Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Masa Kelam Ikram II


__ADS_3

Side story'Ikram II


"Paman, aku mau pulang saja. Rasanya sudah terlalu lama aku meninggalkan Abah," ucapku siang itu. Aku ingin pulang hari ini juga. Tidak ingin menundanya lagi.


"Kenapa mendadak sekali?" tanya Paman dengan dahinya yang terlipat.


Entah kenapa tiba-tiba aku gelisah. Aku takut akan ada orang yang mencariku ke rumah Paman ini. Sebelum itu terjadi, sebaiknya aku segera pulang saja.


"A-aku akan melanjutkan sekolah di pesantren saja sesuai permintaan Abah. Aku sadar, hanya aku anak Abah satu-satunya dan aku yang akan menjadi penerus Abah. Paman, bisakah Paman mengantarku hari ini juga?"


Aku merengek, usiaku memang baru sebelas tahun, tapi kata orang aku berperawakan bongsor. Mereka kira aku sudah duduk di bangku sekolah menengah, nyatanya aku masih duduk di sekolah dasar.


"Bukannya mau sampai lulus di sini? Apa kamu sakit hati karena Bibi setiap hari marah-marah?"


Kenapa malah ke sana larinya. Aku tidak pernah merasa sakit hati mendengar ocehan Bibi setiap hari. Ah ... sudahlah, Paman memang tidak tahu alasan yang sebenarnya.


"Bukan seperti itu, Paman. Aku tidak ingin meninggalkan Abah sendirian. Usianya sudah semakin tua, dan hanya aku yang Abah punya. Aku mau menemani Abah saja," kilahku lagi. Ayolah, Paman. Jangan banyak bertanya lagi. Aku ingin cepat pulang.


Paman mendesah, ia menyeruput kopi di cangkirnya sebelum menyahut, "Baiklah. Kemasi pakaianmu, kita pulang sekarang juga. Kebetulan Paman juga ada perlu di sana."

__ADS_1


Aku bergegas mengemasi pakaian. Hati itu juga Paman membawaku pulang meskipun harus melewati drama permintaan maaf Bibi yang mengira aku marah karena ocehannya, dan membencinya.


Sesampainya di rumah, aku setuju untuk masuk di pesantren. Bersekolah dan menimba ilmu agama. Abi tidak tahu saja, kebiasaanku saat di Jakarta tak bisa aku hilangkan dengan mudah. Aku sering mencuri waktu untuk pergi dari pesantren dan melakukan yang dulu aku lakukan saat di Jakarta. Sayang, sekarang hanya sendirian saja. Tidak seasik saat berkumpul bersama mereka.


Bertahun berlalu, usiaku pun terus melaju ke depan. Aku akan menjadi pendiam saat berada di lingkungan rumah dan pondok. Bertingkah seperti anak seorang pimpinan pondok yang akan menjadi penerusnya. Berwibawa dan terkesan berilmu. Akan tetapi, saat di luar aku bebas melakukan apa saja yang aku inginkan. Beruntung, aku tidak pernah mendekati zina.


Setiap hari aku harus belajar menjadi pimpinan bersama Abah dan ustadz yang menjadi wakilnya. Sial! Ternyata sulit, kukira menjadi pimpinan pondok hanya akan ongkang-ongkang kaki saja. Duduk santai sambil menunggu para santri mengantri untuk bersalaman. Uang akan mengalir dengan mudah, tanpa lelah bekerja.


Nyatanya, aku harus belajar semua pelajaran. Apa-apaan ini? Aku juga harus mengisi pelajaran, dan mulai belajar menggantikan Abi berceramah. Aku pun dengan terpaksa menuruti. Semua itu berawal dari keterpaksaan yang semakin lama, aku menjadi biasa dan lancar.


Kuyakinkan Abah agar tidak perlu lagi mencemaskan pondok. Aku sudah bisa menjadi pemimpin sekarang dan akan bersikap layaknya seorang ustadz yang menjadi panutan.


Aku ingin menolak saja, tapi melihat wajah Abah yang semakin tua aku tidak tega. Pada akhirnya aku pun rela menikahi janda tersebut. Aku tidak akan merasa puas kalau begini.


Ain namanya, lembut perangainya, cantik juga orangnya. Kami menikah dan tidak saling menyentuh untuk beberapa waktu lamanya. Sampai saat Abah sakit, dan ia memintaku segera memiliki anak. Terpaksa aku pun melakukannya. Abah sempat sehat dikala Ain dinyatakan hamil. Ternyata milikku tokcer juga meskipun tanpa cinta, tapi aku dapat membuatnya hamil.


"Ikram, jadilah pemimpin yang bertanggungjawab. Yang bersikap bijak dan menjadi panutan semua santri. Semua tingkah lakumu akan ditiru mereka. Sayangi Ain, dia istri yang baik untuk kamu," pinta Abah sebelum nyawa terlepas dari badannya.


Aku hanya menganggukkan kepala sembari menahan tangis. Bagaimana aku bisa menjalani ini semua, jika rasa cinta tak ada dalam hatiku. Namun, melihat Ain yang begitu penurut dan sabar. Aku berjanji tak akan pernah meninggalkannya walaupun harus hidup tanpa cinta. Mungkin akan muncul nanti saat kami sudah memiliki anak.

__ADS_1


Bertahun berlalu, tiga orang anak kami dapatkan. Selama itu, aku tidak pernah lagi mengingat kejadian naas di masa lalu. Lupa oleh kehadiran keluarga kecilku. Abah sudah menyusul Umi.


"Nak Ikram, tolong berjanji pada kami untuk selalu menjaga Ain. Jangan pernah meninggalkan Ain karena dia sudah tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini selain kalian. Kami akan tenang meninggalkan dunia ini setelah Nak Ikram berjanji kepada kami," pinta bapak mertuaku kala itu.


Ini apa maksudnya? Mereka ingin aku berjanji seolah-olah aku akan pergi meninggalkan anak mereka. Lihat, sudah ada tiga anak yang dia lahirkan. Tak mungkin aku pergi begitu saja. Namun, aku tetap mengangguk dan berjanji pada mereka. Ain sangat menyayangiku, dia sabar menghadapi sikapku yang terkadang dingin. Dari situlah aku mulai menumbuhkan rasa cinta di hatiku. Cinta untuk wanita yang sudah menemaniku dengan sabar selama beberapa tahun ini. Sebuah rasa untuk ibu dari ketiga anakku. Dia pantas mendapatkannya.


"Abi, Umi dengar ada pabrik konveksi yang baru dibangun di kota kita ini. Bagaimana kalau kita mengambil pakaian dari sana saja. Umi dengar harganya lebih murah dan modelnya lebih menarik," ucapnya kala itu memberitahuku.


"Abi akan coba pergi ke sana," sahutku. Aku membuka toko pakaian muslim di pasar tradisional Rangkasbitung. Toko yang terbilang cukup besar menyediakan berbagai jenis pakaian berbeda usia. Mulai dari bayi hingga dewasa.


Aku datangi pabrik tersebut, cukup besar memang. Kudengar dari warga pemiliknya pindahan dari Jakarta. Mendengar nama kota itu, mengingatkanku kembali pada kejadian naas dulu. Kejadian yang ingin aku hapus dari ingatanku untuk selamanya. Rasanya aku ingin menjadi amnesia saja dan lupa pada kejadian waktu itu.


Para pekerja di pabrik itu sangat ramah padaku. Akhirnya aku menjadi langganan mereka. Selama menjadi pelanggan setia, aku belum pernah bertemu dengan pemilik pabrik itu. Tak apa, hanya sekretaris dan bendaharanya saja sudah sangat membuatku puas. Mekanisme yang mereka tawarkan tidak memberatkan pihakku.


Sampai waktu itu, hari di mana aku diberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan pemiliknya. Dia seorang wanita paruh baya, cantik dan elegan ketika melangkah. Wajah itu, mengingatkan aku pada wajah seseorang.


Kuingat-ingat di mana pernah bertemu dengan wajah wanita itu. Sayang, memori otakku tidak jalan. Aku tidak bisa mengingat dengan jelas wajah itu. Sampai sebuah ingatan tentang kejadian kecelakaan itu tiba-tiba menyeruak ke permukaan. Aku ingat, dia wanita hamil yang waktu itu menangisi suaminya yang aku tabrak. Yah ... dia orangnya. Untuk apa dia datang ke kota ini? Apakah dia ingin membalas dendam padaku.


Aku akan memutuskan hubungan kerjasama ini dengan pihaknya jika saja ia menyinggung soal kejadian naas di masa lalu. Akan tetapi, setelah beberapa kali bertemu wanita itu tak pernah menyinggung soal itu. Ternyata dia tidak mengenali aku, tentu saja karena aku waktu itu memakai helm yang menutupi wajah. Aku bisa tenang menjadi pelanggannya.

__ADS_1


Namun, ada yang aneh. Bayi yang dulu dikandungnya apakah masih hidup? Jika ia hidup, pastilah menjelma menjadi anak yang kuat. Terlahir tanpa seorang Ayah.


__ADS_2