Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Pada Hari Yuni Melahirkan


__ADS_3

Satu bulan kembali terlewati, usia kandungan Yuni pun mendekati bulan kelahirannya. Hari itu, ia sedang duduk bersama Ain di depan televisi. Ikram sedang mengajar di kelas, dan Nadia bermain bersama anak-anak.


Yuni tiba-tiba mendesis, membuat Ain yang duduk di sampingnya menoleh dengan alis yang bertaut.


"Kenapa?" tanya Ain tak acuh.


"Perutku menegang. Sepertinya ada sesuatu yang ingin keluar," jawab Yuni dengan sikap tenangnya.


"Kamu mau melahirkan?" tanyanya lagi. Yuni mengangguk.


"Tidak mungkin! Ini saja belum bulannya kamu untuk lahiran, kenapa cepat sekali?" protes Ain tidak percaya.


"Ah ... tolong temani aku ke Rumah Sakit. Aku tidak punya uang untuk membayar biaya Rumah Sakit," pinta Yuni memegangi perutnya yang kembali menegang.


"Ya, ya ... ayo!" ucap Ain seraya mengajak Yuni meninggalkan rumah.


"Bilal, beritahu Abi kalau Tante Yuni mau melahirkan," titah Ain pada Bilal yang sedang bermain dengan Nadia.


Bocah itu berlari ke pondok setelah Nadia mengangguk. Ia-nya menemui Ain dan Yuni yang sedang duduk menunggu Ikram.


"Ada apa, Kak, Yun? Apa sudah saatnya melahirkan? Bukannya baru beberapa bulan, ya?" tanya Nadia melirik Yuni dan Ain bergantian.


"Kamu tahu apa? Memangnya kamu pernah mengandung dan melahirkan? Tidak, 'kan? Jangan sok tahu! Ini bisa saja prematur," sahut Ain tak suka. Melihat wajah Nadia mengingatkannya pada wajah Sarah saat tersenyum mengejeknya waktu lalu.


Nadia tersenyum sebelum menyahut, "Aku memang belum pernah tahu rasanya mengandung dan melahirkan, tapi aku tahu berapa lama waktu mengandung hingga melahirkan. Sembilan bulan sepuluh hari, setidaknya itu yang aku pelajari." Nadia tersenyum tenang.


"Halah ... cuma dari belajar saja, 'kan, tidak pengalaman sendiri?" cibir Ain lagi.


"Lagi pula kalau prematur itu selalu ada sebabnya. Tidak sekonyong-konyong bayi lahir secara prematur," lanjut Nadia tak peduli pada sindiran Ain.


Ain berdecih, Nadia tak peduli. Ia memandang wajah Yuni yang biasa-biasa saja tidak seperti orang yang akan melahirkan.


"Bagaimana rasanya, Yun? Apa ada mulas-mulas beraturan?" tanya Nadia lagi sudah seperti seorang tenaga medis.


Yuni menatap Ain yang tak tahu maksud dari pertanyaan Nadia. Ia kembali menjatuhkan pandangan pada Nadia dan menggeleng.


"Aku pesankan taksi online, ya?" katanya seraya memesan taksi langganannya tanpa menunggu persetujuan mereka.


"Sudah, sebentar lagi taksinya datang. Sudah ada persiapan? Di mana barang-barang yang akan dibawa?" Nadia melihat sebuah tas berukuran sedang teronggok di lantai.

__ADS_1


"Sudah, jangan sok peduli!" ketus Ain lagi. Yuni menunduk tak enak. Namun, Nadia tetap tersenyum meskipun berkali-kali mendapat hinaan dari kakak madunya itu.


"Mi, Yuni, kata Bilal kamu mau lahiran?" tanya Ikram dengan raut cemas terlihat.


"Iya, Bi. Temani ke Rumah Sakit, ya? Kasihan Yuni kesakitan," ucap Ain memanas-manasi Nadia yang masih berdiri bersama mereka.


"Iya, tapi kenapa Yuni terlihat baik-baik saja?" tanya Ikram dengan bingung. Seingatnya, saat Ain mau melahirkan ketiga anaknya, terlihat kesakitan meski sebentar-sebentar.


Tentu saja, Mas. Kamu tidak tahu juga, ya.


"Nah itu, taksinya sudah datang. Sebaiknya cepat karena Yuni tak akan merasakan mulas dan kesakitan seperti wanita lainnya," titah Nadia dengan cepat. Ia melambai pada supir taksi memintanya untuk masuk ke dalam.


Ain dan Ikram sama-sama membantu Yuni menaiki mobil. Nadia membayar ongkosnya. Ia melambaikan tangan melepas ketiga orang di dalam mobil.


Kata-kata Nadia sungguh mengganggu pikiran Ikram. Ia tidak mengerti maksudnya. Namun, situasi saat ini tidak memungkinkannya ingin berpikir lebih jauh.


Dan benar apa yang dikatakan Nadia, begitu tiba di Rumah Sakit, bayi itu langsung keluar tanpa ada drama kesakitan, mengedan, atau cakar-mencakar seperti wanita yang mau melahirkan pada umumnya.


Hal ini sungguh janggal dan semakin menganggu pikiran Ikram. Bagaimana mungkin? Saat Ain melahirkan ketiga anaknya dulu, ia begitu kesakitan dan selalu meminta diusap di bagian bokongnya. Prosesnya juga tidak singkat. Apa lagi saat kelahiran Ruby. Semua itu sungguh-sungguh membuat Ikram berpikir keras.


Nadia tersenyum berbalik kembali ke yayasan. Ia duduk di teras memperhatikan semua anak-anak yang bermain di taman yayasan.


"Bun, kenapa tante itu tidak kesakitan seperti Umi mau melahirkan Adik-adik?" tanya Ruby yang datang menghampiri Nadia. Ia masih sempat melihat Yuni tadi sebelum menaiki mobil.


"Apa karena waktu itu, ya, Bun? Memangnya begitu, ya? Aku tidak tahu," jawab Ruby ambigu. Membuat bingung para pembacanya.


"Iya, itu kamu tahu. Tidak perlu lagi Bunda menjawabnya," sahut Nadia mencolek hidung mancung Ruby dengan lembut.


"Enak, dong, Bun begitu. Jadi tidak merasakan kesakitan. Katanya orang yang mau melahirkan itu pasti kesakitan terus mulas-mulas begitu. Serba salah, seperti Umi waktu itu. Minta diusap-usap terus punggungnya sama Abi," ucap Ruby panjang lebar.


Nadia terkekeh mendengarnya. "Kamu tahu tidak? Jihad seorang perempuan itu ada pada saat dia berjuang melahirkan seorang anak manusia ke dunia ini. Kenapa Umi kesakitan saat melahirkan Adik-adik dan pastinya saat melahirkan kamu?" Nadia memandang wajah Ruby yang serius mendengarkan. Ia menggeleng.


"Itu karena Umi mendapatkan pahala jihad dari melahirkan. Bertaruh nyawa demi kalian dapat melihat dunia maka, jangan sekali-kali menyakiti hatinya. Meminta maaflah padanya. Untuk dapat melahirkan kalian ke dunia ini, Umi kalian harus rela memutus urat dalam tubuhnya. Sayangi Umi, ya," ungkap Nadia yang berhasil membuat Ruby menundukkan wajah dalam-dalam. Ia merasa telah berdosa pada Ain karena pernah mendebatnya.


Dalam hati, ia akan meminta maaf pada Ain ketika dia pulang nanti. Nadia mengerti, ia mengusap rambutnya yang ditutupi hijab dengan sapuan lembut.


"Sementara untuk kasus tante Yuni, kenapa dia tidak kesakitan? Apa Ruby bisa menjawabnya?" tanya Nadia.


Ruby mengangkat kepala, wajah sendu nampak jelas tergambar. Ia mengangguk.

__ADS_1


"Itu karena tante Yuni tidak mendapatkan pahala jihad dari melahirkan," jawab Ruby.


Nadia mengangguk.


"Sayang sekali, bukan? Padahal, melahirkan adalah sebesar-besarnya pahala. Ia tetap mendapatkan pahala, hanya saja tidak merasakan bagaimana rasanya berjihad. Kamu mengerti?" tanya Nadia sembari mengusap pipi Ruby.


Ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Ayo, siapkan semuanya sebelum mereka pulang," ajak Nadia yang diangguki Ruby.


Mereka kembali ke rumah Ain, menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan saat mereka pulang nanti. Mulai dari memasak, menyiapkan air panas, dan segala keperluan bayi mereka agar saat tiba di rumah tak perlu lagi repot dan tinggal istirahat saja.


Tak perlu menginap, malam itu juga Yuni pulang ke rumah. Nadia dan ketiga anak Ikram menyambutnya dengan kebahagiaan. Membawa mereka ke ruangan yang telah dipersiapkannya bersama Ruby.


"Wah ... anaknya perempuan. Cantik sekali! Ini mirip dengan kamu, Yun!" seru Nadia sembari mengusap pipi bayi merah itu.


"Iya, Mbak. Terima kasih banyak," ucap Yuni merasa senang mendengar pujian Nadia.


"Tapi kenapa tidak mirip Abi sama sekali?" celetuk Ruby memandangi wajah bayi itu tanpa minat.


Yuni menegang, Ain tak enak, Ikram terdiam, Nadia yang masih tersenyum sambil mengusap pipi lembutnya.


"Boleh aku menggendongnya?" pinta Nadia menatap penuh harap pada Yuni. Ia menganggukkan kepala memberi izin pada kakak madu keduanya itu.


"Terima kasih." Nadia tersenyum senang, kedua tangannya sudah bersiap mengangkat si bayi, tapi ditepis cepat oleh Ain. Baik Yuni, Ikram, dan Ruby juga Nadia terkejut dengan tindakan Ain barusan.


"Jangan! Kamu, 'kan, belum pernah mempunyai bayi. Nanti tulangnya yang lunak itu pada patah kalau kamu yang gendong," ketus Ain yang semakin membuat Ikram dan Yuni membelalak. Pun dengan Ruby.


Sementara Nadia, menunduk dengan cepat. Ada yang tercubit dan begitu menyakitkan. Matanya memanas, tapi ia menahan diri untuk tidak menangis.


Nadia kembali mengangkat wajah, ia tersenyum meskipun hatinya perih.


"Baiklah, aku mengerti. Aku permisi, assalamu'alaikum!" Nadia beranjak dengan cepat. Berlari keluar rumah dengan air matanya yang berderai. Siapa yang ingin menjadi seperti dirinya yang sakit dan tak dapat mengandung.


"Nadia!"


"Mbak Nadia!"


"Bunda!"

__ADS_1


Ketiga orang itu menatap punggung Nadia dengan nanar. Ruby cepat berpaling pada Ain, matanya nyalang menatap uminya itu.


"Seharusnya Umi tidak mengatakan itu pada Bunda. Baru tadi siang Bunda memintaku untuk tidak menyakiti hati Umi karena telah berjuang melahirkan aku, tapi malam ini sikap Umi sungguh keterlaluan! Tidak seharusnya Umi berkata seperti itu pada Bunda!" Ruby berlari meninggalkan rumahnya. Ikram tak dapat lagi menahan marah.


__ADS_2