
Pada hari di mana Nadia berpisah dengan Nafisah, usai kebakaran hebat yang menghanguskan seluruh bangunan yang ada lingkungan pondok pesantren Al-Masthur. Nafisah tak henti meracau tentang apa saja yang dilihatnya.
Ain dan Ikram sibuk menenangkan Nafisah yang menangis menjerit-jerit.
"Tenang, sayang. Tidak ada apa pun, Nak. Ada Umi dan Abi di sini, juga Kakak-kakak Nafisah. Sudah, ya. Jangan menangis," ucap Ain sambil memeluk tubuh putri bungsunya.
Nafisah menggeleng, menunjuk pada satu arah, tapi tak ada kata yang terucap untuk menjelaskan situasi yang sedang dilihat matanya.
Nafisah membenamkan wajah di ketiak Ain, tangannya masih terangkat menunjuk pintu ruangannya. Tangisnya tak kunjung reda hingga Ikram meminta bantuan dokter untuk menenangkannya. Sebuah suntikan berhasil membuat gadis kecil itu perlahan menutup mata dan meredakan tangisnya.
"Tidak apa-apa, mungkin dia sedang berhalusinasi. Hal itu biasa terjadi pada anak-anak yang sedang kurang sehat," jelas dokter setelah memberikan suntikan penenang pada Nafisah.
"Terima kasih, Dokter." Dokter laki-laki tersebut meninggalkan ruangan Nafisah. Membiarkannya beristirahat dengan tenang.
Sore hari itu, Nafisah terbangun. Keadaannya sudah jauh lebih baik, wajahnya tak lagi pucat, segar dan sehat.
"Umi? Aku mau pulang, aku mau makan masakan Umi," ucapnya pada Ain sesaat ia membuka kembali matanya.
Tersenyum bibir wanita itu, ia usap rambut anak bungsunya penuh perhatian. Ingin rasanya ia mengulang waktu yang telah terlewat untuk menebus semua kesalahannya di masa lalu.
"Kamu sudah sehat?" Bertanya sambil menyentuh lembut pipi gembil gadis kecil itu. Anggukan kepalanya menjawab pertanyaan yang diajukan Ain.
"Kita tunggu dokter memeriksa kamu dulu, ya. Kalau diizinkan kita akan langsung pulang, tapi kita tidak tinggal di rumah lagi. Rumah kita semuanya terbakar dan tidak ada yang tersisa. Kita tinggal di ruko. Tidak apa-apa, bukan?" ungkap Ain memberitahu Nafisah sebelum mereka pulang. Khawatir anaknya itu akan terkejut dan syok ketika harus menerima kenyataan mereka tak memiliki rumah.
"Tidak apa-apa, Umi. Asalkan Ada Umi dan Abi, Nafisah tidak apa-apa. Lagi pula rumah dan seluruh isinya tidak akan kita bawa saat kita mati nanti." Sahutan Nafisah membuat Ain tertegun. Ucapannya akhir-akhir ini selalu merujuk pada hal-hal yang berbau kematian.
Namun, ia tak menduga apa pun. Bibirnya kembali tersenyum, menatap penuh cinta pada putrinya itu.
"Kamu benar, sayang. Harta dunia ini tidak akan kita bawa saat kita mati nanti. Anak Umi pintar." Ain memeluk tubuh anaknya itu. Menciumi kepalanya berulang-ulang dengan matanya yang terpejam.
Dia pernah khilaf, hanyut dalam arus dunia dan gemerlapnya hingga rela melakukan apa saja hanya untuk memenuhi hawa nafsunya bahkan jalan terburuk pun pernah ia tempuh. Tanpa memikirkan akibat yang akan diterimanya, ia terus saja rela dibutakan dunia. Padahal, ia sendiri tahu semua itu tak akan ia bawa ke dalam kubur.
__ADS_1
"Sayang? Kamu sudah bangun?" Ikram mendekat bersama Ruby dan Bilal. Ketiganya dari mushola rumah sakit menunaikan ibadah shalat ashar.
Ain melepas pelukan, membiarkan gadis kecilnya memeluk Abi dan kedua Kakaknya itu.
"Nafisah mau pulang, Bi. Katanya sudah sehat dan ingin makan masakan rumah," tutur Ain memberitahukan keinginan Nafisah pada suaminya.
Ikram menjatuhkan lirikan pada putri bungsunya itu. Senyum tersemat di bibir melihatnya yang telah segar seperti sedia kala.
"Kamu sudah merasa sehat? Mau pulang?" Ia menganggukkan kepala cepat.
"Baiklah, Abi akan menemui dokter dan meminta izin padanya untuk membawa kamu pulang," katanya lagi seraya berbalik dan menuju ruangan dokter.
Di sana dokter menjelaskan bahwa paru-paru Nafisah bermasalah karena terlalu banyak menghirup asap di saat kebakaran hebat itu. Dokter memberikan resep obat untuk ditebus Ikram.
Setelah memikirkan segala resiko yang dijelaskan dokter tadi, Ikram bertekad membawa pulang Nafisah. Ia tak ingin Nafisah berlama-lama di rumah sakit karena melihat kondisinya yang telah pulih. Sore itu juga mereka pulang dari rumah sakit.
"Mau Kakak gendong?" Bilal berdiri membelakangi Ain yang menggendong Nafisah. Kedua tangan kecilnya terbentang dan merangkul leher Bilal. Tersenyum senang pada akhirnya ia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Berceloteh, bercerita ini dan itu sambil tertawa dalam perjalanan keluar dari rumah sakit. Diikuti ketiga orang yang juga menampakkan kebahagiaan di wajah mereka.
Di lantai ruko itu, mereka tinggal. Tak ada ruang lain selain kamar mandi saja. Selebihnya hanya satu ruang, tempat tidur berpadu dengan dapur. Tak apa, yang penting mereka masih bisa hidup dengan layak di tempat tersebut.
Ain gegas memasak untuk anak bungsunya itu. Ia dan Ruby saling membantu, sedangkan Bilal dan Ikram menemani Nafisah bermain.
"Tidak ada tanda-tanda dia akan pergi waktu itu karena kondisi tubuhnya sangatlah sehat. Dia bahkan makan dengan lahap sore itu. Hampir menghabiskan semua makanan yang aku masak, tapi saat di malam hari ...."
"Masakan Umi memang paling enak, Nafisah senang bisa memakan masakan Umi lagi. Nafisah tidak tahu kapan lagi bisa memakan masakan Umi yang enak ini." Celetukan Nafisah menyentak semua orang yang duduk melingkar di lantai tersebut.
Ada perasaan janggal dan tak enak rasanya mendengar penuturan Nafisah.
"Jangan bilang begitu, sayang. Kamu akan bisa memakan masakan Umi setiap hari. Umi akan masak makanan enak untuk Nafisah setiap hari," ungkap Ain yang entah kenapa justru kesedihan tiba-tiba timbul di hatinya.
__ADS_1
Ia meneteskan air mata dan memeluk putri bungsunya. Tangan Nafisah melambai meminta semua orang memeluknya.
"Ini seperti kita akan berpisah saja. Kenapa tiba-tiba Kakak ingin menangis?" Ruby gemetar ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Ain. Ada apa gerangan? Semuanya tak berpikir buruk.
"Kakak, tidak boleh berbicara begitu. Tidak baik!" tegur Ikram lembut.
"Kami kira waktu perasaan yang kami rasakan hanyalah sekedar rasa haru karena dapat berkumpul kembali. Nyatanya ... tepat di tengah malam ...."
Uhuk-uhuk!
Uhuk-uhuk!
Nafisah tiba-tiba terbangun, ia terbatuk hebat di tengah malam yang sunyi. Di kesunyian itu, suara batuknya jelas terdengar. Ain dan Ikram terbangun, ia mengambil air hangat untuk meredakan batuk hebat Nafisah.
"Sayang, minum dulu!" Ain memberikan gelas itu di bibir Nafisah. Ikram menepuk-nepuk pelan punggungnya dan sesekali mengusapnya. Sedikit air mengalir di tenggorokannya, Nafisah kepayahan.
Napasnya memendek, sesak dan berat. Wajahnya seketika memucat.
"Umi!" Tersengal ia memanggil Ain. Kepalanya menoleh pada Ikram dengan susah payah, "Abi!" Ia pun memanggil Ikram.
"Sa-sakit! Se-sesak! Sa-sakit!" Terputus-putus suaranya, wajahnya mengernyit kesakitan. Kakinya terasa dingin dan membeku.
"Nafisah? Sayang? Tidak apa-apa, pelan-pelan, Nak!" Ain bercucuran air mata tak tega melihat anaknya yang sekarat.
"Minum obat dulu, ini dari dokter. Ayo!" Ikram meminumkan obat pada Nafisah, tapi sebentar saja obat tersebut terlempar keluar karena ia tiba-tiba batuk dan memuntahkan semua isi perutnya.
"Nafisah! Sayang!" Ain semakin menjadi. Ikram panik kelabakan. Di tengah malam ini, semua orang sedang beristirahat.
"Bunda! Bunda!" Nafisah memanggil-manggil Nadia. Wajah wanita itu membayang di pelupuk matanya. Ia pergi dengan tenang. Raungan Ain di malam itu, membangunkan semua orang. Nafisah telah pergi.
"Padahal ... padahal dia baik-baik saja saat aku tinggalkan. Padahal ... dia sudah sehat saat aku pulang. Dia ... Nafisah ...." Nadia kembali ambruk dalam pelukan suaminya. Ia amat terpukul dengan kenyataan yang baru saja ia terima.
__ADS_1
*****
Semoga kau menjadi amalan soleh untuk kedua orangtuamu, Nak!