
Polisi menodongkan pistol di tangannya pada mereka yang berada di dalam ruangan tersebut. Suara jeritan tertahan terdengar di telinga paman Harits. Melihat mereka, polisi tersebut menurunkan pistolnya. Ia memberi perintah pada dua bawahannya untuk mendekat.
Paman Harits membelakak tatkala melihat Ibu yang bekerja di rumah Nadia berserta keluarganya diikat di dalam ruangan tersebut secara bersamaan. Mulut mereka disumpal kain hingga menyebabkan suara mereka tertahan. Air mata mereka meleleh di pipi.
Gesekan kaki mereka itulah yang terdengar keluar ruangan. Paman Harits mengitari sekeliling ruangan tersebut, mencari sosok Nadia di antara mereka. Para polisi melepas ikatan juga membuang kain yang menyumpal mulut mereka.
Ia berjongkok di hadapan laki-laki tua yang tak lain suami si Ibu. Di pipinya bekas tamparan dan sudut bibirnya robek. Setetes darah kering masih terdapat di sana.
"Apa yang terjadi?" tanya paman Harits dengan pelan. Ibu dan kedua anaknya menangis histeris.
"Ada penjahat yang masuk ke rumah, mereka datang sebelum neng Nadia pulang. Mereka mengikat kami di sini. Neng Nadia ... Pak, tolong neng Nadia! Mereka menculik neng Nadia. Tuan, tolong neng Nadia. Mereka membawa neng Nadia. Tolong selamatkan neng Nadia!" panik Ibu sembari menatap bergantian kedua laki-laki yang ada di depannya.
"Apa kalian mengenal siapa yang telah menyekap kalian dan membawa nona Nadia?" tanya polisi tersebut pada mereka.
Keempatnya menggelengkan kepala, sungguh tidak tahu siapa yang telah menculik Nadia.
"Kami tidak tahu, Pak. Mereka semuanya berlima, berpakaian hitam dan menggunakan penutup kepala. Wajah mereka tidak terlihat, hanya saja ada tato di leher salah satunya berbentuk ular. Hanya itu yang kami tahu, Pak. Selebihnya kami benar-benar tidak tahu," ungkap Ibu dengan deraian air mata yang telah menganak sungai.
Paman Harits beranjak tanpa suara. Ia keluar menemui semua anak buahnya yang berkumpul di sekitar rumah Nadia.
"Pak! Tolong cepat selamatkan neng Nadia! Saya takut mereka melakukan hal buruk padanya." Suara si Ibu semakin membakar hati paman Harits. Ia berjalan cepat dengan rahang yang mengeras.
"Ambil senjata kalian! Kita pergi menyusul para penjahat!" titah paman Harits tanpa mengendurkan otot-otot di wajahnya. Ia berjalan menuju mobil dan memasukinya. Menunggu anak buahnya kembali dari mengambil senjata milik mereka.
Paman Harits duduk di kursi belakang, ia bersama tiga orang lainnya memimpin jalan. Diikuti dua mobil lainnya dari belakang. Sementara pihak kepolisian menenangkan keluarga itu.
__ADS_1
Ibu dan dua orang anaknya masih terus menangis memikirkan keadaan Nadia. Sang Bapak meringis merasakan perih pada luka di sudut bibirnya.
"Bu, bagaimana dengan Kak Nadia? Aku takut mereka akan melakukan hal buruk pada Kakak, Bu. Aku takut," ucap salah satu anak mereka. Ia menangis memeluk Ibu, diikuti adiknya. Rasa cemas dan khawatir terus menjejali hati mereka.
"Kita berdoa saja semoga Allah melindunginya, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan. Neng Nadia bukan orang yang lemah, beliau wanita yang kuat dan lebih kuat dari kita," sahut laki-laki tua itu menenangkan hati anak dan istrinya.
"Kita telah gagal, kita gagal menjaga neng Nadia. Kita sudah membuat kecewa almarhumah ibu Sarah. Kita tidak bisa melindungi anak satu-satunya dari para penjahat. Ya Allah ... lindungi neng Nadia dari marabahaya yang mengintainya. Hanya Engkau sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baik tempat memohon pertolongan."
"Aamiin!" Keempat orang itu tak henti berdoa untuk keselamatan Nadia. Berharap Nadia akan ditemukan dalam keadaan baik-baik saja dan tidak luka sedikit pun.
Paman Harits dan dua mobil lainnya, melaju mulus di jalanan ibukota tersebut.
"Lacak keberadaan Nadia! Aku menaruh alat pelacak di cincin yang ia kenakan. Semoga saja mereka tidak menyadarinya," titah paman Harits pada seorang yang duduk di sampingnya.
Ia mulai mengeluarkan laptop dari dalam tas yang ia bawa. Jarinya menari dengan lincah di atas keyboard memainkan sesuatu yang tidak dapat dimengerti oleh kebanyakan orang.
"Berhasil, Bos! Ikuti jalan utama ini! Titiknya berada di sepanjang jalan ini," ucapnya sekaligus memberi perintah pada sang supir untuk mengikuti jalan yang diberitahukannya.
Iring-iringan mobil paman Harits dan polisi membuat gaduh daerah yang mereka lewati.
"Pinta pada polisi untuk tidak membunyikan sirine selama pengejaran!" titah paman Harits lagi jengah dengan bunyi-bunyian mobil polisi yang menurutnya mengganggu dan hanya akan menggagalkan rencananya saja.
Salah satu orangnya melongo melalui jendela, ia memberikan kode pada para polisi untuk mematikan suara sirine mobilnya. Mereka menurut, itu lebih baik tentunya.
Mereka melanjutkan perjalanan, mobil sudah memasuki kawasan perhutanan milik negara. Kayu-kayu karet tumbuh menjulang dan subur di kanan dan kiri jalan.
__ADS_1
"Bos, titiknya berhenti di sini!" ucap orang yang bertugas melacak keberadaan Nadia. Mobil menepi diikuti dua mobil lainnya dan mobil polisi tentunya.
"Turun dan periksa sekeliling tempat ini! Cepat!" titah paman Harits pada mereka. Semua orang mulai menyebar ke segala penjuru tempat di perkebunan karet tersebut. Keadaan hutan karet yang gelap membatasi pandangan mereka. Namun demikian, hal itu tidak menyurutkan niat mereka untuk mencari para penjahat yang menculik Nadia.
Mereka mendatangi gubuk-gubuk yang dibangun di tempat tersebut. Memeriksa apa saja yang mereka jumpai. Paman Harits menunggu dengan gelisah di dalam mobil. Bisa-bisanya dia kecolongan.
Para penjahat itu ternyata lebih pintar darinya. Mereka sudah mengawasi rumah Nadia sejak lama. Untuk itu, mereka tahu jalan-jalan rahasia untuk menghindari kepungan orang-orang yang ditempatkan paman Harits di sekitar rumah tersebut.
Kedua tangannya mengepal, giginya merapat hingga terdengar bunyi gemelutuk yang jelas.
"Berani mereka menyentuhnya, aku sendiri yang akan menghabisi nyawa mereka. Satu gores luka di tubuhnya, harus dibayar dengan nyawa!" ancam paman Harits tidak main-main. Pandangan matanya tajam menghunus udara kosong di kegelapan malam.
"Berani sekali mereka bermain-main denganku. Mereka belum tahu siapa King Harits!" Sorot mata paman Harits semakin merah menyala. Ia tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Baru kemarin ia menjebloskan tiga orang ke dalam bui dalam waktu bersamaan. Lalu, kini ada yang masih ingin menguji kemampuan paman Harits. Laki-laki itu menganggapnya sebagai tantangan. Ia terima dengan senang hati.
Tak lama, orang-orang yang mencari Nadia di sekitar tempat tersebut kembali ke dalam mobil mereka masing-masing. Paman Harits menunggu kabar dari hasil pencarian mereka.
"Bagaimana? Apa yang kalian temukan!" Paman Harits tak sabar. Gelisah di wajahnya jelas terlihat.
"Kami menemukan ini di pinggir jalan, Bos. Sepertinya mereka menyadari bahwa kita melacak mereka," lapor salah satu dari mereka sembari memberikan cincin Nadia yang mereka temukan.
Paman Harits menerima cincin tersebut, benar! Itu cincin yang dikenakan Nadia. Di dalamnya ada alat pelacak yang ia simpan.
"Sial!" Tangannya yang memegang cincin tersebut mengepal kuat hingga memutih dan merobek sedikit daging telapak tangannya. Itu satu-satunya harapan untuk mengetahui keberadaan Nadia, dan kini ada di genggamannya.
__ADS_1
"Lanjutkan! Kita tidak boleh berhenti di sini!"