Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Semua Berakhir


__ADS_3

Satu Minggu setelah kejadian itu, Ikram dan kedua istrinya tak terlihat batang hidung mereka. Ketiganya mengurung diri di rumah, entah apa yang mereka lakukan? Semoga saja sedang memperbaiki diri. Ruby dan kedua adiknya tak henti menghubungi Winda dan Rima berharap kedua orang itu akan kembali ke kota tersebut untuk memeriksa pabrik konveksi milik Nadia.


"Umi mau ke mana?" tanya Ikram saat melihat Ain berpenampilan rapi menenteng tas.


"Umi harus keluar, Bi. Mau memeriksa tempat usaha Umi, katanya ada masalah," jawab Ain gegas pergi setelah berpamitan pada Ikram.


Ikram mendesah, ia keluar rumah dan mendatangi yayasan. Ingin melihat-lihat keadaan anak asuhnya di dalam sana. Tak ada satu pun yang terlihat, hanya ada debu-debu yang diterbangkan angin di sekitar lingkungan tersebut.


Ia duduk di aula, di tempatnya dan Nadia selalu bersama. Rindu pada sosok yang selalu berwajah manis itu. Rindu sikap manjanya, rindu Nadia yang selalu bergelayutan di lengannya. Ikram benar-benar merindukan sosok istri keduanya itu.


Pintu rumah Nadia tertutup rapat. Gorden pun tak pernah terlihat dibuka. Lingkungan itu benar-benar mati seperti ditinggalkan penghuninya.


Tap ... tap ... tap!


Suara langkah mengusik kesendirian Ikram, ia menoleh dan mendapati Ibu yang berjalan mendekatinya.


"Ibu? Ada apa? Kenapa terlihat sedih?" tanya Ikram setelah Ibu berdiri di dekatnya. Wanita hampir tua itu menundukkan wajah dengan memainkan jemari gelisah.


"Anu ... Abi, maaf sebelumnya ... Ibu harus mengatakan ini karena kalau diam saja Ibu tidak tahu akan jadi apa nasib anak-anak di yayasan," ucap Ibu dengan hati-hati. Ia menggigit bibirnya dengan kuat.


"Ada apa, Bu? Katakan saja!" pinta Ikram mulai ikut gelisah.


"Maafkan Ibu, tapi tabungan dari mbak Nadia tidak bisa dipakai lagi. Sudah dua hari, Ibu tidak bisa mengambil uang dari tabungan itu. Ibu bingung memikirkan bagaimana makan anak-anak nanti juga biaya pendidikan mereka?" jawab Ibu dengan air yang menggenang di ujung matanya.


"Astaghfirullah! Ya Allah ... kenapa jadi begini? Ibu tenang, ya. Aku akan cari bantuan untuk anak-anak," ucap Ikram seraya berbalik setelah menenangkan Ibu itu. Mata tua wanita itu melihat Ikram dengan iba. Ia tahu laki-laki itu sedang dalam keadaan tidak baik saat ini, tapi bagaimana dengan anak-anak jika ia diam saja.


Ibu berbalik masuk kembali ke yayasan menemui anak-anak asuh di sana.


Ikram melanjutkan langkah keluar dari yayasan, ia akan pergi menemui teman-temannya untuk meminjam uang, itu rencananya. Namun ....

__ADS_1


"Abi!" panggil mang Sarif yang berlari dari pos jaganya mendekati Ikram. Di tangannya memegang sesuatu berwarna coklat.


"Ada apa, Mang?" tanyanya dengan bingung. Mang Sarif terlihat ragu. Ia memegangi benda di tangan dengan gemetar.


"Anu, Bi ... i-ini ada surat untuk Abi," ucap mang Sarif terbata. Ia memberikan amplop di tangannya pada Ikram.


Dahi Ikram semakin terlipat banyak, ragu tangannya menerima amplop tersebut. Rasa takut dan gelisah seketika menyeruak memenuhi relung hatinya.


"Surat dari mana, Mang?" tanyanya takut-takut.


Mang Sarif yang sempat membaca menggaruk pelipisnya yang tak gatal sama sekali.


"Ya sudah, Mamang boleh kembali. Terima kasih," ucap Ikram. Tanpa menyahut mang Sarif undur diri dari hadapan Ikram dan kembali ke pos jaganya. Ikram melihat kop surat yang terdapat di amplop berwarna cokelat tersebut. Pengadilan Agama.


Jedag ... jedug ... jedag ...Jedug!


Bunyi irama jantung Ikram yang tak karuan. Tangannya gemetar, bibirnya berkedut-kedut seirama dengan detak jantungnya yang berdentam.


Ia ambruk di kursi, menutupi wajahnya dengan surat di tangan. " Ya Allah! Kenapa harus berakhir seperti ini?" keluh Ikram dengan tarikan napas yang dalam untuk mengurai rasa sesak di dada.


Baru satu Minggu yang lalu ia menerima kenyataan tentang Nadia, dan hari ini surat gugatan cerai datang ke rumahnya. Inilah keputusan Nadia yang sempat tertunda karena kematian Sarah.


Mang Sarif yang melihat dari pos jaganya, ikut merasa sedih karena surat tersebut. Namun, itu lebih baik untuk Nadia dari pada harus hidup dibawah tekanan orang lain. Ia pantas bahagia dengan jalan yang ditempuhnya.


Mang Sarif merasa lega, seolah ada beban berat yang baru saja jatuh dari pundaknya. Bukannya ia tidak tahu bagaimana Nadia diperlakukan selama ini, tapi siapalah dirinya yang harus ikut campur dalam urusan pribadi orang lain.


"Abi? Apa itu di tangan Abi?" tanya Ruby yang tak sengaja melihat Ikram duduk di teras rumah.


Laki-laki itu melepas tangannya, melirik sekilas amplop di tangan sebelum meletakannya di pangkuan.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, hanya surat-"


"Surat? Apa dari Bunda?" tukasnya cepat. Bibirnya tersenyum berharap itu benar-benar surat dari Nadia. Ruby menyambar dengan cepat dan membaca tulisan di depannya.


"Pengadilan Agama? Apa artinya Abi akan bercerai? Siapa, Bi? Umi, atau Bunda? Atau tante Yuni?" tanya Ruby sedikit terkejut dengan tulisan amplop tersebut.


"Nadia, dia menggugat cerai Abi," sahut Ikram kembali menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Ada sesuatu yang berdesir di hati remaja itu. Ketidakrelaan juga kelegaan bersamaan datang memenuhi hatinya. Ia tersenyum, tapi juga menangis. Bahagia sekaligus sedih memenuhi hatinya.


"Bunda! Kenapa tidak datang ke sini? Kami kangen Bunda." Ruby menangis dengan pandangan yang terpatri pada surat di tangannya.


Mendengar itu, Ikram meraih tubuh anaknya dan memeluknya. Ruby membenamkan wajah di pundak abinya. Menangis bersamaan dengan Ikram yang juga merasakan rindu teramat untuk Nadia. Namun, semua itu kini tidak ada gunanya lagi. Nadia benar-benar berlepas diri darinya. Tanpa kata, tanpa persetujuan. Ia bertindak dengan nyata.


"Maafkan Abi, sayang. Maafkan Abi. Abi baru sadar kalau Abi benar-benar mencintai Bunda. Abi benar-benar merasa kehilangan sekarang. Abi juga rindu Bunda, sayang." Ikram menumpahkan keluh kesah di hatinya hanya pada Ruby. Anak pertamanya.


Ruby melingkarkan tangan dengan erat di leher Ikram. Ia mengerti perasaan laki-laki itu. Rasa sakit kehilangan orang yang amat berharga untuk diri kita, begitu menyesakkan dada.


Ruby teringat sesuatu. Ia melepas pelukan dan menyusut air mata dengan cepat. Ruby menatap Ikram dengan maniknya yang berbinar. Dahi laki-laki itu mengernyit melihat perubahan mimik wajah Ruby.


"Ada apa?" Bertanya dengan bingung.


"Aku harus pergi, Bi. Sekarang juga, aku tidak mau terlambat." Ruby menarik tangan Ikram dan menciumnya. Ia gegas ke yayasan untuk mengambil tas dan kembali dengan cepat.


"Ruby? Biar Abi antar!" tawar Ikram dengan cepat. Ia masuk ke dalam dan kembali dengan membawa kunci. Mengendarai motor bututnya membawa Ruby ke mana tujuannya.


Mereka pergi berdua, sebenarnya pabrik Nadia yang ingin dikunjungi Ruby. Entah kenapa ia merasa yakin kalau Winda atau Rima saat ini ada di sana.


"Ke mana, sayang?" tanya Ikram setelah berjalan beberapa saat Ruby belum juga memintanya untuk berhenti.

__ADS_1


"Pabrik Bunda, Bi. Aku tidak tahu hatiku mengatakan kalau tante Winda atau tante Rima ada di sana," ucap Ruby dengan cepat.


Ikram menambah kecepatan tak ingin terlambat. Namun sayang, saat tiba di pabrik itu sebuah tulisan yang ditempel di depan pintu masuk pabrik membuat mereka mematung tak percaya.


__ADS_2