Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Berani Sentuh Milikku!


__ADS_3

Keributan terjadi di dua kubu, di teras antara paman Harits dan dua saudaranya, dan di halaman samping antara anak-anak dan keempat tamu tak diundang.


"Hentikan! Apa yang kalian lakukan?"


"Sebentar, Bu!" pamit Nadia saat mendengar suara lantang Winda dari arah samping. Ia beranjak untuk melihat situasi di halaman samping.


"Nona!" Mata Bibi membelalak saat seorang gadis memegangi kedua tangan Nadia.


"Nadia!" Ibu ikut memekik. Dari dua arah itu terdengar keributan yang sama. Bingung harus apa, Ibu lebih memilih menemui paman Harits yang sedang berduel dengan kakaknya. Bukan! Tapi dua lawan satu. Ibu menutup mulutnya tak percaya, kenapa setiap dua anaknya yang lain berkumpul selalu membuat keributan.


Paman Harits berada di antara dua Kakaknya. Berdiri kokoh, tingginya bahkan melebihi kakak tertuanya. Baku hantam di halaman rumah besar itu tak terelakan lagi. Paman Harits tidak tinggal diam. Sekali serang dua kakaknya langsung terjungkal, menghantam tubuh pengawal paman Harits yang kokoh bagai batu.


Mereka sigap mencekal kedua orang itu. Membuat mereka tak bisa berkutik. Lebam menghiasi wajah keduanya, sudut bibir mereka bahkan mengeluarkan darah.


Paman Harits tersenyum, mendekati kedua kakaknya yang bernapas kepayahan.


"Bagaimana? Masih mau mencoba?" katanya sembari menepuk kedua tangan mengusir debu dan kotoran yang menempel.


"Sial! Bagaimana kamu bisa berubah?" Kakak tertua bertanya dengan napas tersengal. Ia tidak terima, paman Harits yang ia anggap lemah bisa lebih kuat darinya.


Paman Harits tertawa kecil, ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan pelan.


"Aku kira kalian jadi semakin kuat, tapi ternyata jadi semakin lemah bahkan lebih lemah dariku." Paman Harits menatap nyalang kedua orang yang masih meronta dalam cekalan pengawalnya.


"Harits! Berhenti, Nak! Nadia ... Nadia! Cepat, Ibu takut Nadia kenapa-napa!" ucap Ibu panik. Ia mendekati paman Harits dengan air matanya yang sudah berjatuhan.


Mendengar itu, paman Harits tak lagi berpikir. Ia melirik sekeliling, dua istri kakaknya hilang.


"Sial! Tahan kedua orang ini, jangan sampai mereka lepas!" katanya sebelum berbalik pergi ke halaman samping rumahnya. Darahnya berdesir kala melihat Nadia dalam cekalan seorang gadis, Winda dan Rima pun dicekal dua remaja laki-laki. Juga dua istri kakaknya yang berdiri di depan Nadia, dan satu pemuda di belakang keduanya.

__ADS_1


Paman Harits melihat ketakutan di mata istrinya. Satu yang ia khawatirkan anak yang masih berada dalam kandungannya. Tidak! Paman Harits mengambil kerikil kecil, ia mengangguk ketika Nadia melihat ke arahnya.


Nadia sedikit menyingkirkan kepalanya ke samping dan menunduk ketika kerikil yang dilempar paman Harits melesat mendekatinya.


Dash!


Kerikil itu mengenai dahi wanita yang mencekal tangan Nadia. Ia terjungkal ke belakang masih menarik tangan Nadia. Beruntung tangan Nadia yang lain sigap memegang pilar sebelum tubuhnya ikut terjatuh.


Paman Harits menarik dua remaja yang memegangi Winda dan Rima. Ia melemparkan keduanya ke samping hingga tubuh mereka membentur pilar yang ada di bagian serambi rumah itu.


Winda dan Rima gegas mendekati Nadia yang meringis sembari memegangi perutnya. Keduanya membawa istri paman Harits masuk ke dalam.


Ibu mereka membelalak saat ketiga anaknya merintih kesakitan.


"Beraninya kalian mau menyakiti istriku!" kecam paman Harits sembari melangkah mendekati ketiga orang yang masih berdiri. Kedua kakak iparnya bersembunyi di balik tubuh pemuda itu. Menjadikannya tameng untuk melindungi diri mereka dari amukan paman Harits.


Namun, apa yang terjadi? Tangan besarnya menarik kerah kemeja yang dikenakan anak laki-laki itu. Ia membantingnya tanpa perasaan membuatnya mengaduh dan merintih.


Bukan mereka tujuan paman Harits, tapi gadis yang masih duduk di lantai sembari memegang dahinya yang sedikitnya benjol. Kakak kedua panik, wanita itu putri sulungnya.


Paman Harits berjongkok di hadapannya. Matanya merah menyala menusuk tajam membuat tubuhnya gemetar.


"Apakah kamu masih menggunakan kedua tanganmu ini?" Paman Harist melirik kedua tangan yang ditautkan gadis itu di perut.


"Jawab!" bentak paman Harits sedikit lantang. Gadis itu mengangguk takut. Air matanya bahkan telah jatuh tanpa suara isak tangis yang keluar.


"Harits!" jerit kakak kedua yang sekali lagi tak diindahkan paman Harits.


"Apa kamu tahu siapa aku? Mereka menyebutku ... bos. Banyak nyawa melayang di tanganku. Laki-laki atau wanita aku tidak peduli. Siapa yang berani menyentuh milikku, harus membayar mahal." Paman Harits mengambil tangan si gadis.

__ADS_1


"Ja-jangan, Tuan! Ja-jangan ...."


"Apa kamu mengasihani istriku di saat dia meringis kesakitan? Tidak, bukan? Jangan harap aku juga akan mengasihani kamu!"


"Tu-tuan, jangan! Argh!" Ia menjerit saat paman Harits sedikit menekan pergelangan tangannya.


"Apa yang mau kamu lakukan pada anakku, Harits?!" hardik kakak ipar yang datang kembali mendekatinya. Paman Harits melirik ke belakang tubuh, matanya tajam menusuk.


"Sama seperti yang dilakukan suamimu dulu padaku. Aku hanya ingin dia merasakan kesakitan yang aku rasakan dulu!"


"Argh! Mamah! Papah!" Ia kembali menjerit kala tangan paman Harits kembali menekan sendi tangannya.


"Harits! Jangan, kumohon! Kami akan pergi ... kami akan pergi. Kumohon lepaskan anakku! Kami berjanji tidak akan lagi datang apa lagi mengganggu. Tolong lepaskan dia, Harits!" mohon-nya dengan kedua tangan yang ia tangkupkan di dada dan air mata yang berderai.


"Mas! Jangan lakukan itu!" Nadia berdiri tak jauh dari keduanya. Ia tak ingin paman Harits menjadi seorang pembunuh.


"Kali ini aku tak akan mendengarkan kamu, Nadia. Pergi dan istirahatkan tubuhmu!" Paman Harits bahkan tidak berani menatap mata istrinya. Ia takut hatinya luluh saat melihat manik sendu milik istrinya itu.


"Mas harus ingat, aku sedang mengandung, Mas. Aku tidak ingin anak kita ini yang akan menanggung semuanya. Mas, sudahlah ... biarkan saja mereka pergi. Tenangkan hati, Mas. Aku ingin suamiku, aku ingin suamiku!" pinta Nadia lagi kali ini air matanya telah berjatuhan karena melihat sisi lain dari laki-laki yang menikahinya.


Paman Harits memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia membuka netra itu lagi dan menjatuhkannya pada gadis yang masih sesenggukan di hadapannya.


"Ini semua bukan karena aku berbelas kasih pada kalian, tapi karena istri dan anakku. Pergi!" Paman Harist menghempaskan tangan gadis itu dengan kuat. Ia kembali merintih kesakitan.


Paman Harits beranjak, tapi masih berdiri di sana. Gadis itu merayap keluar mendekati Ibunya. Tangannya memerah, sedikit memar dan bengkak. Cepat-cepat mereka meninggalkan rumah paman Harits meskipun terus mengumpat dalam hati.


Nadia melangkah ragu, urat wajah suaminya masih menegang. Namun, ia yakin laki-laki itu tak akan menyakiti dirinya juga anak dalam kandungannya. Nadia berhambur memeluk suaminya erat. Membenamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu, masih menangis.


Paman Harits balas memeluknya, mencium ubun-ubun istrinya, dan mengajaknya beristirahat. Lelah fisik dan hati. Hari yang seharusnya bahagia, malah kacau karena keributan yang ditimbulkan dua kakaknya.

__ADS_1


Winda dan Rima dibantu Ibu dan Bibi juga Ibu pengasuh, menenangkan semua anak-anak yang menyaksikan kejadian tadi. Acara tetap berlangsung meski tak semeriah sebelumnya.


__ADS_2