
Di dalam ruangan itu, Nadia dan paman Harits tertidur di sofa. Paman Harits yang duduk sambil memeluk Nadia yang tertidur di pangkuannya. Keadaan rumah sakit seketika menjadi sesak. Nadia menggeliat, hampir saja terjatuh jika tangan besar paman Harits tak sigap mencekalnya.
"Mas!" lirih Nadia sambil memegangi tangan paman Harits yang mendekap tubuhnya. Mata laki-laki itu terbuka lelah, ia memandang Nadia dan mengangguk menjawab panggilannya.
"Ada apa?" Keduanya beranjak duduk, Nadia menjatuhkan kepala di bahu suaminya. Mulutnya terbuka lebar membuang udara.
"Lapar, Mas." bisik Nadia pelan dan malu-malu. Rasa lapar yang tadi sempat hilang karena panik datang melanda, kini dia kembali menyerang meminta haknya.
"Memangnya jam segini ada penjual makanan? Ini sudah hampir subuh." Paman Harits melirik jam yang melingkar di tangannya.
Nadia menghela napas, ikut melihat jam itu yang nampak lambat saat berdetak. Jarum jam itu menunjuk di angka tiga. Ia mulai ragu. Minimarket pun tidak ada lagi yang buka.
"Biar Mas yang cari, kamu di sini saja." Paman Harits beranjak meninggalkan Nadia.
"Hati-hati, Mas!" Ia mengangguk lalu menutup pintu dengan pelan. Di luar bergantian orang-orang paman Harits berjaga, ada pula asistennya yang semalam datang saat mendengar Winda dilarikan ke rumah sakit.
Paman Harits tak jadi pergi, ia meminta asistennya itu untuk mencarikan makanan. Ia kembali masuk ke ruangan dan mendapati Nadia yang berdiri di samping ranjang Rima.
Laki-laki itu mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Mereka semua akan baik-baik saja," bisiknya menenangkan. Nadia menyandarkan tubuh di dada bidang suaminya itu, tangannya ikut melingkar menempel pada tangan paman Harits.
"Lihat wajah polosnya, Rima sering sakit-sakitan akhir-akhir ini. Entah apa yang dia sembunyikan dariku. Aku merasa Rima menyembunyikan hal besar dariku, tapi setiap kali aku bertanya, dia hanya menjawab tidak ada dan mengalihkan pembicaraan dengan cepat." Nadia menarik napas dalam dan membuangnya hanya dalam sekali hentakan.
"Jangan terlalu dipikirkan, mungkin memang tidak ada yang disembunyikan Rima dari kamu. Itu hanya perasaan kamu saja yang begitu mengkhawatirkan mereka," sahut paman Harits. Ia menjatuhkan dagu di atas pundak ringkih Nadia. Diciuminya pundak itu dengan segenap cinta yang dia miliki.
"Tuan!" Paman Harits melepas pelukan, ia beranjak menemui asistennya yang membawakan makanan.
Nadia mengikuti dan duduk menunggu di sofa. Nasi uduk saja, tidak apa-apa.
"Mas juga makan, Mas juga belum memakan apa-apa dari semalam." Ia membuka bungkusan dan melahapnya bersama-sama.
"Mas, bagaimana dengan pelakunya? Apa benar dia masih di rumah?" tanya Nadia saat teringat tentang pelaku yang menabur racun di makanan.
"Dia sudah pergi, dan Polisi sedang menanganinya. Polisi sudah menyelediki dan menemukan sidik jari si pelaku. Mereka sedang mengejar si pelaku. Mas ingin pelaku tersebut segera tertangkap," jawab paman Harits sedikit berbohong.
__ADS_1
****
Pagi kembali datang memberikan harapan pada setiap hati yang sedang berputus asa dalam jalan hidupnya. Rasa hangat yang dihantarkannya merambat hingga ke dalam jaringan saraf setiap insan. Itulah mengapa pagi hari adalah waktu yang tepat untuk berjemur.
Sebagian pasien sudah diperbolehkan pulang, dan masih ada yang harus mendapatkan rawatan khusus dari pihak medis hingga mereka harus tinggal lebih lama di sana untuk memastikan keadaan mereka kembali pulih seperti semula.
"Mbak!" Suara serak rima memanggil Nadia, Winda sendiri telah berpindah ruangan dan dijaga asisten paman Harits.
Nadia yang baru saja keluar kamar mandi, cepat-cepat mendatangi Rima yang bergerak gelisah di ranjangnya.
"Rima?" ia menggenggam tangan Rima yang berkeringat. Nadia mengusap dahinya yang juga ikut mengeluarkan keringat kasar.
"Mbak Nadia! Ibu!" racau Rima masih dengan mata yang terpejam erat.
"Rima! Bangun, sayang! Ini Mbak di sini. Buka mata kamu, Rima!" Bergetar Nadia memanggil nama adik angkatnya itu.
Ia menciumi tangan Rima yang gemetar dan lembab.
"Mas, panggilkan dokter! Rima sadar, tapi belum membuka matanya!" pinta Nadia pada paman Harits yang baru saja masuk ke ruangan. Ia kembali ke rumah mengantar Ibu dan Bibi yang sudah diperbolehkan pulang.
Paman Harits kembali keluar memanggil tim medis. Nadia beranjak saat merasakan tarikan lembut dari suaminya. Ia menangis dalam pelukan laki-laki itu menumpahkan kegelisahan dalam hatinya.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Rima, Mas? Aku harus bilang apa pada Mamah karena tidak menjaga anak yang diasuhnya sejak kecil itu." Nadia tersedu-sedu.
Takut kehilangan. Hanya itu yang kini ada dalam pikiran Nadia. Ia masih saja menangis di saat dokter telah selesai memeriksa keadaan Rima.
"Bagaimana, Dokter?" Nadia mengusap air mata di pipi saat mendengar suara paman Harits yang bertanya pada dokter.
"Alhamdulillah, kondisi saudari Rima sudah stabil. Dia sudah baik-baik saja, dan berhasil melewati masa kritisnya. Anda tenang saja, Nyonya, adik Anda sudah baik-baik saja." Dokter tersebut tersenyum meyakinkan Nadia yang menatap Rima dari tempatnya berdiri.
"Rima!" Ia membawa kakinya berjalan cepat mendekati kembali ranjang Rima.
"Mbak? Bagaimana keadaan Mbak? Apa Mbak dan adik bayi baik-baik saja? Mbak tidak keracunan seperti kami, 'kan?" cecar Rima sesaat Nadia telah berada di dekatnya.
Wajahnya yang pucat nampak mencemaskan Nadia. Ia melirik perut Kakak angkatnya itu dan bernapas lega saat perut itu masih membuncit.
__ADS_1
"Alhamdulillah!" syukurnya.
"Bodoh!" Nadia memeluk Rima dan menangis lega, "jangan terlalu memikirkan Mbak. Kamu yang sempat koma, kamu membuat Mbak ketakutan." Nadia meracau dalam pelukannya.
Merasakan kehangatan cinta, Rima balas memeluknya. Ia ikut menangis, seperti inilah keluarga. Di saat dia sendiri mencemaskan Nadia, kakak angkatnya itu pun sangat mencemaskan keadaannya.
Nadia mengurai pelukan, mengusap pipi Rima sebelum mencium dahinya.
"Kamu harus makan, Mbak suapi." Nadia mengambil nampan dan memangkunya. Rima mengangguk sebelum membuka mulut menerima suapan pertama dari wanita hamil itu.
"Sayang, Mas harus pergi. Ada meeting di kantor pagi ini. Kamu tidak apa-apa Mas tinggal, bukan?" Paman Harits datang dari luar dan menghampiri istrinya.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku akan menunggu Mas di sini saja sekalian menemani Rima. Mas pulang ke sini nanti, ya?" ucap Nadia sambil mendongak menatap suaminya.
Laki-laki itu mengangguk, ia beralih pandangan pada Rima yang duduk bersandar di ranjangnya.
"Bagaimana keadaan kamu, Rima? Sudah lebih baik?" tanya paman Harits mengusap kepala gadis itu bagai seorang kakak laki-laki yang akan melindunginya.
Rima mengangguk kecil, ia menahan tangis keharuan dalam hatinya. Seperti inikah saat ia mendapatkan perhatian dari seorang kakak laki-laki?
"Aku sudah lebih baik, Kak. Rasanya sudah tidak mual lagi," katanya memandang paman Harits yang berdiri di sampingnya.
"Habiskan makanannya! Kalau tidak Kakakmu itu akan terus menangis karena Adiknya sakit." Rima tersenyum sambil mengangguk patuh.
Paman Harits mencium pucuk kepala Nadia, ia menangkup wajah istrinya itu sebelum mendaratkan ciuman di dahinya.
"Mas pergi, ya? Jangan ke mana pun, kalau kamu ingin sesuatu pinta saja pada mereka yang berjaga di depan." Paman Harits memeluknya erat sesaat setelah mendapat anggukan kepala dari istrinya itu.
Nadia meraih tangan suaminya dan mencium penuh takzim. Wajahnya sedikit berseri pagi itu.
"Hati-hati, Mas!" Ia kembali menyuapi Rima setelah paman Harits keluar dari ruangan.
Ponsel laki-laki itu berdering, pihak kepolisian semalam yang menelepon.
[Tuan, kami menemukan hal lain dari penyelidikan kami. Bisakah Anda ke kantor hari ini?]
__ADS_1
Paman Harits menegang, apa lagi yang ditemukan polisi selain sidik jari mantan istrinya itu.
"Baik, Pak! Akan saya usahakan datang secepatnya."