Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Masa Lalu


__ADS_3

Bersinarlah seperti mentari pagi


Yang selalu nampak cantik meski tak ada yang menaruh simpati


Berkerliplah seperti bintang


Yang selalu membuat manusia terkagum pada kedipnya yang benderang


Berpendar seperti rembulan


Yang selalu dirindu hadirnya di tengah kegelapan


Cahaya hati, permata jiwa, tersenyum tidaklah membuatmu terluka


*****


Nadia menangis tiada henti, setiap kali matanya melirik pada box bayi yang tak jauh darinya. Ia benar-benar merasa berguna sekarang. Wanita sempurna begitulah orang-orang menyebut. Bunda ... seperti itu kelak anak yang baru saja dilahirkannya itu memanggil dirinya.


Paman Harits setia di sampingnya. Memeluk, sesekali akan mencium kepala Nadia yang sengaja disandarkan di dadanya. Di sofa, duduk Ibu dan kedua adik Nadia. Hari belum berganti, tapi statusnya telah berubah. Dia seorang Ibu sekarang.


"Mas?" lirihnya dalam dekapan sang suami. Paman Harits mengusap lengannya, ia menjatuhkan kepala di kepala istrinya. Tersenyum haru, tahu betul apa yang terdetik dalam hati Nadia meski tak terungkap.


"Lihat, Winda dan Rima tak henti bermain dengan Zahira. Mereka terlihat senang memiliki adik," ungkap Nadia sambil mengusap sudut matanya.


"Benar, wajah Ibu pun berseri. Mas bersyukur di usia senjanya bisa melihat senyum bahagia Ibu tanpa paksaan itu. Terima kasih untuk tidak menyerah, sayang. Mas semakin cinta dan sayang sama kamu," tutur paman Harits pula dengan segenap rasa dalam dirinya.


Melihat semua orang tersenyum bahagia, sudah lebih dari cukup untuknya berbunga. Ibu datang mendekat setelah menerima nampan makanan yang diantar perawat ke ruangan Nadia. Senyum di bibir tuanya tak pudar, ia nampak bahagia.


"Makan dulu, sayang. Kamu butuh energi untuk dapat menyusui Zahira." Ibu memberikan nampan makanan itu ketika paman Harits memintanya. Ibu duduk di kursi dekat ranjang menantunya, memberikan pijatan lembut di kaki wanita itu tanpa segan.

__ADS_1


Nadia meringis, ia hampir menarik kakinya, tapi Ibu menahannya. "Makan saja yang tenang," ucap Ibu tak henti tangannya memberikan pijatan lembut di kaki.


Nadia mulai menyuap makanan yang disodorkan suaminya. Sedikit demi sedikit, perlahan ia mengunyah dan menelannya.


"Mbak, Zahira gemesin banget, sih! Aku mau cubit pipinya!" seru Winda gemes. Tangannya gatal ingin mencomot kulit bayi merah itu. Nadia hanya tersenyum melihat tingkah kedua adiknya yang nampak berbahagia.


"Kalian tidak boleh menggendongnya sekarang, nanti saja kalau dia sudah besar dan bisa duduk. Aku akan mengizinkan kalian memangkunya," sergah paman Harits memberi aturan sebelum tangan keduanya menggapai tubuh mungil di dalam box bayi tersebut.


Wajah keduanya berubah cemberut, tapi seketika berubah di saat bayi Zahira menggeliat. Jeprat jepret berulangkali, dan posting-posting di sosial media.


Karena hastag Naira butik, postingan itu ramai komentar. Berbagai macam tulisan mendarat di kolom komentar. Ikut memberi selamat dan mendoakan bayi Zahira.


"Bu, kenapa Nadia dan Bella berbeda?" tanya paman Harits penasaran. Nadia telah menghabiskan makanannya dan meminum obat yang juga telah tersedia.


Ibu melirik Nadia, ada gurat tak enak untuk menceritakan semuanya. Nadia merasa ada hal yang perlu tak perlu untuk ia ketahui. Ia menjatuhkan lirikan pada suaminya, gurat bingung pun jelas tercetak di wajahnya.


"Tidak apa-apa, Bu. Ceritakan saja, insya Allah aku akan siap mendengarnya," ucap Nadia sambil memegangi tangan Ibu dengan lembut.


Lagi-lagi Ibu melirik putranya yang seolah lupa pada dosa di masa lalu.


"Kamu tidak apa Ibu menceritakannya, bukan?" Bertanya lebih tepatnya meminta persetujuan.


Ia hanya mengangkat bahu tak acuh. "Itu karena kalian melakukannya sebelum menikah, dan Bella hamil di luar nikah. Makanya dia melahirkan saat pernikahan kalian baru masuk bulan ke enam. Dia tidak prematur, Harits," ungkap Ibu yang membuat tegang tubuh Nadia seketika.


Pun dengan lelaki di sampingnya, ia melirik tak enak pada Nadia yang termangu karena kisah kelam di masa lalunya.


"Ah ... tapi itu hanya masa lalu, sekarang Harits sudah berubah banyak. Ibu bahkan hampir tak mengenalinya. Jangan terlalu dipikirkan, Nak!" Ibu mengusap tangan Nadia yang lekas menunduk saat baru saja ia berucap. Entahlah, seperti apa perasaannya saat ini? Ia sedang meyakinkan hatinya bahwa itu semua hanya masa lalu dari suaminya.


"Maaf, sayang. Aku memang brengsek di masa lalu, tapi aku sudah berubah sejak kamu ada di hati aku. Jangan terlalu memikirkannya, ya?" ucap paman Harits meski ragu, tapi ia harus mengakui semuanya. Tangannya menarik tubuh sang istri, tak ada penolakan darinya. Ia justru mendekap tubuh paman Harits.

__ADS_1


"Tak apa, semua orang mempunyai masa lalu. Masa lalu aku pun tidak kalah buruknya. Aku nakal, sering keluyuran di malam hari, tak dengar apa yang Mamah bilang sampai Mamah memutuskan untuk pindah ke Rangkasbitung. Di sanalah aku mulai berubah. Kita tidak bisa merubah masa lalu, tapi bisa memperbaikinya di masa kini untuk masa depan. Masa lalu milik diri kita sendiri, Mas, tapi masa depan milik kita bersama. Kita yang akan menentukan seperti rencana untuk ke depannya." Nadia membenamkan kepala di dada suaminya.


Kecupan bertubi dilayangkan paman Harits di ubun-ubun istrinya. Saling menerima satu sama lain itulah gunanya pasangan. Melengkapi dan menyempurnakan kekurangan, itulah yang disebut 'suami itu pakaian untuk istri, dan istri pakaian untuk suami'. Saling menutup aib yang tak seharusnya dibuka secara umum.


"Terima kasih, sayang. Terima kasih." Bertambah kebahagiaan mereka. Tak lagi ada beban di hati, rasanya lega.


"Mbak, Zahira membuka matanya. Lihat, Win! Dia melihatku!" Heboh dua gadis itu. Mereka berjingkrak kegirangan di dekat box bayi Zahira.


"Hei, gadis-gadis! Kalian bisa tenang? Queen Zahira ingin beristirahat! Hus ... hus! Pergi cari kesenangan lain!" usir paman Harits bercanda. Ia beranjak mendekati box bayinya.


"Wah ... kalian benar, dia menggemaskan sekali!" Winda dan Rima yang cemberut seketika kembali ceria saat lelaki itu justru terhipnotis dengan kelucuan Zahira.


Nadia melengos, "Hmm ... sama saja!" Ibu terkekeh. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Lihat, matanya terbuka ... hei, dia memakan jarinya sendiri. Sayang! Mungkin dia lapar, minta mimik." Heboh sendiri laki-laki itu. Coba saja kalau menangis, sudah pasti panik bukan main.


"Hallo, anak Ayah! Kamu mau bermain dengan Ayah, ya? Hah?" katanya lagi tanpa takut anaknya itu akan terusik. Geliat-geliat menggemaskan yang dilakukan bayi itu benar-benar membuat paman Harits tanpa sadar menggamit pipi merahnya.


Tangis bayi itu pun menggema, ketiga orang di dekatnya panik. Ingin mengambil dan menimang, tapi mereka takut karena bayi itu benar-benar masih sangat lunak.


Ibu berdecih, ia sigap mendekat dan mengambil bayi Zahira dari box. Ibu membawanya ke pangkuan Nadia, memberikan bayi itu pada Ibunya. Dia diam setelah benda kecil di dada Ibunya menjejali mulutnya.


"Kenapa ribut? 'Kan, jadi nangis. Mas bukannya tadi menyuruhnya untuk istirahat, tapi malah ikutan." Nadia menggerutu, tapi sebenarnya ia merasa lucu. Paman Harits menggaruk kepalanya serba salah.


Kedua gadis itu saling senggal, saling senggol, saling menyalahkan. Nadia mendengus, ia menepuk-nepuk bokong bayinya sambil terus menyusui. Sore nanti dia sudah diperbolehkan pulang.


"Win, kamu sudah menelpon Ruby? Dia minta dikabari kalau sudah lahir," tanya Nadia seketika teringat pada ketiga anak Ikram.


"Belum, tapi dia memberikan jempolnya pada postinganku. Sebentar, aku telepon dulu."

__ADS_1


__ADS_2