Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Sidang


__ADS_3

Dalam hidup berumah tangga ada saatnya kita bersyukur dan ada saatnya kita bersabar. Yang tidak mengerti syukur dan terimakasih akan selalu menuntut lebih kepada pasangan. 


Kesabaran juga sangat penting untuk meredam emosi dan memperkecil tuntutan. Jangan sampai sedikit-sedikit protes atau menuntut.


(Buya Yahya)


******


Nadia tersenyum menatap sebuah bingkisan di tangannya. Seperti sebuah buku. Ah ... ia baru ingat, teman lamanya itu adalah seorang penulis. Nadia membuka hadiah dari Rai. Sebuah buku motivasi yang ditulis oleh Rai sendiri.


"Aku, Mereka dan Perjuangan."


Nadia bergumam membaca judul buku di sampulnya. Ia membuka dan kembali tersenyum.


"Kamu pasti sembuh!"


Kata-kata semangat yang ditulis tangan oleh sahabatnya itu. Nadia menggelengkan kepala, Rai memang orang yang hebat. Kuat menjalani hidup meski maut sudah di depan mata.


"Raihan Alfarizi."


Nadia membaca nama yang tertuang di dalam buku tersebut. Mengusapnya pelan sebelum membuka halaman. Dari daftar isi yang dibacanya, buku itu menuliskan kisah mereka yang berjuang dalam melawan penyakit berat seperti dirinya.


Ada yang berhasil dan sembuh, tapi ada juga yang harus rela berhenti berjuang karena Tuhan lebih menyayangi mereka. Begitu catatan judul di daftar isi buku tersebut. Kisah-kisah yang akan memotivasi Nadia untuk terus berjuang dalam melawan penyakit dan tidak berputus asa.


Nadia memasukkan buku itu ke dalam tas miliknya. Kembali menatap ke hadapan pada kendaraan yang saling mendahului di depannya.


Mobil yang ditumpanginya memasuki kawasan pondok pesantren Al-Masthur di mana dia tinggal. Nadia keluar dan membayar ongkos. Ia berdiri di depan gerbang pondok menatapi tiang besi tinggi nan kokoh itu. Nadia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan.


Ia tahu, ia telah melakukan dosa dan Ikram pantas marah padanya. Nadia memasuki gerbang dengan kepala menunduk, memikirkan alasan apa yang akan diberikannya saat Ikram bertanya nanti.


Nadia mengangkat wajah perlahan saat bulu-bulu di tubuhnya terasa terangkat dan meremang. Atmosfer yang dipijaknya telah berbeda. Benar saja, dua orang dewasa di teras rumah Ikram menunggunya dengan raut wajah yang sulit digambarkan.


Nadia bagai anak gadis yang keluyuran tanpa pamit pada orang tuanya. Mati aku! Mungkin seperti itu saat remaja tertangkap basah mata orang tua mereka.


Nadia kembali menunduk, ada rasa takut juga di hatinya melihat wajah kedua orang itu. Ikram dan Ain berdiri mematung di sana. Nadia membawa langkah mendekati teras rumah mereka. Ia tahu kedua orang itu sedang menunggunya.


"Assalamu'alaikum, Mas, Kak!" ucapnya seraya meraih tangan kedua orang itu dan menciumnya seperti anak pada orang tuanya.

__ADS_1


"Masuk!" titah Ikram terdengar tegas. Astaga! Dia seperti Ayah yang hendak memarahi anaknya.


Nadia melirik Ain pandangannya seperti Ruby yang meminta pembelaan darinya. Ia tersenyum dalam hati, sisi kekanakan Nadia muncul di sini. Mungkin karena Nadia tidak pernah berhadapan langsung dengan sosok Ayah. Ia tak pernah tahu bagaimana cara seorang Ayah mendidik anaknya.


Ain mengangguk sambil tersenyum memberi isyarat padanya agar segera masuk. Nadia yang ketakutan bersembunyi di balik tubuh Ain. Melangkah dengan takut sembari membuka masker dan kacamata hitam yang masih bertengger di wajahnya.


"Duduk!" Suara Ikram lagi memerintah dengan dingin. Nadia duduk berseberangan dengan Ain. Ikram berdiri menyamping dengan kedua tangan berpangku di belakang tubuh.


"Kamu tahu apa kesalahan kamu, Nadia?" tanya Ikram memulai sidangnya.


Astaghfirullah! Mas Ikram seperti hakim di pengadilan.


"Ta-tahu, Mas. Maaf karena aku tidak meminta izin terlebih dahulu sebelum pergi," jawab Nadia menunduk takut. Ia tidak berani mengangkat wajahnya bahkan hanya sekedar melirik kakak madunya saja.


Ain yang duduk berhadapan dengannya, menelisik wajah Nadia yang sedikit pucat pasih. Dia bertambah kurus saja dari hari ke hari.


Ikram membalik tubuh, memandang Nadia dengan segala rasa yang berkecamuk dalam dada.


"Apa kamu tahu hukum seorang istri yang keluar tanpa izin suaminya?" tanya Ikram lagi meskipun dengan nada rendah, tapi itu cukup membuat Nadia merasa terintimidasi.


"Ha-haram," jawab Nadia masih menundukkan kepalanya.


Kamu itu, Bi seperti sedang memarahi Ruby. Ain bergumam dalam hati.


"Nadia!" Ikram menggeram.


Dengan takut Nadia mengangkat wajah, nampaklah apa yang tak ingin terlihat dari wajah istri keduanya itu. Mata sembab, hidung dan pipi merah, bibir sedikit bengkak. Dari wajahnya saja sudah jelas bahwa Nadia semakin bertambah kurus setiap harinya.


Ikram menatap nanar wanita itu. Namun, yang dilakukan Nadia hari ini harus diluruskan. Ia tidak dibenarkan pergi tanpa izin suaminya.


"Nadia, seorang istri yang keluar rumah tanpa izin suaminya, langit bumi dan seluruh isinya melaknatnya sampai dia kembali ke rumah," ujar Ikram memberitahu Nadia.


Wanita itu meneguk ludah basi, gugup sekaligus takut mendengar kata ujaran dari Ikram.


"Dari mana kamu? Kenapa sampai tidak sempat meminta izin suamimu?" tanya Ikram lagi sembari menatap manik Nadia yang masih tersisa warna kemerahan.


Nadia menunduk kembali.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Aku tadi buru-buru karena mendapat kabar bahwa temanku kecelakaan dan dia di Rumah Sakit. Hanya itu, Mas," jawab Nadia berbohong. Ampuni aku, Gusti!


Ikram menggertakkan giginya marah. Alasan yang tidak terlalu penting sampai ia tidak sempat meminta izin.


"Nadia, untuk alasan apa pun seorang istri tetap tidak diperbolehkan pergi keluar rumah tanpa izin suaminya. Itu artinya dia tidak menghargai suami sebagai seorang kepala keluarga. Apa kamu mengerti?" jelas Ain lagi dengan nada lembut keibuan.


Nadia menganggukkan kepala mengerti.


"Aku mengerti, Kak. Maafkan aku," sahut Nadia dengan kepala yang terus menunduk.


"Jangan ulangi lagi kesalahan ini, Nadia. Mamahmu menitipkan kamu kepada kami, kalau sampai terjadi sesuatu pada kamu dan kami tidak tahu, apa yang akan kami katakan pada mamahmu? Kamu harus mengerti itu," tegas Ikram lagi sembari mengarahkan jari telunjuknya pada Nadia.


"Aku mengerti, Mas. Maafkan aku, aku benar-benar menyesal. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Nadia dengan nada menyesal yang kentara.


"Sudah, Bi," sergah Ain saat Ikram masih ingin berbicara dengan Nadia, "Nadia, kamu pucat sekali. Apa kamu sakit? Tadi kata mang Sarif kamu jalan sempoyongan seperti orang sakit," lanjut Ain menatap ke arah Nadia.


Nadia menggeleng, ia menatap Ain dengan sendu.


"Tidak, Kak. Ini tadi ... aku tiba-tiba mual dan muntah waktu melihat darah di Rumah Sakit," jawabnya meragu. Lagi-lagi ia harus berbohong. Ampuni, Gusti!


"Bunda! Bunda aku punya PR, Bunda bantu kerjain, ya," pinta Ruby yang tiba-tiba datang dan duduk di samping Nadia.


Wanita itu menoleh dan tersenyum, ia hanya mengangguk pelan. Rasa pening dan mual kembali menyerang. Sekuat mungkin Nadia tahan agar tidak nampak di hadapan kedua orang itu.


"Sayang, Bunda sedang lelah. Nanti malam saja, ya minta bantuannya. Sekarang biarkan Bunda istirahat," ucap Ain menatap lembut putrinya.


"Apa aku boleh menginap di rumah Bunda? Kasihan setiap malam Bunda selalu tidur sendiri," ucap Ruby yang membuat Ain dan Ikram terkejut, begitu pun Nadia. Ia dengan cepat menoleh pada Ruby dengan tatapan tak percaya. Ia takut Ain salah faham akan hal itu.


"Ruby, Bunda tidak apa-apa, kok. Bunda sudah terbiasa tidur sendiri bahkan Bunda sering tidur di pabrik sendirian. Jadi, tidak apa-apa," ucap Nadia tak enak pada pandangan terkejut Ain. Sementara Ikram terdiam mendengarkan.


"Bukan begitu, Bunda. Sekarang ini, 'kan, Bunda juga istri Abi, tapi kenapa Abi lebih sering tidur sama Umi dan jarang sama Bunda? Bukannya Abi harus adil, ya?" celetuk Ruby lagi semakin membuat hati Ain tertampar.


Nadia melirik Ain yang bungkam. Wanita itu berpaling dengan gelisah.


"Sayang, adil tidak mesti sama. Semua disesuaikan dengan kebutuhan. Seperti Ruby dan Bilal, kebutuhannya tidaklah sama. Maka, sikap adil itu Ruby akan mendapat lebih banyak uang dari pada Bilal. Kamu mengerti?" ujar Nadia lagi.


"Oh, jadi karena Umi itu istri pertama Abi makanya waktu Abi bersama Umi lebih banyak dari pada Bunda?" katanya. Nadia mengangguk. Tak ingin pembahasan memanjang, Nadia pamit pada mereka. Meninggalkan rumah Ikram tanpa menoleh lagi ke belakang.

__ADS_1


Ikram menatap sedih punggung wanita yang ia nikahi sebagai istri kedua itu.


__ADS_2