
Hari yang dinanti Ain pun tiba. Hari pernikahan Ikram dan Yuni yang akan digelar di tempat tinggal Yuni selama ini. Sebuah pesta cukup besar bahkan digelar Ain di sana. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu? Bisa-bisanya dia mempermalukan dirinya juga Ikram suaminya.
"Umi, kita akan ke mana? Apa Bunda juga ikut!" tanya Bilal saat Ain mendandani kedua anaknya dengan pakaian yang seiras dengannya.
"Kita akan mengantar Abi pergi. Bunda tidak ikut, dia sedang sibuk di yayasan," jawab Ain. Yah ... dia merencanakan ini. Dia tidak ingin Nadia ikut ke pernikahan Ikram karena Nadia pernah bertemu dengan Yuni. Dia takut Nadia akan mengacau di pesta. Suudzon mulu, Ain.
"Ayo, Bi! Nanti kesiangan," teriak Ain dari luar kamar. Ia bahkan sudah mempersiapkan pakaian untuk digunakan Ikram. Semua itu dibeli di butik langganannya.
Ain kesal karena tidak ada sahutan dari Ikram. Ia masuk ke kamar dan mendapati Ikram yang berbaring malas di kasur. Sebenarnya, yang mau menikah siapa? Ain atau Ikram?
"Abi!" teriak Ain sembari berjalan mendekati Ikram yang berbaring di kasur, "bangun, Bi. Abi sudah berjanji pada Umi. Kenapa masih belum dipakai juga ini. Jangan pura-pura tidur, Abi!" Ain menggoyahkan tubuh Ikram. Membaliknya hingga berhadapan.
Ikram mendengus, ia bangkit dan berjalan gontai ke kamar mandi. Ikram menepis pakaian yang disodorkan Ain tak ingin memakainya.
"Abi pakai pakaian Abi sendiri, itu terlalu mewah. Abi tidak pantas memakainya, Abi tidak punya uang," tolak Ikram dengan nada putus asa yang kentara.
Kali ini Ain mengalah. Ia membiarkan Ikram memakai pakaiannya, ia takut Ikram membatalkan semuanya dan kacau sudah rencananya.
Nadia tersenyum saat melihat Ikram keluar dari rumah. Ia berdiri bersama Ruby dekat pos mang Sarif.
"Ruby, kenapa kamu di sana? Umi bilang kamu ikut, sayang," ucap Ain mendekati Ruby yang berdiri di dekat Nadia.
Remaja itu bahkan enggan disentuh uminya. Ia menjauh dan menempel pada Nadia. Ain melayangkan tatapan membunuh pada Nadia. Sementara yang ditatap bergeming pada posisinya berdiri.
"Ruby, cepat ganti baju kamu! Kita harus berangkat!" titah Ain lagi masih dengan sabar.
"Aku tidak mau ikut, aku mau di sini saja menemani Bunda. Kasihan Bunda, Umi tidak mengajaknya dan Abi pun sama saja," tolak Ruby secara terang-terangan membangkang Ain.
__ADS_1
Ikram menatap nanar putri sulungnya itu. Semua itu keinginan Ain, dengan tidak mengajak Nadia. Sungguh teganya!
"Ruby-"
"Sudah, Mi! Kenapa malah berdebat. Kalau Ruby tidak mau jangan dipaksa," tukas Ikram menghentikan kalimat Ain yang belum sempat terucap.
Ain mendengus, berbalik mendekati Ikram.
"Aku juga mau di sini sama Kakak dan Bunda. Tidak mau ikut!"
"Aku juga!"
Bilal dan Nafisah berseru bergantian. Keduanya berlari mendekati Nadia dan Ruby lalu memeluk Bunda mereka.
"Bilal? Nafisah?"
Nadia melepas pelukan keduanya. Ia melangkahkan kaki mendekati Ikram dan memeluk suaminya itu. Ain membelalak tak percaya, tapi tak dapat mencegahnya.
"Jangan gugup, bebaskan saja. Mas sudah melakukannya dua kali. Pada Kak Ain dan juga aku. Aku akan di rumah menunggu saja," ucap Nadia dengan lirih. Ia mencium pipi kiri Ikram sangat lama.
Membenamkan wajah di dada bidang suaminya itu untuk beberapa saat. Ikram membalas pelukan dengan erat. Ia menciumi kepala Nadia dengan air mata yang menetes.
Hal itu tentu saja menyulut api dalam diri Ain. Ia kembali terbakar cemburu. Meluap-luap meminta dimuntahkan. Kesal pada keduanya, Ain mendekati mobil dan masuk ke dalamnya. Ia bahkan membanting pintu cukup keras untuk memberitahu dua orang itu bahwa masih ada orang yang harus diperhatikan di sekitar mereka.
Namun demikian, baik Nadia ataupun Ikram tak kunjung melepas pelukannya. Keduanya hanyut seolah itulah pelukan terakhir mereka. Rubi, Bilal, dan Nafisah berdiri bersama memperhatikan semuanya.
Tak jauh dari mereka di dalam gerbang yayasan, Ibu pengasuh dan anak-anak berdiri mematung ikut menyaksikan Nadia melepas Ikram menikah lagi bahkan para santri dan ustadz di dalam pondok pun melihat pemandangan ini.
__ADS_1
Mereka semua tahu hari ini Ikram akan pergi menikahi wanita lain. Semua itu bukan lagi gosip baru. Kabar Ain dan Ikram sering beradu pendapat pun bahkan sudah sampai di telinga mereka. Awalnya pandangan mereka aneh pada Nadia, tapi kelamaan dapat melihat bagaimana kejadian yang sebenarnya.
Nadia melepas pelukan, sekali lagi mencium pipi kanan suaminya dengan senyuman.
"Hati-hati, Mas." Ia menjauh dan membiarkan Ikram berangkat, tapi Ikram menarik tangannya dan mendaratkan satu kecupan di dahi.
"Maafkan Mas sekali lagi. Ampuni Mas, Nadia. Mas tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Maafkan Mas," lirih Ikram dengan mata berkaca hendak menangis.
Nadia menggeleng, memintanya untuk tidak menangis. Ia tersenyum lagi, entahlah bagaimana hatinya bisa terbentuk tanpa rasa sakit? Bibir itu selalu berada pada garis lengkung yang mempesona.
Tiiinnn!!!!
Suara klakson mobil ditekan Ain sangat lama. Nadia mundur setelah Ikram melepas kecupannya. Ia berdiri di antara ketiga anak mereka, dan menatap Ikram memasuki mobil. Drama memang.
Nadia melambaikan tangan saat mobil itu mulai melaju dan Ikram menekan klakson berpamitan. Ketiga anak Ikram menatap nanar kepergian mobil Abi mereka.
"Bunda, apa Bunda tidak apa-apa tetap di sini? Kenapa Bunda tidak ikut saja?" tanya Bilal setelah mobil Ikram menghilang di luar gerbang.
Ain bahkan tak memperlihatkan kesedihan tatkala anak-anaknya lebih memilih bersama Nadia. Ia seolah tak acuh pada mereka dan membiarkan begitu saja.
"Kenapa? Tidak apa-apa, Bunda yang tidak ingin ikut karena ada banyak pekerjaan yang harus Bunda lakukan," jawab Nadia sembari tersenyum menatap Bilal.
Bohong! Hanya Ruby yang tahu itu semua bohong. Ruby yang memberitahu Nadia bahwa Ain merencanakan itu.
"Bunda, aku tidak sengaja mendengar Umi berbicara lewat telepon. Katanya besok Abi akan menikah dan Umi tidak akan mengajak Bunda. Bunda ... apa Bunda harus selalu mengalah di sini? Bunda juga punya hak yang sama seperti Umi. Bunda pantas mempertahankan hak Bunda sebagai istri Abi. Jangan lemah, Bunda. Jangan mudah ditindas," ucap Ruby panjang lebar pada sore itu. Waktu di mana Nadia bertemu dengan Sarah dan mengambil keputusan.
"Tidak apa-apa, sayang. Mungkin ada alasannya kenapa Umi kamu tidak mau mengajak Bunda. Bunda hanya ingin hidup tenang tanpa berburuk sangka pada orang lain. Biarlah mereka melakukan apa pun yang mereka sukai. Di dunia ini ada hukum sebab akibat yang selalu berlaku. Apa yang kamu tanam hari ini, itu yang akan kamu tuai di kemudian hari. Semua yang terjadi cukup jadikan pelajaran berharga untuk kita hidup lebih baik lagi," sahut Nadia yang membuat Ruby mengerti.
__ADS_1
Ia bukannya lemah, Nadia mengalah karena tak ingin menambah masalah. Ia-nya cukup hidup dengan tenang tanpa bayang-bayang sakit hati atas luka yang ditorehkan orang lain padanya. Setidaknya untuk saat ini ia masih kuat menjalani semua itu dan akan bertahan karena satu alasan saja.