Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Pabrik Sudah Hilang


__ADS_3

"Mamah?" Suara Nadia tercekat di tenggorokan begitu ia melihat sosok Sarah berdiri di depannya mengenakan pakaian putih bersih.


Garis bibir yang dibentuknya nampak anggun dan tulus. Sarah tersenyum memandang wajah satu-satunya anak yang ia lahirkan. Ia membentangkan tangan membiarkan Nadia berlari menghampiri. Nadia memeluk tubuh wanita yang ia rindukan itu.


"Mamah, aku kangen. Jangan pergi, Mah!" pinta Nadia dengan lirih dalam hangatnya pelukan Sarah.


Tangan kanan Sarah naik turun mengusap-usap punggung berguncang Nadia. Ia pun tidak tega meninggalkan anak semata wayangnya di dunia ini dalam keadaan sakit parah. Namun, semua itu adalah takdir yang harus diterimanya. Benang kusut itu harus diurai sedikit demi sedikit.


Sarah melepas pelukan, ia mengusap kedua pipi putrinya. Ia juga mengecup dahi Nadia cukup lama. Sebelum akhirnya pergi.


"Mamah mau ke mana?" tanya Nadia sembari menatap sosok Sarah yang menjaga jarak dengannya.


"Mamah harus pergi, sayang."


"Aku mau ikut Mamah," rengek Nadia sembari mencoba untuk mengerakkan kedua kakinya mendekati Sarah.


"Mamah! Ah ... kenapa ini? Aku mau ikut Mamah," ulang Nadia sambil terus mencoba mengerakkan kakinya lagi.


"Mamah, tolong! Aku mau ikut Mamah," pinta Nadia lagi kali ini menjulurkan tangan meminta bantuan Sarah.


Namun, Sarah menggelengkan kepala.


"Tempatmu bukan di sini, sayang. Kamu harus kembali. Anak-anak asuhmu menunggu, semua orang yang menyayangimu menunggu. Kamu harus segera kembali dan kamu harus sembuh, Nak. Ada hal yang kamu urus di sana. Mamah pamit."


Sarah melambaikan tangan, menjauh dan semakin jauh, lalu hilang. Nadia menjerit tak rela Sarah meninggalkannya sendirian. Ia ingin bersama Sarah.


"Mamah!" Nadia tersentak dari tidurnya. Sesaat napasnya terasa sesak karena rongga pernafasan yang tiba-tiba menyempit. Beruntung, tim dokter segera menangani. Mereka siap siaga di dekat Nadia.


Winda dan Rima bertugas melaporkan perkembangan Nadia.


"Mbak, ada apa? Apa Mbak Nadia bermimpi lagi?" tanya Winda dengan cepat setelah Nadia lebih tenang. Ia hanya menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Win, yang kamu bilang pamanku itu sudah pulang belum? Aku ingin melihatnya," tanya Nadia teringat akan sosok yang belum ia lihat sejak membuka matanya.


"Belum, dia belum kembali dari berkerja," jawab Winda sejujurnya. Nadia mendesah.


Ia memperhatikan wajah Winda yang nampak gelisah. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tapi terlalu takut mengingat kondisi Nadia yang belum stabil.


"Katakan saja, aku akan mendengarnya. Aku tahu kamu ingin menyampaikan sesuatu padaku," ucap Nadia tiba-tiba. Ia menggenggam tangan Winda dengan lembut. Meyakinkan sekretarisnya itu bahwa dia baik-baik saja.


"Mmm ... itu, Mbak ... aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya, tapi kalau tidak disampaikan itu hak Mbak untuk tahu karena ini menyangkut pabrik konveksi Mbak Nadia," ungkap Winda melirik Nadia takut-takut.


"Tidak apa-apa, bilang saja akan aku dengarkan," tegas Nadia lagi dengan sorot mata sayu yang menghipnotis Winda.


"Pabrik diambil alih oleh istri pertama suami Mbak. Dia bekerjasama dengan tim pengawas dan juga memberikan surat kuasa yang ditandatangani Ibu. Aku tidak bisa menolak karena mereka mengancam keselamatan Mbak. Aku takut mereka nekad melakukan itu," lapor Winda dengan nada gemetar yang jelas terdengar.


"Surat kuasa?" ulang Nadia dengan dahinya yang berkerut.


"Benar, Mbak. Surat kuasa pengalihan hak atas pabrik itu. Di sana tertulis bahwa Ibu menyerahkan kepemilikan pabrik pada suami Mbak jika terjadi sesuatu pada Mbak. Di sana juga ada tanda tangan Ibu di atas materai. Mereka meminta semua dokumen yang seharusnya aku bawa kemarin. Maafkan aku, Mbak. Aku memang tidak becus menjaga amanah dari Mbak."


"Surat pengalihan? Itu artinya antara Mamah dan mas Ikram ada perjanjian, kenapa aku tidak tahu soal ini," gumam Nadia dengan wajah yang menunduk pula.


"Perjanjian itu dibuat sebelum Mbak Nadia menikah dengannya. Ibu meminta suami Mbak itu untuk menikahi Mbak dengan perjanjian itu. Aku juga tidak tahu perjanjian aslinya seperti apa karena tidak ada saksi saat Ibu melakukannya," timpal Rima yang baru saja masuk ke kamar dengan membawa makan siang untuk Nadia.


"Astaghfirullah!" Nadia menenangkan hatinya yang terpukul setelah tahu ada hal seperti itu antara Ibu dan suaminya. Air matanya berurai tanpa suara. Hatinya remuk redam mengetahui fakta tersebut. Ingin Nadia menjerit dan memaki dengan keras. Namun, ia sadar apa yang dilakukan Mamah dulu pastinya untuk membuatnya bahagia.


Sayang, kebahagiaan yang diinginkan Mamah tak kunjung Nadia dapatkan. Jadilah Nadia tak ingin berlarut menyalahkan Sarah. Di perjanjian itu pastinya ada syarat yang harus dijalankan Ikram jika ia ingin menerima semua itu.


"Win, Rima! Urus perceraianku secepatnya. Panggil pengacara handal untuk membantu kalian mempercepat prosesnya," titah Nadia dengan wajah dingin dan dipenuhi kebencian. Ia sudah muak dengan suami benalu itu, juga istrinya yang tak tahu diri yang hanya selalu merasa benar sendiri.


Tanpa mereka sadari perbincangan mereka didenger oleh laki-laki yang mengaku Paman Nadia. Ia yang hendak menjenguk Nadia karena mendengar keponakannya telah bangun, urung ia lakukan. Dia berbalik menghubungi sekretarisnya untuk mencari tahu tentang suami Nadia juga keluarganya.


Tak butuh waktu lama baginya, semua informasi tentang Ikram dan keluarganya secara lengkap dia dapatkan hari itu juga. Paman Nadia menggeram, tangannya meremas kuat ponsel yang di genggamnya. Kedua rahangnya beradu hingga terdengar bunyi gemelutuk gigi dari dalam sana.

__ADS_1


[Pinta pengacaraku untuk mengurus perceraiannya.]


Ia mengirim pesan singkat pada sekretaris dan kembali melanjutkan niatnya menemui Nadia.


"Selamat siang!" sapanya yang mengalihkan perhatian ketiga wanita di dalam ruangan itu. Nadia mengernyit saat melihat wajah yang asing baginya. Ia bahkan tidak ingat kalau masih mempunyai Paman. Seingatnya, Mamah tidak pernah bercerita kalau mereka masih memiliki sanak saudara.


"Bisa tinggalkan kami berdua!" pintanya pada Winda dan Rima. Keduanya mengangguk, lalu beranjak. Namun, tangan Nadia sigap menangkap kedua tangan itu. Ia menggeleng, takut ditinggalkan berdua saja dengan orang asing. Laki-laki lagi.


"Tidak apa-apa, dia Paman Mbak yang kami maksud," ucap Winda sembari menyentuh tangan Nadia yang melekat di lengannya.


Nadia meneguk ludah, perlahan menurunkan tangannya dan membiarkan mereka pergi. Laki-laki itu mendekat tanpa segan duduk di ranjang Nadia, membuat risih wanita yang menempatinya.


"Bagaimana kabar kamu?" tanyanya dengan lembut. Nadia menelisik wajah itu, wajah yang sama sekali tidak ada kemiripan dengan gambar papahnya.


"Siapa Paman ini? Apa benar Paman adalah adik Papah? Mamah tidak pernah bercerita kalau Papah masih memiliki seorang adik," tanya Nadia tidak menjawab sapaan darinya.


Laki-laki itu tersenyum, ia menatap Nadia penuh perhatian.


"Itu karena aku tidak tinggal di sini. Aku tinggal di luar negri dan mengembangkan bisnis di sana. Aku juga tidak pernah mengunjungi kalian, untuk itu aku sangat menyesal. Aku datang ke Jakarta ini untuk mencari kalian, tapi ternyata papahmu sudah pergi. Kudatangi makamnya dan terus mencarimu juga mamahmu-"


"Tapi lagi-lagi aku terlambat. Aku menemukan kalian dan sungguh sangat-sangat terlambat ...." Ia melipat bibir kuat-kuat. Memalingkan wajah dari Nadia tak dapat melanjutkan kalimatnya.


"Mamah meninggal saat Paman berhasil menemukan kami." Ia menganggukkan kepala mendengar kalimatnya dilanjutkan Nadia.


"Untuk itulah aku membawamu ke sini, aku tidak ingin menyesal lagi karena tidak bisa menyelamatkan kamu. Kamu harus sembuh, aku sudah menemukan orang yang rela mendonorkan ginjalnya untuk kamu, tapi untuk itu kamu harus pulih terlebih dahulu agar bisa menjalani operasi," ungkap Paman dengan senyum di bibirnya.


Nadia termangu hingga tidak menyadari air matanya berjatuhan.


"Paman, boleh aku memelukmu?" pinta Nadia dengan isak tangis yang memilukan. Namun, reaksi laki-laki itu sungguh di luar perkiraan. Ia terkejut, detik kemudian mengangguk. Nadia memeluknya sambil menumpahkan seluruh tangis yang ditahannya selama ini.


"Perceraianmu sudah aku urus, pengacaraku sendiri yang akan menyelesaikannya. Cepatlah pulih dan jemput anak-anakmu di sana."

__ADS_1


__ADS_2