Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Hari-hari yang dilalui Yuni, terasa mengancam dan juga mencekam untuk hidupnya. Ancaman Ruby bukanlah isapan jempol semata. Setiap hari senyum anak itu membayang di pelupuk mata, mengejek dan merendahkan dirinya seolah-olah manusia yang lemah dan tak mampu melawan.


"Kurang ajar! Aku harus apa kalau sudah begini? Aku tidak akan hidup dengan tenang selama dia masih hidup," gumam Yuni yang berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sendiri.


Ia menggigit kukunya, gelisah setiap hari yang dia rasakan. Setiap kali melihat Ruby berjalan mendekat, setiap itu juga ancaman yang diucapkannya tempo hari semakin terasa nyata. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Dari hari ke hari ketakutan selalu datang menghantui. Apa sebaiknya dia jujur saja kepada Ikram tentang semuanya?


Tidak!


Yuni menggeleng saat membayangkan dirinya yang harus ditendang Ikram dari rumah itu. Bukan hanya dari rumah itu, tapi dari kehidupan Ikram sekaligus.


"Sial! Kenapa aku tidak bisa berpikir," umpatnya pada diri sendiri. Kehidupan yang dijalaninya dengan nyaman selama ini akan berakhir dengan sia-sia jika Ruby mengungkapkannya saat ini juga.


Pesta empat puluh hari yang digelarnya, menjadi pesta meriah meskipun hanya sederhana saja. Dihadiri para jamaah pengajian, baik laki-laki maupun perempuan. Banyak di antara mereka yang memberikan sumbangan untuk yayasan karena melihat keadaan mereka yang sungguh memperihatinkan.


Rumah Ikram dipenuhi orang-orang yang turut hadir di pesta sederhana itu. Di antara mereka ada yang terkucilkan. Bilal dan Nafisah, mereka seolah-olah dianggap tidak ada. Keberadaan mereka tak diperhatikan, ketiadaan mereka tak ditanyakan.


Nafisah memeluk tubuh Bilal, mereka duduk di aula yayasan menyaksikan para tamu yang datang silih berganti. Membawakan hadiah untuk si jabang bayi juga ibunya. Ada banyak makanan enak juga di sana yang disiapkan untuk para tamu.


Di belakang mereka, anak-anak yayasan ikut menonton. Terkadang ada yang datang menghampiri mereka dan memberi mereka hadiah. Semua itu cukup membuat mereka tersenyum.


"Abi, aku ada panggilan kerja di rabinza. Aku harus pergi hari ini, Abi bisa mengantarku sebentar?" pinta Ruby dengan sangat pada Ikram yang kala itu sedang beristirahat dari menerima tamu.


"Tidak bisa, sayang. Abi, 'kan, sedang banyak tamu. Sayang kalau ditinggalkan. Biasanya mereka memberi amplop pada Abi," sergah Ain yang masuk ke rumah tanpa terduga.


"Tidak apa-apa, Mi. Cuma sebentar, Abi langsung balik lagi," ucap Ikram.


"Tidak bisa, Bi. Biar Umi suruh santri saja yang mengantar kamu, ya," tolak Ain lagi seraya keluar dari rumah dan kembali dengan seorang laki-laki.


"Tuh, ustadz itu yang antar kamu. Sudah, cepat berangkat nanti kamu telat," ucap Ain menunjuk seorang ustadz muda seusia Ruby. Alias teman sekelas Ruby saat masih sekolah.


Tanpa banyak bicara, Ruby menyalami kedua orang tuanya dan pergi bersama ustad itu.


"Kamu mau bekerja, Ruby?" tanyanya ketika dalam perjalanan. Ia melirik Ruby dari spion motornya.

__ADS_1


"Iya, aku akan bekerja saja. Kasihan Abi keuangannya sedang tidak baik, ini hanya sebentar sampai aku dapat mengumpulkan uang untuk mendaftar di perguruan tinggi. Kamu bagaimana? Apa akan terus di pondok?" terang Ruby ikut melihat wajah temannya dari spion motor juga.


"Yah ... begitulah, aku berencana keluar tahun besok setelah selesai pengabdian. Aku juga ingin bekerja sambil kuliah, pengalaman baru. Kamu tahu, Ruby? Bukan hanya aku yang berencana pergi dari pondok, ada beberapa ustadz senior juga yang berencana keluar."


Ruby terkejut mendengarnya, dia belum mengetahui kabar itu sebelumnya.


"Kenapa? Apa alasan mereka?" tanya Ruby ingin tahu.


"Aku juga tidak tahu, tapi beberapa mengatakan akan mencari pengalaman baru di luar." Ruby mengerti. Semua itu pasti bukanlah karena mereka ingin keluar dari pondok, tapi karena keadaan Abi dan Umi yang akhir-akhir ini sering memanas sehingga membuat mereka tak lagi betah mengajar di pondok.


Sudah bukan rahasia lagi di lingkungan pondok itu. Pertengkaran Ain dan Ikram bukan lagi hal asing di telinga mereka. Banyak yang menyayangkan sebenarnya. Ingin menasihati, tapi mereka sadar diri bukanlah siapa-siapa di wilayah itu.


"Pasti mereka sudah tidak nyaman tinggal di pondok karena sering mendengar Abi dan Umi bertengkar," celetuk Ruby sedih. Temannya merasa tak enak, ia tidak menyahut. Terus diam dan tak banyak bicara lagi.


Jalanan dari pondok ke kota Rangkasbitung perlu melewati sebuah jalan perhutanan milik pemerintah, yang di bagian lainnya adalah jurang yang cukup dalam. Keadaan mulai terasa lain. Jalanan yang sepi, membuat kedua orang itu waspada.


"Kenapa jalanan sesepi ini? Biasanya tidak," gumam Ruby yang memperhatikan sekitarnya. Benar-benar sepi, hanya dua pemotor jauh di belakang mereka yang berjalan lambat.


Tunggu dulu!


"Umi sering datang ke pabrik Bunda?" ulang Ruby memastikan telinganya tidak salah mendengar.


"Iya, tapi sebelum pabrik itu bangkrut seperti sekarang," jawabnya membuat Ruby mengerti sekarang.


"Awas!" pekik Ruby manakala sebuah sepeda motor menyerempet motor yang mereka kendarai.


"Astaghfirullah!" Laki-laki yang membawa Ruby berhasil menghentikan motor sebelum mendekati tepi jurang.


Ia hendak menjalankan kembali motornya, tapi kesulitan. Mesin motor tersebut tidak mau menyala. Sampai ....


"AWASSSSS!!!!"


Sebuah mobil pick up yang hilang kendali melaju dengan kecepatan tinggi. Ruby dan temannya tak sempat menghindar. Motor mereka terdorong ke jurang bersamaan dengan pick up tersebut. Ruby melayang sebelum akhirnya jatuh mendarat cukup keras di atas tanah yang dipenuhi akar-akar pohon. Ia tak sadarkan diri dengan darah yang perlahan merembes dari bagian wajahnya.

__ADS_1


Sementara temannya, menabrak sebuah batu besar hingga menyebabkan kepalanya pecah dan mati di tempat. Motor mereka pun tak luput dari kecelakaan itu. Bersamaan dengan pick up yang meledak bagai suara bom.


Boom!


Duar!


Kecelakaan itu memakan korban tiga orang. Satu supir pick up yang ikut terbakar karena tidak sempat keluar dari mobil sebelum benda itu meledak. Dua lainnya, tentu saja Ruby dan temannya.


Beruntung, ada salah satu warga melintas di jalan tersebut dan menyaksikan bagaimana kecelakaan itu terjadi. Ia segera menghubungi pihak kepolisian yang dalam waktu singkat segera mendatangi lokasi kejadian.


Mereka bersama tim SAR mencari para korban di dalam jurang. Pihak polisi membawa motor yang dikendarai Ruby juga pick up yang sudah hangus terbakar.


Setelah memeriksa motor tersebut, polisi akhirnya tahu siapa pemiliknya. Pihak kepolisian mendatangi kediaman Ikram yang baru saja selesai mengadakan pesta.


"Selamat sore!" sapa dua orang polisi yang datang ke tempat tersebut.


"Se-selamt sore, Pak! Ada apa ini?" tanya Ikram takut-takut. Ingat akan dosanya ia pikir polisi itu akan menangkap dirinya karena harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah menabrak papah Nadia hingga tewas. Namun ....


"Apa benar ini kediaman ustadz Ikram?"


"Be-benar." Semakin berdegup jantung Ikram.


"Apa Anda adalah ustadz Ikram?" Ikram mengangguk. Ain berdiri di belakangnya tak kalah cemas.


"Apa Anda mengenali motor ini?" Polisi tersebut memperlihatkan sebuah gambar motor yang ringsek di dalam jurang. Ikram melihat dan langsung mengenalinya.


"I-itu motor ustadz di sini dan dia sedang mengantar anak saya, Pak. Ada apa, Pak?" Cemas mulai melanda, Ain mendekat ingin tahu apa yang terjadi.


"Motor ini mengalami kecelakaan di jalan perhutanan, korban sudah dibawa ke Rumah Sakit dan saat ini ada di ruang jenazah. Bapak harus segera datang ke Rumah Sakit untuk melihatnya," ucap polisi lagi.


"Ruby!" Ikram melemas. Ain menjerit.


"Ruby!"

__ADS_1


__ADS_2