Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kabar Buruk


__ADS_3

Pupus sudah harapan. Tak ada lagi tujuan. Semua yang menjadi keinginan, harus hanyut begitu saja terbawa bersama ombak di lautan.


Lenguhan pendek dibarengi dengan rintihan kesakitan terdengar dari dalam kamar Nadia. Menjelang siang ia terbangun dengan kondisi tubuh yang lemah. Rasa mual menyerang dengan hebat, ia berlari sempoyongan ke kamar mandi dan memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya. Tak ada apa pun sebenarnya, hanya cairan bening saja karena ia belum mengisi perutnya sejak pagi tadi.


Nadia berdiri berpegangan pada wastafel dengan napas yang tersengal. Wajahnya kian memucat, ia membenarkan rambut yang menghalanginya dari bercermin. Ditiliknya gurat di wajah, sungguh ia terlihat seperti mayat hidup.


Pipi tirus, mata cekung, kering kerontang seperti tak ada darah yang mengaliri wajahnya.


Allahu ... apakah ajalku kian dekat?


Dipandangi wajah itu dengan saksama, air mata terjatuh tanpa sadar. Seiring berjalannya waktu, penyakit yang diderita Nadia terus menggerogoti tubuhnya. Membuat Nadia melemah setiap harinya, ia pasrah pada hidup. Mati pun tak mengapa, satu keinginannya telah terwujud.


Nadia mencuci muka, berganti pakaian, memoles wajah sedikit sebelum keluar rumah. Ia bahkan tidak sempat meminta izin pada Ikram karena terburu-buru ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kondisi tubuhnya.


Sebuah taksi online yang dipesannya telah menunggu di luar gerbang pondok, Nadia segera menaikinya. Ia ingin cepat sampai di Rumah Sakit. Untuk menutupi wajahnya yang seperti mayat, ia menggunakan masker dan kacamata hitam.


Nadia langsung menemui dokter pribadinya di Rumah Sakit. Menjalani serangkaian pemeriksaan, juga melakukan cuci darah. Hampir lima jam Nadia berada di Rumah Sakit hanya untuk mengetahui kondisi tubuhnya.


"Nadia, kondisi ginjal kamu sudah kronis. Saya menyarankan untuk melakukan cuci darah dua kali dalam seminggu. Hal itu dapat membantu menggantikan fungsi ginjal kamu yang rusak sampai ada orang yang mau memberikan ginjalnya untuk kamu, kamu harus rutin melakukan cuci darah," ungkap dokter tersebut yang membuat Nadia terpaku dalam derita.


Lidahnya kelu tak dapat berkata apa-apa untuk beberapa saat hingga tanpa sadar air matanya kembali jatuh dan semua itu dilihat dokter tersebut.


"Saya tahu ini berat untuk kamu, Nad. Kamu masih sangat muda, masih banyak cita-cita yang ingin kamu gapai tentunya. Jangan berputus asa, harapan selalu ada selagi kamu menjalaninya dengan tanpa beban. Bersabar, ya," lanjut dokter tersebut sembari mengusap tangan Nadia yang diletakkan di atas meja.


Nadia menjatuhkan kepala di atas meja dokter, menangis terisak menumpahkan segala rasa dalam dadanya. Dokter wanita itu mengusap-usap punggung tangannya menyalurkan harapan padanya. Nadia menjeda tangisnya, ia mengangkat wajah dan memandang dokter di hadapan dengan sedih.


"Dokter, apakah saya bisa hamil?" tanyanya dengan lirih dan bergetar.

__ADS_1


"Saya tidak menyarankan kamu untuk hamil, Nadia karena akan sangat beresiko untuk kamu. Itu bisa membahayakan janin dalam rahimmu dan juga diri kamu sendiri," terang dokter yang membuat tangis Nadia semakin menjadi.


"Kamu harus tahu, Nadia. Pada ibu hamil dengan penyakit ginjal kronis, struktur dan fungsi ginjal sudah mengalami kerusakan sehingga ginjal tidak dapat beradaptasi dengan kehamilan seperti umumnya. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi kehamilan yang menyebabkan risiko outcome kehamilan yang lebih buruk, baik pada ibu maupun janin. Saya hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Bersabarlah sampai kamu berhasil menjalani transplantasi ginjal, kamu bisa hidup normal dan bisa hamil juga," lanjut dokter menjelaskan.


Nadia menangis sesenggukan dengan kepala terbenam di atas meja dokter. Pupus sudah harapannya untuk segera memiliki anak, sedangkan untuk memilikinya ia harus menjalani transplantasi ginjal terlebih dahulu. Ia tidak tahu mana yang akan lebih dulu datang? Apakah pertolongan ataukah Malaikat Izrail.


Melihat Nadia yang tak kunjung berhenti menangis, dokter wanita itu beranjak dari duduknya. Ia ikut duduk di kursi samping Nadia dan memeluk wanita malang itu.


"Percayalah, sayang. Allah tidak akan membebani manusia melebihi batas kemampuannya. Kalau Allah menguji kamu seperti sekarang, itu artinya kamu mampu melewati semuanya. Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Kamu percaya, bukan bahwa Allah bersama orang-orang yang bersabar-"


"Kamu sedang berada di tahap ujian keimanan, kalau mampu melewatinya maka kamu akan naik kelas. Jangan putus asa, sayang. Rahmat Allah melebihi luasnya langit dan bumi," nasihat sang dokter sudah seperti ibu sendiri bagi Nadia.


Mendengar penuturan yang lembut dari dokter di sampingnya, Nadia tersadar. Hidup bukan hanya untuk disesali, melainkan untuk disyukuri. Pelan-pelan Nadia mengangkat kepalanya, dengan wajah yang dibasahi air mata ia memandang dokter wanita yang seusia ibunya itu.


Masih tersedu, dokter itu mengusap air mata di pipinya. Tersenyum untuk menyemangati Nadia yang malang.


Mendapat perlakuan lembut seperti itu, Nadia hanyut. Ia memeluk dokter wanita itu dan menumpahkan beban dalam pelukannya. Rasa hangatnya sama seperti ia memeluk Sarah.


Sementara Nadia sedang menenangkan diri, Ruby mencarinya di rumah.


"Assalamu'alaikum, Bunda! Apa Bunda di rumah?" sapa Ruby seraya membuka pintu dan masuk ke rumah Nadia.


"Bunda!" Ia memanggil-manggil Nadia sembari terus melangkah menelusuri setiap lekuk rumah Nadia.


"Bunda tidak ada di mana pun, apa di yayasan, ya?" Ia bergumam sendiri setelah tidak menemukan Nadia di mana pun.


Ruby kembali keluar dan mencari wanita itu di yayasan. Namun, setelah sampai di sana Nadia tetap tak ditemukan. Ia bahkan bertanya pada Ibu pengasuh dan nihil. Ia pun tidak melihat Nadia sama sepertinya.

__ADS_1


Ruby kembali dengan lesu ke rumahnya. PR hari ini harus segera dikerjakan, dan hanya Nadia yang selama ini bisa membantunya.


"Kenapa? Kok, lesu?" tanya Ain yang sedang duduk di ruang tengah rumah bersama Ikram usai melaksanakan shalat Dzuhur.


"Bunda tidak ada di rumahnya, di yayasan juga tidak ada. Bunda ke mana, Mi? Ibu juga tidak tahu karena belum melihat Bunda dari pagi," jawab Ruby dengan lesu. Ia menjatuhkan tubuh di atas kursi dengan lunglai.


"Nadia tidak ada? Abi tahu ke mana? Dia pasti meminta izin pada Abi, bukan?" tanya Ain melirik Ikram yang terdiam dengan kerutan di dahi.


"Abi juga tidak tahu, tidak ada izin apa pun darinya. Tidak biasanya Nadia menghilang seperti ini," sahut Ikram lagi dengan bingung.


Ketiganya berpikir di mana Nadia saat ini.


"Tidak mungkin dia pondok, 'kan? Dia sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di pondok," gumam Ain sendiri.


"Bagaimana dengan PR aku, Umi?" keluh Ruby. Semuanya sedang kebingungan sekarang.


"Bunda pergi pake taksi online katanya." Suara Bilal tiba-tiba terdengar dari arah pintu. Rupanya bocah itu pun sedang mencari Nadia.


"Kamu tahu dari mana?" selidik Ain.


"Mang Sarif tadi lihat, katanya Bunda jalan sempoyongan kaya orang sakit keluar gerbang. Pakai masker sama kacamata hitam, ditanya cuma mengangguk saja," jawab Bilal lagi ikut membanting tubuh di samping Ruby.


"Keluar? Kenapa tidak izin dulu, ya? Apa dia tidak sempat atau lupa?" Ikram bergumam sendiri.


"Mungkin sedang buru-buru, Abi. Jadi, tidak sempat mengabari Abi," timpal Ain. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Ikram yang bertanya-tanya kenapa Nadia tidak meminta izinnya dan Ain pun sama dengannya ke mana adik madunya itu pergi hingga tak sempat meminta izin pada Ikram.


Sedangkan Ruby dan Bilal, sama-sama mengeluh karena mereka butuh bantuan dari Bunda mereka.

__ADS_1


Sementara orang yang mereka cari, sedang duduk menenangkan diri di danau tak jauh dari alun-alun kota. Merenung seorang diri memikirkan nasib diri.


"Nadia?"


__ADS_2