
"Hindari dari berprasangka buruk. Sesungguhnya setiap prasangka buruk itu akan memakan setiap amal baik yang telah dilakukan."
Nadia memutuskan untuk tetap pergi meskipun Ikram tidak membalas pesannya. Ia harus melakukan cuci darah rutin untuk menyambung hidupnya. Masker dan kacamata menutupi wajahnya. Ia keluar dan mengunci pintu.
"Bunda!" panggil Ruby dan Bilal yang mengenakan seragam sekolah mereka, keduanya sedang menunggu bus jemputan sekolah yang belum datang bersama anak-anak yayasan lainnya. Mereka berdua mendatangi rumah Nadia karena pagi itu ia tak datang ke rumah mereka.
"Eh, Ruby, Bilal? Ada apa?" tanyanya seraya berbalik menghadap mereka berdua.
"Kami kira Bunda sakit karena tidak datang ke rumah. Apa Bunda mau pergi?" ucap Ruby dengan dahi yang berkerut melihat penampilan Nadia yang rapi dan wangi.
Nadia tersenyum, ia membuka kacamata tanpa membuka maskernya, lantas mengangguk pelan.
"Iya, sayang. Bunda harus pergi mengecek pabrik, banyak pesanan pakaian yang harus segera diselesaikan. Kalian masih ada uang jajan?" ungkap Nadia membungkuk di hadapan keduanya. Harum semerbak yang menguar dari tubuhnya membuat Bilal mengendus tiada henti. Ruby mengangguk, sementara Bilal sibuk mengendus.
"Bunda harum, apa Bunda pakai minyak wangi?" tanya Bilal dengan mata terpejam.
Nadia menegakkan tubuh, ia mengendus bau tubuhnya sendiri dan tidak mencium apa pun.
"Bunda tidak memakai parfum, mungkin ini bau sabun yang Bunda pakai. Memakai parfum bisa mengundang dosa karena akan mendapat perhatian dari laki-laki asing saat mereka mengendus baunya. Bunda tidak pernah memakainya," jawab Nadia. Bilal membuka mata dan menatap heran wajah Nadia.
Wajah wanita itu berbeda hari ini. Ada goresan celak di bibir matanya yang bawah, mempertegas sorot mata Nadia yang indah.
Ia memberikan masing-masing uang kepada mereka.
"Ini masukkan dalam tabungan kalian, untuk melanjutkan pendidikan kalian nanti," katanya memberikan masing-masing uang pecahan lima puluh ribu pada mereka.
"Ya sudah, Bunda pergi, ya. Assalamu'alaikum!" pamitnya setelah kedua anak itu menerima uang pemberiannya. Bilal dan Ruby bergantian mencium tangan Nadia dan satu kecupan selalu mereka dapatkan di ubun-ubun. Itulah mengapa mereka selalu ingin bertemu dengan Nadia.
Wanita itu kembali memakai kacamata hitamnya, di tangannya terdapat satu bungkusan yang entah apa isinya.
__ADS_1
Di kejauhan, di rumah Ikram, Ain mengintip Nadia dari balik jendela. Ia melihat dengan jelas adik madunya pergi dengan pakaian yang menurutnya berlebihan. Padahal, yang dipakai Nadia selalu gamis polos dengan warna yang lembut dan tidak mencolok.
"Ada apa, Mi?" tanya Ikram saat melihat Ain yang bergeming di dekat jendela.
"Istri muda Abi, tuh, pergi. Tadi pagi, 'kan, dia kirim pesan minta izin pada Abi," sahut Ain tak mengalihkan tatapan dari Nadia yang berjalan dengan hijab yang berkibar.
Ikram ikut berdiri di belakang Ain, hatinya tak menampik ia pun sangat merindukan Nadia. Namun, lagi-lagi ia sedang berdamai dengan suasana hati Ain yang belum stabil setelah malam itu. Istrinya terlihat berubah seperti mencari perhatian Ikram.
Mereka melihat Nadia berbincang dengan mang Sarif, ia juga memberikan bungkusan yang dibawanya pada laki-laki sepuh itu. Terlihat mang Sarif begitu antusias menerimanya.
"Apa isi bungkusan itu? Kenapa mang Sarif sangat bahagia menerimanya?" gumam Ain yang tak ditanggapi oleh Ikram.
Laki-laki itu fokus melihat Nadia, hari ini istri keduanya itu nampak berbeda. Seolah ada sesuatu yang menguar dari tubuhnya. Ikram mengernyit bingung.
"Kenapa dia heboh cuma mau pergi saja? Bisa, 'kan, dia berpakaian biasa saja? Cuma mau ke pabrik, kok, pakai pakaian kaya model," celetuk Ain yang mengundang gelak tawa Ikram di belakangnya.
"Lho, tapi menurut Abi gamis Umi lebih cantik dari yang Nadia pakai. Lihat, ada motif bunga kecil, sedangkan yang dipakai Nadia polos saja tanpa corak," timpal Ikram.
Keduanya melihat Nadia yang berdiri di luar gerbang sembari memainkan ponselnya. Taksi online yang dipesannya terlambat datang karena terjadi kemacetan di jalan.
Senyum di bibir Ikram memudar tatkala sebuah mobil mendekat dan berhenti di dekat Nadia. Kaca pintu bagian depan terbuka, nampak seorang supir yang mengenakan topi dan kacamata hitam pula. Seketika hati Ikram dijalari rasa yang berbeda.
Ada tidak senang, ada kecewa, ada sakit, ada gelisah, juga panik. Intinya ia cemburu. Jantungnya serasa dibakar sebuah api yang menyulut emosi dalam dada.
"Lihat, Bi! Tidak seharusnya dia pergi dengan laki-laki ajnabi, bukan? Tidak pantas, dia istri seorang ustadz meskipun yang kedua. Seharusnya dia bisa menjaga marwahnya sebagai seorang wanita yang telah bersuami. Bukannya malah berkhalwat dengan lawan jenis," ujar Ain semakin menyulut api cemburu dalam hati Ikram.
Ia menatap tajam Nadia yang mulai memasuki mobil bagian belakang. Pergi meninggalkan rumah bersama hati Ikram yang tak karuan. Laki-laki itu beranjak meninggalkan jendela, pergi menyambar sebuah buku dan keluar rumah.
Apakah karena aku tidak berkunjung ke rumahnya, dia jadi seenaknya pergi dengan lawan jenis? Dia pikir aku tidak akan tahu dan tidak akan melihatnya. Lihat saja, aku akan menegurnya lebih keras kali ini.
__ADS_1
Ikram bergumam sepanjang perjalanan menuju pondok. Saatnya memberikan pelajaran pada santri di pondoknya.
Sementara Ain, tersenyum samar sepeninggal Ikram. Ia puas menemukan aib dalam diri Nadia. Ikram pasti perlahan membencinya dan akhirnya benar-benar menjauhi adik madunya itu.
"Umi, kenapa Umi senyum-senyum sendiri?" tanya Nafisah melihat Ain yang tersenyum sendiri saat mendatanginya.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Ayo, main!" katanya seraya duduk bersama Nafisah. Siang nanti, ia harus ke toko mengecek kondisi toko pakaian yang dia miliki.
Sementara Nadia, duduk sembari mengetik sebuah pesan pada dokter pribadinya perihal jadwal rutin yang sudah ditetapkan.
"Mbak Nadia ini rutin sekali, ya, pergi ke Rumah Sakit?" tanya sang supir dari balik kursi kemudinya.
"Yah ... begitulah, orang seperti aku memang harus rutin datang ke Rumah Sakit untuk bisa menyambung hidup," jawab Nadia diiringi kekehan kecil sembari menutup mulutnya.
"Yang sabar, Mbak. Semua pasti berlalu, Mbak harus yakin bisa sembuh," sahut sang supir yang melirik Nadia dari spion tengah mobil. Ia kagum pada pelanggannya itu, selalu terlihat tegar meskipun sebenarnya rapuh.
"Yah ... sudah kamu fokus saja nyetirnya. Jangan tengok-tengok ke belakang," ingat Nadia sembari menepuk belakang kursi yang didudukinya.
"Iya, iya, Mbak!" katanya kembali fokus pada jalanan.
Rumah Sakit Daerah selalu menyambut kedatangannya dengan ramah. Ia menghela napas sebelum membawa langkahnya memasuki area Rumah Sakit. Seorang perawat wanita segera menuntun Nadia ke ruangan dokter pribadinya.
Di waktu yang sama di mana Nadia sedang menjalani proses cuci darah, Ikram tak dapat berkonsentrasi saat mengajar para santrinya. Ia hanya duduk merenung di balik meja guru setelah memberikan tugas pada mereka.
Apa yang kamu lakukan di dalam mobil itu, Nadia?
Pikirannya tak ada di kelas, mengelana pada Nadia yang pergi bersama sebuah mobil.
Apa kamu sengaja melakukan ini? Membuat Mas cemburu hingga bisa menarik perhatian Mas padamu?
__ADS_1
Ikram tak dapat berhenti memikirkan Nadia. Sampai kelas bubar, pikirannya masih berputar pada Nadia. Tak ada yang lain yang saat ini ia pikirkan selain Nadia seorang.
Oh ... Nadia! Sebuah panggilan nama yang indah. Lihat, api cemburu sedang menguasai hati suamimu.