
KEJAHATAN DIBALAS KEJAHATAN
"Sialan! Apa yang kamu lakukan terhadap mereka!"
Ain beranjak, ia berubah bagai binatang buas yang hendak menerkam Nadia. Seorang Ibu yang kehilangan anak akibat ulahnya sendiri. Nadia bergeming, ia sama sekali tak menggeser tubuh dari tempatnya berdiri. Nadia tak sempat menghindar tatkala kedua tangan Ain hendak menggapai wajahnya. Namun, berapa saat lagi tangan itu menyentuh kulit Nadia suara gemuruh dan sedikit guncangan berhasil membuat mereka membeku.
Sebuah mobil memasuki halaman, paman Harits keluar dan membuka kacamata hitamnya.
"Berani kalian menyentuhnya, maka aku akan menghancurkan tempat ini!" Ia berdiri di samping badan mobil. Ain dan Ikram sama-sama menoleh padanya. Mata mereka membelalak, manakala melihat dua alat berat terparkir di depan gerbang.
Excavator itu telah bersiap merobohkan bangunan yang ada di sana, dan juga bulldozer yang kapan saja dapat menerjang juga menghancurkan bangunan pondok tersebut.
Paman Harits berjalan santai, ia melewati Ikram yang masih membeku karena kedatangan tamu tak diundang itu. Kedua alat berat yang dibawa paman Harits. Ia juga melewati Ain yang masih terkejut karenanya. Mendekati Nadia dan menenangkannya dari rasa terkejut.
Mata-mata santri dan ustadz yang mengintip, melotot lebar hampir keluar. Ain dan Ikram benar-benar telah menyinggung seorang penguasa.
"Di mana penjahatnya?" tanya paman Harits santai. Nadia menoleh dengan ujung alis yang bertaut.
"Penjahat?" ulang Nadia bingung.
Ain dan Ikram yang mendengar pun ikut melihat ke arah mereka. Sikap paman Harits terlalu santai untuk orang yang berniat menghancurkan sebuah bangunan dengan paksa. Kedua orang itu mengernyit bingung mendengar ucapan paman Harits.
"Iya, penjahat? Aku bawakan polisi untuknya!" Tak lama suara sirine mobil polisi menggema. Ikram, Ain, dan Yuni menegang di tempat mereka masing-masing. Sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Satu mobil polisi memasuki halaman rumah Ikram.
__ADS_1
Ketiga orang itu berubah gugup dan gelisah, keringat kasar mulai muncul menambah kepanikan. Ikram teringat akan dosanya di masa lalu. Ain? Tentu saja apa yang dilakukannya terhadap pabrik Nadia, dan Yuni yang paling cemas. Kejahatannya digagalkan langsung oleh Nadia. Ia hendak kabur, tidak mungkin. Tak ada jalan keluar dari rumah Ikram, pintu belakang berhadapan langsung dengan masjid dan gerbang pondok.
Ke mana dia akan lari? Semua jalan tertutup. Satu-satunya jalan adalah melalui pintu depan, dan harus melewati semua orang juga gerbang utama.
"Selamat siang!" Seorang polisi melakukan tindakan hormat dengan menaruh lima jari di dahinya tatkala berhadapan dengan paman Harits. Laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Nadia melongo tak percaya.
"Ada apa ini, Pak?" Ikram bertanya meskipun hatinya diselimuti rasa ragu dan takut, tapi ia harus tahu tujuan polisi datang ke rumahnya. Para santri meringsek berdesakan, ingin tahu siapa yang akan ditangkap polisi.
"Tuan Harits meminta kami menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa putri sulung Bapak dan Ibu. Ia curiga bahwa kecelakaan itu terjadi karena ulah seseorang, dan kami menemukan fakta bahwa kecelakaan yang menimpa saudari Ruby dan rekannya itu memang telah terencana. Supir pick up yang menabrak mereka telah tewas sebelum kecelakaan terjadi. Kami juga mengamankan seorang laki-laki yang membantu pelaku menjalankan rencananya."
Penjelasan polisi membuat seluruh sendi dalam tubuh Ain melemas. Kecelakaan itu bukan terjadi secara tiba-tiba, tapi telah terencana. Pelakunya ... siapa lagi kalau bukan ....
Ain meradang, ia berlari masuk ke dalam rumah diikuti dua orang polisi setelah mendapat perintah.
"Bagaimana Kakak tahu, kalau kecelakaan itu terencana?" Nadia semakin kagum pada sosok laki-laki yang berdiri santai di sampingnya itu. Sikapnya memang tidak pernah serius, bicara suka asal, tapi setiap tindakannya nyata dan selalu dilakukan dengan teliti.
"Mudah saja, aku hanya curiga. Tidak mungkin sebuah mobil pick up yang dikendarai orang waras menabrak orang yang sedang berdiam di pinggir jalan. Dia yang hidup pasti akan membanting setir untuk menghindari korban, tapi mobil itu justru menyeruduk Ruby dan temannya hingga masuk ke dalam jurang. Begitu yang aku dengar. Aku meminta polisi untuk melakukan penyelidikan juga autopsi terhadap jenazah si pengemudi, dan ... inilah hasilnya. Hebat, bukan calon suamimu ini!"
Rahang Nadia terjatuh, ia sudah serius dan bangga dengan apa yang dia lakukan, tapi tetap saja narsisnya tak hilang malah memuji dirinya sendiri. Nadia tersenyum kecut, ia mengangguk kecil sembari melengos. Ikram yang turut mendengar penjelasan paman Harits pun merasa lega, ia mengucapkan terima kasih walau hanya dalam hati saja. Pandangannya berubah pada paman Harits.
"Yuni! Keluar kamu!" Suara teriakan Ain membuat mereka kembali pada apa yang sedang terjadi saat ini. Ia menggeledah seisi rumah dibantu dua orang petugas kepolisian. Kasus Yuni sungguh berat. Pembunuh berencana.
Tentang pembunuhan berencana diatur dalam Pasal 340 KUHP, yaitu: “Barangsiapa sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun penjara."
__ADS_1
Juga tentang perdagangan manusia. Ini yang ingin Nadia laporkan.
Ketentuan mengenai larangan perdagangan orang pada dasarnya telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal 297 KUHP menentukan mengenai
larangan perdagangan wanita dan anak laki- laki belum dewasa dan mengkualifikasikan tindakan tersebut sebagai kejahatan.
Suara Ain masih terdengar memanggil-manggil nama Yuni. Ikram menunggu di luar, gelagatnya terlihat ia tengah menahan marah yang bergolak hebat di hatinya.
"Ke sini kamu! Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu pada pihak berwajib!" Ain menyeret Yuni dari kolong ranjang kamarnya. Tak tanggung-tanggung, Ain menjambak rambut Yuni dan menariknya keluar.
"Ampun, Ain! Ampun! Maafkan aku, aku menyesal, Ain. Ampuni aku!" mohon Yuni sembari memegangi tangan Ain yang terus mencengkeram rambutnya itu.
"Kamu aku bawa ke rumah ini, aku kasih kamu makan dan tempat tinggal, tapi nyatanya kamu malah mau membunuh anakku. Kamu memang pantas masuk penjara!" Ain mendorong tubuh Yuni hingga terpelanting keluar rumah.
Ada bekas tamparan di pipinya, rambutnya yang berantakan, juga keadaan Yuni yang memilukan. Ia menangis dengan wajah menunduk.
"Seret saja dia, Pak! Biarkan dia membusuk di dalam penjara kalau perlu hukum mati dia!" sengit Ain dengan gemuruh emosi yang meluap-luap. Dadanya naik-turun karena gejolak panas api amarah yang membakar seluruh emosi dalam dirinya.
"Ampun! Ampuni aku! Jangan penjarakan aku, bagaimana dengan bayiku!" lirih Yuni bergetar.
"Aku akan membuangnya ke jalanan!" ketus Ain yang membuat Yuni mendongak dan menggelengkan kepala.
"Bawa dia, Pak! Bawa!" Ikram pun muak dengan Yuni. Dia penipu, juga pembunuh. Para petugas kepolisian pun membawa Yuni masuk ke mobil mereka. Selanjutnya, akan dijebloskan ke dalam penjara.
__ADS_1
"Wah ... hebat! Semut di seberang lautan nampak jelas terlihat, tapi gajah di pelupuk mata tak terlihat."