
Malam selalu datang membawa impian, menghamparkan selimut pekat yang menyembunyikan keluh kesah manusia. Keadaan yang apa adanya.
Dua insan sedang terpekur di atas hamparan sajadah, bibir mereka bergumam melantunkan bacaan-bacaan shalat dengan khusyuk. Menggantungkan segala harap dan cita pada Dzat Yang Maha Sempurna.
Paman Harits memutar tubuh, menghadap ke arah Nadia. Ia menjulurkan tangan padanya, disambut sentuhan lembut nan basah darinya. Nadia menunduk menyembunyikan semu merah di pipinya.
"Nadia ...." Nadia mendongak menjawab panggilan suaminya, "mmm ... kamu ... lapar tidak?" Bertanya malu dan ragu. Wajahnya nampak gugup, peluh bermunculan di dahinya.
Nadia termangu, ia pikir laki-laki di depannya itu akan mengatakan apa ... ternyata ....
Nadia menghela napas, ia menunduk sejenak lalu tersenyum. Ia mengangguk untuk menjawab pertanyaan paman Harits.
"Kita cari makan, kamu harus makan yang banyak untuk persiapan malam nanti." Kedipan matanya yang nakal menggoda wanita di depannya.
Nadia tertawa kecil, lantas beranjak mengganti mukenanya dengan kerudung. Keduanya keluar meninggalkan penginapan mencari angin segar sekaligus makan malam. Suasana di pantai ramai oleh pengunjung. Baik yang datang dari luar daerah, maupun penduduk setempat.
Gazebo-gazebo berjajar rapi di sepanjang pantai, mereka menawarkan makanan khas tepi laut.
"Kamu harus makan banyak malam ini, supaya kuat dan tidak memohon ampun. Aku tidak akan berbelas kasih padamu," ucap paman Harits memberi Nadia makanan yang lebih banyak dari pada dirinya.
"Mmm ... iya, ya. Kakak sendiri sudah persiapan obat belum?" Nadia balik bertanya sambil menaruh makanan di piringnya.
Paman Harits yang sudah menyuap nasi, mendongak dengan pipi yang menggembung. Nadia tak acuh, ia bahkan tak memandang paman Harits terus memilih ikan apa yang ingin dia makan. Lelaki itu mengunyah cepat makanan di mulutnya.
"Obat? Maksud kamu obat apa? Obat kuat? Heh ... seorang Harits tidak membutuhkan itu. Aku sudah sangat kuat tanpa bantuan obat!" katanya bangga. Ia melanjutkan makannya.
Nadia menganggukkan kepala dengan bibir yang mencibir. Ia menatap ke arah suaminya. Tatapannya jelas mengejek paman Harits.
"Bukan obat itu, tapi obat yang lain. Misalnya ... obat encok, begitu." Ia terkekeh sembari menutup mulut saat mata lelaki di hadapannya membelalak lebar.
"Apa lagi itu? Aku sungguh tidak butuh!" Ia berbicara dengan mulut penuh. Nadia masih tertawa, tepatnya menertawakan dirinya.
__ADS_1
Paman Harits memicingkan mata pada istrinya.
"Yah ... siapa tahu Mas membutuhkannya. 'Kan, tidak asik di tengah-tengah acara tiba-tiba pinggang Mas encok. Auh ... duh ... pinggangku ...." ejek Nadia yang kembali tertawa kecil. Ia bahkan memegangi pinggangnya sendiri lengkap dengan ekspresi wajah yang meringis.
Paman Harits mendengus, ia melipat kedua tangannya di perut menatap tajam wanita yang masih terkekeh itu.
"Kamu mengejek suamimu ini, ya. Berani sekali! Awas saja nanti malam kalau kamu memohon padaku untuk berhenti. Aku tidak akan melakukannya sampai kamu kelelahan," katanya dengan senyum miring mengancam Nadia. Lagi-lagi wanita itu terkekeh.
"Makan dulu, Mas. Yang banyak, biar kuat." Nadia menambahkan nasi ke dalam piring paman Harits. Ia menepuk tangan suaminya pelan dan lembut.
"Konyol!" Paman Harits menggelengkan kepala. Merasa konyol dengan pembicaraan mereka barusan. Ia melanjutkan makan sebelum melanjutkan langkah menyusuri pinggiran pantai. Deruan angin menerbangkan gamis yang dikenakan Nadia.
"Kalau malam begini, air naik sampai matahari terbit nanti. Kita tidak bisa mendatangi bebatuan yang di sana." Nadia melingkarkan tangan di lengan suaminya. Ia menyandarkan kepala di bahu kekar itu meskipun paman Harits telah berumur lanjut, tapi tubuhnya sangat atletis dan kokoh. Keduanya berjalan di pinggiran pantai.
"Tidak apa-apa, kita masih punya banyak waktu di sini," sahut paman Harits melirik sekilas kepala Nadia sebelum mengecupnya.
"Kita kembali saja, anginnya tidak bagus untuk tubuh kamu," ajak paman Harits yang disambut gelengan kepala oleh Nadia.
"Tidak, sayang. Ingat kondisi tubuh kamu sendiri." Nadia menurut ia mengikuti langkah lebar di depannya dengan malas.
Ia tersentak kaget tatkala paman Harits sedikit membungkuk di depannya.
"Naik! Aku akan menggendongmu," titahnya menepuk punggungnya sendiri. Nadia tersenyum, ia sedikit melompat agar bisa menaiki panggung kokoh lelaki itu.
Gelak tawa tercipta dari mereka berdua tatkala paman Harits membawa Nadia berlari. Suasana berganti ketegangan saat kaki keduanya menapak di teras penginapan tempat mereka akan bermalam.
"Kenapa jantung kamu berdegup-degup? Apa kamu takut?" goda paman Harits saat tabuhan detak jantung Nadia terdengar bertalu-talu di telinganya.
"Turun, Mas!" rengek Nadia yang sudah malu karena kegugupannya tertangkap paman Harits. Lelaki itu terkekeh sebelum menurunkan Nadia.
Ia cepat mencekal tangan Nadia ketika ia hendak pergi darinya. Menariknya, hingga jatuh ke dalam pelukan. Paman Harits menarik hijabnya, dan membuangnya ke sembarang arah. Ia mengangkat tubuh Nadia dan membawanya berbaring di kasur.
__ADS_1
"Nadia, kata ustadz ... sebelum menunaikan itu kita disunnahkan untuk melakukan shalat sunnah dua raka'at. Bagaimana?" tanya paman Harits sembari menatap dalam manik hazel istrinya itu.
Nadia mengusap jambang tipis milik paman Harits sambil tersenyum.
"Shalat sunnah pengantin." Nadia menimpali.
"Mmm ... kalau begitu, kamu mau shalat jama'ah dua raka'at itu denganku? Yah ... supaya dapat pahala dua-duanya. Wajib dan sunnah," ungkap lelaki yang masih berada di atas tubuhnya itu. Nadia mengangguk dan keduanya melakukan shalat sunnah itu secara berjamaah.
Dia, Harits ... lelaki yang jauh dari agama sebelum bertemu dengan Nadia, kini dapat melafalkan bacaan-bacaan shalat dengan baik dan benar. Ia bahkan sudah mampu menjadi imam. Tidak sia-sia selama dua bulan belajar ilmu agama karena hasilnya jelas terlihat malam ini.
"Nadia, kata ustadz, kita juga diharuskan membaca doa sebelum memulainya." Nadia mengangguk.
"Kita baca sama-sama," ajaknya. Paman Harits menganggukkan kepalanya, dan mulailah bibir mereka bergumam membaca lafal perlindungan kepada Allah.
"Allaahumma jannibnaasy-syaithoona, wa jannibisy-syaithoona maa rozaqtanaa."
Artinya, "Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami."
Paman Harits tak dapat menahan panggilan kelelakiannya, usai melafalkan doa itu, ia memagut bibir Nadia rakus. Cukup lama sampai keduanya kehabisan oksigen.
"Mas, buru-buru sekali. Pelan-pelan saja!" pinta Nadia yang sedikit kewalahan meladeni permainan suaminya. Maklum saja, dia duda karatan dan tidak pernah menjamah wanita.
Paman Harits tertawa kecil sebelum kembali memulai dengan lebih lembut. Tak satu pun dari bagian tubuh Nadia yang terlewat. Teringat akan kondisi tubuh Nadia yang pernah sakit, ia melakukannya dengan hati-hati. Dengan ritme lambat terkadang cepat. Bermain-main di pacuan kuda.
Suara-suara aneh pun mulai terdengar, lisan Nadia tak mampu untuk tidak mengeluarkan suara walaupun ia menggigit bibirnya sendiri. Permainan paman Harits benar-benar menakjubkan. Alon-alon asal kelakon, katanya. Pelan-pelan saja yang penting mentok.
Cukup dua kali permainan saja malam ini, tunggangannya terlalu lelah untuk meladeni permainan yang dia berikan. Malam ini, ia harus puas sampai di sini saja.
Paman Harits membawa tubuh berkeringat Nadia ke dalam pelukannya. Peluh masih membanjiri tubuh mereka. Ia mengecup dahi dan ubun-ubun Nadia berkali-kali.
"Tidurlah!"
__ADS_1