
Paman Harits meneguk ludah melihat Nadia yang begitu lahap memakan jambu air yang baru saja dipetiknya tadi walaupun hanya dicolek dengan garam yang ditumbuk asal bersama cabai.
Ia patut membangga meskipun tubuhnya gemetaran, tapi ia mampu memetik beberapa buah jambu yang dapat ia gapai. Tekadnya memanas kala mendengar suara tawa Nadia yang mengejek saat ia memanggil Ibu dengan suara bergetar ingin menangis.
Ibu yang memperhatikan dari jauh, hanya mengulas senyum. Keduanya nampak bahagia, paman Harits bahagia karena telah mewujudkan keinginan istrinya, dan Nadia bahagia karena mendapat apa yang dia inginkan.
"Mas mau coba?" Ia memberikan sepotong jambu pada suaminya.
Paman Harits meragu, antara penasaran dengan rasanya dan juga rasa asem yang telah menjalar di lidahnya.
"Apa enak? Tidak masam?" tanya-nya yang menggeser duduk mendekati Nadia. Kedua orang itu duduk lesehan di teras.
"Enak, kok. Ada manis-manisnya. Coba, deh!" ucap Nadia menggerakkan tangannya di depan paman Harits.
Mata lelaki itu memindai buah di tangan istrinya, juga wajah wanita yang dia cintai itu. Perlahan membuka mulutnya, tapi ia mengatupkannya lagi. Menggeleng takut dengan rasa asam.
Nadia melengos, ia menggigit sedikit ujung buah tersebut dan beringsut mendekati suaminya. Tangannya menunjuk buah di mulut sambil memainkan alisnya nakal. Paman Harits mengerti, ia menggigit ujung yang lainnnya sedikit demi sedikit sampai berakhir di bibir Nadia yang menjadi ******* ringan.
Paman Harits menahan tengkuk istrinya dan memperdalam ciuman. Nadia membelalak sebelum menikmati. Berpasang-pasang mata kecil menatap ke arah mereka dengan bingung.
"Ayah dan Bunda berciuman," celetuk salah satu dari anak-anak itu. Mereka yang hendak bermain di halaman rumah itu, urung ketika menemukan pemandangan langka di depan mereka.
"Ekehm!" Suara deheman Ibu membuat paman Harits melepas pagutan. Keduanya menunduk malu dan saling membuang muka.
"Lihat di sana! Anak-anak kalian melihat apa yang kalian lakukan. Kalau mau melakukan itu, di kamar saja," ingat Ibu sembari menunjuk perkumpulan anak-anak dibalik pepohonan bunga.
Mereka semua keluar dengan menampakan deretan gigi mereka saat Nadia dan paman Harits melihat ke arah mereka.
"Kalian mengintip?" pekik Nadia malu. Rona di wajahnya berubah merah. Matanya juga ikut melebar.
"Maaf, Bunda. Kami tidak sengaja mengintip. Kami ingin bermain di sini, tapi tidak jadi karena melihat Bunda dan Ayah ...."
__ADS_1
"Sudah, cukup! Kalian boleh main," tukas Ibu menyambar cepat ucapan mereka.
"Terima kasih, Nenek." Mereka berlarian ke tempat biasa bermain. Nadia mendesah, malu rasanya. Ia memukul tangan paman Harits pelan.
"Mas, sih ... nakal! Mereka lihat, 'kan." Nadia bersungut-sungut. Paman Harits tertawa kecil.
"Kamu yang nakal, memancing Mas untuk melakukan itu, tapi memang manis rasanya kalau dilakukan seperti tadi. Lagi , aaa ...." Paman Harits membuka mulutnya lagi.
Nadia mendengus, ia melirik garam. Mencoleknya sedikit, sifat jahilnya muncul. Dimasukkannya garam itu ke dalam mulut suaminya.
"Ah ... asin!" Paman Harits meludah berkali-kali, asin dan pedas menyatu di lidahnya. Nadia tertawa senang bisa mengerjai suaminya.
Ah ... kesal dikerjai, paman Harits beranjak. Ia berdiri dan tiba-tiba mengangkat tubuh Nadia membawanya ke kamar mereka. Wanita itu meronta-ronta meminta dilepaskan. Paman Harits balas mengerjai istrinya itu. Bermain kuda-kudaan.
*****
"Bu, pamit dulu. Aku akan membawa Nadia ke dokter kandungan untuk memastikan usia kandungannya," pamit paman Harits pada Ibu yang sedang berbincang dengan Bibi.
Ia menjatuhkan diri di dekat Ibu duduk, menunggu Nadia yang belum selesai bersiap.
"Kamu merasa berbeda tidak?" tanya Ibu sembari mengusap bahu anaknya itu. Paman Harits menoleh dan mengangguk samar.
"Kamu akan melihat perbedaan yang lebih besar lagi nanti untuk ke depannya. Untuk itu siapkan hatimu, Nak," pinta Ibu yang kembali diangguki paman Harits.
Lelaki itu beranjak ketika melihat Nadia menuruni anak tangga dengan pelan.
"Kami pamit, Bu." Nadia menyalami Ibu dan Bibi, diikuti paman Harits meskipun dengan tangan yang gemetar. Ini kali pertama dirinya mencium tangan wanita tua itu.
Ibu yang terharu bahkan terus menatapi tangannya yang baru saja dicium paman Harits.
"Mas, ajak Ibu sekalian. Kamu tidak lihat tadi jalan Ibu kaya kesakitan. Tadi, 'kan, Ibu jatuh keras sekali, Mas. Takut kenapa-napa," pinta Nadia sesaat sebelum ia memasuki mobil teringat Ibu yang berjalan kepayahan.
__ADS_1
Paman Harits tak menyahut, ia gegas kembali ke dalam dan membawa serta Ibu ke rumah sakit. Nadia duduk di kursi belakang bersama Ibu dan paman Harits bertindak sebagai supir.
Nadia memapah Ibu, dan membantunya duduk di kursi tunggu. Ia mendaftarkan diri bersama paman Harits.
"Ayo, Bu, tidak perlu mengantri. Mas Harits menggunakan namanya untuk segera mendapatkan tindakan." Ia melirik tajam suaminya.
Namun, meskipun tidak begitu tetap saja nama besar Nadia pun akan membuat pihak rumah sakit melakukan itu.
Ibu menurut, beranjak masuk ke sebuah ruangan ditemani Nadia. Serangkaian pemeriksaan dilakukan dokter. Beruntung, tidak terjadi apa pun pada Ibu. Hanya encok saja karena tulang pinggulnya menabrak lantai tadi.
"Untung Ibu tidak apa-apa, coba kalau sampai kenapa-napa ... nyesel kamu, Mas," sungut Nadia saat keluar dari ruangan dokter. Paman Harits menggaruk tengkuknya. Ia bergumam pelan sendiri.
Mereka menuju ruangan dokter kandungan. Ibu menunggu di luar. Paman Harits tak berkedip menatap layar monitor yang menggantung di depan mereka.
"Lihat! Masih sebesar biji kecambah, usia kehamilan Nyonya baru menginjak Minggu kedua. Wajar saja kalau sering mengalami mual dan muntah. Itu memang biasa dialami Ibu hamil dalam trimester pertama." Dokter itu tersenyum, sembari menyudahi pemeriksaan itu.
Mereka duduk di meja dokter untuk mendengarkan wejangan tentang apa saja yang harus dilakukan dan dilarang.
"Saya akan memberikan vitamin untuk Nyonya minum setiap hari. Silahkan ditebus di bagian farmasi." Dokter tersebut memberikan secarik kertas yang bertuliskan tangannya.
"Terima kasih, Dokter." Keduanya pamit keluar dan menuju bagian farmasi.
"Mas, aku sama Ibu tunggu di luar saja, ya," ucap Nadia. Paman Harits menganggukkan kepala dan membiarkan keduanya keluar lebih dulu. Duduk di kursi menunggu paman Harits selesai.
Lelaki itu dengan sabar menunggu panggilan, ia melipat kedua tangan di perut. Jenuh juga mengantri seperti ini, tapi itu permintaan Nadia dan dia harus menuruti.
Ia beranjak dengan malas saat nama Ibu dan istrinya dipanggil.
"Maafkan kami, Tuan. Tuan harus ikut mengantri seperti tadi," ucap perawat tersebut tak enak. Paman Harits tak menanggapi, ia hanya tersenyum dan pergi setelah mendapatkan obatnya.
Seorang wanita tak berkedip menatap sosok paman Harits yang berjalan dari bagian farmasi.
__ADS_1
"Ha-harits!"