Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jangan Lagi


__ADS_3

Hari ini Zahra sudah diizinkan untuk pulang, keadaannya yang memang sudah terlihat baik-baik saja cukup untuk mendapatkan izin pulangnya.


Tidak ada yang datang kesana untuk menjemputnya selain Bian, itu kesepakatan mereka, meski sebenarnya Inggrid merasa keberatan dengan itu.


Sekali lagi Inggrid memaksakan untuk setuju Bian dekati Zahra, tapi jika kali ini berakibat buruk lagi, Inggrid akan melakukan apa yang difikirkannya saja, termasuk memisahkan mereka berdua.


"Kamu sudah siap?" tanya Bian.


Zahra menoleh, ia mengangguk saja tanpa mengeluarkan suara.


Bian tersenyum seraya mendekat, semua terlihat sudah rapi, Bian tinggal membawa Zahra pulang saja.


"Gak ada yang tertinggal kan?"


Zahra menggeleng, seperti yang terlihat, tidak ada barang apa pun yang tergeletak di sana.


"Baikah, kamu bisa jalan sendiri, atau perlu aku gendong?"


Zahra tak merespon, ia turun dari ranjangnya dan berjalan lebih dulu.


Bian tersenyum, ia lantas mengikutinya dengan membawa barangnya, itu tidak sulit sama sekali.


"Kamu mau makan dulu?"


"Aku mau pulang."


"Bibi memang sudah masak di rumah."


Zahra diam, Bian membuka pintu mobil untuk Zahra masuk, ia juga menyimpan barangnya di kursi belakang.


Setelah semua siap, mereka lantas pergi meninggalkan rumah sakit.


"Kamu gak pakai baju hangat, apa gak bawa?"


"Malas buka."


"Biar aku bawakan."


"Tidak perlu."


Bian mengangguk, baiklah tidak akan ada pemaksaan apa pun, Bian sudah janji untuk itu.


Zahra melihat sekitar, kenapa tidak ada yang bisa menarik perhatiannya, Zahra malas pulang tapi tidak ada apa pun yang menahan minatnya untuk diam di jalan sana.


"Zahra, minggu nanti Oma mau ajak kita liburan, kamu mau ikut?"


"Apa Sintia ada ke rumah?"


Bian diam, kenapa jadi bertanya Sintia, ada urusan apa Zahra dengan wanita itu.


"Apa dia datang, dia tidak menemui ku beberapa hari."


"Tidak, tidak ada yang datang ke rumah, ada apa memangnya dengan Sintia?"


"Aku mau pergi sama dia, kalau kamu mau ikut Oma, silahkan saja."


"Kalian mau kemana?"


"Nonton konser."


Bian mengernyit, konser apa, apa Zahra menyukai keramaian seperti itu, dia akan kesulitan bernafas karena kerumunan.

__ADS_1


Sebaiknya Bian tanyakan langsung pada Sintia, mungkin saja apa yang dikatakan Zahra hanya alasan karena tidak mau bersama Bian.


"Aku mau ke rumah Sintia saja."


"Tapi ini sudah malam, Sintia pasti sudah istirahat."


"Aku bisa pergi sendiri, turunkan saja disini."


"Ya baiklah, biar aku antar."


Keduanya diam, ini kemauan Zahra, Inggrid seharusnya tidak akan marah karena Bian terlambat membawanya pulang ke rumah.


Bukankah Bian harus menuruti kemauan Zahra, itu perintah Inggrid juga, dan Bian akan menurutinya.


"Apa tidak bisa lebih cepat."


"Kamu ada kontak Sintia, lebih baik kamu hubungi dia terlebih dahulu, agar kita hanya mengganggunya saja tanpa harus mengganggu keluarganya."


Zahra menggahembuskan nafasnya malas, kenapa seperti itu saja harus banyak prosesnya.


Zahra mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sintia, bukankah Bian bisa melihat jika tidak ada jawaban apa pun dari wanita itu.


"Mungkin dia sudah tidur," ucap Bian.


"Tapi aku mau kesana."


"Iya, sebentar lagi kita sampai."


Zahra menyimpan kembali ponselnya, biarkan saja Sintia tidak akan marah meski ia mengganggunya saat malam seperti saat ini.


Bian menghentikan laju mobilnya, mobil Sintia memang ada di sana, sebagian lampu rumahnya sudah padam.


"Kamu pulang saja, aku mau disini."


Keduanya lantas keluar, Bian menekan bel saat sampai di depan gerbang.


Lama menunggu, pintu rumah terbuka, keduanya sedikit heran karena ada Damar di sana.


"Ayra," panggil Damar.


"Zahra?" tanya Sintia yang menyusul lihat luar.


"Dia pulang?" tanya Damar.


"Cepatlah."


Sintia sedikit berlari dan membuka gerbangnya, ia meneliti Zahra tanpa ada yang terlewat, wanita itu tampak baik-baik saja saat ini.


"Apa aku mengganggu?" tanya Zahra.


"Ahh, tidak, aku juga belum tidur."


"Aku menghubungi mu tadi."


"Maaf ponsel ku di kamar atas, aku di bawah karena ada Damar."


Zahra mengangguk, Sintia melirik Bian yang tampak menatap Damar di sana, apa yang difikirkan lelaki itu.


Bian mengangguk-angguk, mungkin saja benar jika Damar tidak menyukai Zahra, tapi lelaki itu menyukai Sintia, baguslah itu pemikiran yang paling benar.


"Oh tunggu dulu, kamu kenapa kesini, kamu sudah boleh pulang?"

__ADS_1


"Seharusnya dari tadi siang, tapi tidak ada yang menjemput ku."


Sintia kembali melirik Bian, kemana saja lelaki itu, apa dia sudah memiliki kesibukan sekarang.


Sintia menggeleng, ia melirik Damar yang masih berdiri diambang pintu sana.


"Baiklah, ayo kita masuk, kamu mau masuk?"


"Aku mau masuk, tapi kalian pasti lagi sibuk."


"Tidak, itu tidak benar sama sekali, ayo kita masuk disini dingin sekali, kamu bisa masuk angin nanti."


Sintia membawa Zahra masuk, ia tak mengajak Bian, tapi lelaki itu pasti membuntut juga.


Damar tersenyum saat Zahra juga tersenyum padanya, senang sekali melihat Zahra yang sudah baik-baik saja sekarang, semoga itu bukan sandiwara lagi.


"Kamu disini?" tanya Bian.


"Aku baru sebentar disini, Sintia sendiri yang meminta ku datang," ucap Damar.


"Itu bukan masalah, tapi maaf Zahra sudah mengganggu kalian."


Damar tersenyum seraya mengangguk, tentu saja itu bukan masalah, lagi pula mereka hanya sedang mengobrol biasa saja.


Damar lantas mempersilahkan Bian untuk masuk, lelaki itu pasti tidak akan biarkan Zahra berdekatan dengannya.


"Kamu mau minum apa?"


"Tidak, aku tidak haus."


Sintia mengangguk, ia lantas duduk, tak lama Bian dan Damar turut duduk bersama mereka.


Bian melihat sekitar, tidak ada siapa pun di sana, Sintia benar-benar hanya berdua saja dengan Damar.


"Sintia, bagaimana dengan acara teman mu itu, apa aku bisa ikut?"


Sintia diam, ia melirik Bian dan Damar bergantian, Zahra begitu serius ingin datang kesana.


Sebenarnya bisa saja, tapi apa itu tidak akan mengganggu kesehatan Zahra lagi, kasihan wanita itu kalau nanti kelelahan.


"Apa acaranya berubah jadi tertutup?"


"Tidak, kamu kalau mau datang silahkan saja, kita bisa datang bersama."


"Acara apa memangnya?" tanya Bian.


"Teman ku, dia berulang tahun dan dia buat pesta."


"Kenapa Zahra bisa datang?"


"Tidak ada larangan, biarkan saja aku yang akan membawanya nanti."


Bian mengangguk, tapi kenapa Zahra mengatakan konser, dan lagi dapat undangan dari mana dia.


Sintia menghela nafasnya, ia harus segera sampaikan pada temannya perihal Zahra, itu bukan kesalahan karena memang Sintia yang memulainya.


"Kalian akan pergi bersama?" tanya Damar.


Zahra melirik Bian, lelaki itu tampak bingung sendiri, tidak ada yang mengajaknya, jadi mana bisa Bian datang.


"Bersama saja, Damar sudah setuju untuk aku sewa selama acara, jadi kalian bisa datang sama-sama juga."

__ADS_1


Zahra menghembuskan nafasnya berat, terserah saja yang jelas Zahra ingin keluar dari rumah.


Bian tampak menunduk sesaat, sekama Zahra tidak menghindar, tentu saja tidak ada salahnya Bian ikut.


__ADS_2