Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Berbaikan


__ADS_3

Nadia menunggu, ia menilik suaminya yang sejak kata pertama terucap belum ada lagi kata lanjutan. Ibu pun mengatupkan bibir rapat, tak ingin mendahului anaknya yang hendak menuangkan kata.


"Bu ... dari dulu, dari sejak aku kecil, tidak pernah terdetik di hatiku rasa benci atau bahkan dendam. Hanya ada rasa takut ... takut akan kehilangan kasih sayang dan perhatian dari Ibu. Rasa takut itu membuatku lemah, tak percaya pada diri sendiri, aku bahkan takut untuk menginjakkan kakiku ke dunia luar. Aku selalu mencari perhatian, sebagai anak bungsu, aku ingin kasih sayang yang lebih. Aku selalu berpikir, seharusnya ini waktuku bersama Ibu dan Ayah, tapi kedua kakakku selalu memanasiku mereka selalu bilang kalau Ibu dan Ayah lebih sayang mereka dari pada aku-"


"Bu, mereka bahkan sering memukuliku, dan Ibu selalu membela mereka karena aku memang anak tidak berguna." Paman Harits membuka kemeja depannya, luka yang tak pernah terlihat itu kini nampak jelas di mata tua Ibunya.


Ia terkejut menutup mulutnya sendiri tak yakin apa yang dilihatnya.


"Lihat ini, Bu. Ini bekas luka yang dibuat Kakak karena waktu itu aku ingin menelpon Ibu, tapi mereka melarang. Ibu bahkan tidak peduli padaku, aku sekarat di rumah sakit dan hanya Bibi yang menemani. Ayah sama sekali tidak peduli padaku, Bu." Paman Harits membuka kemeja itu dan melemparnya. Ia berbalik memunggungi Ibunya menunjukkan padanya bekas luka cambukan yang pernah ia terima.


Jatuh air mata wanita itu, ia tak pernah tahu ada cerita seperti itu dalam kehidupan masa kecil anaknya. Dia yang selalu sibuk bekerja, dan Ayah yang tak pernah peduli padanya.


"Ayah selalu mencambukku saat aku berbuat nakal. Dia mengurungku selama sehari penuh tanpa makanan dan minuman, dan Ibu tak pernah tahu juga tidak peduli saat aku ingin mengadu. Ibu bahkan sering memukulku ... di sini ... dan di sini ...." Paman Harits menunduk, tangannya menunjuk bagian paha dan betis yang sering mendapatkan pukulan darinya.


Nadia yang tak sanggup mendengar itu, menjatuhkan diri di depan suaminya. Ia peluk lelaki itu, diusap-usapnya punggung tak rata milik suaminya sambil sesekali menciumi bahunya.


Kehangatan yang dihantarkan Nadia, menggerakkan tangan paman Harits untuk membalas pelukannya. Ibu menutup mulutnya, memeluk putranya itu dari belakang. Ia menangis hingga air matanya jatuh membasahi kulit paman Harits.


"Semua itu tak dapat aku lupakan, setiap kali teringat, setiap itu juga aku ingin membalas. Namun, ternyata aku tidak mampu membalas dan lebih memilih pergi dari rumah." Paman Harits melepas pelukan Nadia, ia memegangi wajah wanita itu dengan kedua tangannya. Diusapnya air mata Nadia yang meninggalkan jejak di pipi.


"Hidup terlunta di jalanan, kelaparan, kedinginan, kepanasan, kehujanan bahkan saat salju turun, tubuhku membeku karena tidak punya tempat tinggal. Pada akhirnya aku bertemu nasib baik, seseorang mempekerjakan aku dan aku mengumpulkan uang untuk membangun usahaku sendiri." Ia mengecup pipi Nadia dan membawanya kembali ke dalam pelukan.


"Maaf ... maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu, Harits ...." Ibu menangis menutupi wajahnya sendiri. Paman Harits melepas pelukan dan beranjak bersama Nadia duduk di tepi ranjang Ibu.


Nadia memeluk pinggangnya, dan menempelkan pipi di punggung suaminya itu. Ia ingin menjadi kekuatan untuk paman Harits, bukan menjadi kelemahannya.


Paman Harits memegangi tangan renta itu, Ibu menjatuhkan kepala, tapi ditahan paman Harits. Nadia melepas rangkulannya tatkala lelaki itu memeluk Ibu.

__ADS_1


"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu, tolong ampuni Ibu sebelum terlambat. Maafkan Ibu ...." Ibu kembali menangis, menumpahkan penyesalan di hatinya.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku juga minta maaf, maaf." Paman Harits membenamkan wajah di pundak rentanya. Ia melepas pelukan lagi, dan beralih pada Nadia.


"Terima kasih sudah mengingatkan aku untuk tidak durhaka pada Ibu. Kehadiranmu membawa perubahan dalam hidupku. Aku yang jauh dari agama, kini dapat mengenal siapa Tuhanku? Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu, Nadia. Sangat mencintaimu." Nadia berhambur masuk ke dalam tubuh suaminya. Terharu akan cerita perjalanan hidup lelaki itu.


Ibu tersenyum, paman Harits juga merangkulnya. Kini, ia sadar dua wanita itu amat berharga untuk hidupnya.


"Aku tidak ingin anak kita nanti melakukan hal yang sama pada kita. Tidak ingin." Paman Harits melepas tangannya, berganti mengusap perut Nadia. Dikecupnya perut yang masih rata itu, dan diusapnya lagi.


Nadia dan Ibu saling memandang, kemudian tertawa haru.


"Mas tahu?" tanyanya tak menduga sembari mengusap sudut matanya yang berair. Paman Harits tersenyum, ia menegakkan tubuh dan mengeluarkan alat tes kehamilan dari sakunya.


"Ini." Nadia menggeleng, ia menganggukkan kepala saat bersitatap dengan manik suaminya.


"Aku bahkan sudah lupa tadi, tapi Mas mengingatkan lagi." Nadia merajuk manja.


"Jadi masih mau tidak?" tanya-nya sekali lagi. Tangis dan tawa bercampur entah seperti apa rasanya.


"Mau, Mas, tapi Mas yang metik." Ia bergelayut di dada suaminya. Paman Harits gemas, ia peluk tubuh istrinya kuat-kuat.


"Sesak, Mas." Ia tertawa kecil, Ibu ikut senang melihat senyum yang dulu tak pernah ia lihat di wajah putranya itu.


"Bu, pamit dulu, ya. Mau jambu air katanya." Ibu mengangguk. Paman Harits membawa Nadia keluar dan menuju rumah tetangganya.


"Gimana mintanya, yang? Mas malu." Paman Harits mengusap tengkuk, membayangkan meminta saja sudah membuat wajahnya memerah malu.

__ADS_1


"Mas tinggal minta sama orangnya, memangnya susah?" Nadia merayu, ia memberikan kecupan di pipi suaminya dan tersenyum manis.


"Mas, ayo, cepat! Air liurku sudah banyak lihat yang menggantung-gantung di atas sana!" Nadia menunjuk buah jambu air yang bergantungan di pohonnya. Begitu menggugah seleranya.


Paman Harits meringis sembari menatap buah-buah yang menggantung begitu tinggi menjulang.


"Biar Ibu yang mintakan, Ibu tidak mau cucu Ibu nanti ileran," sambar Ibu seraya melewati mereka berdua menuju gerbang pemilik rumah.


Nadia menyenggol lengan suaminya, sedikit kesal. Paman Harits melengos malu, lebih malu lagi kalau harus meminta-minta pada orang lain.


"Permisi, assalaamu'alaikum!" sapa Ibu dengan ramah. Tak lama, muncullah pemilik rumah dan tersenyum ramah pula.


"Eh, Nyonya, Tuan dan Nyonya Harits, ada apa?" sapanya seraya membuka gerbang dan keluar.


"Ini, Bu, menantu saja ini sedang ngidam dan dia ingin jambu air punya Ibu ini. Kalau boleh kami ingin membelinya," ucap Ibu sopan.


"Waduh ... kalau untuk orang ngidam tidak usah beli, ambil saja. Itu berkah, kata orang tua nanti buahnya akan bertambah banyak kalau diambil ibu yang lagi ngidam. Sebentar, saya panggilkan suami saya, ya," ucapnya. Ibu tersenyum manggut-manggut.


"Tunggu, Bu!" Detak jantung paman Harits berdentam-dentam manakala Nadia menghentikan Ibu tersebut.


"Alamat ...." gumamnya sembari melengos.


"Iya, Nyonya!" Ia kembali menghampiri.


"Mmm ... biar suami saya saja yang memetiknya, saya tidak mau merepotkan orang," katanya. Seperti sudah memahami, Ibu dan pemilik rumah mengangguk.


"Ayo, sayang. Ambilkan yang banyak! Hati-hati!" Paman Harits meringis, memeluk pohon jambu dengan erat.

__ADS_1


"Ibu ...!"


__ADS_2