
Paman Harits meneguk ludah gugup. Di hadapannya wanita yang ia cintai terdiam menunggu, matanya mengembun. Pancaran kesedihan nampak jelas di maniknya yang berwarna hazel. Bibirnya nampak gemetar meski samar.
"Aku ...."
"Jangan pergi! Kumohon, Kak. Jangan pergi!" Kalimat cepat dari Nadia yang terdengar bergetar itu menyentak paman Harits. Ia cukup terkejut dengan reaksi tiba-tiba dari Nadia, sungguh tak menduga wanita itu akan memohon. Apa dia pikir aku akan pergi meninggalkannya?
Nadia tertunduk, isak tangisnya tak tertahan hingga terlontar dari mulutnya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, sambil sesenggukan terdengar menyesakkan dada.
"Mmm ... Nadia, kenapa-"
"Jangan pergi, Kak! Apa semua orang sekarang akan meninggalkan aku? Apa aku memang tidak pantas berada di antara kalian? Papah, Mamah, semuanya. Lalu, kini Kakak juga mau pergi?" pekik Nadia. Ia mendongak cepat menatap paman Harits dengan matanya yang memerah dan basah oleh air mata yang terus berjatuhan.
Paman Harits meringis, Nadia salah paham. Ia mengusap tengkuk sembari mengedarkan pandangan pada langit-langit ruangan. Paman Harits juga melipat bibirnya menahan tawa yang bisa pecah kapan saja.
"Dengar dulu-"
"Aku sudah bilang tinggal menunggu dua bulan lagi, 'kan? Apa Kakak tidak bisa menunggu sampai dua bulan lagi?" Suara Nadia kembali memekik, wajahnya yang putih berubah memerah karena terbakar emosi yang terus tersulut.
"Kalau Kakak tidak ingin aku di sini, biar aku saja yang pergi. Aku akan pergi dan melupakan semuanya. Biar aku saja yang pergi!" teriak Nadia lagi dengan laju tangis yang semakin menjadi.
Ia berbalik dan berjalan cepat. Niat hati ingin meninggalkan paman Harits, tapi tangan kekar itu berhasil mencekal pergelangan tangannya dan menarik tubuhnya ke dalam sebuah dekapan hangat.
"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi, sudah tidak ada lagi yang menginginkan aku. Biarkan aku pergi ... biarkan aku pergi!" Nadia memukul-mukul dada paman Harits kesal. Suaranya melemah, tapi tangannya memeluk erat tubuh kekar yang mendekapnya.
"Bagaimana kalau aku yang memohon? Jangan pergi dari hidupku. Jangan pernah meninggalkan aku apa pun yang terjadi. Jangan pernah mendengarkan kata orang selain apa yang aku ucapkan. Hanya percaya padaku. Hanya padaku ...." Paman Harits ikut mengeratkan pelukan. Rasa cintanya semakin besar kala melihat ketakutan di mata Nadia.
"Jangan pergi! Kumohon jangan pergi!" lirih Nadia dengan suara yang lemah dan tersendat. Ia masih tersedu, rasa sakit karena ditinggalkan ... ia tak ingin merasakannya lagi. Sudah cukup ia menahan rasa pedih di hati karena kepergian orang-orang yang ia cintai satu demi satu.
"Jangan tinggalkan aku, Kak!" gumam Nadia lagi sembari tersedu-sedu.
__ADS_1
Rasa hangat mengalir ke dalam hati paman Harits. Ia mendongak, menarik napas dalam-dalam merasakan ketulusan hati seorang Nadia. Ikram yang bodoh! Rasanya ingin segera memiliki seutuhnya, tak lagi terhalang apa pun agar dia bisa melindunginya secara maksimal.
Paman Harits mengurai pelukan, disapunya air yang masih menggenang di pelupuk mata Nadia, juga yang merembes di pipinya. Ingin rasanya ia melahap semua yang nampak di hadapannya. Namun, paman Harits menahannya. Ia tahu batasan-batasannya sebagai laki-laki asing bagi Nadia.
"Siapa yang akan pergi? Siapa yang akan meninggalkan kamu? Aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kamu, Nadia." Nadia menatap masih dengan sisa tangisannya.
Ia menunduk, dan melirik koper besar di belakang paman Harits. Lalu, kembali menjatuhkan pandangan pada manik kelam milik laki-laki di hadapannya.
"Lalu, itu ... koper itu ... apa?" tanya Nadia terbata. Wajahnya bersemu tatkala mata paman Harits ikut melirik koper tersebut dan terkekeh kecil.
Nadia menganga, dengan cepat ia menjauh. Ia mengerucutkan bibir kesal, tapi semu merah masih menghiasi kedua pipinya.
"Apa Kakak mengerjai aku?" tanya Nadia tak suka, "tidak lucu!" lanjutnya seraya berbalik hendak pergi.
"Maaf, tapi ... aku tidak mengerjai kamu. Aku bahkan belum mengatakan apa-apa sejak tadi," ucap paman Harits pelan. Nadia terhenyak, mengingat kembali kejadian tadi. Seketika, kedua pipinya semakin memanas ketika semuanya tereka ulang di pikirannya. Benar, paman Harits bahkan belum mengatakan apa pun. Baper. Ia tertawa kecil, menertawakan dirinya yang mudah sekali terbawa perasaan.
Paman Harits tersenyum melihat tingkah Nadia meskipun hanya bagian punggungnya saja, ia tahu Nadia tengah merasa malu. Wanita itu menetralkan hatinya, ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan-lahan. Pipinya yang memanas berangsur-angsur menghangat.
Ia membalik tubuh dengan kepala tertunduk. Memainkan jemarinya karena gugup. Menekuri lantai tempat kakinya berpijak. Ia memejamkan mata malu sembari menggigit kuat-kuat bibirnya.
Helaan napas terdengar dari arah paman Harits. Bersiap untuk mengatakan niat yang sesungguhnya.
"Nadia, selama dua bulan ini aku akan pergi dari rumah, tapi bukan untuk meninggalkan kamu," ungkap paman Harits secara perlahan.
Nadia mengangkat kepalanya, menatap bingung laki-laki di hadapan yang menggantung kalimatnya.
"Kakak mau pergi ke mana?" Suaranya bahkan masih terdengar bergetar. Antara malu dan penasaran.
"Kamu tahu, bukan ... aku ini orang yang jauh sekali dari agama. Aku seperti bayi yang baru dilahirkan, untuk dapat menggunakan kedua kakiku ... aku harus belajar dari awal agar bisa berjalan sendiri. Aku merasa tidak pantas bersanding denganmu kalau aku tetap seperti ini ...." Paman Harits kembali menggantung ucapan.
__ADS_1
Kedua ujung alis Nadia bertaut bingung. Ke mana arah tujuan pembicaraan paman Harits.
"Maksud, Kakak ...?"
"Yah ... aku akan pergi mencari seorang guru yang bisa membimbing aku untuk dapat mengenal Tuhan secara keseluruhan. Untuk itu, doakan calon suamimu ini agar bisa pantas bersanding denganmu di pelaminan nanti, juga agar menjadi imam yang baik dan bertanggungjawab untuk hidupmu kelak. Apa kamu bersedia melakukannya, calon bidadariku?"
Demi apa pun, itu terdengar manis di telinga Nadia. Tidak seperti rayuan gombal yang sering dilakukan lelaki asing lainnya.
Dengan malu-malu Nadia mengangguk. Ia kembali tertunduk menyembunyikan rona merah di pipinya. Kembali menggigit kecil bibirnya menahan rasa yang bergejolak riang di hatinya.
"Kamu harus ingat ini, Nadia. Aku pergi untuk memantaskan diri denganmu, bukan untuk meninggalkan kamu. Jadi, jangan pergi ke mana pun dari rumah ini. Tetaplah di rumah sampai aku kembali. Aku tidak tahu berapa banyak lagi penjahat yang berkeliaran ingin membuatmu celaka. Menurutlah kali ini, calon istriku!" ungkap paman Harits lagi semakin menabur bunga di hati Nadia.
Ia kembali mengangguk tanpa mengangkat wajahnya.
"Hei, lihat aku! Aku akan pergi, biarkan aku melihat wajahmu! Dua bulan bukan waktu yang sebentar. Aku pasti akan merindukanmu di sana, dan di sini kamu juga tentunya akan merindukan aku." Paman Harits merajuk.
Mendengar itu, Nadia bukannya mendongak, tapi justru menutup wajahnya dan menggeleng malu.
Paman Harits mendesah pasrah.
"Ya sudah, aku pergi. Jangan lupa, doakan aku!" Paman Harits berbalik, tak lupa tersenyum. Senang bukan main hatinya.
"Kak!" Panggilan Nadia membuatnya terhenti dan berbalik.
"Hati-hati! Jaga diri Kakak di sana. Aku menunggu kepulangan Kakak." Malu-malu Nadia mengucapkannya. Paman Harits tersenyum, ia mengangguk pasti sebelum kembali berbalik dan melangkah.
"I love you!" teriaknya dengan kuat dari dalam mobil. Nadia yang berdiri di ambang pintu tertawa senang, ia melambaikan tangan melepas kepergian laki-laki itu.
"Ekehm! Aduh, senangnya!" Rima dan Winda datang menggoda. Rupanya kedua wanita itu mengintip sejak tadi. Nadia tersenyum malu, ia menunduk dan berlalu meninggalkan mereka berdua yang tertawa mengejek.
__ADS_1