
SEMUA HARUS DIPERTANGGUNGJAWABKAN
"Bagaimana? Apakah itu asli?" Seorang laki-laki bertanya pada laki-laki lainnya perihal apa yang dia bawa padanya.
Laki-laki berjas tertawa ringan, wajahnya jelas mengejek dan membodoh-bodohi dia yang memberikan apa yang di tangannya.
"Saya sangat hafal betul bagaimana bentuknya, ini sudah pasti palsu. Ada yang memanfaatkan situasi saat ini untuk mengambil keuntungan dari ini semua. Seandainya kalian tidak datang padaku, mungkin mereka akan menganggap ini asli," tuturnya yang mengembangkan senyum di bibir laki-laki lainnya.
"Aku sudah mencari tahu sebelumnya tidak mungkin aku datang ke tempat yang salah," ucapnya dengan yakin.
"Aku tahu ... aku tahu, seorang Harits bisa melakukan apa saja yang ingin dia lakukan. Siapa yang tidak mengenal Anda, seseorang yang akan mengupas tuntas sebuah kasus sampai ke akarnya." Ia menimpali.
Paman Harits tersenyum, membangga pada dirinya sendiri. Ia melirik surat di tangan lawan bicaranya.
"Tanda tangan ini palsu, dan surat kuasa ini pun palsu. Aku sangat hafal betul bagaimana bentuk tanda tangan dari Bu Sarah. Sejak beliau datang ke kota ini, akulah yang selalu membantu mengurus semua yang dia perlukan. Terutama mengenai pabrik ini," katanya seraya menyerahkan kembali surat yang didapat dari Ain pada paman Harits.
Ia mengambil sesuatu dari laci, dan menunjukannya pada paman Harits.
"Bu Sarah tidak pernah tertinggal memberikan satu detail ini pada setiap tanda tangannya. Sepele memang, tapi sekarang aku tahu apa fungsinya. Ini semua untuk membedakan tanda tangannya yang asli dan palsu karena tanda tangan beliau memang mudah sekali ditiru."
Paman Harits melihat dengan saksama. Hampir tak berbeda, hanya saja pada tanda tangan asli milik Sarah ada satu detail yang tak pernah tertinggal. Paman Harits tersenyum, ia sudah menduga itu. Beruntunglah, paman Harits menyelidiki terlebih dahulu tentang orang-orang yang pernah berhubungan langsung dengan Sarah dan Nadia.
Semua itu memudahkan jalannya dalam memecahkan kasus yang menimpa mereka.
"Terima kasih, kamu memang sangat bisa diandalkan. Sarah tidak salah memilih dan menjadikanmu orang kepercayaannya." Paman Harits mengambil surat tersebut dan memberikannya lagi pada laki-laki yang telah berhasil mendapatkannya.
"Lakukan tugasmu! Datanglah di waktu yang tepat. Aku ingin menguliti mereka hidup-hidup!" titah paman Harits padanya.
Laki-laki itu mengambil surat yang diberikan padanya seraya menganggukkan kepala pasti.
"Baiklah, aku permisi dulu!" Paman Harits beranjak meninggalkan kantor notaris tersebut dan mendatangi sebuah tempat konstruksi. Ia menyewa dua alat berat yang akan dibawanya ke pondok milik Ikram.
__ADS_1
******
Paman Harits menenangkan Nadia, wanita itu masih menangis lemah dalam pelukannya.
"Kamu masuk saja ke dalam mobil, biar aku yang menyelesaikan masalah ini!" Paman Harits membuka pintu mobil, dan membantu Nadia untuk duduk.
Wanita itu masih menangis, sesenggukan. Bibirnya tak henti memanggil Sarah dan papahnya. Nadia benar-benar terpukul setelah mengetahui ini. Paman Harits menutup pintu mobil yang jendelanya ia buka dengan sengaja.
"Dasar penipu!" teriak seorang laki-laki yang rambutnya beruban. Di tangannya membawa surat yang ia acungkan pada dua orang di teras rumah tersebut.
Ain menegang, Ikram yang bingung sekarang.
"Wanita penipu! Kembalikan uangku!" teriaknya lagi sembari terus melangkah mendekati Ain.
Ikram menoleh ke samping tubuh, melirik istrinya yang tiba-tiba berubah pucat pasih. Bibir Ain gemetar, keringat mulai berjatuhan membasahi hijabnya. Ia kenal laki-laki itu. Dia yang sudah memberikan uang DP untuk pembelian pabrik milik Nadia.
Paman Harits tersenyum, saatnya tiba pertunjukan yang paling dinanti pemirsa. Ia menyilangkan kedua tangan di perut sembari menyandarkan tubuhnya pada badan mobil.
Laki-laki yang baru datang itu membawa kemurkaan yang jelas terlihat di wajahnya. Ia benar-benar marah. Ikram yang bingung, segera berdiri di hadapan Ain menjadikan dirinya tameng untuk wanita itu. Ia takut laki-laki asing itu melakukan kekerasan terhadap Ain.
"Kembalikan uangku! Surat yang kamu berikan ini ternyata palsu! Kamu mau menipuku!" Ia membanting kertas tersebut dan menginjaknya dengan penuh emosi.
"Ada apa ini? Uang apa yang dia maksud, Mi?" tanya Ikram melirik Ain yang kian memucat dan gemetar. Ia memainkan jemarinya gugup dan gelisah. Ikram tidak tahu apa-apa soal ini. Nadia diam-diam tersenyum. Istri yang selalu dibelanya habis-habisan itu ternyata seorang penipu, juga pencuri.
"Tontonan asik, sayang untuk dilewatkan. Aku benar, bukan?" celetuk paman Harits yang membuat Ikram berpaling padanya. Wajah tampannya mengejek Ikram dan Ain. Laki-laki itu semakin geram.
"Uang apa yang Bapak maksud?" tanya Ikram pada laki-laki tua yang datang marah-marah ke rumahnya.
"Uangku, uang siapa lagi? Uang yang aku gunakan untuk membeli pabrik konveksi yang dia jual!" bentak laki-laki berumur tersebut dengan geram. Siapa yang tidak geram, saat ia terkena tipu dan uang ratusan juta melayang begitu saja.
"Uang? Pabrik? Ada apa sebenarnya?" Paman Harits dan Nadia tersenyum melihat kebingungan Ikram. Laki-laki itu ternyata tidak tahu apa-apa soal kebusukan yang dilakukan istrinya.
__ADS_1
"Umi, jelaskan apa maksud dari ucapannya? Uang apa? Pabrik yang mana yang umi jual?!" tuntut Ikram pada istrinya yang masih terdiam dengan tubuh yang menggigil ketakutan.
"A-aku tidak tahu, Bi! Aku ...."
"Jangan bohong, Ain! Pabrik siapa yang kamu jual?" bentak Ikram lagi tak dapat menahan diri.
"Pabrik konveksi milik orang pindahan dari Jakarta itu! Pabrik mana lagi? Kalian jangan mempermainkanku!" hardik laki-laki yang datang menuntut kembali uangnya.
"Pabrik milik Nadia, Krom! Milik siapa lagi? Memangnya istrimu yang itu punya pabrik? Pikir, Krom ... pikir!" Paman Harits geram.
Plak!
Satu tamparan mendarat keras di pipi Ain. Paman Harits meringis. Wanita itu jatuh tersungkur ke lantai sembari memegangi pipinya. Ia menangis, sudut bibirnya robek hingga cairan merah merembes di sana.
"Keterlaluan! Aku benar-benar tidak menyangka padamu, Ain. Di balik sikapmu yang baik selama ini, ternyata menyimpan kebusukan yang aku tidak tahu. Kamu berhasil menipuku, Ain. Kamu benar-benar keterlaluan!" hardik Ikram sembari menuding wajah Ain dengan kejam.
Wanita itu menangis histeris. Ia masih saja bungkam dan belum ingin membuka mulutnya.
"Aku tidak ingin melihat drama kalian, kembalikan uangku sekarang juga! Perjanjian kita batal!"
Mengingat soal uang, Ain beranjak perlahan. Ia memegangi pipinya, matanya memutar ke sudut mengancam Ikram. Ia tidak terima Ikram menamparnya seperti tadi.
"Maling teriak maling!" Sindiran dari paman Harits semakin menyulut api dalam diri Ikram dan Ain.
"Uang tidak bisa dikembalikan! Bapak sudah memberikannya kepada saya sebagai DP. Saya tidak bisa mengembalikannya!" ucap Ain dengan lantang.
Paman Harits tertawa, kulitnya yang putih seketika memerah saat ia terpingkal sebentar.
"Memalukan! Benar-benar memalukan! Seorang figur guru agama dalam lingkungan masyarakat yang seharusnya menjadi contoh yang baik, kini malah dibutakan dunia dan secara terang-terangan mengakui kebodohannya! Apa masih layak kalian memimpin pondok pesantren ini? Biar aku robohkan saja, seperti halnya akhlak kalian yang sudah hancur terlebih dahulu," ungkap paman Harits tidak main-main.
Ikram menegang, apa lagi saat suara deruman dari alat berat yang dibawa paman Harits terdengar dan menciptakan sedikit guncangan di tanah pondok tersebut.
__ADS_1
Para santri panik melihat excavator mulai mengangkat satu tangannya.