
Hati siapa yang tak panas? Melihat orang yang dicintai asik bercengkerama dengan yang lain.
Senyum itu hanya miliknya, kecantikan wanita itu hanya dia yang boleh menikmatinya. Dia adalah miliknya seorang. Sampai kapan pun, dia hanya miliknya.
Ikram melangkah mendekati Nadia dan paman Harits yang juga duduk menunggu operasi Ruby. Ain memantau dengan hatinya yang menerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Nadia!" Nada rendah yang dikeluarkan Ikram terdengar tegas penuh penekanan.
Nadia mendongak dengan kedua ujung alis yang berkedut begitu melihat wajah dingin Ikram. Ada apa dengan laki-laki ini? Begitu kira-kira isi hati Nadia.
"Siapa dia?" tanya Ikram tak sabar ingin tahu. Tangannya menunjuk paman Harits yang bersikap tenang dan tak acuh. Ia menyandarkan tubuh pada sandaran kursi dengan kedua tangan yang membentang hingga terlihat merangkul bahu Nadia.
Ikram memanas, terlebih saat melihat Nadia yang tak kunjung menyahuti pertanyaannya.
"Dia-"
"Ekehm!"
Paman Harits memotong ucapan Nadia, ia berdehem dan menegakkan tubuh sembari membenarkan kemeja yang ia kenakan. Paman Harits membuka kacamatanya dan menatap Ikram intens.
Sebelah alisnya terangkat setelah memindai penampilan Ikram yang kusut. Ia tersenyum miring mengejek mantan suami keponakannya itu.
Ikram yang sudah panas semakin memanas dibuatnya.
"Aku ... siapa aku? Kamu ingin tahu aku secara pribadi atau ingin tahu hubungan aku dengan ...." Paman Harits melirik Nadia yang sengaja bungkam tak menyahut.
"Katakan saja siapa kamu?" ketus Ikram tak suka dipermainkan paman Harits. Tawa kecil dibuat laki-laki itu. Ikram semakin jengah karenanya.
"Kamu pasti tahu siapa aku? Seorang pengusaha tampan dan kaya. Kekayaanku tak akan habis sampai tujuh turunan nanti-"
"Kakak! Jangan pamer, katakan saja siapa Kakak," tukas Nadia dengan cepat. Ia melotot kala mata paman Harits mengarah padanya. Ia mendesah pasrah.
"Baiklah ... aku Harits ... aku calon SUAMI Nadia." Paman Harits menjulurkan tangan pada Ikram dengan angkuh. Nadia membelalak mendengar itu.
Namun, ia tak menyangkalnya. Biarlah, dengan begitu Ikram tak akan mengejar-ngejar dirinya lagi. Lama tangannya menggantung di udara, paman Harits menariknya kembali dan meniup tangan itu guna mendinginkannya.
"A-apa? Ca-calon suami?" Ikram terbata, wajahnya berkedut-kedut jelek. Ain pun tak kalah kaget mendengar itu. Ia merasa ini sangat menarik.
__ADS_1
"Benar, aku calon suami Nadia. Hhmm ...." Paman Harits mencibirkan bibir, "ternyata hanya seperti ini laki-laki yang pernah membuat wanitaku tergila-gila. Kamu sangat tidak pantas menjadi suaminya. Beruntung, kalian sudah bercerai, Nadia lebih pantas bersanding denganku. Aku tampan dan kaya," cibir paman Harits telak.
Wanitaku? Wanitaku? Wanitaku?
Kata itu benar-benar membuat Ikram terganggu. Dia seolah-olah mengklaim Nadia sebagai miliknya. Padahal, jelas-jelas Nadia itu istrinya. Ikram tidak pernah merasa menceraikannya.
"Jangan konyol! Aku tidak pernah menceraikannya, asal kamu tahu itu!" tuding Ikram yang tidak mau mengakui keabsahan surat cerai yang dikeluarkan Pengadilan Agama.
Nadia sontak terkejut. Matanya melotot lebar menusuk jantung Ikram yang sudah berantakan.
"Pengadilan telah mengabulkan gugatan cerai aku, dan itu sah. Kita sudah bukan lagi suami istri. Aku sudah membebaskan Mas dari tanggung jawab terhadap diriku. Jangan lagi mengurusi urusanku," sambar Nadia dengan nada pelan, tapi pasti.
Wajah laki-laki itu berkedut. Ia kira Nadia masih mau hidup dengannya. Nyatanya, dia sudah membebaskan Ikram dari tanggung jawabnya sebagai suami. Apa lagi? Ayolah, Ikram! Sadar diri.
"Nadia!"
"Sudahlah, Mas. Jangan lagi memikirkan aku. Mas sudah punya dua istri yang cantik dan sehat. Juga bisa memberi Mas keturunan, tidak seperti aku yang sampai saat ini pun tidak juga mengandung anak Mas." Nadia melirik Ain yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
Wanita itu salah tingkah, ia memalingkan pandangan. Teringat akan kata-katanya dulu yang pernah menghina Nadia karena tidak kunjung hamil.
Baru saja Ikram membuka mulut hendak bicara lagi, pintu ruangan operasi terbuka. Ain gegas berdiri dan menghampiri dokter, begitu juga dengan Ikram.
"Bagaimana, Dokter?" sambar Ikram dengan cepat.
"Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar, anak Ibu dan Bapak sudah baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu siuman. Kami akan memindahkan ke ruangan," jawab dokter sembari tersenyum lega.
"Ruang VIP, Dokter!" Suara paman Harits membuat Ikram membeku. Laki-laki suka pamer itu tertawa melihat wajah tegang Ikram dan Ain.
"Kalian tidak usah tegang, aku yang akan menanggung biayanya. Semua karena calon istriku ini sangat menyayangi anak itu, jadi aku pun harus mulai menyayanginya," lanjut paman Harits dengan jumawa.
Nadia mendelik. Lagi-lagi pamer. Benar-benar paman yang satu ini. Suka sekali pamer.
Ikram meneguk ludah basi dengan susah payah, sedangkan Ain merasa malu sendiri. Namun, dalam hati ia mulai mengagumi sosok paman Harits. Awas kau, Ain!
"Baik! Sesuai permintaan Anda, Tuan!" Dokter mengangguk.
Di ruangan kelas mewah itu, Ruby dirawat. Ditemani orang tuanya, juga ada Nadia dan paman Harits tentunya.
__ADS_1
"Bunda!"
"Bunda!"
"BUNDA!"
Dua orang anak Ikram yang baru datang, menjerit bahagia. Mereka datang bersama Ibu menjenguk Ruby. Keduanya tidak tahu kalau ada Nadia di sana.
"Bilal? Nafisah?" Nadia berdiri, ia berjongkok menyambut kedatangan keduanya. Kedua anak itu berhambur memeluk Nadia.
Kebahagiaan mereka rasakan, bahagia dapat memeluk wanita yang selama ini mereka rindukan. Sosok Ibu yang mereka impi-impikan.
"Sayang!" Air mata Nadia menetes begitu saja. Ia tak menampik hatinya begitu rindu akan sosok mereka. Sosok yang selalu menghibur di kala hatinya kesepian.
Paman Harits tahu kedua anak itu. Hanya saja, ia khawatir Nadia akan berubah pikiran dengan kehadiran kedua anak itu. Ia khawatir Nadia akan mengulangi kebodohannya dengan kembali menjadi istri Ikram.
"Bunda ke mana saja? Kami kangen Bunda," ucap Nafisah dengan air mata yang meleleh di pipinya.
Nadia melepas pelukan, ia menciumi dahi keduanya dan kembali memeluknya. Di bawah pandangan Ikram dan Ain, Nadia tak segan menunjukkan kasih sayangnya pada kedua anak itu. Ia membawa Bilal dan Nafisah untuk duduk di sofa bersama paman Harits.
"Ibu?" Nadia beralih pada sosok Ibu. Ia memeluk wanita hampir tua itu dengan haru.
"Bagaimana kabar Ibu?" tanya Nadia seraya melepas pelukan dan tersenyum pada Ibu.
"Alhamdulillah, Ibu baik saja, Mbak. Mbak Nadia terlihat lebih sehat," sahut Ibu sembari mengusap air matanya yang jatuh di pipi.
"Alhamdulillah, Bu. Bagaimana kabar anak-anak? Mereka baik-baik saja, bukan?"
Pertanyaan Nadia membuat tegang Ain. Ikram pun merasa cemas. Ibu melirik suami istri itu sebelum menjawab, "Alhamdulillah, baik, Mbak."
Tak mungkin ia mengatakan bahwa anak-anak kerap tidak makan karena tidak ada uang untuk membeli makanan.
Di sofa, Bilal dan Nafisah menatap bingung paman Harits yang duduk tenang sembari memainkan ponselnya. Ia tak acuh dengan keadaan sekitar. Dunianya lebih asik dari pada mereka yang ada di hadapan.
"Bilal? Nafisah? Ke sini, Kakak kalian di sini! Kenapa di sana?" Mendengar suara Ain, sontak semua mata tertuju padanya. Termasuk paman Harits yang mengintip dari balik ponselnya.
"Kami kangen Bunda, Umi." Bilal jujur.
__ADS_1
"Sudah, Kak. Tidak apa-apa, dari sini pun mereka dapat melihat Ruby," sahut Nadia sembari duduk di antara mereka. Ain melengos, paman Harits tersenyum, Ikram menunduk.
"Bunda!"