Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kisah Lama Nadia


__ADS_3

(Side story' Nadia)


Aku bukanlah wanita baik-baik. Saat remaja dulu, aku menyia-nyiakan masa emasku itu. Pergi bergaul dengan siapa saja dan kapan saja. Tak peduli berapa waktu yang telah dilewati, yang penting hatiku merasa bahagia.


Melupakan kewajibanku sebagai pelajar, yang seharusnya belajar dengan tekun. Semua kuhabiskan hanya dengan bermain bersama teman-teman. Mendatangi pesta-pesta tengah malam yang diadakan di klub malam tempat penuh kemaksiatan itu.


Kelas akhir yang seharusnya aku gunakan dengan baik, belajar untuk dapat lulus. Semua itu tidak aku lakukan. Hampir setiap malam aku mendengar Mamah menangis. Berdoa lirih untuk anaknya yang nakal ini.


Apa mungkin ini karena aku tidak pernah merasakan pendidikan dari sosok seorang Ayah? Kata Mamah, Papah meninggalkan saat aku masih berada dalam kandungan. Kecelakaan. Seorang remaja yang ugal-ugalan menabrak Papah hingga tewas.


Mamah sering kewalahan menghadapi aku yang nakal. Ditambah kota Jakarta yang mendukung kenakalanku. Semakin hari semakin menjadi bebal otakku. Pergi keluar malam dengan pakaian seksi yang menampilkan semua auratku tanpa pamit pada Mamah. Aku benar-benar anak yang nakal.


"Nadia! Apa kamu melakukan seperti yang mereka lakukan? Memberikan mahkotamu pada laki-laki yang tidak pantas mendapatkannya? Menenggak minum-minuman haram dan mabuk bersama mereka? Mamah mohon, Nadia! Cukup, Nak! Mamah tidak ingin kamu merusak diri kamu sendiri, Nak," ucap Mamah yang kala itu memergokiku pulang hingga larut. Dengan air mata yang berderai Mamah memohon padaku.


Aku menunduk tanpa dapat menyahut, tak kuasa melihat wajahnya yang lelah setiap kali menasihatiku. Aku tidak melakukan itu semua, Mah! Aku bersumpah! Milikku masih tersegel dan masih utuh. Perutku juga bebas dari minuman haram itu.


Lepas malam itu, Mamah mengajakku pindah. Mamah menjual semua harta peninggalan Papah di Jakarta dan pergi ke Rangkasbitung ini. Membuka jasa jahit di rumah yang baru dibelinya. Berkat keahlian Mamah menjahit, akhirnya Mamah bisa membangun pabrik konveksi sendiri. Semua dilakukan Mamah dari nol.


Aku terpuruk beberapa waktu, tak ingin bersekolah dan hanya berdiam diri di kamar. Suasana kota kecil ini sungguh berbeda kota tempat tinggalku dulu.

__ADS_1


Sampai di suatu pagi, tak sengaja kudengar sebuah radio. Ceramah hikmah yang dibawakan oleh seorang ustadz muda. Setiap kata yang disampaikannya sangat menyentuh hatiku. Aku yang jauh dari Tuhan dan agama, merasa tertampar sebagai seorang muslim.


Mendengarkan ceramahnya menjadi rutinitas baru untukku. Aku tak pernah melewatkannya. Pagi dan sore selalu kudengarkan petuahnya. Aku mulai sadar dan mulai belajar hidup sebagai seorang muslim. Belajar shalat dan mengaji, sungguh sangat terlambat memang.


Berkat mendengarkan ceramah ustadz itulah aku mendapatkan hidayah. Ingin melihat seperti apa sosoknya, setiap Ramadhan datang tak pernah absen datang ke masjid Agung setiap sore untuk mendengarkan ceramah hikmah yang disampaikannya. Berharap dapat melihat seperti apa rupa orang yang tanpa sengaja menuntunku menuju hidayah.


Aku bahkan mencatat nomor ponselnya dan kusimpan dengan baik. Mungkin suatu saat aku butuh bertanya sesuatu padanya karena ustadz muda itu membolehkan siapa saja untuk bertanya melalui pesan singkat.


Dari itulah aku sadar, aku harus melanjutkan hidupku. Melihat Mamah yang berjuang sendirian, aku merasa bersalah. Pada akhirnya aku kembali meraih semangatku, aku lulus dengan nilai terbaik. Mamah mengirimku kuliah ke Luar Negeri sesuai keinginanku. Sekolah designer.


Beberapa tahun tinggal di Luar Negeri, aku sering melakukan tanya jawab dengan ustadz itu. Suatu ketika beliau menasihatiku untuk menutup auratku dengan sempurna. Perlahan kukenakan hijab menutupi kepala meski panas terasa.


Aku membantu Mamah mengelola pabrik, dan ustadz muda itu ternyata adalah pelanggan Mamah. Rasanya ingin berterimakasih padanya, tapi aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu. Aku kembali terpuruk ketika dokter memvonisku gagal ginjal.


Ceramah-ceramah ustadz muda itu masih aku dengarkan. Aku juga masih sering menghubunginya untuk bertanya soal hukum agama. Aku kembali mendapatkan pencerahan. Lagi-lagi berkat lisan berilmu miliknya itu.


Aku sadar tidak seharusnya aku menyia-nyiakan waktu yang diberikan Allah. Semuanya sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur, sakit ini harus kutanggung. Tabah dan sabar menerima ujian yang diberikan Allah.


Sampai akhirnya aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan sosoknya. Sosok yang selama ini menuntunku ke jalan hidayah. Sosok yang tanpa sadar kukagumi karena kepiawaiannya dalam bermain kata hingga menuntunku ke jalan yang benar.

__ADS_1


Jantungku berdegup kencang saat melihat wajahnya. Apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Pikiranku melayang hingga aku memposisikan diri sebagai istrinya. Betapa beruntung wanita yang menjadi istri seorang ustadz muda itu. Dia tampan dan berkarisma. Juga jangan lupakan suaranya yang merdu setiap kali berbicara. Berdosakah aku jika aku mencintainya?


Dia laki-laki beristri dan sudah dikaruniai anak. Aku hanya mengagumi sosoknya meskipun pernah terbersit dalam hatiku untuk rela menjadi istri keduanya, tapi aku tidak pernah berharap dia akan datang melamarku. Aku hanya mengagumi dalam diam tanpa orang lain tahu.


Namun, semuanya berubah saat Mamah mengatakan bahwa ustadz muda itu datang melamar. Harapan dalam hati kembali datang meskipun rasa takut akan istrinya ikut membaur menjadi satu.


*****


Nadia mengakhiri cerita dengan rasa sesal yang meraja. Awalnya ia pikir menikah dengan Ikram akan membuatnya semakin dekat dengan Tuhan tanpa menyakiti perasaan orang lain. Namun, betapa pun lisan berkata ikhlas tetap saja rasa sakit akan ada dalam hati.


"Maafkan aku, Kak. Seharusnya memang aku berpikir ulang untuk menjadi istrinya. Semua itu sungguh tak terduga olehku. Aku bahkan tidak bertemu dengannya saat ia datang melamar ke rumah." Nadia memandang Ain penuh sesal.


"Aku bukanlah wanita baik-baik seperti Kakak. Aku remaja nakal yang mendapatkan hidayah lewat lisan suami Kakak itu. Aku tidak pernah menduga takdir akan membawaku menjadi istrinya," ungkap Nadia sembari menundukkan kepala.


Ia mengusap sudut matanya yang berair, hatinya sakit saat membayangkan bagaimana jika ia berada di posisi Ain yang diduakan tanpa ada cacat sedikit pun dalam dirinya. Namun, Nadia tetap menyembunyikan penyakitnya dari Ain. Tidak mungkin ia mengungkapkan semuanya pada Ain.


"Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Kamu masih muda dan masih bisa mencari jalan sendiri karena belum diberi keturunan. Sedangkan Kakak, sudah ada tiga orang yang memberatkan langkah Kakak untuk mengambil keputusan. Kamu mengerti, bukan?" sahut Ain sembari mengusap tangan Nadia dengan lembut.


Kalimat yang diucapkan Ain membuat Nadia terhenyak. Namun, ia tetap bersikap biasa saja dan memahami apa maksud dari perkataannya itu.

__ADS_1


"Aku mengerti, Kak, tapi bukan aku yang memegang kendali. Semua kendali ada pada suami kita. Jika Kakak bisa memintanya melepasku, aku akan dengan senang hati pergi dari kehidupan kalian karena bagaimana pun aku tidak memiliki alasan untuk meminta cerai. Setidaknya untuk saat ini," sahut Nadia setelah menguatkan hati untuk mengutarakan isinya. Biarlah ia yang mengalah, jika pun Ikram nanti menceraikannya ia akan menerimanya dengan sepenuh hati.


Ain tercenung mendengar sahutan Nadia. Ia pikir Nadia akan tetap mempertahankan pernikahannya, tapi wanita itu dengan lugas mengatakan keikhlasannya. Mereka terdiam sampai ponsel Nadia berdering.


__ADS_2