
Tiga orang anak, melahirkan dua kali. Ketiganya terlihat sama di mata semua orang meskipun usia mereka terpaut dua tahun jauhnya dengan sang Kakak. Salman, sebagai anak laki-laki ia bersikap melindungi kedua wanita itu.
Ketiganya tumbuh dengan baik, sehat dan ceria. Hubungan antara Ibu dan Ayah mertua Nadia semakin baik. Tak ada lagi pertikaian di antara mereka.
"Sayang, bisa jalan saja? Berlari membuatmu mudah lelah," saran Nadia pada anak laki-lakinya yang kerap berlarian di sekitar rumah.
"Baik, Ibu." Anak laki-laki berusia lima tahun itu menyahut, tapi hanya sekedar di mulut. Setelahnya, ia kembali berlari entah apa yang dikejarnya.
"Namanya juga anak-anak. Biarkan saja!" ucap paman Harits sambil mengusap kepala Nadia yang menghela napas panjang dan berat melihat tingkah anak laki-lakinya.
Sementara dua putri mereka, asik bermain boneka dan peralatan masak. Terlihat akur dan sulit dibedakan. Senyum di bibir Nadia mengembang melihat keduanya, ia menjatuhkan kepala di bahu suaminya memperhatikan ketiga anaknya itu bermain.
"Dapat! Aku dapat! Aku mendapatkannya!" teriak Salman sambil mengacungkan tangan kanannya yang menggenggam sesuatu.
Ia berlari berputar-putar dengan riang. Nadia menggelengkan kepala, heran sendiri anak itu benar-benar tak ada capeknya.
"Apa yang kamu dapatkan, Jagoan!" tanya paman Harits menunggu kedatangan putranya. Kedua gadis kecil itu, mereka tak acuh dan terus asik bermain.
"Ayah harus hati-hati membukanya, jika tidak dia akan kembali terbang dan membuatku lelah karena mengejarnya," ucapnya pelan dengan napas tersengal-sengal.
Paman Harits menyunggingkan senyum, ia dekatkan wajah pada kepalan tangan sang putra mengintip yang digenggamnya lewat sela-sela jari.
"Apa Ayah melihatnya?" Ia membuka dan menutup kepalan tangannya dengan cepat. Paman Harits mendengus.
"Bagaimana Ayah bisa melihatnya kalau kamu melakukannya begitu cepat?" gerutu paman Harits menjauhkan kembali wajahnya.
Nadia tersenyum-senyum sendiri melihat anak dan suaminya bergurau. Salman menurunkan bahunya, merasa lelah dengan sikap sang Ayah. Ia menggamit sayap binatang yang ditangkapnya dan menunjukannya pada paman Harits.
"Lihat! Aku hebat, 'kan?" katanya bangga.
"Wah! Anak Ayah memang hebat!" pujinya sambil menepuk-nepuk kepala putranya.
"Bagaimana kamu melakukannya, sayang? Ayah saja tidak pernah bisa menangkapnya," gurau Nadia tersenyum mengejek pada suaminya.
__ADS_1
"Ah ... Bunda kalian memang benar, Ayah bahkan tidak bisa menangkapnya," sambut paman Harits semakin membuat anak laki-laki itu membanggakan diri.
"Wah! Capung!" Salwa tak sengaja menyenggol tangan Kakak laki-lakinya itu hingga keduanya terjatuh dan belalang di tangan Salman pun terbang bebas di udara.
Salwa meringis, tangannya yang sakit ditambah wajah masam Salman karena kehilangan belalangnya. Membuatnya merasa bersalah.
"Maaf, aku tidak sengaja, Kak. Maafkan aku." Tangis anak perempuan itu pecah, ia mengucek matanya terduduk di atas tanah.
Paman Harits dan Nadia hanya terdiam menyaksikan. Ingin melihat seperti apa persaudaraan ketiga anaknya.
"Sudah, jangan menangis. Kamu, 'kan, tidak sengaja. Kak Salman tidak akan marah." Zahira sebagai yang tertua datang menghampiri. Ia mengusap rambut Salwa menenangkan gadis kecil itu.
Salman yang masih berbaring di tanah, pelan-pelan beranjak duduk. Ia melihat adiknya yang masih menangis, hatinya yang kesal seketika luluh.
"Baiklah. Tidak apa-apa. Sudah, jangan menangis lagi. Nanti hilang cantiknya," ucapnya sambil menggenggam kedua tangan adiknya yang masih mengucek mata.
Paman Harits dan Nadia tersenyum haru. Teruslah seperti itu. "Kemari, kesayangan Ayah dan Bunda!" Ketiganya berhambur memeluk kedua orang tua mereka.
"Maaf, Tuan. Mengganggu waktu Anda. Ada yang ingin bertemu dengan Anda di luar, saya belum mengizinkan mereka masuk," lapor Bibi yang menghampiri majikannya di belakang rumah.
"Biarkan mereka masuk!" titahnya pada penjaga gerbang yang menunggu izin darinya. Paman Harits memperhatikan sekelompok orang yang menunggu di luar gerbang dengan wajah tertunduk. Sebagian ada yang menatap ke arah rumahnya dengan wajah yang memelas.
Mereka mengangguk beberapa kali setelah penjaga gerbang mengizinkan mereka masuk. Berjalan dituntun laki-laki paruh baya itu menemui tuannya.
Ia mempersilahkan mereka memasuki rumah, sementara ia sendiri tetap berdiri di luar pintu rumah utama. Kemudian, kembali ke pos jaganya usai mereka semua masuk.
"Silahkan duduk!" Paman Harits menggerakkan tangannya mempersilahkan mereka untuk duduk.
Namun, di antara mereka tak ada yang berani untuk menuruti perintahnya itu. Mereka bergeming, terpaku di tempatnya berdiri. Kepala tertunduk dalam, enggan untuk bertatapan.
"Ada apa? Kenapa kalian tidak duduk?" Berkerut dahi laki-laki itu. Nadia datang membawa nampan cukup besar berisi minuman, diikuti Bibi yang juga membawa nampan yang lain berisi makanan.
"Lho? Mas, kenapa tidak disuruh duduk?" Nadia nampak bingung, "Kak, ayo, silahkan duduk! Tidak usah sungkan," pinta Nadia sambil menoleh pada sekumpulan orang yang berdiri itu.
__ADS_1
"Aku sudah meminta mereka duduk, tapi mereka tidak mau," ucap paman Harits sambil memainkan rambut putri bungsunya yang duduk di pangkuan.
"Tidak apa-apa!" Mulut Nadia kembali terkatup sesaat kalimat singkat itu diucapkan salah satu dari mereka. Ia duduk di samping suaminya bersama dua anaknya yang lain.
"Kami datang ke sini membawa dosa-dosa yang belum termaafkan. Tolong, jangan jamu kami seperti ini! Kami malu, benar-benar malu," ungkap salah satu perempuan sambil terisak-isak.
Nadia melirik suaminya, laki-laki itu tak berpaling dari mereka.
"Ha-harits, tolong maafkan semua kesalahan kami. Kami benar-benar menyesal, seharusnya kami tidak serakah dan berbuat buruk kepadamu. Kami sebenarnya iri kepadamu, Harits, karena kamu adalah kesayangan Kakek. Kamu dianggap lemah dan tidak berguna, tapi sebenarnya kami-lah yang tidak berguna. Kami terus mencari cara untuk menjauhkan kamu dari Ayah dan Ibu. Apa pun kami lakukan-"
"Sekarang, kami menyesal. Benar-benar menyesal, kamu adalah adik kami. Sudah sepantasnya kami sayangi. Maafkan kami, Harits! Maaf!" ucap Kakak tertua. Nada suaranya bergetar, terdengar pilu dan menyayat hati. Tangannya tak henti mengusap air yang terus-menerus turun di pipi.
"Adik ipar, tolong maafkan juga kami. Karena keserakahan, kami hampir membuatmu dan anakmu celaka waktu itu. Kami benar-benar minta maaf!" Ia melempar lirikan pada Nadia.
Matanya yang basah dan memerah menatap penuh sesal pada adik ipar mereka. Nadia sendiri tak tahu harus apa. Pasalnya, ia telah melupakan semua kejadian itu dan tak ingin mengingatnya lagi.
Nadia beranjak, berjalan menghampiri kedua istri mereka. Tak segan ia memeluk keduanya bergantian dan mengajak mereka berbincang di lain tempat.
"Aku sudah melupakan semuanya. Aku rasa kalian perlu bicara. Ayo, Kak. Kita ke ruang lain saja!" ucapnya sebelum mengajak kedua istri dan anak-anak mereka ke tempat lain.
Selang beberapa saat setelah kepergian Nadia, paman Harits beranjak. Ia berdiri dan menghampiri keduanya, membawa mereka masuk ke dalam pelukan.
"Lupakan semuanya, kita adalah saudara. Sudah seharusnya kita berkumpul sebagai keluarga," ucap paman Harits sambil mengajak mereka duduk.
"Apa dia putramu?" Mereka melempar tanya, melirik Salman yang duduk di sofa. Sementara si bungsu pergi mengikuti Bundanya bersama Zahira.
"Iya, dia Salman. Ayo, salami kedua paman!" pintanya pada Salman. Balita itu berdiri dan memperkenalkan dirinya.
"Ibu!" Keduanya tertegun sesaat melihat Ibu memasuki rumah. Wanita tua itu termangu, tak percaya bahwa kedua anaknya yang lain tengah memeluknya dan meminta maaf.
Bertambah sudah kebahagiaan mereka, semua orang akhirnya dapat berkumpul dalam satu rasa yang sama. Bahagia.
*****
__ADS_1
Assalamualaikum ... pada akhirnya tamat juga sesuai jadwal. Terima banyak sudah membaca dan mengikuti cerita ini hingga akhir. Semoga pembaca semua terhibur dan tidak bosan untuk membaca kisah lainnya. Jangan sungkan untuk memberikan kritik serta saran yang sangat berharga bagi saya.
Jika berkenan, mampir dan baca juga Novel terbaru saya. Berjudul, BIMA. Terima kasih banyak. Salam sayang selalu untuk kalian semua.