Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Membujuk Ikram


__ADS_3

Malam terus merangkak, Ikram sudah terlelap. Bilal dan Nafisah pun ikut larut dalam buai alam mimpi. Nadia tersenyum dalam tidur meskipun sendirian. Sementara Ain, tak dapat memejamkan mata barang sedetik pun.


Ia gelisah memikirkan cara bagaimana berbicara dengan Ikram. Ain berbaring di samping Ikram, memandangi punggung lebar laki-laki itu sembari tersenyum.


Jari telunjuknya ia gunakan untuk menyusuri tulang punggung suaminya itu. Sesekali akan tertawa tanpa suara, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.


Malam ini Ikram tidak memberinya nafkah batin, mungkin karena lelah selama tiga hari harus bergadang di Rumah Sakit menemani anak asuhnya bersama Nadia.


Abi itu milik Umi selamanya. Siapa pun tidak bisa memiliki Abi, tidak Nadia pula. Dia harus menyerah dan mundur dengan sendirinya.


Ain bergumam dalam hati, dengan garis bibir melengkung penuh kelicikan. Ain sedang merencanakan sesuatu untuk membuat Nadia menyerah.


Ikram mengernyit dalam tidur tatkala merasakan sesuatu menekan punggungnya. Ia membuka mata dan samar mendengar suara tawa Ain yang ditahan. Ikram berbalik cukup membuat Ain terkejut.


Wanita itu mengepalkan tangan dan menariknya. Tersenyum malu saat Ikram menatapnya dengan alis yang bertaut.


"Ada apa, Mi? Ada yang mau Umi bicarakan?" tanya Ikram sembari merubah posisi menghadap istrinya.


Ain tersenyum ia lantas mengangguk ragu. Apakah dia harus membicarakannya dengan Ikram?


"Ngomong saja, Mi, Abi akan dengarkan," ucap Ikram lagi sambil membenarkan posisinya. Ia menyanggah kepalanya menggunakan tangan kanan.


"Mmm ... apa benar poligami itu sunah Rasul?" tanya Ain cukup takut sebenarnya bertanya hal itu pada Ikram.


Namun, laki-laki itu justru tersenyum.

__ADS_1


"Umi tahu sendiri jawabannya," sahutnya tanpa menjawab.


Ain menggigit bibirnya. Ia tahu soal itu, tapi kenapa menanyakannya juga. Bodoh!


"I-iya, itu ada di dalam Al-Qur'an, tapi, Bi ... Rasulullah itu menikahi para janda untuk mengangkat derajat wanita pada masa itu karena status wanita di jaman itu sangat direndahkan. Untuk itu demi menaikkan derajatnya, Rasulullah menikahi para janda. Para istri yang ditinggal mati oleh suami mereka karena berjihad di jalan Allah," papar Ain yang membungkam mulut Ikram untuk beberapa saat.


"Jadi, maksud Umi ... Abi telah salah kaprah, begitu?" tanya Ikram dengan nada biasa.


"Bu-bukan begitu, Abi memang tidak mengatakan ingin menjalankan sunnah, tapi orang-orang itu tahunya poligami itu sunnah. Padahal, yang sunnah itu adalah yang seperti Rasulullah. Menikahi janda yang tidak mampu menghidupi dirinya sendiri, atau pun kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya," sambung Ain lagi menjelaskan maksudnya.


Ikram semakin dalam melipat kerutan di dahinya.


"Maksud Umi apa?" tanyanya kembali merubah posisi karena sedikit tegang.


"Begini, Bi ... Abi ini, 'kan, orang yang mengerti agama. Lagi pula Abi juga mampu dari segi materi. Maksud Umi, ada seorang jamaah kita yang memerlukan sosok seperti Abi. Dia janda, yatim piatu pula. Bisakah Abi menikahinya? Umi dengar, dia selalu dihina warga di sekitar rumahnya karena dianggap sebagi pengganggu suami mereka," ungkap Ain yang sontak saja membuat Ikram terduduk dan menatap tajam istri pertamanya itu.


Menikah lagi? Sungguh tidak ada dalam rencana Ikram. Baginya, Ain dan Nadia saja sudah cukup mengisi hari-harinya. Tidak menginginkan wanita lain untuk menjadi istrinya lagi.


"Kenapa, Bi? Dua istri saja Abi bisa menjalankan peran Abi sebagai suami dengan cukup baik. Umi hanya merasa kasihan padanya. Tidak ada yang melindungi dia dari cemoohan orang-orang di sekitarnya, Bi," rayu Ain lagi memohon pada Ikram.


Laki-laki itu merasa heran dengan sikap Ain malam ini. Dulu saja ia begitu berat mengizinkan dirinya untuk menikah lagi, tapi sekarang kenapa justru memintanya untuk menikah lagi. Ikram tak habis pikir bagaimana jalan pikiran Ain.


"Apa karena Nadia, Umi jadi seperti ini? Apa karena Abi menikahinya Umi menjadi seperti sekarang? Ada apa, Mi? Kenapa harus seperti ini?" cecar Ikram sedikit mengerti ke mana arah tujuan Ain.


Ain tertegun mendengar sederet pertanyaan dari Ikram. Ia harus mencari alasan agar Ikram tidak curiga.

__ADS_1


"Bu-bukan, Bi. Bukan!" Ain menghela napas sebelum melanjutkan, "Umi hanya sudah terbiasa dengan kehadiran Nadia, dan itu membuat Umi lebih kuat dalam menerima setiap takdir yang akan Umi hadapi. Hati Umi mulai mengerti seperti apa itu ikhlas. Umi perlu tahu sejauh mana ikhlas yang sudah Umi dapatkan. Apa Abi mengerti?"


Ain memandang lembut Ikram yang mengunci mulutnya rapat. Pandangannya fokus pada iris coklat milik Ain yang memancar penuh kehangatan.


"Tapi tidak dengan cara seperti ini. Kalau Abi melalukan ini, akan ada dua orang yang tersakiti. Abi tidak ingin ada yang tersakiti lagi. Cukup sudah Abi melihat Umi sakit karena pernikahan Abi dengan Nadia. Sekarang, Abi tidak ingin melakukan kesalahan yang sama yang akan membuat dosa Abi semakin menumpuk saja. Apa Umi mengerti? Abi tidak ingin melakukannya," tolak Ikram lagi sembari mengusap pipi Ain dengan lembut.


Sungguh Ikram tidak ingin melakukannya. Ia sudah menyadari kesalahannya dengan melihat kesedihan di mata Ain, dan Ikram tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Apa lagi sekarang, ada dua orang wanita yang akan tersakiti jika ia melakukan itu.


Juga anak-anak tentunya yang belum pasti akan siap menerima kehadiran ibu baru dalam hidup mereka.


"Apa Abi memikirkan perasaan Nadia? Apa Abi takut dia akan tersakiti?" Ain mulai emosi. Penolakan Ikram kali ini, sungguh menyulut emosi dalam dirinya. Ia berpikir Ikram hanya memikirkan perasaan Nadia dan tidak ingin menyakitinya.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Kenapa Umi berpikiran pendek seperti itu? Yang Abi pikirkan justru perasaan Umi. Bukan Nadia. Kehadiran Nadia saja sudah sangat membuat Umi sedih, apa lagi ditambah wanita lain dalam hidup Abi. Apa tidak menambah luka dalam hati Umi?" ungkap Ikram sembari memegangi kedua tangan Ain yang lembab.


Ain memalingkan wajah dengan dada yang naik-turun karena luapan emosi. Ia marah dan kesal. Apa rencananya akan gagal? Tidak! Rencananya tidak boleh gagal. Dia harus berhasil membuat Ikram setuju menikah lagi.


"Tidak! Karena wanita ini pilihan Umi bukan pilihan Abi!" tegasnya tanpa berpaling pada Ikram.


Sungguh Ikram dibuatnya semakin bingung. Ia melepas tangannya dan mengusap wajah dengan kasar.


"Astaghfirullah! Apa yang sedang merasuki istriku ini? Kenapa istri yang lembut dan selalu mendengar, kini bersikap keras terhadap keinginannya, ya Allah!" gumam Ikram sembari menatap wajah Ain tak percaya.


Sungguh malam ini, Ain menjelma seolah bukan dirinya. Ke mana Ain yang selalu lembut dan selalu mempertimbangkan semua hal dengan bijak itu? Kenapa hanya ada wanita yang keras terhadap keinginannya itu saja.


Ain tetap bersikeras dengan keinginannya. Ia merajuk, menolak memandang Ikram dan menghilangkan senyumnya yang selalu ia tampilkan di hadapan suaminya itu.

__ADS_1


"Kalau Umi meminta yang lain, akan Abi kabulkan selama tidak melanggar syariat. Namun, Umi meminta Abi menikah lagi ... yang jelas-jelas akan semakin merusak keharmonisan rumah tangga kita. Maaf, Mi. Abi tidak bisa melakukannya. Kali ini, Abi tidak bisa mengabulkan keinginan Umi," lanjut Ikram lagi dengan nada melemah.


"Kalau begitu, ceraikan Umi!"


__ADS_2