
Hari ke hari, dijalani Nadia dengan penuh semangat. Sudah tiga hari sejak ia menikah dengan Ikram, laki-laki itu belum menginap di rumahnya. Ruby masih berkeras hati, menolak keberadaan Nadia meskipun ia telah memberikan segala perhatian padanya. Termasuk pada kedua adiknya.
"Halo, selamat pagi, Bilal! Mau Bunda bantu?" sapa Nadia yang setiap pagi selalu datang ke rumah Ikram membantu Ain menyiapkan anak-anak juga sarapan.
Bocah laki-laki berusia enam tahun itu mengangguk pelan meskipun tidak dengan senyuman, tapi Nadia selalu membantunya dengan senang hati. Ia memakaikan seragam sekolahnya, dan membantunya menyiapkan buku-buku.
"Tante, apa Tante tidak malu selalu datang ke sini? Aku tidak suka Tante datang ke rumah ini," ketus Ruby yang berdiri di ambang pintu kamar Bilal. Nadia membeku.
"Kakak, tidak baik berbicara ketus seperti itu kepada Bunda. Kalau Kakak mau meminta bantuannya, katakan saja. Bunda pasti bersedia membantu Kakak," sahut Bilal membela Nadia.
"Jangan sok tahu kamu, Dek!" kilahnya.
"Eh ada apa ini? Kenapa ribut-ribut pagi-pagi begini?" Ain datang menengahi. Bilal mengadu padanya membuat Ruby menundukkan kepala bersiap menerima wejangan dari uminya.
"Ruby ada memiliki kesulitan dalam matematika, Paman yang biasa mengajarinya pergi ke Kairo untuk melanjutkan pendidikan. Kalau kamu bisa tolong ajari Ruby, ya," jelas Ain yang dianggap kesempatan oleh Nadia.
Dari situlah mereka mulai akrab, Ruby menerima Nadia sebagai ibu barunya. Ia juga suka dengan perhatian-perhatian kecil dari Nadia yang tak pernah dilakukan Ain karena kesibukannya mengurus jamaah majelis.
Pada akhirnya, dengan kesabaran Nadia berhasil mendapatkan simpati dari Ruby. Ia bersyukur akhirnya semua orang bisa menerimanya dengan baik. Ruby bahkan tidak segan datang ke rumah Nadia untuk bertanya soal pelajaran.
Malam ketiga Nadia menjalani sebagai istri kedua Ikram, masih menunggu kedatangan suaminya ke rumah. Ia berguling di kasur dengan gelisah.
"Kenapa malam ini rasanya beda, ya?" gumamnya sembari memiringkan tubuh menghadap nakas yang terdapat figura kecil. Foto pernikahannya dengan Ikram.
Ia tersenyum, beberapa hari lagi tak apa. Ia akan sabar menanti untuk merasakan yang orang-orang sebut sebagai surga dunia. Matanya perlahan terpejam, kantuk yang ditahannya membawanya hanyut ke alam mimpi.
Tok ... tok ... tok!
"Assalamu'alaikum!"
Samar telinga Nadia menangkap suara Ikram yang mengucapkan salam. Ia menganggap itu hanya mimpi belaka dan mengabaikannya.
Tok ... tok ... tok!
"Dek, assalamu'alaikum!" Suara Ikram kembali terdengar. Laki-laki itu melirik arloji di tangan, ia mendesah. Ternyata sudah pukul sebelas malam. Ia baru saja selesai mengisi pengajian di sebuah undangan.
__ADS_1
Ia berbalik hendak pergi, tapi pintu terbuka dan menampakkan Nadia dengan mata lelahnya yang kentara.
"Wa'alaikumussalaam! Mas?" Nadia membelalak saat benar-benar menjumpai Ikram yang berdiri di depan rumahnya.
"Kenapa kaget begitu?" goda Ikram seraya membuka pintu lebih lebar dan memberikan kecupan di dahi Nadia.
"Astaghfirullah!" Nadia tersadar segera disambarnya tangan Ikram dan diciumnya bolak-balik.
"Maaf, Mas. Maaf, aku tidak tahu kalau Mas mau datang," katanya tak enak. Ikram menutup pintu dan mengajak Nadia memasuki kamar mereka.
"Tidak apa-apa," sahut Ikram seraya mendudukkan Nadia di tepi ranjang.
"Nadia, mau tidak kita shalat sunah dua rakaat malam ini?" tanya Ikram dengan sedikit gugup yang melanda hatinya.
Bukan tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan yang Ikram ajukan. Artinya, Ikram meminta haknya malam ini. Ia akan menunaikan kewajibannya sebagai suami dengan memberikan nafkah batin untuk istri keduanya itu. Dengan wajah menunduk malu, Nadia mengangguk pelan.
"Kenapa kamu selalu menunduk saat berbicara dengan Mas?" tanya Ikram menengadahkan wajah Nadia agar dapat bertatapan dengannya.
"A-aku malu, Mas," jawab Nadia tanpa menyembunyikan perasaannya. Ikram terkekeh mendengarnya. Mereka sudah menikah dan sah sebagai suami istri meskipun hanya secara agama.
"Ambillah wudu, kita shalat berjamaah!" katanya.
Shalat sunah pengantin baru yang harusnya dilaksanakan pada malam setelah akad itu, mereka tunaikan malam ini. Meminta rahmat dan keberkahan dari Allah Robbul-'izzati untuk kelangsungan rumah tangga mereka.
Ritual-ritual malam pertama yang sesuai dengan anjuran Rasulullah pun dijalankan Ikram dengan penuh kelembutan. Sentuhan-sentuhan yang mengundang hasrat dirasakan Nadia dengan sedikit rasa takut dan gugup juga nikmat tentunya.
Malam penuh cinta adalah milik mereka malam ini. Keduanya hanyut ke dalam kenikmatan surga dunia. Tak pernah terbayangkan rasanya akan membahagiakan seperti itu.
Sementara Nadia dan Ikram melakukan penyatuan di rumah Nadia. Ain, tersungkur di atas sajadah. Air matanya berlinang membasahi kain putih polos itu. Malam ini, Ikram tidak pulang ke rumahnya. Sudah pasti ia pulang ke rumah Nadia. Sungguh hatinya perih saat membayangkan suaminya bercumbu dengan wanita lain.
"Ya Allah! Rapuh sekali hatiku, memang munafik. Lisanku mengucap ikhlas, tapi hatiku sungguh sakit," ucap Ain di tengah malam yang sunyi ia menangis sesenggukan.
Terbayang Ikram yang sedang bergumul dengan Nadia. Ia tidak tahu memiliki madu akan sesakit ini rasanya, tapi ia harus sadar Ikram kini bukan hanya miliknya. Ada wanita lainya yang juga berhak mendapatkan nafkah batin darinya sama seperti dirinya.
Mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terlanjur, nasi telah menjadi bubur. Nasib pun tak dapat ditolak.
__ADS_1
"Sakit sekali, ya Allah! Rasanya lebih sakit dari pada ditusuk pisau," gumamnya lagi memegangi dadanya yang terasa sesak tiba-tiba. Sungguh hatinya tak rela Ikram bercinta dengan Nadia.
Tok ... tok ... tok!
"Umi? Apa Umi sudah tidur? Kenapa Abi belum pulang?" Suara Ruby yang serak mengusik Ain yang sedang menangis.
Buru-buru ia menyeka air matanya dan menarik napas dalam-dalam.
"Umi? Buka pintunya, apa Umi sudah tidur?" tanya Ruby lagi masih mengetuk pintu kamar Ain.
"Ya, sayang sebentar! Umi di kamar mandi," sahut Ain seraya bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ia bercermin sebentar memastikan wajahnya tak terlihat sehabis menangis.
Ain bergegas membukakan pintu dan mendapati Ruby yang berdiri dengan wajah yang lain dari biasanya.
"Kamu kenapa, Nak? Kamu sakit?" tanya Ain seraya menempelkan punggung tangannya pada dahi Ruby.
Gadis kecil itu menggeleng, ia memandang uminya yang berjongkok di hadapan. Tanpa kata, Ruby memeluk Ain dengan erat. Sontak Ain terkejut mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Ruby.
"Ada apa, Nak? Apa yang mengganggu kamu? Katakan saja pada Umi," ucap Ain sembari mengusap punggung Ruby dengan pelan.
"Boleh tidak, Ruby tidur dengan Umi malam ini?" pinta anaknya dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Ain sadar apakah Ruby tahu ia menangis? Apa anak itu dapat merasakan sakit yang ia rasakan? Dahi Ain berkedut bingung. Ia melepas pelukan dan menelisik wajah gadis yang mirip dengan Ikram itu.
"Kamu kenapa? Coba katakan pada Umi, ada apa?" desak Ain ingin anaknya berbicara. Ruby tetap menggeleng.
"Ya sudah, ayo kita tidur sudah larut," ajak Ain. Ia merebahkan diri di Antara ketiga anaknya.
"Umi, apa Abi tidak pulang ke rumah kita malam ini?" tanya Ruby memunggungi Ain. Hatinya perih entah kenapa?
"Tidak, sayang. Sudah jangan terlalu dipikirkan," ucap Ain mengelus punggung Ruby.
"Kalau Abi tidak pulang ke rumah kita, apa Abi pulang ke rumah Bunda dan menginap di sana? Kenapa Umi?" selidik Ruby membalik tubuh berhadapan dengan Ain.
"Karena Bunda memiliki hak yang sama dengan Umi dan Abi berkewajiban menunaikannya. Kamu jangan lupa, Bunda itu sekarang adalah istri Abi. Jadi wajar kalau Abi pulang ke sana," jelas Ain sembari mengelus pipi anaknya.
__ADS_1
"Kelak saat kamu dewasa nanti, kamu akan mengerti dengan sendirinya. Sekarang, tidur!" Mereka pun tertidur tanpa sepengetahuan anaknya, Ain menangis diam-diam.