
Sesampainya di rumah, paman Harits gegas berlari diikuti para polisi yang mengekor di belakangnya. Keadaan rumah memang sepi, tapi orang-orang paman Harits berjaga siaga di luar.
"Di mana dapurnya, Tuan?" tanya polisi sesaat setelah mereka berada di dalam rumah.
"Mari, Pak, saya antar!" Paman Harits membawa mereka ke ruang dapur. Makanan itu masih terhidang di atas meja makan, ada beberapa piring dengan sisa makanan di atasnya.
Juga bekas muntahan yang bercecer di lantai. Polisi mengantongi beberapa sample makanan sebagai barang bukti. Mereka menyelidiki semua sudut mencari petunjuk.
Brak!
Suara benda terjatuh dari lantai dua cukup mengejutkan paman Harits dan yang lainnya. Gegas ia membawa langkah menuju lantai tersebut.
"Berpencar dan jangan lengah! Dia ada di sekitar kita!" Paman Harits memperingati orang-orangnya. Mereka menunduk dan membubarkan diri menuju tempat masing-masing. Bersiaga demi menangkap seekor tikus yang bermain-main di sarang singa.
Suara hentakan sepatu milik lelaki itu cukup menggema. Ia tak heran melihat pintu kamarnya yang terbuka, tapi ruang kerjanya ... ini sedikit mencurigakan. Pintu ruang kerjanya sedikit rusak, tapi masih tertutup rapat.
Ia membukanya, keadaan di dalam ruangan masih sama seperti saat terakhir kali ia tinggalkan. Paman Harits kembali menutupnya, ia menuju kamarnya sendiri.
"Beraninya dia memasuki tempat pribadiku, aku tak akan mengampuninya!" geram paman Harits saat melihat keadaan kamarnya yang berantakan seperti kapal pecah.
Paman Harits membawa dirinya mendekati sebuah kotak yang teronggok di depan lemari.
"Brengsek! Dia mengambil uang dan perhiasan milik istriku. Dia harus menerima ganjarannya, maling harus dipotong tangan!" Paman Harits beranjak bangkit. Ia kembali menuruni tangga menuju lantai satu.
Menemui para polisi yang baru saja menyelesaikan penyelidikan.
"Apa yang terjadi di atas sana, Tuan?" tanya mereka dengan cepat.
"Tidak ada apa pun, Pak. Hanya kucing yang melompat dan menabrak vas bunga." Paman Harits berbohong, ia memiliki tujuannya tersendiri melakukan itu.
"Bagaimana hasil penyelidikan Bapak? Apakah Bapak menemukan petunjuk atau apa pun yang mengarah pada pelaku?" Bertanya sebagai basa basi saja.
Cepatlah kalian pergi agar aku bisa leluasa menjalankan rencanaku.
Dalam hati ia mengumpat para polisi yang seolah enggan beranjak dari rumahnya.
__ADS_1
"Kami menemukan beberapa sidik jari dan akan memeriksanya besok," ujar pak Polisi yang diangguki paman Harits. Pada akhirnya mereka semua pergi meninggalkan rumah besar itu. Tinggallah paman Harits dan rencananya.
Ia menemui orang-orangnya dan mulai menyusun rencana.
Sementara Nadia duduk menunggu dengan gelisah. Ia beranjak saat dokter datang menghampiri.
"Bagaimana keadaan Ibu dan kedua adik saya, Dokter?" tanyanya tak sabar.
"Semuanya baik-baik saja, hanya satu pasien yang terkena dampak paling buruk. Dia masih belum sadarkan diri sampai saat ini," jawab dokter memberitahu.
"Si-siapa, Dokter?" Jantung Nadia berdegup kencang, ia juga berkeringat karena panik secara tiba-tiba datang menyerang.
"Saudari Rima. Sepertinya dia yang terkena dampak paling buruk di antara yang lain. Kami sedang melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui keadaan saudari Rima. Anda tenang saja, Nyonya. Semuanya akan baik-baik saja," ucap dokter lagi.
Nadia termangu mendengarnya, "Rima?" lirihnya bergetar. Ia menangis sesenggukan, dia sendirian. Tak ada suami di sampingnya yang selalu bisa membuatnya tenang di saat seperti ini.
"Tenangkan diri anda, Nyonya. Silahkan, Anda bisa menemani mereka di dalam." Dokter menunjuk pintu ruangan di mana Ibu dan kedua saudaranya juga Bibi berkumpul.
"Terima kasih, Dokter." Nadia mulai melangkah perlahan, di sampingnya seorang suster membantunya berjalan. Tubuhnya melemah mendengar kabar tentang Rima yang tak sadarkan diri.
Nadia duduk di kursi dekat ranjang Rima, ia genggam tangan gadis itu dan menciuminya. Disapunya pipi Rima yang menghangat, betapa ia menyayangi adiknya meskipun hanya adik angkat.
"Apa yang terjadi padamu, Rima? Apa selama ini kamu memiliki penyakit yang aku sendiri tidak tahu? Kenapa kamu menyimpan rahasiamu sendiri?" Nadia mengusap matanya yang terus berair melihat keadaan kedua adik yang ia jaga kini tak berdaya di atas ranjang pesakitan.
"Mbak?" Suara lirih Winda memanggil Nadia. Wanita hamil besar itu mengangkat pandangan menoleh pada pemilik suara. Ia beranjak saat Winda terlihat gelisah dalam tidurnya.
Berjalan pelan mendekati adiknya yang lain dan duduk di samping ranjangnya. Nadia mengusap dahi Winda yang dipenuhi keringat kasar.
"Mbak?" Suara parau Winda kembali memanggil. Nadia menangis, dalam keadaan tidak sadar mereka berdua memanggilnya.
"Iya, Winda. Mbak di sini, sayang. Buka mata kamu, Win!" ucap Nadia sambil sesenggukan. Tangannya mengusap kening gadis itu yang dibanjiri peluh.
Winda membuka matanya perlahan, genggaman tangannya ia eratkan saat merasakan lembutnya kulit Nadia.
"Mbak! Mbak baik-baik saja, bukan? Mbak tidak memakan makanan itu, bukan? Makanan itu mengandung racun, Mbak. Ada seseorang yang jahat yang ingin kita semua celaka," tanya Winda dengan lemas.
__ADS_1
Ia hendak beranjak, suster yang berjaga sigap membantunya untuk duduk.
"Mbak baik-baik saja, Winda. Mbak belum menyentuh makanan itu karena Mas Harits juga belum memakannya. Maafkan Mbak, Winda. Pasti rasanya sakit sekali dan tidak nyaman. Bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa sudah lebih baik?" Nadia mengusao pipi adiknya itu.
Winda memejamkan mata merasakan hangatnya kasih sayang Nadia yang ia salurkan padanya. Winda kembali membuka mata, ia mengangguk kecil menjawab pertanyaan dari Nadia.
"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja. Mbak merasa sedikit lega," tutur Nadia, tapi meskipun begitu, raut cemas di wajahnya tak hilang. Nadia mengambil air putih dan memberikannya pada Winda.
"Minum dulu!" katanya. Winda meminumnya dengan pelan, ia memang haus setelah mengalami dehidrasi karena cairan dalam tubuhnya terkuras saat muntah tadi.
"Apa kamu tahu sesuatu tentang Rima? Dia mengalami dampak paling buruk di antara yang lain. Apa dia menyimpan rahasia selama ini dari Mbak? Katakan, Winda. Beritahu Mbak!" Ia menggenggam tangan Winda dengan kedua tangannya. memohon agar gadis itu memberitahunya tentang kondisi Rima.
Nadia melihat reaksi berbeda dari Winda, tapi masih dalam keadaan normal. Ia menunggu Winda membuka kejujuran tentang apa yang tidak ia ketahui.
"Rima ... Rima memakan makanan itu lahap sekali tadi. Dia yang paling banyak memakannya. Mungkin karena itu Rima mengalami dampakk yang paling buruk." Nadia terdiam, ia melirik Rima yang masih memejamkan mata di samping Ibu.
"Apa benar begitu?" Nadia memastikan tanpa mengalihkan pandangannya dari ranjang Rima.
"Iya, Mbak. Coba nanti Mbak tanya sama Bibi kalau sudah bangun," ucap Winda membenarkan.
Nadia mendesah, ia menunduk sambil menarik napas panjang dan membuangnya sekaligus. Pandangannya kembali terarah pada Winda yang sedang menatapnya.
"Tidurlah! Kamu butuh istirahat. Mbak akan berjaga di sini." Nadia tersenyum, ia mengusap tangan Winda yang ia genggam dengan lembut.
Winda menurut, ia pasrah saat suster kembali merebahkan dirinya di atas ranjang. Winda memang masih lemah, ia membutuhkan waktu tidur lebih banyak dari biasanya.
Kembali pada paman Harits yang sedang berburu si pelaku bersama orang-orangnya. Paman Harits berdiri di dalam sebuah ruangan lapang.
"Kalian berhasil menangkapnya?" tanya paman Harits saat mendengar langkah kaki yang memasuki tempat rahasia itu. Ia yang sedang berdiri membelakangi itu pun berbalik untuk dapat melihat orang-orang yang baru saja datang.
"Lepaskan aku!" Suara menggeram seseorang di luar ruangan mengusik indera rungu paman Harits.
"Kami berhasil menangkapnya, Tuan. Dia kami bawa ke sini sesuai perintah dari Anda." Ia membungkuk setelah memberi laporan.
"Bagus! Bawa dia masuk, aku yang akan memberinya hukuman!" titah paman Harits. Ia sengaja menunggu para polisi pergi karena dia sendiri yang akan memberikan hukuman pada orang yang telah lancang meracuni semua orang.
__ADS_1
Kening paman Harits mengernyit saat pelaku itu didorong masuk ke dalam ruangan.