
TERKUAK SEMUA
"Apa?" Suara Ikram yang menyentak, membuat Yuni berubah pucat pasih. Pantas saja hatinya was-was tadi saat melihat dua mobil mewah terparkir di halaman rumahnya. Ternyata ada masalah yang sedang terjadi.
"M-mas?" Suara Yuni tercekat di tenggorokan. Bibirnya gemetar, peluh bercucuran di dahinya hingga berjatuhan mengenai hidung dan bibirnya. Nadia tetap tenang, ia sama sekali tak bergerak atau pun bereaksi berlebihan.
"Maaf, Ibu dan Bapak. Sepertinya kami akan kembali saja," pangkas si pejabat menyela ucapan semua orang.
"Maafkan kami, Mbak Naira. Kami benar-benar minta maaf, kami tidak tahu kalau anak-anak di sini adalah anak asuh Mbak Naira. Kalau kami tahu, kami tidak mungkin datang untuk mengambil anak-anak di sini karena pasti mereka sama sekali tidak membutuhkan orang tua baru. Maafkan kami sekali lagi, Mbak. Maaf," tutur istri pejabat itu memohon dengan sangat.
Nadia yang tak mengenakan penutup wajah mudah sekali untuk dikenali. Ikram dan Ain mengernyit bingung mendengar sebutan wanita itu yang lain pada Nadia. Begitu pun Ruby. Hanya Yuni yang menunduk takut dengan tubuhnya yang gemetar.
"Saya mengerti, dan sangat mengerti. Kalian ingin memiliki anak, tapi alangkah lebih baiknya jika kalian mengambil dari panti asuhan yang legal. Selidiki lebih dulu barulah memutuskan untuk mengadopsi anak dari tempat tersebut. Saya memaafkan kalian karena pasti kalian tidak tahu. Saya juga meminta kalian untuk segera pergi karena ini adalah masalah internal yang orang lain tidak perlu tahu," terang Nadia tidak merubah garis wajahnya yang mengeras. Ia terlanjur marah karena ulah Yuni yang tega mau menjual anak-anaknya.
Pejabat dan istrinya pun pergi meninggalkan kediaman Ikram. Mereka gegas masuk ke dalam mobil dan melaju.
"Naira? Apa Bunda itu Naira? Aku tahu meskipun aku belum pernah melihat seperti apa sosok Naira itu? Apa Bunda benar-benar Naira?" tanya Ruby menggebu. Ia sama sekali tidak tahu identitas sesungguhnya dari Nadia. Pandai sekali Nadia menyembunyikannya.
"Itu tidak penting untuk dibahas sekarang, tapi ... ya, Naira itu nama dalam duniaku yang tidak kalian ketahui," sahut Nadia singkat saja membongkar identitas sesungguhnya siapa dia.
Ain memucat, siapa yang tidak mengenal nama besar Naira? Sosoknya memang tidak pernah muncul di televisi, tapi namanya yang besar dikenal semua orang terutama mereka para pecinta fashion modern.
__ADS_1
Ain gemetar, tubuhnya tiba-tiba menggigil saat mengingat dirinya yang pernah menggunakan kartu kredit anak-anak dan membelanjakannya di butik Naira. Itu artinya, Nadia sudah lama tahu perbuatannya dan dia berpura-pura tidak tahu. Bodoh. Ain merasa benar-benar bodoh.
"Nadia, siapa pun nama kamu ... sekarang katakan, apa maksud ucapan kamu tadi?" Ikram menuntut penjelasan. Pandangannya berubah pada Nadia, apa lagi saat tahu kalau Nadia bukanlah orang sembarangan.
"Yang mana, Mas? Oh ... anak yang dilahirkan Yuni yang tidak jelas siapa bapaknya itu?" sarkas Nadia sembari tersenyum miring jelas-jelas mengejek Ikram.
Laki-laki itu membeku, nampak sudah kebodohan yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng ustadz.
"Kamu tidak perlu memasang wajah bodoh, Mas. Aku kenal siapa Yuni? Dia bukanlah salah satu jamaah pengajian kamu, tapi dia sahabat Kak Ain. Mereka bersekongkol untuk membuatku menderita, tapi sayang ... rencana mereka tidak ada yang berhasil. Aku benar, bukan Kakak madu dan Adik madu?" Nadia kembali mengulas senyum saat wajah kedua wanita itu berubah pucat dan memutih.
"Umi?!" Suara panggilan Ikram membuat tubuh Ain semakin menggigil ketakutan. Ia menggigit bibirnya sekuat mungkin menekan segala rasa yang bergolak panas di hatinya.
"Apa benar yang dikatakan Nadia, Mi? Jawab?!" bentak Ikram tidak tanggung-tanggung membuat Ain tersentak sampai memundurkan langkah.
"Teganya Umi melakukan ini kepada Abi? Sampai hati Umi mengkhianati Abi seperti ini?" ucap Ikram getir. Ain menangis tersedu.
Yuni masih saja bungkam belum berani berucap satu patah kata pun.
"Katakan, apa benar anak itu bukan anakku!" Kali ini Ikram melempar pertanyaan pada Yuni yang menundukkan kepala dalam-dalam, "cepat katakan! Anak siapa yang kamu lahirkan itu?!" lanjutnya penuh emosi.
"Yang pasti, dia bukan anak Abi. Aku pernah melihatnya berdebat dengan laki-laki lain masalah kehamilannya. Bukan hanya itu, aku juga sering melihatnya pergi bersama laki-laki lain ketika aku menemani Bunda ke Rumah Sakit," sambar Ruby yang tak dapat lagi menutup-nutupi semua kenyataan yang ia tahu.
__ADS_1
Ikram harus tahu, laki-laki itu harus tahu bahwa selama ini dia telah dibohongi oleh kedua istrinya. Ikram menoleh pada Ruby, wajahnya kusut, kacau terlihat. Nadia terdiam mendengarkan. Sengaja ia diam, dan ternyata Ruby yang menguak semuanya. Yuni semakin gemetar tak karuan. Menangis, ia menanggung malu yang teramat.
Pun dengan Ain, yang masih tak percaya dengan ini semua. Dalam sekejap mata, semua rahasia yang ia simpan baik-baik terungkap dengan sendirinya. Nadia sosok yang diam, tapi diam-diam menghanyutkan.
"Kenapa kamu baru mengatakan itu sekarang, Ruby?" Ikram menggeram. Kecewa pada anak sulungnya itu. Kalau selama ini dia tahu, kenapa tidak mengatakannya saja.
"Aku pernah meminta Tante itu untuk mengatakannya sendiri pada Abi, tapi dia malah mengancamku. Dia lebih memilih aku yang mengungkapkannya dibanding lisannya sendiri. Aku kira kecelakaan yang aku alami pun ... adalah ulahnya," sahut Ruby menerka kemungkinan yang ada.
Kecelakaan itu terjadi setelah pembicaraannya dengan Yuni waktu itu. Jadi, Ruby hanya menebak saja meskipun tidak yakin. Semua itu tidak menutup kemungkinan, bukan? Pembunuhan berencana.
Ikram menganga tak percaya. Ia memandangi Yuni, wanita itu menggelengkan kepala menolak apa yang dikatakan Ruby barusan.
"Katakan saja, Tante! Anak siapa yang Tante lahirkan itu? Semuanya sudah terungkap tak perlu lagi menutup-nutupinya," sambar Ruby lagi dengan wajah yang sengit.
Ikram yang kacau, semuanya terlalu rumit untuknya. Bagaimana semua masalah kini mulai terungkap satu per satu. Semuanya terbuka dan membutuhkan penjelasan juga keputusan tentunya.
"Katakan saja, Yuni! Anak siapa yang kamu lahirkan?!" tanya Ikram lagi kemarahannya tak ia tutupi.
"A-anak ka-kamu, Mas. A-anak siapa lagi?" Yuni gugup. Lidahnya yang kelu membuatnya berucap secara terbata.
"Bohong! Katakan yang sejujurnya anak siapa itu?!" teriak Ikram dengan kuat. Wajahnya merah padam, matanya menyala berkilat-kilat. Ikram benar-benar tak dapat menahan amarahnya. Kedua tangannya ia kepalkan agar tidak melayang memukul siapa saja. Ain atau Yuni.
__ADS_1
Ain sendiri tidak tahu kalau selama ini Yuni menyembunyikan rahasia itu. Terkejut bukan main, tapi untuk saat ini bukan hanya Yuni yang harus ia khawatirkan. Ain pun harus mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri karena tidak menutup kemungkinan Ikram sama marahnya seperti pada Yuni.
"Biar aku katakan!"