Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Nadia!


__ADS_3

Yuni tersenyum aneh saat melepas kepergian Ikram dan Ain. Ada sesuatu yang dia rencanakan dan hanya dia saja yang tahu bahkan Ain yang membawanya pun tak ia bagi tahu. Yuni beranjak dari ruang tengah menuju pintu dapur yang berseberangan dengan pintu kamar mandi masjid.


Ia duduk menunggu di dekat jendela, entah apa yang dia tunggu. Yang jelas binar di matanya sudah mengatakan lain.


Ikram dan Ain pergi ke tempat berbeda. Ain menyapa jamaah perempuan dan bergabung bersama mereka. Berceloteh ini dan itu tanpa ada yang berani menyinggung soal Ikram menikah lagi.


Laki-laki itu pergi ke depan, duduk di hadapan jamaah laki-laki bersama para ustadz yang mengajar di pondok. Pengajian sore dimulai, sederet jamaah bukan hanya dari kawasan pondok. Penduduk setempat pun ikut hadir mendengarkan pengajian.


Tepat di tengah-tengah acara, Ikram mulai gelisah. Tiba-tiba rasa panas menjalar di seluruh tubuhnya. Keringat kasar bermunculan di dahi dan sekitar wajah. Merambat terus ke leher dan memenuhi punggung.


Ya Allah, apa ini? Kenapa tubuhku tiba-tiba panas seperti ini.


Ikram berdehem, kerongkongannya mengering. Ia haus, tapi bukan ingin minum. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekedar air saja. Ia menenggak air mineral di depannya hingga tandas, tapi tetap saja rasa panas dan aneh itu ia rasakan semakin menjadi.


Nadia!


Hatinya bergumam menyebutkan nama istri keduanya. Entah kenapa tiba-tiba Ikram menginginkannya. Ia berpaling pada sekitarnya. Beruntung pengajian belum masuk ke acara intinya.


Ikram memanggil ustad yang selalu menjadi walinya saat ia tak dapat mengisi pengajian.


"Ustadz, tolong gantikan saya dulu. Sepertinya saya masuk angin, badan tidak enak," pinta Ikram dengan wajah berubah pucat dan bibir yang gemetar.


"Baik, Bi. Sebaiknya Abi segera pulang dan beristirahat. Wajah Abi pucat sekali," jawabnya memberitahu. Ikram menepuk pundaknya sembari melengos melewatinya.


Gelenyar-gelenyar aneh kian merambat hingga ke otaknya. Wajah Nadia memenuhi isi pikirannya. Membayang di pelupuk mata. Menggodanya, melambaikan tangan dengan manja memanggilnya untuk memadu mesra.


Ikram tak dapat mengendalikan dirinya, ia bergegas ke kamar mandi mencuci wajahnya dengan air berkali-kali. Ikram mengambil wudu, lagi dan lagi. Namun, rasa itu masih dapat ia rasakan juga.


Nadia!


Berkali-kali hatinya menyebutkan nama itu.


Mas butuh kamu!


Ia bergumam lagi. Ikram memejamkan mata, pandangannya melewati batas normal. Fatamorgana di depannya nampak nyata. Nadia berbaring di atas ranjang memanggil dirinya.

__ADS_1


"Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Ya Allah, sebenarnya aku ini kenapa?" gumam Ikram sembari mengusap wajahnya dengan air.


Yuni yang sedari tadi duduk di jendela menunggu, buru-buru berdiri saat melihat Ikram ke kamar mandi masjid. Yuni membuka pintu tersebut dan berdiri menunggu Ikram.


Tepat saat Ikram keluar dengan wajah pucat, ia segera menghampirinya.


"Mas, kenapa?" tanyanya seolah-olah peduli pada Ikram.


Laki-laki itu mendongak dan tersenyum. Dalam pandangannya Yuni adalah sosok Nadia. Diyakinkan dengan panggilan 'Mas' khas milik istri keduanya itu.


"Nadia!" panggil Ikram dengan suara yang parau.


Yuni mengernyit tak suka. Nama itu pun kini mengganggu Yuni.


"Aku Yuni, Mas. Bukan Nadia," sahut Yuni sembari hendak meraih tangan Ikram.


Mata tajam itu menyipit memastikan penglihatannya supaya tidak salah lagi mengenali. Ikram terhenyak ketika matanya menangkap satu sosok asing di hadapannya.


Dia bukan Nadia!


"Jangan menyentuhku!" sengitnya seraya melangkah meninggalkan Yuni yang menganga. Ia yang telah bersiap menunggu kedatangan Ikram, tapi Ikram masih memiliki kesadaran hingga tak membuatnya hanyut begitu saja.


"Sial! Kenapa pengaruh wanita itu besar sekali untuk Ikram? Aku tidak boleh menyerah," gerutu Yuni dengan kedua tangan terkepal. Memandangi punggung Ikram yang semakin menjauh dan hilang di gerbang yayasan.


"Yun, ada apa? Kenapa kamu di sini? Kamu lihat Ikram?" tegur Ain yang keluar dari masjid saat ia tak mendengar suara suaminya mengisi pengajian dan suara ustadz lain yang menggantikannya.


Yuni yang sedang mengumpat terkejut dibuatnya. Ia berbalik dan memperbaiki mimik wajahnya. Bertanya-tanya dalam hati apakah Ain mendengar gumamannya tadi? Entahlah.


"Dia pergi ke sana!" Tangannya menunjuk gerbang yayasan.


Urat di wajah Ain kembali mengeras. Geram dalam hati bahkan saat pengajian saja Ikram mengingat Nadia. Sedih bercampur kecewa, ada marah juga dendam yang semakin membara. Mengancam Nadia dalam api amarah yang kembali tersulut.


Ia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Diikuti Yuni yang juga pergi membawa kekecewaan yang menggunung dalam hati.


Nadia yang baru kembali dari Rumah Sakit bersama Ruby. Remaja itu langsung kembali ke asramanya untuk beristirahat, sedangkan Nadia pergi membersihkan diri.

__ADS_1


Ia keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk yang melilit di tubuh juga kepalanya. Ia menggosok-gosok rambutnya di depan cermin tanpa sadar Ikram sedang menatapnya lapar.


Rasa panas dan sesuatu yang meminta dilampiaskan semakin menguasai diri Ikram manakala melihat Nadia yang tidak mengenakan apa-apa selain handuk itu.


Ikram masih menahan diri, tenggorokannya naik turun meneguk ludah yang terasa sulit mengalir. Keringat kian deras bermunculan, rasa haus semakin membuatnya tak berdaya.


Ikram kalah, rasa itu membuat kepalanya terasa berat dan seolah hilang akal.


Ia mendatangi Nadia yang masih asik di depan cermin. Memeluknya dari belakang, membuat wanita itu tersentak kaget karenanya.


"M-mas!" Sentuhan-sentuhan Ikram di sekitar tengkuknya membuat seluruh bulu di tubuhnya meremang. Ikram menggila, ada apa dengannya?


"Tolong, Nadia! Tolong Mas! Mas butuh kamu!" bisik Ikram di telinga Nadia. Ia memberikan gigitan kecil pada daun telinga wanita itu yang sudah memerah karena ulahnya.


Nadia berdesis, sesuatu sedang meraja di tubuhnya. Ia menggeliat tatkala Ikram semakin liar menjamah tubuhnya. Dilemparnya handuk yang membelit tubuh Nadia ke sembarang arah. Ia membawanya ke atas ranjang dan melanjutkan permainan.


Nadia ikut menikmati meskipun bingung dengan sikap Ikram sore ini. Laki-laki itu berbeda dari biasanya. Ia melakukan semuanya hingga membuatnya benar-benar puas.


Tak cukup satu kali, rasa itu masih meminta Ikram melakukanya sekali lagi. Napas keduanya memburu, sore itu pergulatan panas membuat Ikram dan Nadia melayang entah sampai di mana.


Ikram ambruk di samping Nadia, tak lupa ia memeluk tubuh itu dan mengecup dahi basah milik Nadia. Tanda merah memenuhi hampir seluruh tubuhnya.


"Terima kasih. Maafkan Mas yang tidak tahu waktu memintanya, tapi Mas juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saja Mas menginginkannya. Maafkan Mas, Nadia," ungkap Ikram mengeratkan pelukan pada tubuh Nadia.


"Tidak apa-apa, Mas. Itu sudah hak Mas dan kewajiban aku memenuhinya. Aku senang ...." Ucapannya menggantung entah apa kalimat lanjutan yang akan diucapkan Nadia, ia sendiri tak berani mengatakannya.


Asik berpelukan melepas penat usai pergumulan sengit mereka di sore itu.


"Tapi kamu benar-benar berbeda hari ini. Mas tidak tahu kamu pandai melakukannya. Boleh Mas memintanya lagi lain waktu?" goda Ikram yang berhasil membuat semu merah di pipi Nadia.


Ia tak menyahut, hanya menyembunyikan wajahnya di ketiak Ikram sambil tersenyum.


"Jujur saja, baru kali ini Mas merasa puas melakukannya. Terima kasih sekali lagi," tutur Ikram tulus. Ia mengecup ubun-ubun Nadia dan memeluk tubuhnya. Gema adzan Maghrib menyudahi keasikan mereka. Panggilan Tuhan menyeru dengan merdu.


Nadia kembali membersihkan diri bersama Ikram yang malah memintanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2