Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Lancang


__ADS_3

Dua orang laki-laki berusia di atas paman Harits diikuti dua orang wanita yang juga berusia sama. Di belakang mereka sepasang muda mudi dan dua orang remaja laki-laki ikut mengekor. Melangkah dengan pongah persis saat Ibu pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu.


Mata Ibu membelalak, tapi tidak dengan paman Harits. Namun, tetap saja ketegangan tercetak jelas di wajah tampannya. Nadia ikut merasakan itu, ia yang berdiri di bagian kiri suaminya menggenggam tangan paman Harits. Ia melirik, tapi tidak dengan laki-laki itu. Ia tetap bergeming pada kelompok yang baru datang meskipun tangannya ikut balas menggenggam erat tangan Nadia.


Suara tepuk tangan menggema dari laki-laki yang berusia lebih tua. Senyum kedua lelaki itu lebih terlihat seperti seringai serigala yang bersiap melahap mangsanya yang lemah.


"Wah ... hebat! Hebat!" Ia masih bertepuk tangan sambil terus melangkah menaiki teras. Dua wanita yang di belakang mereka pun turut tersenyum, sinis. Empat orang lainnya yang bersama mereka memisahkan diri dan menuju ke perkumpulan anak-anak.


Laki-laki tadi menepuk bahu paman Harits sebanyak dua kali sebelum kata demi kata meluncur dari mulutnya.


"Adikku yang tidak berguna ini sekarang sudah menjadi orang hebat!" Ia merentangkan kedua tangan sambil tertawa lepas. Lalu membantingnya dan melirik paman Harits mengejek.


"Kakak benar, sampah kecil ini sekarang sudah menjadi orang besar. Aku bangga padamu, Adik!" timpal orang kedua sambil terkikik mencibirkan bibirnya.


Paman Harits mengangkat tangannya saat melihat orang-orang yang bertugas sebagai keamanan bergerak serentak hendak mengamankan. Mereka berhenti dan berbaris dengan siaga. Kedua laki-laki yang tak lain adalah kakak paman Harits itu melirik ke belakang tubuh mereka dan mendengus pelan.


"Kamu bahkan memiliki orang-orang yang siaga membantu kapan pun dibutuhkan." Pandangannya terangkat mencibir adik bungsu di depannya itu.


"Apa kamu tidak ingin menyambut kami? Kami datang jauh-jauh ingin menyapa adik kami dan juga, hei ...."


Kakak kedua paman Harits menatap Nadia, seketika lisannya kelu tak berkata untuk beberapa saat. Ia melangkah ke depan Nadia. Tersenyum lain pada wanita berhijab itu. Paman Harits bereaksi. Ia mengeratkan genggamannya saat menangkap getaran di tangan istrinya.


"Apa ini adik ipar? Cantik sekali-"


Plak!


"Singkirkan tangan lancangmu dari istriku!" Paman Harits menepis kuat tangan kakak keduanya yang hendak menyentuh dagu Nadia.


Wanita itu beranjak mundur ke belakang tubuh suaminya. Paman Harits melepas genggaman dan menjadikan tubuhnya tameng untuk Nadia.


"Wah ... bahkan sekarang kamu sudah berani melawan kami, ya?" katanya sembari memegangi tangannya yang sedikit sakit karena pukulan paman Harits.

__ADS_1


"Hmm ...." Paman Harist tersenyum miring. Ia memandang kedua kakaknya sinis.


"Aku bahkan sudah tidak mengenal siapa kalian. Aku kira kalian tidak ada dalam daftar tamu undangan," katanya mencibirkan bibir.


Kedua istri mereka membelalak, lalu memicing saat mata mereka beradu dengan manik Nadia. Ibu masih berdiri di sana menunggu apa yang ingin dilakukan kedua anaknya itu.


"Wah ... Kakak! Adik bungsu tidak mengakui kita. Hatiku bersedih," adunya sembari memegangi dada seolah ia merasa sakit hati, tapi wajahnya tetap mengejek.


"Maklum saja, dia sekarang adalah orang besar. Merasa sudah menjadi orang hebat dan memiliki segalanya. Oh, adik! Apa kamu begitu bencinya kepada kami?" katanya penuh drama.


Paman Harits bergeming, sikapnya tetap tenang dengan garis wajah datar.


"Ayolah, Adik! Apa kamu tidak mau memeluk kami?" katanya lagi dengan kedua tangan yang direntangkan.


Paman Harits kembali tersenyum, tipis dan penuh ancaman.


"Jika kalian datang untuk menghadiri acara kami, silahkan bergabung dengan mereka sebagai tamu undangan. Namun, jika kalian datang hanya untuk membuat keributan, pintu gerbang rumahku terbuka lebar. Kalian bisa meninggalkan rumahku atas keinginan kalian atau harus dengan tindakan? Tinggal pilih, karena sudah lama sekali aku tidak menggerakkan otot tanganku ini." Paman Harits memainkan jemarinya hingga mengeluarkan bunyi urat yang bergerak.


"Tolong, jika kalian memang benar-benar ingin mengunjungi adik kalian, bersikaplah dengan baik. Kita bisa bicara baik-baik di dalam atau jika tidak, kalian bisa pergi dari sini dan biarkan adik kalian hidup dengan tenang. Sudah cukup, Nak! Apa yang kalian lakukan dulu, sudah membuat Ibu buruk di mata adik kalian ini. Jangan membuat keributan, Ibu hanya ingin semua anak Ibu akur dan saling menyayangi." Maat Ibu berkaca.


Nadia yang menangkap getaran pada nada bicara Ibu mertuanya itu, meraih tangannya dan menggenggamnya. Ia menepuk punggung tangan Ibu memenangkannya.


"Oh, Ibu! Aku merindukan Ibu." Kakak pertama berhambur memeluk Ibu, hanya sebentar dan segera dilepaskannya lagi. Ia tertawa kecil.


"Jadi, Ibu lari dari rumah kami dan tinggal di sini? Ibu bersembunyi di sini rupanya," katanya sembari menggaruk dagu dan memindai Ibu.


Paman Harits melirik, waspada. Ia menerka, ada cerita apa antara Ibu dan kedua kakaknya itu.


"Sayang, bawa Ibu masuk!" titah paman Harits pada Nadia.


"Tapi, Mas, bagaimana dengan Mas?" tanya Nadia enggan beranjak.

__ADS_1


"Jangan memikirkan aku, cepat masuk!" Nadia menurut dan membawa Ibu masuk ke rumah. Kedua laki-laki itu tertawa.


"Kalian susul Ibu dan wanita itu!" Kakak tertua paman Harits memerintahkan kedua wanita di belakang mereka untuk menyusul Ibu dan Nadia.


Drap!


Gerakan orang berbaris menghadang serentak menghentikan langkah kedua wanita itu. Orang-orang berseragam hitam berbaris menghalangi pintu.


"Tidak ada yang bisa melewati pintu itu tanpa izinku!" ketus paman Harits. Matanya melirik dua wanita yang termangu di depan pintu.


"Kami hanya ingin menyapa Ibu, Harits!" tutur salah satu dari mereka.


"Mereka juga menantu Ibu, biarkan saja mereka menemui Ibu!" Kakak kedua ikut buka suara.


Wajah keduanya menegang, mulai ragu dengan hati dan tujuan mereka datang.


"Aku bukan Harits yang mudah kalian tindas seperti dulu! Jadi, sebelum aku yang mengambil tindakan, sebaiknya kalian angkat kaki dari rumahku. Kalian tidak diterima di rumah ini!" Paman Harits menunjuk lantai geram.


Ia menarik napas pelan, memenangkan hatinya. Keempat orang itu mulai gelisah. Wajah dua wanita itu bahkan sudah berubah pucat.


"Waw ... kamu mengusir kami? Kamu mengusir kakak kamu sendiri?" Tidak terima. Namun, paman Harits bergeming pada pendiriannya.


"Berikan jalan untuk mereka dan biarkan mereka pergi!" titah paman Harits pada orang-orang berseragam yang berbaris di halaman.


"Kamu!" geram kakak kedua menunjuk wajah paman Harits.


Barisan orang itu membelah barisan, membuka jalan untuk mereka.


"Lihat saja, Harits! Kami akan mengingat penghinaan ini! Lihat saja!" Tangan Kakak kedua menuding hidung adik bungsunya.


"Aku menantikannya!" ucap paman Harits sedikit mencondongkan tubuh pada kakaknya itu. Ia tersenyum menantang.

__ADS_1


"Argh!"


__ADS_2