Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Menyesalkah?


__ADS_3

"Perlu Umi tahu ada satu alasan kenapa Abi harus menikahi Bunda!" tegas Ruby yang tak lepas dari menatap wanita yang kini termangu karena ucapannya.


"Harus? Kamu bilang Abi harus menikahi dia?" ulang Ain dengan lirih. Ia menatap kecewa pada anak pertamanya itu, terlebih saat melihat Ikram yang menundukkan kepala dengan tubuh yang berguncang.


"Iya, Mi. Abi harus menikahi Bunda," tegas Ruby sekali lagi.


Mulut Ain terbuka sedikit, ada yang ingin terucap, tapi tercekat di ujung lidah.


"Ke-kenapa kamu bilang harus?" tanyanya terbata. Mulai tumbuh rasa ragu di hatinya akan semua yang telah ia perbuat.


Ruby menoleh pada Ikram yang bersikap layaknya laki-laki pengecut. Ia tak ubahnya binatang pengerat yang tersudut di jalan buntu.


"Abi! Apa perlu aku yang memberitahu Umi atau Abi yang akan mengatakannya sendiri? Aku rasa Umi harus tahu agar Umi menyadari bahwa semua perbuatannya adalah salah." Ruby lelah dengan semua drama yang dilakoni semua orang di rumahnya. Ia ingin semuanya bersih tanpa ada kesalahpahaman lagi.


Ikram menggeleng masih dengan kepala yang menunduk. Ada dosa yang membayang di pelupuk matanya membuatnya malu bertatapan dengan semua orang.


"Katakan, Bi! Katakan yang sebenarnya apa yang terjadi? Apa maksud perkataan Ruby? Apa yang selama ini Abi sembunyikan?" cecar Ain dengan tangis yang kian menjadi. Hatinya mulai diselimuti rasa bimbang. Ia takut apa yang akan dikatakan Ikram atau Ruby justru akan membuatnya semakin sakit.


"Ayo, Bi! Katakan semuanya, tidak perlu lagi menyembunyikan fakta yang selama puluhan tahun ini Abi simpan sendiri," sahut Ruby menimpali ucapan Ain.


Namun, lagi-lagi Ikram hanya menggelengkan kepala. Ia tak ingin apa yang telah terjadi di masa lalu terbuka begitu saja. Rahasia besar yang disimpannya sendiri selama puluhan tahun itu, harus terkuak hari ini juga. Rasanya Ikram tak ingin hidup lagi. Mati lebih baik baginya dari pada harus menanggung malu karena dosa yang telah dia perbuat.

__ADS_1


"Abi! Kenapa? Cepat, katakan apa yang Abi sembunyikan dari Umi selama ini?" kejar Ain lagi dengan nada yang mulai meninggi.


Yuni pun ikut menunggu, ia masih duduk di tempatnya sembari menimang bayinya. Bilal dan Nafisah saling menoleh seolah bertanya apa yang akan dikatakan Ruby tentang rahasia Abi mereka. Keduanya sama-sama menggeleng karena tak tahu bagian itu. Ruby belum bercerita kepada mereka.


"Karena Abi yang telah menabrak papahnya Bunda sampai mati!"


Duar!


Bagai tersambar petir di siang bolong, hati Ain berdegup tak karuan. Begitu pun Yuni, yang seketika membelalak mendengarnya. Bilal dan Nafisah pun tak luput dari rasa terkejut yang menyentak tubuh mereka.


Ain melemas, tubuhnya seolah tak bertenaga mendengar itu semua. Ia lunglai, detik kemudian menangis histeris. Ternyata suaminya selama ini adalah seorang pembunuh. Ikram seorang pembunuh.


"Kenapa? Kenapa Abi merahasiakan ini dari Umi? Kenapa Abi tidak bercerita kalau ada kejadian seperti ini? Kenapa?" rintih Ain dengan laju tangis yang kian menjadi.


"Kenapa semuanya jadi begini? Kenapa semuanya harus terungkap saat sudah terlanjur seperti ini? Kenapa Abi tidak jujur dari awal pada Umi? Kenapa?" Ain menjatuhkan diri di lantai. Tangisnya terdengar pilu. Ada rasa sesal dan kecewa yang berlomba memenuhi hatinya. Pun dengan rasa bersalah yang ikut menjejali segumpal daging itu.


"Maaf ... maafkan Abi, Mi! Maaf ...." Untuk pertama kalinya Ikram bersuara dengan lirih. Nada bergetar yang keluar dari mulutnya, membuat hati Ain terkoyak karenanya. Namun, tetap saja Ikram telah menyakiti harga dirinya sebagai istri. Merasa tak dianggap selama lima belas tahun membina rumah tangga, ia tak pernah tahu rahasia besar Ikram itu.


"Bagaimana kalau Nadia tahu bahwa Abi-lah yang telah menghilangkan nyawa papahnya? Mungkin dia akan langsung menggugat cerai Abi dan meninggalkan Abi untuk selamanya. Sudah tak ada lagi kesempatan untuk Abi memperbaiki semuanya," ucap Ain lagi masih dengan tangis yang pilu.


Semuanya sudah sangat terlambat. Luka di hati Nadia tak akan bisa diobati.

__ADS_1


"Semua ini memang salah Abi. Salah Abi karena merasa bertanggungjawab atas hidup Nadia, tapi mau bagaimana lagi? Rasa bersalah dari dosa yang telah Abi lakukan selalu menghantui, dan sedikit tenang tatkala Abi dapat menikahi Nadia," ucap Ikram dengan suara terputus-putus karena isak tangis yang belum juga mereda.


Di antara mereka ada yang merasa paling bersalah dari semua orang. Dia merasa paling jahat dari penjahat sekelas Fir'aun sekalipun.


Yuni menangis, hatinya diliputi rasa gelisah. Selama ini dia telah terjun ke dalam kubangan lumpur dosa yang dibuat olehnya sendiri. Bagaiman nanti caranya membersihkan diri? Rasanya, mandi di tujuh mata air sekalipun tak akan mampu menghapuskan dosa-dosa yang telah ia lakukan terhadap Nadia. Seorang wanita yang berhati mulia yang tak pernah berburuk sangka pada orang lain.


"Maafkan aku ... ampuni aku, ya Allah!" Untuk pertama kali dalam hidup, lisannya menyebut nama Allah. Yuni seseorang yang jauh dari agama, hidupnya dipenuhi gelimang dosa. Ia tertarik tawaran Ain untuk melakukan kerjasama menyakiti Nadia dengan janji hidup enak dan mudah jika ia bersedia melakukannya.


Namun, setelah bertemu langsung dengan Nadia dan hidup berapa bulan di rumah itu. Ia sadar Nadia bukanlah wanita yang pantas untuk disakiti. Ia tahu bagaimana Ain menekannya, bagaimana Ain membuat hidupnya kesulitan, tapi Nadia selalu tersenyum. Ia tidak pernah terlihat menyedihkan sekali waktu saja. Hanya saat itu, untuk pertama kalinya Yuni melihat wajah Nadia yang sendu saat Ain menyinggung soal kehamilannya.


"Ya Allah ... aku yang jauh dari-Mu seumur hidupku, semakin jauh karena termakan gemerlapnya duniawi. Aku memang hamba yang bodoh, paling bodoh di antara mereka yang bodoh," gumam Yuni lagi menundukkan wajah memeluk bayinya yang tertidur.


"Kakak!" Bilal memandangi sosok Ayah yang selama ini dia anggap sebagai pahlawan. Sebagai seseorang yang menyembunyikan kasih sayangnya lewat perhatian-perhatian kecil yang ia berikan. Kini, sosok itu nampak buruk di matanya. Ia tidak tahu lagi harus menilai seperti apa sosok laki-laki yang menjadi ayahnya itu.


"Sekarang apa Umi menyesali semua tindakan Umi? Umi tidak hanya menyakiti hati seorang wanita, tapi juga telah menyakiti seorang yatim yang disebabkan suami Umi sendiri. Bagaimana sekarang? Apa Umi masih saja merasa sakit karena Abi menikahi Bunda? Abi sebenarnya tidak pernah mencintai Bunda. Abi hanya mencintai Umi, tapi Umi buta selama ini dan menganggap Abi lebih mencintai Bunda. Sekarang buka mata Umi, dampak apa yang dapat Umi lihat dari semua perbuatan Umi?"


Ruby menyusut air di hidungnya, juga mengusap sisa air mata di pipinya. Ia mengajak Bilal dan Nafisah pergi meninggalkan rumah orang tuanya. Mereka kembali ke rumah Nadia, rumah yang selalu menghadirkan kedamaian dan ketenangan untuk hati mereka.


Ain sadar, selama ini ia dibutakan oleh rasa sakit di hati karena Nadia yang tiba-tiba menjadi istri kedua suaminya. Yuni sudah menyadari kekeliruannya lebih awal sebelum semua itu terungkap. Sikap Nadia yang begitu sabar dan tabah dalam menjalani kehidupan, merubah seorang Yuni yang jauh dari Tuhan. Kini ia sadar bahwa setiap perbuatan, baik atau buruk akan kembali kepada diri sendiri.


Ikram semakin tertunduk, malu dan sesal menyatu dalam hatinya. Ia bahkan tak berani mengangkat wajah dan menatap dunia dengan sikap angkuhnya lagi.

__ADS_1


Seperti apa kejadian di masa lalu yang dilakukan Ikram sehingga harus terbelit benang takdir dengan Nadia.


__ADS_2