Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Berbicara Dengan Ikram dan Ain


__ADS_3

Kalau ingin hidupmu tenang, maka hilangkan sifat buruk sangka terhadap orang lain.


Nadia menguatkan hati untuk berbicara dengan Ain dan Ikram. Malam ini semuanya harus tuntas agar tidak ada lagi yang tersakiti. Jika Ain memintanya pergi dan Ikram rido, maka ia akan pergi dengan rela.


Ia menarik udara dalam-dalam, membuangnya perlahan. Berkali-kali melirik jam di dinding menunggu jarumnya ke angka sembilan tepat. Biasanya anak-anak Ikram sudah tertidur.


Nadia beranjak, keluar rumah dan melangkah menuju rumah Ain dengan jantung yang berdegup kencang. Dilihatnya lampu rumah Ikram masih menyala, terdengar pula suara Ain dan Ikram sedang berbincang di ruang tengah.


"Bi, kenapa Abi tidak bisa melakukannya? Apa karena Nadia? Apa karena Abi terlalu mencintainya hingga Abi menolak permintaan Umi?" ucap suara Ain yang menghentikan tangan Nadia saat hendak mengetuk pintu.


"Sudah Abi katakan, Abi tidak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama. Semua ini bukan karena Nadia, tapi Abi memikirkan perasaan Umi juga anak-anak. Abi tidak mau melihat Umi sedih juga anak-anak, itu saja. Apa Umi masih tidak mengerti?" timpal suara Ikram bernada lembut seolah takut Ain hancur berkeping-keping bila ia sedikit saja membentaknya.


Nadia menghela napas apa yang disampaikan Ibu yayasan ternyata benar. Mereka sering berdebat karena dirinya. Nadia membulatkan tekad, ia tak ingin lagi suami istri itu bertengkar hanya karena dirinya.


"Bismillahirrahmanirrahim!" gumamnya seraya mengangkat kembali tangan mengetuk pintu.


Tok ... tok ... tok!


"Assalamu'alaikum!" salamnya yang berhasil menghentikan perdebatan Ikram dan Ain. Hening. Tak ada sahutan, juga tidak ada suara debat-mendebat antara Ain dan Ikram.


"Assalamu'alaikum!" salamnya sekali lagi. Ia kembali menunggu, berdiri gelisah di depan rumah Ain. Apabila setelah tiga kali mengucap salam belum ada yang membuka pintu untuknya, ia akan kembali saja ke rumah.


Pintu terbuka dan nampaklah Ain yang membukakan pintu untuknya.


"Nadia? Kenapa malam-malam ke rumah?" tanya Ain tak suka. Bukannya menjawab salam ia justru melayangkan tatapan curiga pada wanita yang tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Kak!" Nadia kembali mengucap salam sembari meraih tangan Ain dan menciumnya tanpa segan.


"Wa'alaikumussalaam! Kamu cari suami kita? Tuh, di dalam!" ketusnya sembari menunjuk Ikram dengan wajahnya.


Nadia menggeleng, garis bibirnya masih membentuk lengkungan ke atas seolah ia baik-baik saja dengan sikap ketus Ain. Padahal, hatinya serasa diremas-remas dan disayat sembilu.


"Bukan, Kak. Boleh aku masuk? Aku mau bicara dengan kalian," ucap Nadia meminta izin Ain untuk masuk ke dalam.


Ain menelisik wajah Nadia, wajah wanita yang selalu membuatnya iri hingga ia rela mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk menyaingi wajah itu. Nadia menunggu sambil tersenyum tipis, tak enak rasanya ditilik seperti itu. Seolah-olah Nadia seorang penjahat yang patut dicurigai.


"Siapa, Mi?" tanya Ikram dari tempatnya duduk. Padahal, ia tahu dan mendengar sendiri suara siapa yang datang.


Ain tidak menjawab suara Ikram, ia memandang Nadia dan mempersilahkan madunya masuk.


"Terima kasih, Kak," ucap Nadia seraya mengikuti langkah Ain menuju tempat di mana Ikram duduk menunggu.


"Assalamu'alaikum, Mas!" Nadia menyalami Ikram. Lantas duduk bersebrangan dengan mereka.


"Wa'alaikumussalaam. Ada apa? Tumben malam-malam ke sini?" tanya Ikram pula dengan kening yang mengernyit.


Nadia masih terdiam, ia melihat Ain yang beranjak mungkin akan membuatkan minuman.


"Eh ... Kak! Kalau Kakak mau buatkan minuman, sebaiknya jangan. Aku mau bicara dengan kalian," cegah Nadia yang membuat Ain urung pergi ke dapur.


Ia duduk kembali di sofa yang sama dengan Ikram. Sedangkan Nadia memilih untuk duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi mereka.

__ADS_1


"Mau bicara apa, Nadia? Sepertinya penting sekali," tanya Ikram. Ia yang sedang membaca buku meletakkan bukunya di atas meja. Memandang Nadia dengan jari yang bertaut di atas perut.


"Mmm ... begini ... bismillahirrahmanirrahim." Nadia menarik napas dalam-dalam, menyiapkan hati agar lisannya dapat berkompromi dan dapat mengucapkan kalimat-kalimat yang telah disusunnya di rumah.


Ikram dan Ain menunggunya dengan pandangan berbeda.


"Aku mendengar kabar yang tidak enak dari orang-orang. Kabar bahwa kalian berdebat karena aku. Bukan ... bukan aku memikirkan diriku sendiri, tapi aku memikirkan kalian yang sudah hidup bersama selama sepuluh tahun lebih. Rasanya tidak nyaman saat aku yang baru ini justru memicu perdebatan di antara kalian. Aku seperti menjadi duri dalam daging yang menusuk-nusuk tanpa terlihat-"


"Maafkan aku. Baru saja aku pun tidak sengaja mendengar perdebatan kalian. Aku sadar, tidak seharusnya aku berada dalam kehidupan seorang laki-laki yang telah memiliki wanita di sisinya. Aku menyadari itu dan memang sudah sangat terlambat, tapi aku menyesali semuanya ...."


Nadia menjeda ucapannya. Menatap Ikram dan Ain bergantian yang masih mengunci mulut mereka rapat-rapat. Kedua ujung alis Ikram bertaut, ia sudah dapat menebak ke mana arah pembicaraan Nadia. Namun, ia tetap diam menunggu dan mendengarkan.


"Mas, Kak Ain ... kalau kehadiranku dalam hidup Mas Ikram sangat mengganggu ketenangan kalian dalam menjalankan biduk rumah tangga, maka ... aku rela pergi dari kehidupan Mas Ikram. Aku sudah katakan, bukan? Bahwasannya aku bukanlah ingin merebut Mas Ikram dari Kak Ain. Sama sekali tidak ada niatan untukku melakukan itu. Aku hanya berharap dengan menjadi istri Mas Ikram aku bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah. Selebihnya, aku tidak ada maksud lain lagi," lanjut Nadia memandang suami dan kakak madunya dengan tatapan sayu.


"Apa maksud kamu, Nadia?" tanya Ikram menegakkan tubuh sembari menatap Nadia dalam-dalam.


Ain hanya terdiam mendengarkan. Ia tak ingin menyahut atau apa pun itu.


"Mas, seperti kata Mamah tidak ada wanita yang rela dimadu. Lisan bisa saja berkata ikhlas, tapi sakit dalam hati tak dapat ditutupi selamanya. Kalau hadirku di sini justru menambah sakit hati Kak Ain, aku ... aku akan mundur dari pernikahan ini, Mas. Mari kita bercerai!" ungkap Nadia yang sontak saja membuat Ikram bangkit dari duduknya.


Sementara Ain pun terkejut mendengarnya. Ia saja begitu takut mengucapkan kata itu, tapi Nadia seolah tak ada beban berarti saat mengucapkan kalimat itu. Ia menatap Nadia tak percaya. Sungguh-sungguh tidak percaya. Namun, dalam hati ia bersorak senang. Dan mendukung Ikram menceraikan Nadia. Ia berjanji jika Ikram dan Nadia bercerai, maka ia tak akan memaksa Ikram untuk menikahi Yuni. Cukup dia saja istri Ikram satu-satunya.


Nadia melirik Ikram sembari tersenyum samar. Laki-laki itu tengah memandangi wajahnya dengan dada yang bergemuruh hebat. Ia tidak pernah menduga Nadia akan mengucapkan kata haram itu padanya.


Sementara Nadia pun, meneguk ludah basi saat melihat wajah Ikram yang memerah padam. Biji maniknya menyala, api amarah berkobar di dalamnya. Nadia benar-benar takut sekarang. Apakah dia telah salah dengan mengatakan itu pada Ikram?

__ADS_1


Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Ikram mendekat dan berdiri tepat di hadapannya. Nadia mendongak mungkin ini adalah hari terakhir ia dapat memandang laki-laki yang ia cintai jika saja Ikram menjatuhkan talaknya malam ini juga. Antara ingin dan tidak. Nadia delima.


__ADS_2