
"Bunda!" Suara lirih itu mengalihkan perhatian semua orang.
"Ruby!" Ain cepat mendekat. Ia dan Ikram berdiri berdampingan menunggu Ruby membuka matanya. Nadia sigap menekan tombol panggilan yang terdapat di dekat kepala ranjang.
Ia berdiri di sisi lain ranjang bersama Bilal dan Nafisah yang tak ingin jauh darinya. Nadia tersenyum tatkala kelopak mata Ruby berkedut hendak terbuka.
Nadia menarik Bilal dan Nafisah saat tim dokter datang untuk memeriksa keadaanya. Ia menunggu dengan cemas dan berdoa semoga tidak ada yang salah dengan diri Ruby. Serangakaian pemeriksaan dilakukan dokter untuk memastikan keadaan Ruby.
"Alhamdulillah, keadaanya sangat baik. Hanya tinggal menunggu waktu pemulihannya saja. Saya menyarankan untuk tetap dirawat di Rumah Sakit ini sampai kondisinya benar-benar pulih," ucap dokter melegakan.
"Alhamdulillah, tapi ...." Ain menggantung kalimatnya. Ia menggigit bibir bawahnya merasa cemas akan biaya yang pastinya membengkak.
"Bagaimana baiknya saja, Dokter. Saya tidak keberatan. Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan anak saya," sambar Nadia tanpa segan menyanggupi saran dokter.
Ain pasrah meskipun ia tak suka, tapi tak apa. Semua demi Ruby. Ikram menunggu Ruby membuka matanya. Anak itu masih ingin terpejam, belum membuka kelopaknya.
"Bunda!" Ruby bergumam lirih saat telinganya samar mendengar suara Nadia yang berbicara dengan dokter.
Mendengar panggilan itu, Nadia membawa kedua adik Ruby mendekati ranjangnya. Ain mendengus kesal. Kenapa Nadia yang dipanggil Ruby saat baru sadar dari komanya? Kenapa bukan dia yang jelas-jelas adalah ibunya. Ain kecewa, sedih sekaligus marah entah pada siapa. Mungkin saja pada Nadia.
"Iya, sayang. Bunda di sini, coba buka mata kamu. Bunda di sini," ucap Nadia sembari menggenggam lembut tangan Ruby yang terasa hangat.
"Bunda!" Ruby memastikan.
"Ruby! Sayang!" Suara Nadia dan air matanya begitu menyentuh. Ikram dan Ibu juga paman Harits yang menyaksikan, merasa terharu dengan pemandangan di depan mata mereka. Nadia benar-benar menyayangi anak itu. Kecuali Ain, yang semakin kesal karena merasa tersingkir dari hati Ruby.
Perlahan dan bergetar, kelopak mata Ruby mulai terbuka. Buram yang ia dapati tatkala seberkas cahaya menerpa kornea matanya. Ia memejamkan matanya, membuka secara bertahap guna menyesuaikan dengan bias cahaya yang menyilaukan.
__ADS_1
Dalam penglihatannya yang samar, ia melihat senyum dari wanita yang sangat dia rindukan.
"Ruby?" panggil Nadia dengan lembut. Sebelah tangannya mengusap rambut Ruby dan mengecup keningnya.
"Bunda!" lirih suara Ruby memanggil Nadia. Ia menangis saat sadar apa yang ada di hadapannya adalah sesuatu yang nyata dan bukan mimpi.
"Aku tidak bermimpi, ini Bunda. Ini benar-benar Bunda," ucap Ruby lagi dengan nada lemah yang bergetar.
Paman Harits pun tak kuasa menahan haru yang dipertontonkan dua orang itu. Ia mengusap sudut matanya dan kembali tak acuh. Mengalihkan perhatian pada layar ponsel di tangan. Ibu bahkan keluar ruangan tak tahan dengan suasana di dalam. Ikram tak luput dari air mata haru yang ikut jatuh menggenangi pipi. Hanya Ain seorang mungkin yang hatinya tak tersentuh.
Ia terlalu iri pada Nadia yang mendapat perhatian lebih dari putri sulungnya.
"Tidak, sayang. Bunda di sini, Bunda ada di sini." Nadia kembali mencium dahi Ruby meyakinkan anak itu bahwa dirinya benar-benar nyata.
"Terima kasih, sudah datang. Bilal dan Nafisah pasti senang ada Bunda di sini," ucapnya meski lemah dan parau, tapi ada nada bahagia yang terdengar dari kalimatnya.
Ikram tersentuh mendengar percakapan mereka. Ia baru menyadari bahwa Nadia memiliki kasih sayang yang tak terbatas untuk anak-anaknya. Bukan hanya untuk mereka, tapi juga anak-anak malang di yayasan.
Paman Harits datang membawakan kursi untuk Nadia. Ia mengusap rambut gadis itu dan memintanya untuk duduk. Nadia menurut, ia duduk dijaga paman Harits yang berdiri di belakang tubuhnya.
Keharuan yang dirasakan Ikram beberapa saat lalu, kini berganti dengan rasa panas yang membakar seluruh sendi dalam tubuhnya. Ain tak kalah memanas ketika Nafisah yang tiba-tiba duduk di pangkuan Nadia dan berbincang dengan Ruby. Juga ada Bilal yang berdiri di dekat mereka.
Ikram dan Ain merasa tak dianggap sebagai orang tua. Ain menggeram, lagi-lagi Nadia yang mendapatkan perhatian mereka.
"Bunda, aku haus," ucap Ruby setelah beberapa saat mendengarkan celoteh Bilal dan Nafisah.
Nadia yang hendak mengambil air, ditepis Ain dengan cepat. Ia mengambilkan minum untuk Ruby dan membantunya untuk minum.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu juga lapar? Mau makan apa?" tawar Nadia yang tak tersinggung sama sekali oleh sikap Ain.
"Jangan junk food! It's not good. Yang lain saja," tukas Nadia dengan cepat memotong ucapan Ruby. Ia tahu anak itu akan memintanya dibelikan makanan itu.
Ruby tersenyum, ia meminta Nadia membelikannya bubur saja.
"Siap! Biar orang tampan ini yang membelinya!" sahut paman Harits dengan sigap tatkala Nadia melirik ke arahnya.
"Bagaimana dengan kalian? Kalian berdua mau juga aku belikan?" tanya paman Harits pada Bilal dan Nafisah.
Keduanya mengangguk dan mengatakan pesanannya. Paman Harits melirik Ikram dan Ain yang menatapnya tak suka. Ia hanya membalasnya dengan tersenyum miring yang menjengkelkan.
Paman Harits melengos pergi, dikejar Bilal yang ingin ikut bersamanya. Ia tak segan merangkul bahu anak itu dan mengajaknya berbincang sambil berjalan. Hal yang tak pernah dilakukan Ikram sudah sejak lama.
Ikram cemburu, tentu saja. Ain pun semakin merasa tak dianggap kehadirannya. Kenapa situasinya jadi terbalik. Nadia dan paman Harits seolah-olah adalah orang tua mereka dan mereka hanya dianggap sebagai tamu. Ini tidak bisa dibiarkan, tapi untuk berselisih saat ini sangatlah tidak tepat. Ruby masih lemah, ia baru bangun setelah operasi.
"Ruby, bagaimana perasaanmu, Nak?" tanya Ain ikut mendekat pada putri sulungnya. Ruby tersenyum, ia mengedipkan mata pelan.
"Lebih baik, Umi. Terima kasih," jawabnya lemah. Ain mengelus-elus lengan Ruby dengan lembut.
"Siang malam, Umi menunggu kamu bangun, sayang. Umi senang akhirnya hari ini bisa melihat senyum kamu. Cepat pulih supaya kita bisa kembali berkumpul di rumah," lanjut Ain lagi dengan nada yang dibuat sedih.
Ia ingin menarik simpati Ruby agar anaknya itu sadar bahwa uminya yang selama beberapa hari ini menemaninya di Rumah Sakit. Ia ada di sana, jangan lupakan. Sedangkan Nadia, baru saja datang dan langsung mengambil perhatian. Memangnya siapa dia?
"Terima kasih, Umi. Kalau bukan Umi memangnya siapa yang mau menungguku? Tidak mungkin tante ular itu, bukan?" Ucap Ruby yang menohok hati Ain.
Benar katanya, kalau bukan dia siapa lagi yang akan menunggunya. Ikram mengerti, tapi ia hanya diam saja. Sedangkan Ain bungkam tak dapat menyahut ucapan anaknya.
__ADS_1