
"Kullu nafsin dzaaiqatul maut."
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."
(Al-Anbiya:35)
******
Mereka yang mengantar jasad Sarah ke Jakarta, kembali setelah wanita itu dimakamkan. Di sana turut hadir Raihan yang sangat tahu bagaimana perjuangan wanita itu dalam mengembalikan semangat Nadia.
Raihan menawarkan diri menjadi supir mereka. Winda, Rima, Ruby dan dua anak asuh Nadia sama-sama terdiam di dalam mobil. Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Mata mereka sembab, dua anak asuh Nadia bahkan masih terisak. Teringat akan Sarah yang selalu membawa kebahagiaan untuk mereka setiap kali datang ke yayasan jauh sebelum Nadia menjadi istri Ikram.
Dokter sahabat Sarah bersama tim menaiki ambulance. Mobil keduanya beriringan di jalanan ibu kota menuju kota kecil Rangkasbitung.
"Ruby, biar om Rai antar kamu pulang, ya. Kalian juga," ucap Winda memecah keheningan. Dua anak itu mengangguk. Namun, Ruby menggeleng.
"Aku tidak mau pulang, aku mau menginap di Rumah Sakit menemani Bunda. Aku tidak mau pulang." Ruby kembali terisak mengingat Nadia yang tadi sempat dilarikan ke ruang ICU.
"Baiklah, tapi jangan menangis. Bagaimana Bunda kalian akan kuat kalau anak-anaknya terus-menerus menangis," sahut Rima yang mengusap kepala Ruby.
Ia memberingsut cairan di hidungnya. Juga mengusap air mata yang menjatuhi pipinya. Mengangguk tanda mengerti bahwa Nadia butuh kekuatan untuk tetap semangat melawan sakitnya.
Mobil berhenti di depan Rumah Sakit, menurunkan Rima dan Ruby yang akan menjaga Nadia. Winda harus memastikan kondisi pabrik, ia merasa bertanggungjawab atas jalannya aktivitas di pabrik tersebut selama Nadia koma.
Bersama Raihan yang menjadi supirnya, mereka menuju pondok Al-Masthur guna mengantarkan kedua anak asuh Nadia.
"Aku turun di sini saja, apa kamu tidak apa-apa menyetir sendiri?" ucap Raihan saat sampai di tempat tujuannya.
Winda tersenyum dan mengangguk. Ia berpindah tempat duduk setelah Raihan turun di tempat tujuannya. Winda menuju pabrik. Semua karyawan Nadia menunggu kabar. Mereka duduk di depan pabrik berbaris dengan wajah yang menunduk. Raut-raut sendu jelas tergambar di wajah mereka.
Semuanya kompak mendongak, begitu lampu mobil yang dikendarai Winda menyorot ke arah mereka. Berdiri pun serentak menunggu dengan tak sabar bagaimana kondisi Nadia.
Mereka kecewa saat hanya Winda yang turun dari mobil. Sekretaris itu berjalan lesu ke arah mereka. Jelas sudah tergambar semuanya di wajah wanita itu.
__ADS_1
"Kabar buruk. Pabrik akan berhenti beroperasi sampai mbak Nadia pulih dari koma karena tidak ada yang menjaga mbak Nadia. Saya harap kalian bisa mengerti, kita sama-sama doakan mbak Nadia agar segera pulih dan bisa berkumpul lagi bersama kita. Kalian boleh pulang. Kompensasi untuk libur akan dikirim Rima ke rekening kalian."
Winda memberi pengumuman untuk semua karyawan. Ia mempersilahkan mereka untuk pulang karena malam sudah hampir larut. Sementara dia merapikan berkas laporan yang seharusnya diperiksa Sarah siang tadi.
Winda membawa semua dokumen bersamanya. Memasukannya ke dalam sebuah tas dan membawanya ke Rumah Sakit. Ia dan Rima yang akan menemani Nadia selama dirawat.
"Bagaimana, apa karyawan sudah kamu beritahu?" tanya Rima begitu Winda tiba di ruangan Nadia dirawat. Di sana ada Ruby yang sudah tertidur di sofa mungkin karena terlalu lelah. Keduanya akan tidur di lantai dengan beralaskan karpet.
"Hhmm ... mereka menunggu di depan pabrik. Aku secara jelas melihat wajah mereka, semua orang bersedih atas kepergian bu Sarah yang mendadak ini," jawab Winda kembali terisak di ujung kalimatnya.
"Sudah, bukan cuma kamu yang sedih. Aku juga. Bu Sarah itu sudah seperti Ibu untuk kita. Bukan cuma kamu yang merasa kehilangan, kita semua. Termasuk dia yang sedang tertidur di sana," ucap Rima menenangkan Winda. Keduanya terbaring masing-masing terjaga meskipun matanya terpejam.
Dua hari lamanya, Ruby menunggui Nadia. Winda membelikannya pakaian ganti karena anak itu tidak ingin pulang.
"Anak itu tidak mau pulang, aku khawatir orang tuanya mencari," ucap Rima melaporkan.
Winda melirik Ruby yang duduk di kursi samping ranjang Nadia. Ia tidak tega melihat anak itu. Winda mendekatinya, mengusap kepalanya dengan lembut.
"Kalau mbak Nadia membuka matanya, aku yakin dia pasti akan menyuruhmu pulang karena tidak ingin membuat khawatir kedua orang tuamu." Winda memandang Nadia yang terpejam dengan berbagai macam alat medis yang menopang hidupnya.
"Mbak Nadia selalu mementingkan orang lain dari pada dirinya. Sebaiknya, kamu pulang dulu. Besok kamu akan Tante jemput lagi. Setidaknya orang tuamu tahu kalau kamu baik-baik saja," ucap Winda lagi yang membuat Ruby menunduk.
"Ingat, ada Adik-adik kamu juga yang menunggu. Siapa yang akan menjaga mereka kalau kamu terus di sini? Kasihan kedua adik kamu itu," sambung Winda yang menyentak kesadaran Ruby dari keegoisan.
Benar, Bilal dan Nafisah menunggunya pulang. Mereka menunggu kabar tenang Bunda mereka juga.
"Tante janji akan menjemputku lagi besok?" tanya Ruby mendongak pada Winda dengan pandangan penuh harap.
Winda tersenyum dan mengangguk.
"Seperti waktu itu," sahutnya meyakinkan. Ruby mengerti, ia akhirnya menurut dan pulang menemui kedua adiknya dengan dianter Winda.
"Tante tolong kabari aku kalau Bunda sudah bangun," pinta Ruby yang mendapat anggukan kepala dari Winda. Ruby beranjak turun dari mobil dan masuk ke gerbang pesantren.
__ADS_1
Winda melajukan mobil meninggalkan tempat itu menuju pabrik. Ia ingin memeriksa kondisi pabrik sebelum ke Rumah Sakit.
Ruby yang berjalan terus menunduk tak ingin mengangkat wajah dan menatap orang-orang yang akan dia jumpai. Ia muak dengan mereka semua.
"Ruby!" panggil Ikram seraya memegang tangan putrinya itu hendak menanyainya.
Namun, Ruby melepas tangan Ikram tanpa melihat ke arahnya. Langkahnya berlanjut menuju rumah Nadia.
"Ruby!"
"Lepaskan aku! Jangan berbicara padaku. Aku tidak ingin berbicara dengan kalian. Jangan pernah berbicara padaku!" ketus Ruby menepis tangan Ikram dengan kasar. Ia melangkah lagi masuk ke gerbang yayasan. Ruby bahkan mengunci gerbang tersebut sebelum menuju rumah Nadia.
Yayasan nampak suram karena ditinggal pengasuhnya. Pintu rumah anak-anak asuh Nadia bahkan tak terlihat terbuka semenjak kepulangan dua anak itu. Mereka seolah menolak siapa saja datang menemui mereka. Tak ada satu pun anak-anak bermain di taman, atau membuat kerajinan dia aula seperti biasa.
Ikram mengejarnya, ia berdiri di gerbang yayasan sambil memandangi punggung Ruby yang melangkah lesu menjauhinya.
Dari dalam rumah anak-anak yatim itu, Bilal dan Nafisah berlari memeluk kakak mereka sambil menangis. Mereka mendengar kabar dari dua anak itu.
Ikram terheran melihat ketiga anaknya. Ada apa dengan mereka? Ada apa dengan orang-orang di yayasan. Setiap kali ia melihat, selalu nampak sepi seolah tak berpenghuni. Kedua anaknya bahkan menginap di sana tak pernah mau pulang.
Ruby mengusap kedua kepala adiknya, ia mencium dahi mereka bergantian sebelum membawa keduanya memasuki rumah Nadia. Ruby bahkan mengunci pintunya supaya Ikram tak dapat menerobos masuk.
"Kakak, Nenek ...."
Ruby kembali menumpahkan tangisan saat Bilal menyinggung soal Sarah. Ia memeluk kedua adiknya di dalam kamar Nadia.
"Kakak, kenapa Nenek harus pergi! Aku mau ke rumah Nenek lagi dan bermain di sana," rengek Nafisah membenamkan wajah di perut sang Kakak.
Ruby benar-benar tidak menutupi kesedihannya. Ia menangis sejadi-jadinya saat mengingat jasad itu dimasukkan ke liang lahat dan ditimbun dengan tanah.
"Sudah, jangan menangis. Kita doakan Nenek supaya mendapat tempat yang layak di sisi-Nya," ucap Ruby setelah menenangkan hatinya. Kedua kepala yang membenam di perutnya itu, mengangguk.
Ia kembali mencium ubun-ubun mereka. Mengusap kedua punggung itu yang tak berhenti berguncang.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Bunda? Apa Bunda juga masih belum bangun?" tanya Bilal lagi mendongak. Ruby menggeleng sebagai jawaban.
"Belum, doakan Bunda juga supaya cepat bangun." Ia merebahkan diri bersama kedua adiknya. Untuk sejenak, melupakan kesedihan dan bermain di alam mimpi.