
"Memangnya aku boleh mengambil anak dari sini?" tanya paman Harits yang wajahnya berbinar di mata Yuni.
"Oh ... tentu, sangat boleh. Anda hanya perlu mengisi data dan membeli surat kepemilikan. Itu saja, maka anak yang Anda inginkan sudah bisa dibawa pulang hari ini juga," jawab Yuni tak kalah antusias dari paman Harits. Dalam hati paman Harits menertawakan Yuni. Bodoh.
"Bukankah mereka memiliki seorang Ibu yang sangat menyayangi mereka?" tanya paman Harits lagi berbelit-belit. Dahi Yuni mengernyit tidak suka mendengarnya. Seingatnya mereka semua anak yatim-piatu yang tidak memiliki orang tua.
"Mmm ... tidak. Mereka semua anak yatim-piatu yang dibuang keluarganya di jalan dan diambil oleh kami untuk diasuh di sini," jawab Yuni lagi dengan cepat.
Paman Harits terdiam, menelisik Yuni. Tak hanya licik, dia juga pandai bermain lidah mengadu domba orang-orang yang ada disekitarnya.
"Perlu kamu tahu ... aku datang ke sini membawa Ibu mereka. Bukan ingin mengambil salah satu dari mereka. Aku tahu tujuanmu ke mana. Berhati-hatilah dalam bertindak karena karma selalu mengintai di pelupuk mata," ujar paman Harits tersenyum saat melihat wajah bingung Yuni.
Mata wanita itu terangkat dan memindai paman Harits. Manik keduanya bertemu untuk beberapa saat sebelum terputus.
"Kakak!" panggil Nadia yang baru saja keluar dari rumah yayasan. Paman Harits menoleh dan mendapati muka masam Nadia karena melihatnya yang sedang berduaan dengan Yuni. Wanita ular itu membelalak saat melihat Nadia. Ia tidak tahu kapan kakak madunya datang.
Paman Harits tersenyum. Ia melambaikan tangan pada Nadia sebelum kembali menjatuhkan pandangan pada Yuni.
"Kamu tahu ... wanita yang di sana tak akan rela anak-anak asuhnya diperjual-belikan. Kalau kamu sampai berani melakukannya, maka bersiap-siaplah menerima hukumanmu," ucap paman Harits sebelum akhirnya berbalik mendekati Nadia.
Yuni menggeram dalam hati. Ia mengepalkan kedua tangan dan mengancam dalam hati. Siapa yang peduli pada Nadia, jika suatu hari ada yang mau membeli salah satu anak itu maka dia akan menyerahkannya.
Ide ini harus dia bagi dengan Ain, agar ketika ada masalah setidaknya dia tidak sendiri. Bagus. Ide cemerlang. Yuni menjentikkan jari dan berlalu. Apa pun itu asal menghasilkan uang, akan ia lakukan. Sudah saatnya anak-anak itu membalas jasa pada pemilik yayasan. Begitu kira-kira.
"Ngobrol apa, sih, sama wanita itu? Kakak tahu, 'kan, siapa dia?" Nadia mencebik kesal. Ia bahkan memalingkan wajahnya saat paman Harits memandang sambil tersenyum padanya.
"Duh, jangan cemburu, dong! Kalau kamu cemberut kaya gini, rasanya aku ingin mencium kamu habis-habisan," ungkap paman Harits nakal. Ia bahkan mencubit sebelah pipi Nadia dengan gemas.
Nadia membelakak, ia memukul tangan paman Harits yang menempel di pipinya.
__ADS_1
"Ish ... apa-apaan, sih? Kakak jangan macam-macam, ya. Awas, lho!" Nadia mengepalkan tinju di depan wajah paman Harist.
Laki-laki itu terkekeh. Nadia semakin menggemaskan. Jika saja dia istrinya, maka sudah habis dilahapnya Nadia.
"Iya, iya, maaf. Mmm ... Nadia? Sepertinya kamu kamu harus memindahkan anak-anak kamu dari sini sebelum apa yang tidak kamu inginkan terjadi terhadap mereka semua," ungkap paman Harits berubah mood menjadi serius. Hilang sudah jejak jenaka di wajah itu.
Nadia membelakak, kebingungan nampak jelas di wajahnya yang cantik.
"Memangnya ada apa, Kak?" tanya Nadia ingin tahu.
"Mereka memperjual-belikan anak-anak di sini. Kalau kamu tidak cepat, maka satu demi satu anak-anakmu di sini akan dijual mereka pada orang lain," jawab paman Harits lagi. Ia pun tak ingin itu terjadi.
"Tidak bisa! Anak-anakku bukanlah barang-barang yang bisa mereka perjual-belikan." Nadia pergi ke dalam menemui Ibu. Ia menarik Ibu ke kamar untuk membicarakan yang tadi dibicarakan paman Harits.
"Bu, tolong jaga anak-anak. Jangan sampai ada orang lain yang mengambil mereka. Aku dengar Yuni ingin memperjual-belikan anak-anakku. Tolong jaga mereka sampai aku kembali dan membawa kalian semua," pinta Nadia sembari memegangi tangan Ibu. Sorot matanya berubah dingin dan penuh api kebencian yang jelas terlihat.
Mungkin saja dia sudah muak dengan tindak-tanduk orang-orang di tempat itu. Ibu yang mendengar membelalakkan mata terkejut. Ia tak sampai hati menjual anak-anak itu pada orang lain.
"Mbak Nadia tenang saja, Ibu akan menjaga mereka dengan nyawa Ibu. Ibu tidak akan membiarkan anak-anak di sini diperjual-belikan olehnya. Tidak akan!" tegas Ibu.
Nadia memeluk Ibu. Malam ini, ia tak jadi menginap di hotel. Ia memutuskan untuk menginap di yayasan menemani mereka tidur. Nadia menyusun rencana.
Mereka tidur di satu ruang yang luas. Beralaskan kasur lantai yang tak seberapa tebalnya. Nadia dikelilingi anak-anak itu. Paman Harits memilih tidur di sofa depan.
"Ah ... bagaimana kabar mereka berdua? Aku akan menjenguk mereka besok," gumam Nadia saat teringat kedua anak asuhnya yang ia buatkan sebuah toko. Mungkin, jika bukan karena mereka berdua anak-anak itu pastilah akan terlantar.
Gema sholawat tarhim menghiasi waktu subuh. Hanya itu yang Nadia rindukan dari sekian banyak kenangan yang ditorehkan tempat itu. Suara merdu itu yang ingin dia dengar.
Nadia sudah bangun terlebih dahulu, ia menyiapkan makanan untuk semua orang sebelum menunaikan kewajiban dua rakaat.
__ADS_1
"Kak, subuh. Pergi ke masjid sana! Sudah waktunya Kakak mendekatkan diri kepada Allah," gugah Nadia mengguncang tubuh paman Harits yang masih memejamkan mata.
Ia membuka mata perlahan, menurunkan kedua tangannya yang menyilang sebelum beranjak duduk.
"Aku lupa caranya wudhu. Bisa kamu tunjukkan!" pintanya dengan suara yang parau. Ia menguap lebar dan menggaruk rambutnya asal. Penampilannya yang berantakan di pagi hari, kenapa terlihat seksi sekali? Nadia menggigit bibirnya kuat-kuat menahan gejolak dalam hatinya.
Ia membaca ta'awudz untuk mengusir syetan yang tiba-tiba datang menyusup ke dalam hati dan pikirannya.
"Ayo, Kak!" Nadia melangkah terlebih dahulu. Disusul paman Harits menuju sebuah tempat untuk mengambil wudhu. Dengan pelan Nadia mengajarkan cara berwudhu. Membasuh satu per satu anggota wudhu secara berurutan.
"Terima kasih," tutur paman Harits tersenyum pada Nadia. Wanita itu tersipu, ia menunduk dan melangkah lebih dulu meninggalkan paman Harits.
Pagi itu, suasana yayasan terasa hangat. Kehadiran Nadia membawa kehidupan baru untuk mereka. Di meja makan panjang itu mereka berceloteh, tertawa riang gembira. Menghangatkan hati Ibu yang selama ini dingin.
"Ingat pesan Bunda! Kalian harus saling menjaga satu sama lain. Jangan sampai ada orang yang memisahkan kalian sebelum Bunda datang lagi ke sini," pesan Nadia pada semua anak-anaknya.
Mereka mengangguk kompak. Satu demi satu memeluk Nadia melepas wanita itu pergi. Ia beralih pada Ibu.
"Semua bahan makanan akan dikirimkan ke sini. Ibu tidak perlu lagi keluar yayasan untuk mencari makanan. Tolong jaga mereka sampai aku datang, Bu," mohon Nadia lagi dalam pelukan Ibu.
"Iya, Mbak Nadia. Ibu akan menjaga mereka," sahut Ibu.
"Ayah, secepatnya harus membawa Bunda kembali ke sini. Ayah janji!" Salah satu anak mengangkat jari kelingkingnya di hadapan paman Harits.
Laki-laki itu tersenyum, hatinya menghangat di kala anak-anak asuh Nadia memanggilnya Ayah.
"Yah, Ayah janji!" katanya sembari menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking anak itu.
Bilal dan Nafisah tertawa. Keduanya merasa lucu. Mereka berempat pergi meninggalkan yayasan dan kembali ke Rumah Sakit untuk menjenguk Ruby.
__ADS_1
Tak lama setelah Nadia pergi, satu buah mobil pick up datang. Membawa sembako untuk anak-anak di yayasan. Sengaja, agar Ibu tak perlu keluar rumah untuk membeli bahan makanan. Yuni memicingkan mata dengan segala rencana licik yang tersusun di otaknya.