
Ketegangan terjadi di antara tiga orang yang sedang duduk menunggu di dalam ruangan. Di saat pintu terbuka dan seorang bawahan melapor bahwa orang yang mereka tunggu telah tiba.
"Selamat datang, Tuan!" sambut ketiga orang itu sambil berdiri secara serempak.
Paman Harits menganggukkan kepala tanpa berucap apa pun. Ia duduk saat seorang polisi mempersilahkannya untuk duduk terlebih dahulu.
Minuman dingin dihidangkan, untuk menemani pembahasan mereka.
"Jadi, apa yang kalian temukan?" tanya paman Harits setelah menelisik apa yang ada di atas meja.
"Anda sudah melihatnya sendiri. Di sini ada dua sidik jari, keduanya kami temukan pada botol ini." Seorang detektif mengangkat botol menggunakan sarung tangan.
"Dua identitas telah kami temukan, juga kami selidiki. Ada motif tersembunyi dibalik kejadian semalam," jelas pihak kepolisian.
Paman Harits mendengarkan dengan seksama, ia bersandar pada sandaran sofa sambil menopang dagu. Pandangannya fokus pada barang-barang yang terhampar di atas meja.
Jika yang satu milik Bella, maka milik siapa yang satunya lagi? Apakah salah satu orang di dalam rumahku? Tapi mereka semua ikut keracunan kecuali Nadia. Tidak mungkin! Untuk apa dia melakukan itu?
Bergumam sendiri dalam hati, telinga dan pikirannya tidak lagi fokus pada penjelasan yang sedang disampaikan pihak kepolisian. Berpikir ... berpikir!
"Mmm ... maaf, kalian bilang kalau sudah menemukan identitas mereka? Bisa aku melihatnya?" sela paman Harits memangkas keterangan mereka.
Ketiga orang di hadapannya saling melempar pandangan sebelum salah satunya mendesah sambil sedikit beranjak. Ia membuka laptop yang sedari tadi menutup. Mengutak-atiknya sebentar sebelum memutar benda tersebut menjadi menghadap pada paman Harits.
Paman Harits membungkuk, membaca deretan huruf yang tertera sebagai keterangan identitas si pelaku sebelum melihat fotonya.
"Bella?"
"Anda mengenalnya?" tanya polisi saat mendengar gumaman paman Harits.
"Dia mantan istriku." Paman Harits menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
"Dia merupakan orang kedua yang dimanfaatkan untuk menjalankan sebuah rencana. Di balik itu ada orang lain yang menjadi otak dari rencana tersebut." Penjelasan ringkas polisi itu, menghentikan jari paman Harits yang sedang menggeser tulisan.
__ADS_1
"Pelaku kedua? Jadi, dia hanya menjalankan rencana dari orang yang bersembunyi di balik layar? Begitu?" tanya paman Harits memastikan.
"Benar, Tuan, karena di rumah Anda kami hanya menemukan sidik jarinya saja. Sementara yang satu hanya ada pada botol tersebut. Itu pasti saat serah terima botol itu. Jadi, kami mengira dia hanya alat untuk mendapatkan tujuan orang yang berada di balik layar tersebut." Paman Harits menganggukkan kepala mengerti.
"Bagaimana dengan orang kedua? Apa Tuan juga mengenalnya?" Polisi itu menunjukkan data si pelaku utama. Paman Harits membaca dengan saksama, kerutan di dahinya muncul setelah ia membaca nama pelaku itu.
Siapa dia? Aku tidak pernah mengenal nama itu.
Paman Harits melirik mereka bertiga sebelum menggulir ke bawah. Ia semakin mengernyit saat melihat sebuah foto.
Apa aku pernah bertemu orang ini? Tunggu dulu! Rasanya aku pernah melihatnya, tapi di mana dan siapa?
Paman Harits bergumam dalam hati, ia membongkar isi pikirannya mencari satu ingatan saja tentang pemilik wajah itu.
"Pihak kami sudah mendatangi rumah mereka, tapi keduanya tidak ada di tempat. Kami sedang melakukan pengejaran, dan akan kami usahakan untuk menangkap mereka segera," ujar pak polisi memberitahu.
Paman Harist melirik masih dengan otak yang berputar. Ia terhenyak saat satu ingatan tiba-tiba mencuat ke permukaan.
"Bagaimana, Tuan? Apa Anda mengenalnya?" tanya polisi lagi tak sabar.
"Aku tidak mengenalnya, tapi aku minta kepada pihak kepolisian untuk mempertemukan kami saat dia ditemukan. Aku hanya ingin tahu ada dendam apa dia dengan keluargaku," ungkap paman Harits dengan geram.
"Baik, Tuan. Kami akan langsung menghubungi Anda begitu mereka ditemukan," sahutnya pasti.
"Boleh aku meminta data mereka?" pintanya. Ketiga orang itu saling memandang ragu. Untuk apa dia meminta data mereka, "aku hanya ingin menunjukkannya pada Ibuku. Kemungkinan besar Ibu mengenalnya," lanjutnya menjelaskan saat menangkap gurat ragu dan curiga di wajah ketiganya.
"Ah, iya, Tuan. Sebentar, biar saya print out terlebih dahulu," katanya segera setelah menangkap kekesalan di wajah datar paman Harits. Ia mengangguk dan menunggu.
Paman Harits beranjak setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan, diikuti ketiga orang itu.
"Kalau begitu, aku harus kembali ke kantor. Masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Terima kasih karena telah berusaha untuk menuntaskan kasus ini. Selamat siang!" tutur paman Harits dengan senyum ramah terhias di wajahnya.
"Selama siang, Tuan!" Mereka berjabat tangan sebelum berpisah. Paman Harits lekas memasuki mobilnya. Jika kepolisian tak mampu menangkapnya, maka dia sendiri yang akan mencari dan menghukumnya langsung.
__ADS_1
Mobil mewah itu melaju seolah-olah tak ada hambatan apa pun. Padahal, jalanan begitu ramai dan cukup padat kendaraan. Namun, paman Harits selalu menemukan celah untuk mendahului.
Ia menuju tempat kemarin menghukum mantan istrinya. Berada jauh dari keramaian, dan bisa leluasa menghukum seseorang.
Orang-orang di sana sigap berdiri menyambut saat mobil Tuan mereka memasuki area terlarang itu.
"Tuan!" Mereka serentak membungkuk.
"Masuk! Ada yang harus kalian kerjakan!" katanya tanpa menjeda langkah terus masuk hingga tiba di sebuah ruangan luas.
Ia mengambil tempat duduk, mereka semua pun ikut duduk di hadapannya dengan rapi.
"Ada sesuatu yang harus kalian kerjakan. Buru orang itu, dan dapatkan secepatnya. Aku ingin kita mendapatkannya terlebih dahulu sebelum pihak kepolisian." Paman Harits melempar sebuah kertas berisikan data informasi pelaku utama atas kejadian kemarin malam.
"Kalian tahu harus mencarinya di mana, bukan? Jadi, jangan buang-buang waktu. Pergi sekarang juga dan segera bawa dia ke tempat ini!" titahnya tak terbantahkan.
"Siap, Tuan!" sahut mereka serempak. Ketua kelompok itu mengambil kertas tersebut dan membaca informasi data dengan saksama. Ia menganggukkan kepala seolah-olah tahu ke mana harus mencari orang tersebut.
Paman Harits beranjak, mereka serentak berdiri. Membungkuk dan membuka jalan untuk Tuan mereka. Pemimpin kelompok mengatur, membagi kelompok menjadi dua kubu dan masing-masing pergi ke tempat yang sudah mereka tandai.
Paman Harits gegas kembali ke kantor, hanya sekedar untuk menenangkan diri sebelum bertemu istrinya. Ia sempat berburuk sangka pada wanita hamil itu. Konyol!
Lagi pula untuk apa Nadia melakukan itu, maafkan aku, sayang.
Ia tersenyum getir saat bayangan Nadia melintas dalam benak. Betapa ia terlihat panik malam itu saat membawa Ibu dan yang lainnya ke rumah sakit. Lalu, dari mana jalurnya yang Nadia-lah pelaku utamanya.
Paman Harits terkekeh, menertawakan dirinya sendiri yang terkesan konyol. Ia menggelengkan kepala. Melirik kanan dan kiri, iseng saja.
Tak sengaja matanya menangkap sebuah kios jajanan. Teringat Nadia yang suka memakan camilan semenjak hamil ini, ia pun menepi di depan kios yang menjajakkan kue-kue basah tersebut.
Paman Harits membeli beberapa jenis dari kue tersebut, kue cucur, dadar gulung, dan kue lapis.
"Aku akan mengantar makanan ini dulu ke rumah sakit sebelum ke kantor," gumamnya setelah duduk di kursi kemudi. Ia berbelok arah ke rumah sakit. Terbayang senyum Nadia yang menyambut kedatangannya.
__ADS_1
Terbayang pelukan hangatnya yang rutin ia lakukan. Terbayang matanya yang terpejam saat ia menjatuhkan kecupan di dahinya.
Hal-hal sederhana itu, selalu yang ia rindukan dari sosok istrinya. "Tak sabar rasanya untuk bertemu dengannya."