hal lain, apa kamu tidak bisa diam dengan menatap ku saja."
Zahra memejamkan matanya saat Bian mencengkram pipinya, Zahra memang ingin dianggap sebagai seorang istri, diperlakukan sebagai seorang istri, tapi tidak untuk satu hubungan itu.
Zahra tidak mau melakukannya, bisakah Bian mengerti dengan itu, selama ini Zahra yang selalu berusaha mengerti suaminya, mungkin sekali ini saja Bian bisa mengerti dirinya.
"Kamu benar-benar menolak ku lagi?"
Zahra menggeleng, ia tidak berani membuka matanya, sangat tidak ingin Zahra melihat Bian saat ini.
"Kamu pasti tidak mau aku marah lagi, jadi jangan buat aku marah sekarang, buka mata mu."
Zahra menurutinya, itu cukup membuat Bian tersenyum, tanpa permisi Bian menciumnya begitu saja.
Mata Zahra kembali terpejam, Bian kembali mengacaukan perasaannya, ia sama sekali tidak mengerti Zahra.
Rasa tidak inginnya memang akan membuat Bian marah, tapi Zahra tidak mau melakukannya dengan terpaksa lagi.
"Hentikan."
Zahra mendorong Bian begitu saja saat ia berhasil membuka ikatan bajunya, Zahra terkejut sendiri saat melihat Bian yang terjengkang.
"Bian, aku minta maaf."
Dengan cepat Zahra mengikatkan kembali ikatan bajunya, dan segera membantu Bian untuk bangkit.
"Menjauh."
Bian menepis tangan Zahra yang berusaha menariknya.
"Bian, aku tidak bermaksud untuk membuat mu marah, aku minta maaf, tolong."
"Diam."
"Aku tidak mau kalau kita harus ...."
"Diam, apa kamu tuli?" bentak Bian.
Zahra diam tak lagi bicara, tapi ia tetap berniat untuk membantu Bian berdiri.
Malang, karena Bian justru balik mendorongnya dengan lebih kuat, sehingga membuatnya turut terjengkang.
"Bodoh!" bentak Bian.
Dengan susah payah ia bangkit dan berjalan ke tempat tidur.
"Bian, aku minta maaf."
"Lupakan, dan lakukan apa yang kamu mau."
"Bian, aku minta maaf."
"Omong kosong."
Bian tak perduli, ia lantas berbaring dan memejamkan matanya, kakinya begitu terasa sakit, entah kapan penderitaannya itu akan berakhir.
__ADS_1
Zahra menunduk seraya memejamkan matanya, iya Zahra tahu telah membuat kesalahan lagi, dan Zahra pantas mendapatkan bentakan itu lagi.